KESAH.ID – Banyak yang menyebut Malioboro tidak seperti dulu lagi setelah ditata menjadi kawasan pedestrian. Ya Malioboro kehilangan vibe klasiknya karena tak lagi ada uyel-uyelan di sepanjang selasarnya karena tak ada lagi pedagang kaki lima di emperannya. Walau begitu Malioboro tetap menjadi magnet Yogyakarta karena tak banyak jalan di Indonesia yang bisa menjadi ruang ketiga.
Yogya untuk saya itu Wirobrajan, Keraton dan Gembira Loka. Lalu ketika mulai iseng pergi kesana mengayuh sepeda dengan teman sepermainan, Yogya itu Code dan Bulak Sumur. Disana saya njujuk mampir ke kos-kosan kakak seorang teman yang sudah kuliah.
Baru ketika mulai naik kereta dari Stasiun Kutoarjo untuk pergi ke Sekatenan, Yogya adalah Stasiun Tugu, Malioboro dan Lapangan Utara Keraton Yogya.
Di lain waktu, ketika duduk di bangku SMA, saya bersama beberapa teman kerap kali naik bis pulang pergi Purworejo – Yogya hanya untuk pergi ke Toko Buku Indira. Bukan untuk beli buku, tapi ndlosor di lantai membaca serial Tintin.
Namun duapuluhan tahun terakhir ini, Yogya untuk saya adalah Malioboro. Setiap kali mampir ke Yogyakarta yang jadi jujugan adalah kawasan Malioboro.
Ikon Yogya seperti yang dimadahkan oleh KLA Project, grup musik new wave yang beranggotakan Katon Bagaskara, Lilo, Adi Arian, dan Ari Burhani memang mewakili suasana dan kerinduan pada Yogyakarta sebagaimana bisa ditemukan di Malioboro.
Malioboro sendiri merupakan nama sebuah jalan, garis maya yang seolah menghubungkan antara Merapi, Tugu Yogyakarta dan Keraton Ngayogjokarto Hadiningrat.
Ada banyak versi asal usul dari nama Malioboro.
Versi yang bernada spiritual religi mengartikan Malioboro berasal dari kata maliho yang artinya berubahlah menjadi, dan boro atau ngumboro yang artinya perjalanan. Dengan demikian Malioboro berarti sebuah petunjuk atau petuah agar seseorang dalam hidupnya senantiasa berjalan di jalan kebajikan, memilih ajaran wali sebagai sumber dari kebajikan.
Versi lain berasal dari pencocokan penyebutan berdasarkan lidah orang Jawa. Dulu di jalan itu ada sebuah gedung bernama Marlborought, sekarang gedung itu menjadi Gedung DPRD Yogyakarta. Menyebut Marlborought cukup sulit untuk lidah Jawa, sehingga dilafalkan menjadi Malioboro.
Versi lain yang lebih bisa dipercaya ditulis oleh Peter Carey, seorang sejarawan. Dia menyebut Malioboro sebagai The Garland Bearing Street atau jalan yang penuh dengan untaian bunga. Sebutan ini muncul karena dulu sepanjang ruas jalan Malioboro penuh dengan tanaman atau pohon berbunga.
Malioboro berasal dari frasa Sansekerta, yakni malya yang berarti karangan bunga dan bhara yang berarti menyajikan. Frasa malyabhara ini bisa ditemukan dalam kisah Ramayana versi Jawa pada abad 9 dan 10.
Di abad 14 sebutan ini kembali muncul dalam buku Partawijaya dan kemudian ditemukan juga dalam buku Dharmasunya.
Para sejarawan menyakini Malyabhara yang muncul dan dikenal dalam beragam kisah dan buku inilah yang kemudian menginspirasi Sultan Hamengku Buana I menamai wilayah atau jalan yang merupakan garis lurus itu sebagai Malioboro.
Konon jalan itu dulu selain berhias dengan tanaman atau pohon berbunga, pada saat tertentu ketika kedatangan tamu agung kerajaan juga akan dihiasi dengan rangkaian bunga untuk menyambut dan menghargai tetamu yang datang.
BACA JUGA : Nyanyian Kritis
Sepanjang ingatan saya, Malioboro adalah jalan lurus mulai dari bagian selatan pintu persimpangan kereta api di Stasiun Tugu sampai perempatan setelah Pasar Bringharjo adalah selasar yang kanan kirinya dipenuhi pertokoan dan deretan pedagang kaki lima di emperannya.
Jalanan ini ramai 24 jam. Pagi sampai menjelang malam banyak pedagang menjual pernak-pernik dan pakaian, sementara menjelang malam mulai muncul lapak-lapak penjual makanan dan wedangan.
Apa saja ada di Malioboro dan sekitarnya, orang tak perlu kemana-mana untuk menikmati Yogyakarta. Berhari-hari orang bisa menghabiskan waktu dengan hilir mudik di Malioboro, mulai dari utara palang pintu kereta api hingga ke selatan.
Penginapan mulai dari yang murah meriah sampai yang mahalnya bisa bikin terbelalak ada di seputaran Malioboro.
Dan Malioboro tetap juga dikenal dengan bunga, karena di satu sisi ujungnya ada Pasar Kembang. Dulu mungkin kembang yang sesungguhnya tapi kini yang tersisa adalah kembang malam di sebuah ekosistem yang dikenal dengan nama Sarkem.
Beberapa tahun terakhir ini untuk mereka yang kerap berkunjung ke Maliboro sebagian besar mengatakan Malioboro sudah tak seperti dulu lagi.
