KESAH.ID – Dalam kisah peperangan ada cerita-cerita serdadu yang maha hebat, kemampuan diluar rata-rata. Padahal dalam sejarah Perang Dunia ke II, kisah pasukan Nazi Jerman yang digdaya ternyata ditopang oleh penggunaan obat sejenis sabu. Obsesi tentang ‘Serdadu Paranormal’ ternyata juga pernah diwujudkan oleh Amerika Serikat lewat proyek Stargate. Klaim keberhasilannya tidak bisa divalidasi hingga akhirnya dihentikan. Andai saja ‘Serdadu Paranormal’ bisa dibentuk, niscaya Indonesia bakal menjadi yang terhebat karena negeri kita negeri yang kaya dengan paranormal, orang-orang yang menguasai dunia supranatural.
Konon dalam Perang Dunia ke II, tentara Nazi Jerman sering dianggap ‘sakti’.
Dalam pertempuran Dunkirk, mereka kuat bertempur selama sepuluh hari berturut-turut tanpa merasa lelah. Bak manusia super mereka mampu menjebak dan menggasak pasukan Inggris. Jerman kemudian berhasil mengalahkan sekutu.
Apa yang membuat pasukan Nazi menggila dalam berbagai pertempuran di medan dengan geografis yang sulit dan menantang?
Rahasianya ada pada pil ajaib.
Obat itu bernama pervitin. Nama lain dari metamfetamina yang di Indonesia dikenal dengan nama dagang sabu.
Obat inilah yang membuat tentara Nazi Jerman terus bersemangat dan waspada dalam perang yang sebenarnya membuat seorang kombatan bakal selalu cemas, lelah dan lesu.
Pervitin dikembangan oleh sebuah perusahaan farmaasi di Jerman pada tahun 1930-an. Obat ini laku keras diantara para pekerja yang butuh ketahanan fisik dan tekanan kerja yang berat. Namun kemudian juga terkenal di kalangan anak-anak muda yang ingin mencari kesenangan. Banyak juga yang memakainya untuk menambah kenikmatan dalam bercinta.
Pemerintah Jerman tidak melarang obat ini, reputasi pervitin justru dianggap baik dan tidak berbahaya. Ada banyak studi klinis tentang pervitin pada waktu itu dan metamfetamina dipandang baik untuk pengobatan berbagai macam gejala atau keluhan penyakit.
Namun kemudian ada beberapa studi ilmiah yang membeberkan dampak buruk pervitin. Pemakaian berulang akan membuat kecanduan. Pada tahun 1939 pemerintah Jerman kemudian resmi membuat aturan untuk mengontrol pemakaiannya. Penggunaan pervitin harus disertai dengan resep dokter.
Hanya saja obat ini tetap disalahgunakan, terutama oleh para tentara Nazi dalam pertempuran.
Misi perang yang keras dan melelahkan dengan mudah membuat mental tentara akan jatuh. Penerbang misalnya dibekali pervitin agar jika tertembak dan jatuh lalu terdampar di tempat sulit dan terpencil bisa memakai pervitin untuk mengusir kelaparan, kelelahan, kekhawatiran dan lain-lain.
Konon antara bulan April hingga Juni 1940, 35 juta tablet pervitin dipasok untuk 3 juta angkatan darat, laut dan udara Jerman.
Norman Ohler, seorang penulis mengatakan dalam buku Blitzed : Drug in the Third Reich {2017} “Jika tidak ada obat-obatan, ya tidak akan ada invasi”.
Dia menegaskan kalau obat {pervitin} itu memungkinkan tentara Nazi Jerman tetap terjaga selama tiga hari tiga malam.
Penyalahgunaan obat oleh tentara Nazi kemudian ditiru tentara Inggris. Agen intelijen Inggris menemukan obat super ini pada puing pesawat Nazi yang jatuh. Temuan ini membuat pejabat militer Inggris mendorong pengembangan obat serupa.
