KESAH.ID – Memperingati Hari Pejalan Kaki Nasional 2025 yang diperingati setiap tanggal 22 Januari, Susur Gang Samarinda melakukan peringatan dengan menyusuri 7 jembatan yang ada di Sungai Karangmumus bagian hilir. Susur jembatan ini dimaksudkan untuk menguatkan kembali memori kolektif tentang hubungan Sungai Karangmumus dengan sejarah dan peradaban Kota Samarinda. Di saat Kota Samarinda berkeinginan menjadi Kota Pusat Peradaban, peradaban air di Sungai Karangmumus justru terkikis habis. Dari atas 7 jembatan terlihat terang benderang betapa kita masih terus menista sungai yang adalah sumber air kehidupan.
Karena tidur-tidur ayam, tidak nyenyak akibat minum kopi semalam; subuh tadi saya lamat-lamat mendengar bunyi dentuman halilintar dan tak lama kemudian diikuti bunyi rintik hujan menerpa atap seng.
Saya berharap hujan keras biar esok air yang ada di atas tuntas dan turun lagi.
Ternyata matahari pagi tak benderang, tersaput oleh mendung tebal dan terus bertahan hingga menjelang tengah hari.
Cuaca agak mengkhawatirkan padahal sore ini ada rencana untuk memperingati Hari Pejalan Kaki Nasional 2025 dengan jalan kaki menyusuri 7 jembatan di Sungai Karang Mumus bagian hilir.
Rencana ini bisa batal jika hujan lebat runtuh. Walau ada banyak tempat berteduh ada kemungkinan banyak ruas jalan akan ada genangan airnya.
Menjelang jam 2 siang hujan gerimis turun. Dalam hati mencoba menghibur diri “Tak apa-apa toh masih dua jam lagi,”
Ternyata hujan tak lebat, seperti hanya lewat untuk menurunkan air yang tersisa diatas sana.
Tapi langit masih mendung, cukup gelap. Hujan sewaktu-waktu bisa turun.
Syukur sampai saatnya tiba, tak ada rintik hujan yang runtuh dari langit.
Perjalanan susur jembatan Sungai Karang Mumus dibagian hilir bisa dimulai.
Rencananya jembatan yang akan dilewati adalah Jembatan Baru, Jembatan Lambung, Jembatan Kehewanan, Jembatan Arif Rahman Hakim, Jembatan Sungai Dama, Jembatan S dan Jembatan 1.
Perjalanan dimulai dari Pangkalan Pungut GMSS SKM, Jalan Abdul Muthalib. Lokasi ini dipilih menjadi titik kumpul karena mempunyai tempat untuk parkir dan duduk bercengkrama dengan nyaman.
Jam empat lebih, rombongan Susur Gang Samarinda meninggalkan pangkalan pungut berjalan ke arah Jembatan Baru melewati Jalan Abdul Muthalib dan Tarmidi.
Belum jauh meninggalkan pangkalan pungut, kami dikejutkan dengan penampakan gedung baru di tepi Sungai Karangmumus. Gedung yang nampaknya baru diresmikan itu adalah Kantor Kelurahan Sungai Pinang Luar.
Sisi Sungai Karangmumus dari Jembatan Kehewanan hingga Jembatan Baru sampai Jembatan Niaga tengah di’bersihkan’, bangunan di tepi sungai dibongkar dan disingkirkan. Namun dibagian lain justru dibangun gedung baru. Agak janggal.
Tapi ya sudahlah pasti yang membangun punya alasan, karena pada segmen itu jarak antara sungai dan jalan memang agak jauh. Hanya saja kalau bangunan di titik itu dibersihkan akan tersisa ruang yang cukup besar untuk dijadikan Ruang Terbuka Hijau.
Apalagi ruang terbuka hijau mulai dari Jembatan Lambung hingga Jembatan Baru di bagian sisi Jalan Tarmidi tidak begitu luas.
Dan ketika melewati bawah Jembatan Lambung, pemandangan kearah Jembatan Baru memang lapang. Pinggiran sungai sudah diturap dan ditanggul dan antara jalan inspeksi dengan calon ruang terbuka hijau sudah dibuat saluran air yang diberi penutup. Sayangnya ketika lewat, tepi jalan hingga keatas saluran air itu banyak dipakai sebagai tempat parkir mobil.
Dan sampailah kami ke Jembatan Baru, melintasinya lalu masuk ke gang menuju lokasi bongkaran terbaru hingga dekat Jembatan Lambung Mangkurat.
Area yang dibongkar berada disisi antara jalan gang dengan sungai. Sehingga jalan gang kemudian menjadi jalan di tepian sungai. Rumah yang tadinya berhadapan dengan rumah tepi sungai kini bisa memandang sungai tanpa penghalang.

BACA JUGA : Swadaya Masyarakat
Karena hanya lewat, kami tak bisa merekam perubahan cara warga memandang sungainya. Dan sampailah kami ke ujung Jembatan Lambung lalu melintas diatasnya dan turun untuk kembali menyusuri Jalan Tarmidi menuju Jembatan kehewanan.
Setelah melintasi Jembatan Kehewanan, kaki kami langkahkan menuju gang yang akan melewati Majelis Sholawat Guru Udin. Nama gangnya kalau tak salah Gang Sholawat.
Diarea ini jalanan tepi sungai dan Ruang Terbuka Hijau tidak begitu terlihat dengan jelas. Gang seperti menjadi halaman rumah orang-orang. Mobil berjejer diparkir, bahkan ada parkiran yang diberi atap di pinggir sungai. Dan diatasnya digantung nomor plat mobil yang boleh parkir disitu. Seperti parkir berlangganan.
