KESAH.ID – Pada saat kemunculannya, transportasi online menjadi tumpuan banyak orang untuk memperoleh pendapatan. Era bakar uang dari penyedia aplikasi membuat mitra pengemudi bisa beroleh pendapatan jutaan rupiah setiap harinya. Namun jaman telah berubah, ketika tarif yang diterapkan kembali ke hitungan normal, konsumen merasa tarifnya mahal dan mitra pengemudi merasa pendapatannya kecil.
Cerita driver ojol bisa dapat penghasilan jutaan per hari sudah lewat. Dari tahun 2010 – 2015 banyak orang berani ngantri untuk mendaftar jadi mitra angkutan online karena penyedia aplikasi masih royal membakar uang.
Kini yang lebih terdengar adalah keluhan para mitra tentang tingginya potongan yang diberlakukan oleh perusahaan aplikasi ride hailing.
Masa keemasan start up memang lewat karena investor tak lagi royal mengelontorkan uang untuk dibakar. Bentuk promosi dan pemasaran untuk menggaet pengguna mulai dibatasi, para pemodal mulai menuntut pendapatan, neraca keuangan yang sehat.
Yang mulai mengeluh bukan hanya mitra pengemudi saja melainkan juga pengguna. Layanan ride hailing makin tidak sat-set. Para driver menjadi lebih selektif, tak semua order akan disambar.
Beberapa hari lalu saya terpaksa memakai ojek online. Tujuannya tidak jauh, tak lebih dari 1,5 km. Saya memilih layanan yang memakai jaket hijau, karena kemudahan menentukan titik jemputan dan titik antaran.
Hari masih pagi dan cuaca cerah. Begitu order saya pencet, ternyata yang menyanggupi untuk datang menjemput ada di sekitar Samarinda Central Plaza, jaraknya kurang lebih 4,5 km dari tempat saya menunggu.
Bayangkan, pengemudi ojol dengan kelir jaket berwarna hijau itu harus menempuh perjalanan 4,5 km untuk menjemput dan mengantar saya untuk pergi ke lokasi yang tak sampai setengahnya demi memenuhi orderan.
Cukup lama saya menunggu sambil menahan rasa tak enak hati.
Untung yang datang menjemput saya lebih tak enakan lagi orangnya. Dia mengatakan “Wah, untung bapak mau menunggu,”
Dalam perjalanan yang pendek, saya mendengar litani keluhan dari sang driver perihal pendapatan yang makin lama mengecil dan penumpang yang makin lama makin cerewet karena tarif yang makin terasa mahal.
Pengguna atau konsumen dengan mudah mengatakan mahal, padahal yang terjadi makin hari harga makin normal. Disebut mahal karena yang dipakai adalah patokan jaman lampau, ketika perusahaan penyedia ride hailing gemar memberi subsidi.
Harga tanpa subsidi itu menjadi terasa makin mahal karena ditambah dengan biaya platform fee, order fee hingga packaging charge. Biaya yang tidak dikenakan kalau pergi beli sendiri.
Konsumen terutama layanan pesan antar yang melakukan pemesanan saat sudah didera haus dan lapar gampang sekali menjadi emosian. Terlebih jika makanan atau minuman yang dipesan di merchant yang ramai pelanggan, dan kemudian jalanan macet. Pesanan yang datang pasti akan disambut dengan wajah masam.
“Ada pak yang membayar sambil dilempar uangnya,” ujar driver ojol yang menjemput saya pagi itu.
Pagi-pagi cerita driver ojol sudah membuat saya sedih, untung saja perjalanannya tak lama jadi saya tak perlu mendengar kisah nestapa lainnya.
BACA JUGA : KERETA SAMARINDA
Harga atau tarif memang sensitif dalam angkutan, yang termurah yang cenderung dipilih. Terlebih jika layanannya tidak terlalu berbeda jauh.
Karena bukan pengguna ride hailing aktif, saya sebenarnya tak terlalu merasakan soal perbedaan tarif dan layanan dari beberapa ride hailing yang beroperasi di Samarinda.
