KESAH.ID – Homo Sapiens berkembang menjadi spesies yang merasa paling penting di bumi ini. Mahkluk yang dulunya merupakan salah satu yang terlemah kemudian menjadi pemuncak piramida kehidupan. Berbagai revolusi mulai dari revolusi kongnitif hingga ke revolusi informasi membuat manusia tidak sudi lagi disebut binatang, bahkan merendahkannya. Binatang oleh manusia disebut rendah segala-galanya. Singa, Harimau, Srigala dan lainnya disebut manusia sebagai binatang buas. Padahal manusia lebih buas, mereka hanya makan daging atau carnivora, sementara manusia memakan segalanya atau omnivora.
Untuk mengambarkan sosialitas manusia, Aristoteles filsuf Yunani Kuno menyebut manusia sebagai zoon politicon atau hewan bermasyarakat.
Menurut Aristoleles manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan sesama manusia, tidak ada manusia bisa hidup sendirian.
Kenapa Aristoteles menyebut manusia sebagai hewan?
Manusia dalam biologi memang termasuk dalam kerajaan hewan. Spesies Homo Sapiens masuk dalam keluarga kera besar. Dalam lingkup yang lebih besar lagi masuk dalam kelompok hewan menyusu. Dan masuk dalam kelompok yang lebih besar lagi yakni hewan bertulang belakang.
Hanya saja evolusi sepertinya berjalan menguntungkan manusia. Ada ketidaksengajaan yang kemudian membuat homo sapiens mengalami revolusi kognitif. Manusia bisa mengawetkan pengetahuan dan kemudian menciptakan teknologi berdasarkan pengetahuan yang dipunyainya.
Revolusi kognitif kemudian memicu revolusi-revolusi lainnya yang tak terhentikan. Dunia manusia kemudian meninggalkan dunia binatang lain pada umumnya.
Dunia binatang seperti diam di tempat, evolusinya berjalan pelan. Banyak binatang yang mempunyai kecerdasan setara dengan manusia, hidupnya masih sama seperti ribuan tahun lalu.
Yang disebut kecerdasan dalam dunia binatang adalah kemampuan untuk bertahan hidup atau mempertahankan spesiesnya selama mungkin. Dengan patokan ini maka salah satu binatang yang tercerdas adalah kecoak.
Sementara yang disebut kecerdasan dalam dunia manusia adalah kemampuan untuk belajar, menguasai pengetahuan, menciptakan teknologi, berkreasi dan terus melakukan inovasi.
Hal ini yang kemudian membuat manusia, kera besar yang berjalan tegak menjadi superior dan merasa lebih dibandingkan dengan binatang-binatang lainnya.
Manusia merasa superior dan penting karena mempunyai adab, sesuatu yang tak dipunyai oleh binatang secara ekplisit karena evolusinya lambat.
Yang serba tinggi disebut sebagai keutamaan manusia. Yang rendah-rendah disebut sebagai perilaku binatang.
Makanya manusia sering membinatangkan manusia lainnya yang dianggap lebih rendah SDM-nya.
Orang kerap disebut kelakuannya kayak binatang, apabila perilaku seksnya tidak terkendali.
Padahal secara biologi, perilaku seks binatang pada umumnya lebih terkendali. Binatang melakukan seks lebih karena dorongan meneruskan keturunan. Binatang betina mau berhubungan seks kalau birahi saja, atau sedang dalam masa subur.
Binatang tidak melakukan seks untuk iseng atau bersenang-senang.
Perilaku seks manusia jelas lebih dari binatang. Karena tujuan seks manusia bukan hanya prokreasi melainkan juga rekreasi. Manusia tidak hanya tertarik dan melakukan hubungan seks antara pria dan wanita, tetapi juga pria dengan pria, wanita dengan wanita.
Manusia juga bisa tertarik secara seksual dengan bukan manusia atau mahkluk hidup lainnya, melainkan juga horny pada benda mati.
Soal seks manusia gemar merendah-rendahkan binatang karena mereka kalau berhubungan seks tak tahu tempat. Dimana kepingin dan ada kesempatan disitu dilakukan.
Andaikan kucing, anjing dan babi bisa bicara mungkin mereka akan bilang “Nafsu seks manusia itu bikin eneg dan mau muntah rasanya,”
Sebetulnya ada binatang yang perilaku seksnya hampir seperti manusia, bahkan lebih aktif lagi yakni Bonobo, sejenis Simpanse yang tubuhnya lebih kecil.
BACA JUGA : Legal Ilegal
Simpanse, Bonobo, Orang Utan, dan Gorila memang mempunyai struktur DNA yang mirip dengan manusia. Kemiripannya antara 98 hingga 99 persen.
DNA atau Deoxyribonucleic Acid adalah molekul yang berisi material genetik dari induk ke keturunannya. Kode genetik ini akan menjamin sel anak akan mewarisi karakteristik yang sama dengan sel induknya.
Kerajaan tumbuhan dan kerajaan binatang umumnya mempunyai kesamaan DNA sampai dengan 50 persen. Itu merupakan pertanda bahwa binatang dan tumbuhan mulanya berasal dari nenek moyang yang sama namun kemudian secara evolutif terpisah.
Makin lama kejadian pemisahannya makin kecil persamaannya.
Jika kesamaan DNA disejajarkan dengan istilah bersaudara, maka manusia sebenarnya masih bersaudara dengan Kangkung, Kol, Bayam dan lainnya. Namun saudara jauh.
