KESAH.IDPerjalanan keluar dari diri sendiri begitu K. Irul Umam mengambarkan petualangan sebagai laku untuk memahami sesuatu. Ada banyak cara untuk berpetualang, melarikan diri dari rutinitas diri. Sebagian petualangan digambarkan sebagai laku penuh tantangan, memacu adrenalin seperti menjelajah hutan, gunung atau berkendara dengan motor di ruang-ruang ekstrim. Padahal petualangan bisa saja sederhana, cukup dengan berjalan kaki menyusuri gang-gang tak dikenal di kotanya sendiri.

Petualangan, lazimnya dieratkan dengan penjelajahan hutan, bertemu hewan buas, bukit terjal, ataupun puncak-puncak gunung. Namun, bagi saya, petualangan adalah perjalanan memahami sesuatu.

Sebagaimana “Adventure” yang berasal dari kata “Aventure” dalam bahasa Prancis Kuno, yang berarti “Nasib”. Dalam bahasa Spanyol lebih dikaitkan dengan kata “Escapade” yang punya makna “Melarikan diri.”

Ya, saya melarikan diri dari rutinitas yang sumpek. Biasanya teman-teman seumuran saya lebih memilih mengendari motor, atau tidur, atau pergi ke cafe-cafe untuk melarikan diri dari keruwetan. Namun, saya memilih untuk berjalan kaki.

Berawal dari obrolan kecil saya bersama Raditya Timur Angin (Ra) tentang hobi saya, yaitu berjalan kaki. Ternyata Ra, memiliki hobi yang sama.

“Kalau biasanya orang-orang tua itu on-on, cuma sekarang agak jarang sih,” katanya.

Maka saya berinisiatif untuk memulai kegiatan jalan kaki itu. Bersama Ra, saya berjalan dari rumahnya di Jln. K. S. Tubun. Hanya berdua saja. Melewati jalur-jalur gang kecil, menapak tanjakan dan turunan yang terjal serta curam. Pikiran saya melayang pada Favela, permukiman padat di Brasil yang sering menjadi sarang geng dan kelompok pengedar narkoba.

Saya dan Ra banyak berbincang, curhat, berbagi perspektif selama perjalanan. Tentunya sambil menahan nafas yang ngos-ngosan. Kadang obrolan kami terhenti untuk sejenak menyapa, mengatakan permisi pada warga sekitar. Mereka melihat kami penuh tanya, karna mungkin jarang ada orang asing yang melewati gang-gang sempit itu.

Singkat cerita, berjalan kaki menyusuri gang-gang itu sangatlah menyenangkan. Karna saya juga seorang wartawan, ya saya tulislah kegiatan itu sebagai tajuk berita:

“Susur Gang Samarinda, Alternatif Olahraga Sembari Wisata Masyarakat Urban,” yang terbit di mediakaltim.com tempat dimana saya bekerja.

Tak saya sangka, berita itu di repost oleh busamsamarinda di Instagram dan mendapatkan respon positif dari warganet. Maka saya semakin semangat. Seru juga. Bisa melihat sisi lain dari kota Samarinda.

Di kesempatan selanjutnya, saya dan Ra, mulai ditemani Mas Yustinus Sapto Hardjanto. Beliau memang orang tua, namun beliau tau cara berteman dengan anak-anak muda seperti kami.

Kegiatan itu terus berjalan, semakin konsisten, sampai memiliki jadwal yang dihidupkan kembali setelah sempat vakum. Selasa dan Jum’at ditentukan sebagai jadwal tetap Susur Gang Samarinda. Bahkan kadang kami iseng, sambil ngopi, menentukan jalur perjalanan, padahal masih ada dua hari sebelum hari jalan kaki.

Perlu saya beri tahu, sebenarnya Susur Gang Samarinda belum ada nama. Kamipun sempat bingung beri nama apa. Sempat mau diberi nama gang-gangan biar bisa seperti di Jogja dan apalah-apalah yang lain. Namun tetap saja namanya Susur Gang. Kalau ditanya alasannya, itu karna berita saya, yang saya sudah terlanjur tulis dengan judul tersebut.

Kini, peserta susur gang semakin banyak. Mulai dari mengajak orang terdekat hingga membuat flyer yang kami share sehari sebelum jalan kaki. Entah, tiba-tiba saja ada Instagram yang tidak tahu kenapa dibuat oleh Boy (Arief). Akhirnya semakin meluas informasinya, dan Alhamdulillah ada pula orang lain yang ikut serta.

Ternyata, banyak juga orang yang mau melarikan diri seperti saya. Karna kesumpekan ternyata bisa pudar bila dibawa jalan-jalan, meskipun jalan kaki. Saya jadi mengerti, mengapa dulu, waktu saya kecil, orang-orang tua suka sekali berjalan kaki setiap habis subuh ataupun sehabis ashar. Walaupun mereka biasanya terhenti di suatu rumah tetangganya untuk menggosipkan hal-hal yang masih hangat.

sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA

BACA JUGA : Saling Makan

BACA JUGA : Idealisme Muda Sekonyong-konyongnya

note : rubrik ini merupakan publikasi catatan hasil kerjasama dengan Tarekat Menulis Samarinda yang akan terbit setiap Sabtu dan Minggu.