Inggris kemudian berhasil mengembangkan amfetamin benzedrine dalam bentuk tablet dan inhaler. Otoritas militer Inggris kemudian menyetujui pemakaiannya pada tahun 1941 untuk pasukan angkatan udara. Petugas medis akan mengijinkan pemakaian dengan dosis 10 miligram per hari.
Pasukan Amerika kemudian ikut-ikutan memakai amfetamin benzedrine. Jenderal Dwight D. Eisenhower yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat ke 34 memerintahkan pasokan setengah juta tablet amfetamin benedrine untuk tentara yang bertempur di Afrika Utara.
BACA JUGA : Tujuh Jembatan
Ada banyak cerita heroisme dalam Perang Dunia ke II, namun semangat, keberanian, kepercayaan diri dan jusga agresifitas ternyata sebagian ditopang oleh pengaruh obat-obatan. Obat yang kemudian menyebabkan kecanduan dan masalah setelah perang berlalu.
Ada banyak tentara dan bekas tentara yang meninggal karena gagal jantung, bahkan bunuh diri dengan menembakkan dirinya sendiri.
Kecanduan dan dampak berbahaya pemakaian sabu pada saat itu kurang dipahami dengan benar.
Bukan hanya tentara Jerman yang memakai dan kecanduan obat-obatan. Adolf Hitler sang pemimpin kharismatik Nazi ternyata juga seorang pecandu. Hitler menjadikan suntikan oksikodon dan kokain sebagai bahan bakar untuk membuat dirinya kuat memimpin perang dan mengatur strategi memukul lawan dengan jitu.
Setelah Perang Dunia ke 2 berakhir, dunia terbelah menjadi dua blok yakni Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Dua blok ini ditandai oleh terpisahnya Jerman, Jerman Barat dengan ideologi liberal dan Jerman Timur dengan ideologi sosialis.
Era ini dinamai sebagai Perang Dingin, kedua blok mengembangkan persenjataan dan kekuatan perang tapi tak pernah perang. Meski begitu keduanya selalu siap untuk berperang.
Kedua blok berlomba untuk membuat armada perang dan senjata yang mematikan. Senjata pemusnah massal, lahirlah bom nuklir yang sampai sekarang tak pernah dipakai.
Amerika Serikat yang kemudian berkembang menjadi negara adidaya, polisi dunia getol mengembangkan kekuatan militernya. Pengembangan ini menghabiskan banyak anggaran walau tak semuanya berhasil.
Salah satu yang sia-sia adalah proyek untuk mengembangkan pasukan super. Proyek ini dinamai Stargate. Proyek rahasia ini dirancang oleh Central Intelligence Agency, Defense Intelligence Agency, Stanford Research Institute, dan Angkatan Darat Amerika Serikat.
Proyek ini bermaksud untuk menghasilkan pasukan super dengan menciptakan “Serdadu Paranormal”. Mereka adalah orang-orang dengan kemampuan ekstrasensori untuk mendukung operasi militer dan intelijen.
Para pengusung proyek ini percaya bahwa mereka bisa membuat ‘serdadu paranormal’ yang mempunyai kemampuan penginderaan jarak jauh, kemampuan memprediksi kejadian yang akan datang, membelokkan rudah dengan kemampuan mental dan lain-lain.
Selama berjalannya proyek ini ada banyak klaim tentang keberhasilan yang dilakukan oleh para ‘serdadu paranormal’ ini seperti bisa menemukan lokasi peluru kendali Uni Soviet, peluncuran kapal selam dan lain-lain.
Namun kemudian proyek yang dimulai dari tahun 1972 ini ditutup pada tahun 1995 karena klaim-klaim keberhasilannya tidak bisa dibuktikan atau tingkat validasinya rendah. Proyek ini dinilai tidak berguna secara optimal untuk operasi militer dan intelijen.
Uang jutaan atau milyaran dollar Amerika menguap begitu saja untuk cita-cita menghasilkan pasukan super yang punya kekuatan Extracensory Perception atau paranormal supranatural.