Saudara dekat manusia kalau dilihat dari struktur DNA-nya ya Simpanse, Bonobo, Orang Utan, dan Gorila. Tak mengherankan jika kemudian tingkahnya mirip-mirip.
Kemiripan DNA juga membuat struktur tubuh manusia mulai dari sistem pencernaan, pernafasan hingga syarat pusat mirip dengan mereka.
Walau mirip namun beda 1 sampai 2 persen saja telah menghasilkan perbedaan yang sangat signifikan. Yang paling utama adalah rambut dan kemampuan bicara atau berbahasa.
Manusia tidak berbulu lebat yang menutupi sekujur tubuh seperti halnya kera besar lainnya.
Karena kemiripan DNA itu maka film sains fiksi yang berjudul Kingdom of the Planet of the Apes menjadi sangat meyakinkan. Digambarkan dalam film itu Simpanse bisa mempunyai peradaban dan kemudian hidup layaknya manusia. Merekapun bisa melakukan perlawanan terhadap manusia.
Yang terpesona dengan film itu bisa saja percaya dan sedikit khawatir, jangan-jangan yang digambarkan dalam film akan terjadi kelak.
Jangan khawatir, itu hanya film yang nampaknya logis namun dipenuhi dengan jumping conclussion.
Peradaban kera besar yang bisa dianggap sebagai sepupu dekat manusia itu masih jauh capaiannya.
Yang paling sederhana adalah api. Kera besar belum bisa menguasai api. Pun ketika sudah bisa menguasai api, masih lama pula mereka akan menguasai tehnik budidaya.
Manusia boleh mulai khawatir superioritasnya akan tergeser seandainya Simpanse, Gorila, Orang Hutan dan Bonobo mulai bisa memasak, bercocok tanam dan berternak.
Tanpa kemampuan menguasai api, bertani dan berternak, kera-kera besar selain manusia itu belum akan membuka gerbang penemuan dan pengembangan teknologi. Sebab algoritma hidup mereka masih akan dideterminasi oleh hukum alam.
BACA JUGA : Sujud Menggonggong
Meski secara biologi manusia termasuk dalam kerajaan binatang, tapi banyak orang punya perasaan atau keyakinan yang berbeda. Sebagian besar manusia pasti tak mau di-binatang-kan.
Maka protes semacam ini “Kalau kita binatang kenapa kita berbeda dengan mereka?” sering diucap untuk memvalidasi bahwa kita bukan binatang.
Padahal yang namanya binatang cara hidupnya juga beda-beda. Cara hidup babi berbeda dengan ayam, begitu juga cara hidup kucing beda jauh dengan tikus.
Peradaban memang membuat manusia kemudian merasa lebih penting dan lebih tinggi derajatnya dari binatang.
Makanya manusia sering menyebut Harimau atau Singa sebagai binatang buas karena mereka makan dengan cara membunuh rusa, babi hutan dan binatang lainnya lalu dikunyah mentah-mentah.
Padahal lebih buas mana manusia dengan Harimau atau Singa?.
Ya jelas lebih buas manusia karena manusia memakan lebih banyak dari yang dimakan Harimau dan Singa. Manusia adalah omnivora atau pemakan segala. Makanya manusia menjadi binatang yang paling susah punah karena segala sesuatu bisa dimakan olehnya. Manusia memakan binatang, tumbuhan, jamur, dan juga sering meminum bakteri juga. Tapi anehnya tidak merasa diri sebagai mahkluk buas.
Cara belajar memang kemudian membuat manusia merasa menjadi mahkluk terpenting di bumi ini. Walau awalnya mempunyai cara belajar yang mirip dengan binatang yakni meniru. Tapi manusia kemudian punya kelebihan yakni mengembangkan bahasa.
Dengan bahasa kemudian manusia bisa membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada manusia lainnya atau generasi berikutnya. Manusia atau generasi baru tidak memulai dari nol.
Dan kemudian cara belajar ini disistematisasi dengan pendidikan atau sekolah.
Binatang tidak bisa melakukan ini. Kalaupun ada Sekolah Gajah, Sekolah Orang Utan, Sekolah Kuda, Sekolah Anjing dan lain-lain, yang menyelenggarakan tetap manusia.
Pendidikan adalah cara mengawetkan dan mengembangkan pengetahuan karena inti dari pendidikan adalah pustaka, pengetahuan yang dituliskan.
Binatang tidak menuliskan pengetahuan. Dan pengetahuan yang disimpan dalam memori atau otak akan bergeser. Ingatan orang akan berkurang seiring bertumbuhnya umur. Ingatan yang berkurang kemudian jika diceritakan kembali akan ditambah-tambahi. Fakta dalam dunia tutur lama kelamaan menjadi cerita, mitos atau legenda.
Dan hal-hal yang tidak sebenarnya inilah yang menyenangkan manusia.
Barangkali ini juga yang membuat binatang pada umumnya kalah dengan manusia. Binatang tidak produktif menciptakan narasi-narasi yang tidak sebenarnya.
Kurangnya kemampuan membuat cerita yang tak sebenarnya membuat kebanyakan binatang tidak punya imajinasi seperti halnya manusia.
Jadi manusia menjadi lebih dari mahkluk yang lainnya karena manusia adalah Kera Besar yang berjalan tegak dan pintar mengatakan atau menceritakan hal yang tidak sebenarnya.
note : sumber gambar – JERNIH