Kawasan Malioboro mulai dari selatan palang pintu kereta api Stasiun Tugu memang sudah ditata. Tak ada lagi pedagan kaki lima dan tenda-tenda makanan di trotoar atau emperan toko-tokonya.
Pedagang dikumpulkan di sebuah tempat. Dan sepanjang Malioboro juga tak boleh diparkiri oleh kendaraan lagi. Parkir dipusatkan di beberapa tempat sehingga Malioboro menjadi lokasi untuk pedestrian atau jalan kaki.
Geliat penataan dimulai dari kawasan sekitar Stasiun Tugu. KAI membersihkan areanya dari pendudukan oleh masyarakat. Bagian selatan Stasiun Tugu atau sisi jalan Pasar Kembang disulap jadi kawasan publik atau destinasi dengan nama selasar Malioboro. Dimulai dari sisi paling timur yang disulap menjadi tempat medang, madang dan jagongan dengan nama Loko Café.
Dan bangunan lain hingga pintu masuk stasiun bagian selatan di sulap menjadi food festival angkringan kopi joss, taman dan outlet makanan serta minuman yang lain. Selain itu ada juga locker dan shower tempat pengelana bisa menitipkan barang dan mandi atau membersihkan diri sepuasnya.
Penataan itu kemudian diteruskan di sepanjang jalan Malioboro. Dimana pedagang kaki lima yang dulu mangkal menjajakan barang di emperan kemudian dikumpulkan di dua tempat, satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan.
Yang sisi kiri berada tak jauh dari Gedung DPRD Yogya, sementara yang sisi kanan berada di seberang Pasar Bringharjo atau sebelah Batik Hamzah yang dulu dikenal dengan sebutan Mirota.
Malioboro memang berubah, tidak seperti dulu lagi.
Tapi benarkah Malioboro tidak seperti dulu lagi atau bahkan kehilangan roh-nya?.
Mestinya tidak juga. Sebab yang disebut dulu itu perlu didudukkan masanya. Yang disebut dulu itu kapan?
Ketika dulu jalan Malioboro dibangun, Malioboro dimaksukan sebagai marga raja atau jalannya raja. Jalan yang menghubungkan garis imajiner antara Merapi, Tugu, Kraton dan Laut Kidul.
Keramaian di jalan Malioboro pada masa itu tidak berada di sepanjang jalannya. Rumah atau permukiman baru ada di sekitar Ketandan hingga Pasar Gedhe, pusat perdagangan yang kini lebih dikenal dengan nama Pasar Bringharjo.
Orang-orang yang jualan ngemper baru ada sesaat sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
BACA JUGA : Santri/wati Berkuda
Malioboro mulai meramai ketika Yogyakarta menjadi Ibu Kota Sementara Republik Indonesia. Yogya mulai menjadi destinasi, mulai banyak wisatawan yang datang dan pedagang yang ngemperpun makin bertumbuh sampai bertumpuk-tumpuk.
Malioboro jadi happening banget.
Selain jadi ruang perniagaan, Malioboro sesungguhnya juga ruang perjumpaan kebudayaan antara orang utara dan selatan Yogyakarta. Malioboro jadi pertemuan budaya yang kemudian melahirkan budaya baru, budaya pop atau alternatif yang makin menguatkan imaji klasik tentang Malioboro.
Ada banyak nama budayawan besar yang dihubungkan dengan Malioboro. Mereka tumbuh dan berdialektika dengan cangkruk di Malioboro di warung medangan Mbah-Mbah yang terkantuk-kantuk menunggu lapaknya.
Umbu Landu Paranggi, Linus Suryadi AG, Emha Ainun Najib, Ebiet G Ade, Butet Kartarejasa dan berderet nama lainnya tidak bisa dipisahkan perjalanannya kesenian, kesusastraan maupun kebudayaannya dari Malioboro.
Meski tumbuh dalam pondasi budaya baik tradisional maupun populer yang kuat, namun komodifikasi budaya kemudian lebih menonjol. Citra Malioboro sebagai ruang ketiga makin tersingkir, Malioboro bukan ruang untuk menimba spiritualitas budaya Yogyakarta tetapi menjadi ruang dagang.
Identik dengan kaos, batik, pernak-pernik kulit, oleh-oleh dan lainnya, dimata para perindu Yogyakarta itulah citra klasik Malioboro. Seolah Malioboro terlahir untuk itu.
Ketika Malioboro dikembalikan pada fungsi sebagai ruang ketiga, ruang publik yang bisa dinikmati secara gratis kemudian banyak yang mengeluhkan Malioboro seperti kehilangan nyawanya.
Dan tentu yang mengeluh atau merasa kurang bukan hanya pengunjung tetapi juga ribuan pedagang yang sebelumnya sudah mapan. Tiga malam saya di Yogya pada awal bulan September, dua hari saya menemukan komunitas pedagang melakukan demo menolak relokasi.
Namun Sultan Hamengku Buana X tetap kukuh pada pendiriannya untuk menjadikan Malioboro sebagai arcade, selasar penghubung antara Tugu Yogyakarta hingga Keraton tempat masyarakat bisa menikmati Yogya dengan jalan kaki tanpa distraksi komoditi.
Toh, jika kita mengunjungi Malioboro dan ingin mencari apa yang dulu ada di emperannya, semua ada juga di Pasar Bringharjo atau Pasar Gedhe.
Malioboro tanpa pedagang di emperan tetap saja istimewa karena jalan ini mungkin menjadi satu-satunya jalan di Republik Indonesia yang berhasil menjadi ruang ketiga, ruang publik tempat warga bisa menghirup silaturahmi dalam kesetaraan. Setara sebagai sesama pejalan kaki.
note : sumber gambar – DETIK








