KESAH.IDKata-kata mempunyai kekuatan yang maha dahsyat. Jurnalis menyebut kata setajam pedang atau pisau. Maka tulisan seorang jurnalis bisa membuat perubahan, seperti mengiris penguasa yang dzolim. Tapi kata-kata juga bisa punya daya rusak, seperti nasehat mulutmu harimaumu. Maka penting untuk menjaga lisan agar kata-kata yang keluar dari mulut tidak melukai atau menyakiti orang lain. Tapi sayangnya banyak yang menganggap kata-kata yang buruk dan kasar sebagai gurauan yang bisa memproduksi tawa sampai terguncang-guncang.

Puluhan tahun lalu saya mendengar cerita dari seorang misionaris yang mendapat tugas pengembalaan di Jepang. Setelah berjuang setahun lebih menguasai bahasa Jepang, dia mulai bisa memimpin peribadatan di gereja.

Menurutnya orang Jepang memang disiplin dan punya manajemen waktu yang ketat. Dia pun harus menyesuaikan dengan hal itu. Maka setiap kali memimpin ibadah dan tiba pada waktu kotbah, penyampaiannya tidak akan lama-lama.

“Kalau kotbah lebih dari 15 menit, sebagian jemaah akan berdiri dan pulang,” ujarnya.

Sayapun tertawa karena membayangkan andai itu dilakukan oleh jemaah di Indonesia niscaya gereja-gereja bakal kosong. Sebab para pemimpin ibadah di Indonesia bisa berkotbah tiga kali selama peribadahan. Berkotbah di pembukaan, berkotbah di sesi kotbah dan berkotbah di bagian penutup.

Untuk jemaah di Indonesia lebih saleh, biar kotbahnya panjang dan melebar-lebar tetap saja mereka duduk di dalam menunggu sampai selesai. Tapi yang jelas sebagian pasti sudah bosan, hingga ada yang tertidur, melamun atau mungkin misuh-misuh dalam hati.

Tentu bukan salah para jemaah kalau tak tahan memberi perhatian atau menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh para pengkotbah secara monolog itu.

Konon memang batas rata-rata manusia untuk memberi perhatian pada apa yang disampaikan oleh orang lain tidak dalam model dialog panjangnya hanya 10 menit. Lewat dari itu perhatian atau fokus sudah buyar.

Mungkin ini yang kurang disadari oleh para pemuka religi terutama dalam peribadahan resmi. Dimana dalam peribadahan seperti ini yang hadir tak boleh protes atau menyampaikan aspirasi. Yang datang harus duduk, tunduk dan khusyuk, walau pikirannya melayang-layang.

Tapi para agamawan profesional menyadari hal ini. Yang saya sebut agamawan profesional adalah mereka-mereka yang sering mewartakan kabar dan pengajaran dalam acara-acara non peribadahan di ruang publik.

Mereka ini biasanya terkenal dan digemari karena dalam setiap pengajarannya yang bisa berjam-jam itu sering disisipi humor sehingga yang mendengarkan kerasan diam ditempat.  Yang datang bertahan karena ceramah yang disisipi humor menjadi tidak garing.

Ceramahnya relatif juga lebih bebas dibanding dengan yang dilakukan di rumah-rumah ibadah, lebih komunikatif dan bisa dua arah. Dan akan lebih seru lagi karena penceramah yang mendapat bayaran berlimpah itu kerap juga memberikan gift away.

Kita mempunyai daftar panjang penceramah yang humornya baik. Mereka selalu menjadi favorit dan ditunggu kemunculannya. Yang datang untuk mendengarkan bisa dari Sabang sampai Merauke.

Almarhum Gus Dur atau Abdurahman Wahid adalah salah satu penceramah yang mempunyai selera humor tinggi. Tak ada yang bosan jika mendengarkan Gus Dur ceramah.

Sayangnya para penceramah yang piawai dalam menyelipkan humor tidak selalu bertindak tempat. Selain humornya tidak relevan dengan yang sedang diceramahkan, kelucuan atau gelak tawa sering dipicu dengan kata-kata kasar dan jorok.

“Guru Palir,” begitu jawaban seorang kawan yang kini memimpin organisasi besar dalam lingkup ormas keagamaan saat diminta tanggapan terhadap seorang penceramah yang lagi naik daun.

Dia beropini seperti itu karena sang penceramah ini kerap kali menyegarkan suasana ceramahnya dengan cerita-cerita seks. Tentu saja pendengar yang kebanyakan orang dewasa lalu tergelak-gelak karena tersentil oleh cerita yang berbau seksual itu.

Cerita seksual secara vulgar sering dianggap tabu, namun jika diungkapkan dalam ceramah mungkin dianggap sebagai religi sehingga diterima sebagai gurauan untuk menyegarkan suasana.

BACA JUGA : First Lady

Baru-baru ini seorang Gus yang ternyata bukan keturunan ulama terkemuka kena masalah gara-gara omongannya disela-sela ceramah.

Gus ini penampilannya memang agak lain, bisa dibilang kekinian.

Karir dakwahnya juga agak lain, karena dimulai dari tempat-tempat yang banyak dihindari oleh penceramah lainnya.

Dulu dia kerap berceramah di lokalisasi, jamaahnya adalah Pekerja Seks Komersil.

Dalam algoritma komunikasi publik yang agak-agak lain memang lebih muda memancing perhatian. Atau dalam bahasa platform sosial media, lebih berpotensi untuk viral, trending dan fyp.

Gus ini pun kemudian terkenal dan berhasil melakukan shifting, atau dalam istilah Bambang Pacul mampu melenting.

Dia kemudian menjadi penasehat spiritual atau guru para selebritas, baik selebritas dunia hiburan maupun politik kekuasaan.

