KESAH.IDRotasi kepemimpinan di tingkat nasional akan selalu menimbulkan riak-riak di partai politik dan pemilihan kepala daerah. Dinamikanya kerap tidak terduga sebelumnya dan membuat rencana atau proyeksi yang telah dibuat menjadi berantakan. Politik memang penuh skenario, dan siapa yang abai pada skenario terburuk sering kali bakal terjungkal ketika berhadapan dengan plot twist kecenderungan politik terkini.

Di masa reformasi Amien Rais dikenal sering mengucapkan politik berubah dari detik ke detik. Dalam politik segalanya bisa berubah dengan sangat cepat.

Dan ternyata hal itu terjadi pula pada Amien Rais, akademisi yang kemudian menjadi aktivis politik yang mendorong dan menyokong reformasi. Dengan semua idealisme, Amien Rais kemudian dipandang sebagai salah satu bapak reformasi.

Jalan reformatif kemudian diwujudkannya dengan mendirikan PAN, Partai Amanat Nasional yang merupakan salah satu partai reformis.

Tapi perubahan yang cepat terjadi dalam diri Amien Rais, dari idealis menjadi harimau.

Ucapan dan tindakan Amien Rais setelah Suharto berhasil ditumbangkan kerap aneh-aneh dan bertentangan dengan semangat reformasi yang dulu dengan kencang digaungkan olehnya.

Politik memang demikian, perubahan bisa terjadi dalam waktu yang singkat.

Popularitas Donald Trump misalnya semakin meningkat setelah peluru yang menyerempet kupingnya. Tanpa kampanye yang berlebihan, Trump berhasil memikat pemilih di Amerika Serikat. Joe Biden makin kedodoran, peluru yang diarahkan untuk meledak di kepala Donald Trump justru mematikan langkah dirinya.

Tak lama setelah peristiwa penembakan pada Donald Trump, Joe Biden memilih mundur dari pencalonan sebagai presiden Amerika Serikat untuk periode keduanya.

Trump tentu bersorak, saingan terberatnya mengangkat bendera putih.

Partai Demokrat tentu saja gelagapan karena hanya ada skenario tunggal untuk pemilu yakni Joe Biden maju kembali.

Tidak ada pilihan lain bagi Partai Demokrat selain memajukan Kamala Harris sebagai penganti Joe Biden. Tidak banyak sosok lain yang bisa dipilih, kalaupun ada ternyata tak tertarik untuk menjadi presiden. Sosok itu adalah Michele Obama.

Donald Trump berada diatas angin, merasa bisa mengendalikan gelombang. Apalagi dirinya pernah secara meyakinkan bisa mengalahkan Srikandi Demokrat dalam dua pemilu sebelumnya. Trump mengalahkan Hilarry dengan membangun persepsi bahwa Hilarry adalah orang yang membahayakan Amerika Serikat jika terpilih menjadi presiden.

Kamala Harris bukanlah lawan yang sepadan untuk Donald Trump.

Popularitas Trump semakin meningkat. Survey juga menunjukkan suhu politik di Amerika Serikat tidak berpihak kepada calon perempuan. Kebanyakan warga Amerika Serikat belum sreg punya pemimpin perempuan.

Amerika Serikat meski dikenal sebagai kampiun demokrasi, HAM, kesetaraan gender dan isu lainnya yang inklusif ternyata warganya tak beda-beda jauh dengan Indonesia yang masih menyimpan DNA tradisional soal kepemimpinan.

Bagaimanapun juga Donald Trump memang dikenal ganjen. Dia tak bisa menahan godaan untuk menyerang Kamala Harris, menyerangnya dari sisi keperempuannya.

Trump menjuluki Kamala Harris dengan sebutan ‘Wanita Kucing’.  Istilah itu untuk mengambarkan Kamala sebagai seorang perempuan yang belum pernah melahirkan atau tak punya anak kandung sehingga lebih suka memelihara kucing.

Ternyata serangan Trump justru meningkatkan simpati pada Kamala Harris. Dia bukanlah ibu tiri yang kejam pada anak-anak bawaan suaminya. Anak tirinya justru punya panggilan sayang-sayang, yakni Momala mungkin singkatan dari Mommy Kamala.

Sampai hari ini Donald Trump yang dikenal bermulut tajam, belum mampu menghujamkan serangan yang menusuk jantung Kamala Harris.

BACA JUGA : Golkar Pasrah

Menghadapi Joe Biden, Donald Trump dan kubunya sudah punya senjata. Tapi ketika menghadapi lawan yang tidak disangka-sangka, muncul kegamangan.

