KESAH.IDSetiap orang mempunyai fase-fase hidupnya sendiri. Ada masanya seseorang begitu revolusioner, tapi ada masanya dia menjadi begitu moderatif bahkan akomodatif. Darah juangnya bisa berbeda dari satu masa ke masa. Maka bukan hal aneh jika sekumpulan anak-anak muda yang dulu melawan dan ingin mengulingkan regim, kini bergabung dan menjadi tiang penyangga salah satu yang dulu dilawannya. Ini bukan sebuah peristiwa yang aneh bin ajaib. Jadi tak perlu kecewa atau resah melihatnya hingga kita kemudian susah tidur dan kurang bahagia.

Tahun 90-an ada sekelompok anak-anak muda di berbagai daerah yang rajin berdiskusi, mengasah argumen dan sekaligus melakukan pengorganisasian pada kelompok-kelompok masyarakat kecil dengan tujuan melakukan perubahan sosial politik.

Di masa itu tak terbayangkan ada anak-anak muda yang punya keteguhan dan keberanian untuk secara terang-terangan menyatakan regim harus digulingkan oleh kekuatan rakyat. Mereka memandang regim orde baru menindas rakyat, pembangunan yang dibangga-banggakan menyebabkan ketimpangan, juga ketidakadilan. Secara singkat capaian pembangunan bisa disimpulkan membuat yang kaya makin kaya yang miskin makin merana.

Bergerak secara klandestin, tetap saja kemarahan, keteguhan dan idealisme mereka menjadi secercah sinar yang membawa harapan. Harapan akan negeri yang lebih egaliter, inklusif dan berpihak pada rakyat.

Tak seperti kebanyakan aktivis jaman sekarang yang lebih banyak berdiskusi di kedai, kafe atau ruang hotel, anak-anak muda ini membaur bersama masyarakat. Mereka melakukan pengorganisasian kaum buruh, tani, mahasiswa dan lainnya.

Walau sebagian tercatat sebagai mahasiswa namun hari-harinya lebih banyak diisi dengan membersamai masyarakat kecil, hidup bersama, berdialog dan mendiskusikan permasalahan hidup serta untuk melakukan perubahan.

Mereka menanamkan kesadaran politik pada rakyat bahwa persoalan hidup mereka disebabkan oleh politik maka mesti diselesaikan secara politik.

Hasil pengorganisasian mereka adalah organ-organ politik, organisasi yang berbasis masyarakat dengan tujuan melakukan revolusi sosial politik.

Organ-organ politik ini kemudian mendeklarasikan sebuah partai yang disebut Partai Rakyat Demokratik. PRD menjadi organisasi payung dari organisasi massa sektor buruh {FNPBI}, sektor budaya dan seniman {JAKKER}, sektor tani {STN} dan sektor mahasiswa {SMID}.

Saat dideklarasikan PRD langsung secara tajam menyerang pemerintahan orde baru dan menegaskan dirinya sebagai partai oposisi. Lewat manifesto 22 Juli 1996 mereka memberikan tuntutan yang terdengar mengerikan pada saat itu.

Pemerintah orde baru kebakaran jenggot dengan kehadiran PRD ini. Semangat revolusioner telah lama ditekan oleh orde baru yang tumbuh dari kebencian terhadap PKI. Yang berbau revolusioner segera dituduh sebagai kiri atau bahkan komunis.

Aktivis PRD kemudian mendapat tekanan dan teror.

Dan peristiwa 27 Juli 1996 dijadikan sebagai alasan untuk menangkap pimpinan-pimpinan utamanya. Mereka kemudian dipenjarakan sebagai tahanan politik.

Yang lainnya sempat diculik, dan ditahan di lembaga ekstrayudisial. Dalam penculikan mereka disiksa. Ada yang meninggal, ada yang hilang tak tentu rimbanya sampai sekarang dan sebagian lainnya dibebaskan.

Budiman Sujatmiko, deklarator PRD tetap ditahan hingga kemudian dibebaskan oleh Presiden Abdurahman Wahid setelah reformasi.

Yang diculik dan dibebaskan kemudian terus bergerak, bekerja bersama organ-organ dan komite-komite lainnya untuk mengerakkan reformasi.

Itu kisah 30 tahunan lalu tentang anak-anak muda pemberani yang atas salah satu cara memercikkan semangat revolusioner hingga kemudian lahirlah reformasi.

BACA JUGA : Kabinet Tidar

Setelah reformasi ketika undang-undang pemilu dirubah sehingga diikuti oleh multipartai – nama-nama anak-anak muda yang dilabeli kiri – yang pernah diculik, disiksa dan dipenjara kemudian muncul di berbagai partai. Ada yang di partai lama dan ada yang di partai baru.

Ada juga yang ikut mendirikan partai baru atau mendaur ulang partai lama.

Di PDIP ada nama Haryanto Taslam yang merupakan salah satu korban penculikan menjelang reformasi. Haryanto adalah loyalis PDIP Pro Mega. Namun kemudian Haryanto Taslam pindah ke Gerindra.

Jalan yang sama juga dilewati oleh Budiman Sujatmiko yang bergabung di PDIP lewat organ bernama Repdem. Budiman sempat menjadi anggota DPR RI dan kemudian menjadi loyalis Jokowi. Budiman kemudian menyeberang juga ke Gerindra.