Mungkin proyek ini bisa berjalan karena waktu itu neurosains belum berkembang. Masih ada kepercayaan besar kepada orang-orang yang punya indera keenam atau six sense, juga kepada orang-orang yang disebut indigo.
Padahal orang punya indera keenam malah bisa disebut tuna indera, karena rata-rata orang mempunyai sembilan indera.
BACA JUGA : Ultah Kota
Manusia memang mudah percaya pada hal-hal supranatural atau paranormal. Karena kemampuan seperti itu dianggap efektif untuk mengatasi masalah tanpa repot-repot. Bayangkan jika ada seseorang bisa membaut pagar maya diatas wilayah tertentu sehingga kebal terhadap serangan dari luar, berapa banyak biaya yang bisa diirit.
Israel seandainya bisa begitu maka tak perlu membuat iron dome yang operasinya sangat mahal.
Tapi kisah seperti, sosok seorang super hero yang bisa menghabisi ribuan musuh sendirian hanya ada dalam komik dan film. Kalaupun ada dalam kisah peperangan, tak terbukti juga bisa memenangkan.
Terlalu banyak kisah orang-orang sakti di cerita-cerita perjuangan Indonesia dahulu, seseorang yang tak mempan ditembak Belanda atau dibacok pedang Jepang. Tapi tetap saja kita dijajah lama dan Jepang menyerah bukan oleh bambu runcing tapi oleh bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.
Kisah pasukan sakti, super hero hanya ada di komik DC atau Marvel dan film-film Hollywood. Di dunia nyata memang ada orang yang punya kemampuan micro movement, mengerakkan sesuatu tanpa menyentuh. Tapi tak mungkin juga untuk membalikkan tank atau kapal perang. Paling hanya kunci yang digantung di benang atau kacamata.
Micro movement ini kerap dipakai oleh para cenayang, untuk membuktikan roh yang dipanggil datang. Mungkin kalau di Indonesia ditemui dalam permainan Jalangkung.
Di Indonesia kisah supranatural atau paranormal erat dengan sebutan orang pintar atau dukun. Mereka orang-orang yang dianggap punya kemampuan luar biasa pada hal-hal tertentu. Pada kenyataannya sebagian adalah kriminal, apa yang dipercayai oleh orang-orang tidak terbukti benar.
Salah satu kisah kriminal terbesar adalah penggandaan uang, yang berikutnya adalah pelecehan seksual atau dukun cabul.
Namun tak perlu berkecil hati, kepercayaan pada paranormal atau hal-hal klenik bukan khas Indonesia. Terbukti orang Amerika juga percaya bahkan sampai membuang banyak uang untuk proyek ‘Serdadu Paranormal’.
Di Amerika Serikat juga pernah dikenal seorang penginjil bernama Pieter Popoff.
Banyak orang terpesona dengan kemampuannya mengenali orang yang tidak dikenali. Padahal dia menerima informasi dengan bantuan radio perihal orang yang dipanggil ke depan mimbar. Teknologi ternyata berperan besar dalam menimbulkan persepsi gaib atau diluar hal normal pada audience, hal yang biasa dilakukan oleh para pesulap.
Seperti para pesulap, Pieter Popoff dalam kebaktian rohani menunjukkan penyembuhan ajaib. Orang di kursi roda bisa berdiri, orang lumpuh disembuhkan dan lain-lain. Padahal mereka adalah aktor, pemain yang dipersiapkan. Orang sehat yang didudukkan di kursi roda atau diberi tongkat penyangga badan.
Tapi dasarnya kita percaya paranormal, kasus yang terbongkar, penipuan yang dibuka kedoknya misalnya di Indonesia oleh Pesulap Merah dan Ferry Irwandi tidak membuat orang tak percaya dukun.
Ya sudah tak apa-apa, toh walau proyek Stargate gagal namun Presiden Donald Trump ingin kembali memakai nama itu untuk proyek pengembangan AI.
note : sumber gambar – KOMPAS