Harus diakui bahwa Gus ini memang punya kemampuan yang baik. Sikapnya untuk menghadapi perbedaan atau pluralitas juga proper.

Tak heran jika kemudian oleh presiden terpilih, dia diangkat menjadi utusan khusus. Oleh Presiden Prabowo, Gus ini dilantik sebagai Utusan Khusus Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.

Penugasan ini menempatkannya sebagai seorang pejabat negara.

Disinilah timbul masalah terutama karena kebiasaan atau nalurinya dalam berceramah.

Gus ini terkenal mulutnya ember, karena gurauan atau guyonannya berada di dalam genre slapstick dan sarkas.

Dalam berbagai kesempatan, kerap tertangkap gaya humornya melibatkan aktivitas fisik yang berlebihan. Contohnya ketika nguyel-nguyel kepala istrinya.

Dan lisannya juga mudah mengucapkan kata-kata kasar yang bernuansa ejekan, hinaan bahkan merendahkan.

Dalam sebuah kesempatan tampil dengan Yanti Pesek seorang pelawak perempuan, dia mengucapkan percakapan kira-kira begini “Untuk Mbak Yanti ini jelek makanya jadi pelawak terkenal, coba kalau cantik paling jadi lon…..,”

Percakapan seperti itu mungkin biasa terjadi di kelompok kecil dan tidak jadi masalah. Bully atau ejekan memang kerap menjadi bumbu untuk membangun keakraban dalam kelompok sebaya.

Tapi jika itu diucapkan diatas panggung yang ditonton oleh publik yang luas tentu bermasalah.

Orang Jawa menyebutnya dengan kurang tepo seliro. Atau dalam bahasa umum pelakunya akan disebut sebagai kurang empati. Dan yang lebih parah, anak-anak jaman ini mungkin akan menjuluki sebagai sosiopat.

BACA JUGA : Tebang Pohon

Mungkin karena terbiasa ringan mulut dalam kedudukannya sebagai Utusan Khusus Presiden yang masih menjalankan bisnis keagamaan sebelumnya, Gus ini kemudian terperosok.

Ucapannya sesungguhnya membuat gelak tawa berjamaah. Yang diatas panggung duduk disamping kirinya bahkan terlihat sangat senang, ketawanya sampai terguncang-guncang.

Kata yang diucapkannya adalah goblok, mungkin lebih tepatnya goblog alias bodo sekal atau tolol.

Sebuah kata yang biasa dalam pergaulan hari-hari.

Meski biasa diucapkan dimana-mana dan menjadi umpatan yang otomatis keluar dari mulut banyak orang, umpatan goblok ini dampaknya bisa bermacam-macam.

Di Solomon, sebuah negara kepulauan yang dekat dengan Papua Nugini ucapan goblok bisa menumbangkan pohon.

Masyarakat disana punya kebiasaan menumbangkan pohon bukan dengan cara ditebang, melainkan dihina-hina dengan ucapan goblok salah satunya. Pohon digoblok-goblokkan dan beberapa hari kemudian layu, kering lalu roboh.

Pohon saja dikasari, diejek atau dibully kemudian merana dan mati apalagi orang.

Dalam dunia jurnalistik kata sering dianggap setajam pedang. Sementara dalam dunia main hakim sendiri, kata-kata bisa sekeras batu. Orang yang diteriaki dengan hinaan di muka umum dan tak bisa melawan seakan tengah dihukum rajam, dilempari batu oleh orang disekelilingnya.

Entah apa yang dirasakan oleh Pak Penjual Es Teh sewaktu diteriaki goblok. Bisa jadi dalam konteks kelas sosial dia bisa menerima. Sebab yang mengatakan itu lebih tinggi derajatnya.

Kejadian seperti ini sekali lagi dalam konteks sosial bahkan sering menguntungkan untuk orang yang dihina. Karena bakal meraup simpati dan empati dari publik.

Pun yang menghina kemudian menyesal lalu berbalik mengambil hati.

Dalam kisah bisik-bisik ada cerita kegirangan seseorang jika sampai ditempeleng oleh orang tertentu. Sebab setelah menempeleng orang itu akan memberi uang.

Tapi ingat itu bukan hal yang normal dan tidak berlaku umum untuk setiap orang. Normalnya orang yang gampang menempeleng orang lain justru kerap merasa tak bersalah.

Jadi apapun yang kemudian terjadi setelah Pak Penjual Es Teh diteriaki goblok lalu berlimpah rejeki tetap tak bisa dijadikan alasan pembenaran.

Sebab ada banyak teriakan goblok membuat orang alim dan suka tersenyum kemudian menjadi pembunuh. Dan tak sedikit pula yang diteriaki goblok lalu merasa hidupnya tak berarti hingga kemudian bunuh diri.

Mulutmu harimaumu, itu sering diucapkan oleh Ruhut Sitompul, saat berhadapan dengan Rocky Gerung yang suka melontarkan kata dungu.

Maka agar mulut tidak jadi harimau, jaga ucapan. Jangan mudah mengucapkan kata goblok, goblog atau geblek.

Dan dalam khasanah bahasa Indonesia masih banyak padanan kata goblok yang sebaiknya juga jangan sembarang kita ucapkan.

Padanan kata goblok dalam bahasa Indonesia menurut studi  Adhenda Madarina Idzni, di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro adalah bodoh, bambung, bebal, bego, bloon, debil, dongok, domot, dungu, jahil, pandir, picik, dan tolol.

Jangan ucapkan kata-kata itu di depan publik jika tak yakin membawa kebaikan. Dan jangan jadikan guyonan sebagai alasan untuk pembenaran jika humormu tak lucu.

note : sumber gambar – KOMPASIANA