Ada pula nama Andi Arief yang masih setia dengan Partai Demokrat.

Gerindra nampaknya menjadi partai yang paling mewadahi aktivis pro demokrasi pra reformasi. Disana ada Nezar Patria, Desmon Mahesa, Pius Lustrilanang dan kemudian diikuti nama-nama lainnya.

Fenomena ini kemudian menimbulkan banyak tanya. “Kok bisa bukankah dulu salah satu yang dilawan adalah mertua dan pendiri Partai Gerindra”.

Banyak yang kemudian kecewa atas manuver para aktivis pro demokrasi ini dan menganggap mereka sudah menggadaikan idealismenya.

Aneh dan mengecewakan.

Tapi sebenarnya tidak aneh dan tak perlu menimbulkan kekecewaan. Mereka tetap pribadi-pribadi yang peduli pada kerakyatan, peduli pada ketidakadilan, membela orang miskin atau termajinalkan. Hanya saja semangat revolusionernya yang mengebu-ngebu mulai bisa dikendalikan.

Tetap setia pada cita-citanya namun mungkin telah mencapai kematangan berpikir sehingga bagi mereka jalan untuk mewujudkan cita-cita tidaklah tunggal. Perubahan tidak selalu harus dengan revolusi atau reformasi, melainkan melalui advokasi atau perubahan kebijakan dan perilaku kebijakan.

Dengan begitu bergabung masuk dalam partai pemerintahan atau partai yang punya potensi besar untuk memenangkan pemilu menjadi lebih masuk akal dari pada bertahan terus dalam partai yang dimata publik bercorak progresif revolusioner namun ketika pemilu selalu masuk dalam golongan partai gurem.

Sekeras apapun suara partai gurem, suaranya akan ditelan oleh gemuruh netizen.

Suara partai gurem bahkan tak bisa menandingi pedasnya mulut seorang Rocky Gerung sekalipun.

Ibaratnya berjuang terus di jalur comberan akan sulit untuk mencapai tujuan. Maka tak ada salahnya jalur wangi dipilih karena di situ perubahan mungkin saja lebih mudah digaungkan.

Duduk di kursi empuk, memakai pakaian bermerek dan badan harum mewangi bukan berarti melupakan bau keringat bacin rakyat kecil. Toh yang tampil sederhana dengan segala sesuatu yang berbau local pride bisa jadi malah menipu. Karena di balik mata publik hidupnya justru bergelimangan kemewahan.

BACA JUGA : Bangsa Inlander

Walau begitu tidak salah juga jika ada yang tetap merasa janggal.

Ya janggal karena mereka dulu berlawanan. Yang dilawan dan kemudian berkuasa dulu dianggap penjahat, penjahat kemanusiaan.

Tapi kemudian yang melawan kini justru menjadi tiang utama untuk menyangga kekuasaannya.

Ah, jangan-jangan Presiden kali ini sesungguhnya orang kiri. Dia dalam hari-hari kedepan mungkin akan menunjukkan dirinya seperti Hugo Chaves, Presiden Venezuela yang terkenal itu.

Mungkin saja. Toh kalau dilihat dari teman bergaulnya, dia cukup dengan dengan Rocky Gerung, kritikus yang sosialis.

Jadi kalau dulu seolah dia ikut mengotori tangannya menumpas gerakan pro demokrasi itu dilakukan karena konsekwensi kedudukannya. Kedudukan sebagai komandan di institusi penjaga keamanan negara dan kedudukan sebagai menantu penguasa.

Bisa jadi. Toh yang disebut sosialis tidak melulu lahir dari kaum tertindas. Ada sosialis wangi atau sosialis kafe, mereka yang berlebih harta namun kemudian melihat ketidakadilan, ketimpangan dan praktek yang salah dalam kebijakan lalu berusaha merubahnya.

Memang ada yang kemudian meninggalkan harta dan segala privilege-nya seperti Sidarta Gautama. Tapi kisah heroik seperti itu sudah untuk diulang, lagi pula di jaman sekarang tanpa harta atau uang lingkaran pengaruh susah untuk dilebarkan.

Jadi sebenarnya ini apa?.

Mungkin ini kisah penahklukkan. Setiap orang punya episode hidupnya masing-masing. Ada masa dia sangat revolusioner tapi ada masanya dia menjadi moderatif. Masa lalu kemudian menjadi catatan, suatu masa yang mesti dilalui tanpa kemudian didogmakan.

Terbukti di masa lalu mereka adalah anak-anak muda yang cerdas, enerjik, berani dan penuh semangat. Mereka punya segala sesuatu yang diperlukan untuk menopang kekuasaan. Mereka tentu ingin terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa depan.

Dan siapapun yang bisa memberikannya tak akan ditolak. Dengan kedewasaannya mereka telah bisa berpikir tak perlu pusing dengan segala predikat di masa lalu. Ibarat pembalap tak perlu pusing dengan merek motornya, selama motor itu bisa dikebut dan mampu meraih kemenangan.

Selamat untuk Budiman Sudjatmiko, Mugiyanto, Agus Jabo, Faizol Reza dan Nezar Patria. Semoga cita-citamu untuk mensejahterakan buruh, tani, kaum miskin, masyarakat marjinal perkotaan dengan semangat keadilan bisa tercapai.

note : sumber gambar – KOMPAS