Dan menjelang Jembatan Arif Rahman Hakim ada kedai atau café di tepian sungai, cukup estetik karena dirias dengan gaya ala-ala Bali.
Setelah melewati lorong permukiman, kamipun sampai di Jembatan Arief Rahman Hakim dan menyeberangi lalu turun ke Jalan Muso Salim.
Sudah terlihat kesibukan di sepanjang Jalan Muso Salim pada sisi antara jalan dan sungai. Para pemilik warung atau kedai mempersiapkan dagangan. Menjelang petang sepanjang jalan ini akan dipenuhi oleh lapak-lapak pedagang menjajakan makanan dan minuman . Pada ruang yang seharusnya berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau itu para pengunjung nongkrong menghabiskan malam.
Rata-rata permukaan tanahnya sudah mengalami perkerasan, disemen agar tempat duduk enak ditata, dan juga lesehannya nyaman diduduki.
Sambil melihat para pedagang bersiap, tak terasa kami sudah sampai ke ujung jalan Muso Salim tempat kami akan berbelok untuk menyeberangi Jembatan Sungai Dama yang arus lalu-lintasnya cukup ramai. Di ujung jembatan, yang berupa perempatan ke arah Sambutan, Pesut dan Jelawat ada dua polisi berjaga mengatur lalulintas.
Kami mengambil arah belok kanan menuju Jalan Pesut. Yang Ruang Terbuka Hijaunya lebih dimanfaatkan untuk parkiran. Ada juga semacam pondok yang cukup panjang tempat orang bermain catur.
Sampailah kami ke Jembatan S, jembatan yang paling baru di Sungai Karangmumus bagian hilir. Disebut Jembatan S karena bentuknya menyerong. Jembatan S merupakan jembatan paling artistik yang membentang diatas Sungai Karangmumus karena dibangun dengan sentuhan seni yang tidak sekedar sebagai tempelan belaka.
Dari Jembatan S, kami berjalan menuju arah Tepekong, dimana disampingnya ada Jembatan Satu yang merupakan destinasi terakhir kami.
Ruang terbuka hijau antara Jembatan S dan Jembatan Satu cukup terpelihara. Diujungnya ada playground yang cukup ramai dikunjungi anak-anak dan orang tua. Ada beberapa orang berjualan dan cukup ramai pembelinya walau tak jauh darinya ada Tempat Pembuangan Sampah Sementara.

BACA JUGA : Juara Malas
Rasanya hati senang karena mendung ternyata tak berarti hujan. Dan karena masih cukup terang ketika berada di atas Jembatan Satu kesempatan untuk berfoto pada dua sisi jembatan tak disia-siakan.
Jembatan Satu konon merupakan jembatan pertama diatas Sungai Karang Mumus. Dibuat di masa Hindia Belanda dengan tujuan untuk memperluas wilayah Kota Samarinda. Gambar yang beredar di media sosial menunjukkan Sungai Karangmumus tidak selebar saat ini.
Usai berfoto kamipun kembali berjalan menyusuri Jalan Pesut, menyeberang ke Jalan Jelawat menyusuri tepian Sungai Karang Mumus yang tak jauh dari Jembatan Jelawat ada sebuah makan di tepian jalan.
Makan dekat masjid itu dulu dikenal dengan nama Kubur Kuning.
Dan setelah itu, Ruang Terbuka Hijau di sisi Jalan Jelawat yang tak terlalu lebar terlihat rimbun karena deretan pohon Beringin yang kelihatan kekar dan penuh akar gantung.
Di ujung Jalan Jelawat sebelum jembatan ada TPS yang cukup besar. Disampingnya ada penjual bakso dengan gerobak, yang makan cukup banyak dan nampak lahap.
Kami pun menyeberang dan masuk ke gang untuk menuju Jembatan Kehewanan.
Karena jembatan yang menghubungkan antara halaman depan rumah Guru Udin dan Masjid Al Misbah terbuka pintunya, maka kami menyeberangi jembatan itu untuk menuju pangkalan pungut GMSS SKM tempat kami memarkir motor.
Saat bercengkrama di Ruang Terbuka Hijau Pangkalan Pungut GMSS SKM saya mengatakan kalau perjalanan tadi ternyata bukan hanya melewati 7 Jembatan melainkan 7 setengah.
Kok 7 setengah?. Iya jembatan yang menghubungkan antara halaman rumah Guru Udin dan Masjid Al Misbah harus dihitung setengah karena bukan jembatan umum yang dilewati oleh kendaraan.
Di Pangkalan Pungut GMSS SKM ada Pak Iyau. Dan kamipun meneruskan obrolan dengannya.
Kepada teman-teman Susur Gang Samarinda saya katakan kalau Ruang Terbuka Hijau Pangkalan Pungut GMSS SKM adalah ruang terbuka hijau terbaik di tepi Sungai Karangmumus. Dan RTH ini tidak dikelola atau dikembangkan oleh pemerintah melainkan oleh warga dan komunitas.
Tentu yang paling berjasa adalah Bachtiar atau lebih dikenal dengan nama Iyau Tupang. Dia yang terus bertekun menjaga dan merawat Ruang Terbuka Hijau Pangkalan Pungut GMSS SKM agar menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk berinteraksi dengan lingkungan sungai.
Kurang lebih 30 tahun Sungai Karangmumus dinormalisasi. Namun pembangunan sungai justru menjauhkan sungai dari warganya. Sungai yang diperlebar, dibeton kanan dan kirinya ternyata tidak membuat warga Kota Samarinda semakin menyadari tentang fungsi utama sungai dan anak-anak sungai untuk kehidupan. Banyak orang Samarinda lupa kalau sungai adalah sumber air baku untuk kebutuhan air bersih bagi warga Kota Samarinda.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