Hal serupa tapi tak sama juga terjadi menjelang pelaksanaan Pilkada serentak di Indonesia. Berbeda dengan pemilu presiden dimana calon pesertanya sudah menguat sejak bertahun sebelumnya, beberapa pilkada sampai beberapa hari menjelang pendaftaran calon belum jelas juntrungannya.

Partai politik sepertinya lebih sulit menentukan calon kepala daerah ketimbang calon presiden.

Ada kecenderungan berbeda dalam Pilkada yakni pasangan calon ingin menang lewat pertarungan tanpa lawan. Pilkada disetting untuk diikuti oleh satu pasangan calon melawan kotak kosong.

Pasangan calon berupaya memborong partai, tidak menyisakan kemungkinan dukungan untuk calon lainnya.

Pilkada Provinsi Kalimantan Timur nyaris diikuti oleh kotak kosong. Saking yakinnya kemudian memunculkan Gerakan Dukung Kotak Kosong.

Syukurlah ada partai yang kemudian melawan arus, sehingga ada dukungan yang cukup bagi pasangan Isran Noor dan Hadi Mulyadi untuk maju kembali dalam Pilkada 2024 ini.

Nasib pasangan yang telah satu periode memimpin Kalimantan Timur ini hampir tragis, gagal maju kembali karena minim dukungan partai. Padahal survey menunjukkan popularitas dan elektabilitas Isran Noor tertinggi diantara kandidat-kandidat lainnya.

Popularitas dan elektabilitas yang tinggi ternyata bukan jaminan untuk menarik dukungan pencalonan dari partai-partai.

Setelah urung mendaftar melalui jalur independen, nasib pasangan Isran Noor – Hadi Mulyadi seperti terkatung-katung, satu demi satu partai menyatakan dukungannya pada Rudi Mas’ud – Seno Aji.

Model borong partai agar seorang pasangan akan melawan kotak kosong sepertinya tengah diupayakan. Dan nampaknya akan berhasil sehingga memunculkan keprihatinan dari sekelompok masyarakat.

Suara keprihatinan antara lain ditunjukkan dengan munculnya kelompok atau gerakan untuk memenangkan kotak kosong.

Gerakan yang sangat mulia untuk menjaga demokrasi namun entah bagaimana cara kerjanya nanti.

Pasangan Rudi Mas’ud – Seno Aji seperti diatas angin. Tidak seperti pemilu presiden dan legislatif curi start memasang alat peraga kampanye tidak terlalu masif. Memang ada baliho terpasang disana-sini namun tak terlalu membuat pemandangan tepi jalan terpolusi.

BACA JUGA : Kopi Melek 

Meski mundur dari Nasdem, Isran Noor tetaplah politisi yang piawai demikian juga dengan Hadi Mulyadi yang tetap kukuh dipertahankan sebagai pasangannya.

Terus bekerja dan melakukan lobi-lobi di Jakarta akhirnya Partai Demokrat mengumumkan Isran Noor sebagai calon yang direkomandasikan oleh PD untuk bertarung dalam Pilkada Kaltim 2024. Penyerahan dukungan yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono sekaligus menyatakan Isran Noor bergabung menjadi anggota Partai Demokrat.

Dan tak lama kemudian, dukungan juga diberikan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Isran Noor dan Hadi Mulyadi resmi dinyatakan sebagai calon kepala daerah yang akan diusung oleh PDI P pada Pilkada Kaltim 2024.

Dengan dukungan dari Partai Demokrat dan PDI P, Isran – Hadi telah memenuhi syarat dukungan minimal untuk maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur periode 2024 – 2029.

Konstelasi berubah, pasangan Rudi Mas’ud – Seno Aji dan timnya mungkin tak terkejut karena desas-desus pasti sudah didengar. Skema untuk meneruskan Koalisi Indonesia Maju dalam pilkada serentak 2024 nampaknya gagal.

Politik memang bisa berubah dari detik ke detik, sebelum kemenangan tiba kepastian tak boleh diyakini. Kepastian dalam politik adalah kepastian sementara yang dengan mudah bisa terkoreksi.

Yang patut ditunggu adalah debat terbuka antara Isran Noor dan Rudi Mas’ud. Entah akan mempengaruhi pilihan masyarakat atau tidak, namun dipastikan akan seru.

Seru karena masyarakat Kalimantan Timur akan kembali mendengar celoteh dan celetukan Isran Noor yang kocak, nyeleneh dan kerap mengejutkan itu.

Paham lah ikam.

note : sumber gambar – AROSUKAPOST