Tapi sejauh pengamatan, kalau dulu banyak orang bilang naik Gojek atau Grab saja, kini kebanyakan mengatakan ‘Pakai maxim saja,”.
Maxim memang makin bersinar beberapa tahun belakangan ini, jaket kuning lebih kelihatan di jalan. Layanan mobilnya juga lebih kentara karena baik angkutan penumpang maupun barang ditandai dengan stiker besar.
Rasanya hampir semua mobil bak terbuka atau pick up ditempeli dengan stiker maxim.
Jangan-jangan popularitas Partai Golkar yang perolehan suaranya naik dalam pemilu salah satunya disumbang oleh makin populernya warna kuning, maxim ini.
Beroperasi setelah para pesaingnya lebih dulu populer, maxim berhasil menggaet mitra dengan cepat mungkin karena persyaratannya lebih ringan dan mudah, serta meraup konsumen karena harganya yang lebih murah.
Tarif murah memang menjadi kunci di Indonesia karena konsumennya banyak yang masuk dalam kategori kaum mendang-mending. Konsumen yang sangat sensitif pada harga dan abai pada fitur-fitur lainnya.
Saya tak punya data mitra dan jenis kendaraan dari masing-masing aplikasi ride sharring ini. Tapi untuk angkutan barang sepertinya maxim terdepan. Pengalaman saya beberapa waktu lalu mengirim barang, layanan dari maxim cargo lebih cepat. Tak lama setelah pesanan dipencet, pesanan langsung disambar. Kendaraan datang tak melewati waktu puluhan menit.
Nampaknya untuk angkutan barang, armada berbasis aplikasi maxim jumlahnya lebih banyak.
Dua kali berturut-turut memakai layanan itu, pengemudinya sama-sama ramah dan cekatan membantu menata barang di bak kendaraan.
Jika barangnya banyak, layanan aplikasi ini juga menyertakan fitur helper. Kita bisa memesan unit angkutan plus pembantu untuk angkat-angkat barang.
Pertanyaannya dengan ongkos layanan yang lebih murah, apakah pengemudi atau mitra maxim memperoleh imbal jasa yang layak dibanding dengan mitra aplikasi ride hailing lain yang dikenal punya ongkos lebih mahal.
Meski lebih murah, bisa jadi imbal jasa maxim lebih baik karena potongan dari penyelenggara aplikasi lebih kecil. Dan sejak awal maxim tidak memanjakan mitranya dengan berbagai subsidi, sehingga pendapatan para mitranya tidak njomplang dibandingkan dengan aplikasi lain yang dulu ugal-ugalan untuk memberi rewards.
Sulitnya mendapat bonus kemudian menurunkan minat masyarakat untuk bergabung menjadi mitra penyelenggara aplikasi. Menjadi pengemudi transportasi online bukan lagi pilihan. Jika perusahaan tranportasi online kekurangan mitra, konsumen akan kesulitan untuk melakukan pemesanan, orderan tidak cepat dibalas.
Konsumen adalah raja, jika penyedia jasa pilih-pilih orderan lama-lama konsumen akan jera. Atau lebih memilih layanan lain yang lebih sat-set.
BACA JUGA : SAMBAL JAUNG
Meski layanan transportasi online makin populer dan telah diterima oleh masyarakat luas. Layanan ini masih bermasalah secara regulasi. Penyelenggara aplikasi dan mitranya walau mengangkut penumpang dan barang tidak dalam trayek tetap, tidak mempunyai badan hukum sebagai usaha transportasi.
Dalam peraturan menteri perhubungan nomor 108 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek ada ketentuan harus diselenggarakan oleh perusahaan yang berbadan hukum sesuai UU Lalu Lintas.
Badan hukumnya meliputi PT atau Koperasi. Untuk koperasi, anggota atau asetnya bisa atas nama perorangan.
Jasa layanan transportasi online berbasis aplikasi kemudian masuk di wilayah abu-abu. Para mitra pengemudinya tidak mempunyai status yang jelas, sehingga payung hukum atau kebijakan terkait lalu lintas tidak memberi perlindungan kepada mereka.
Maka pertama kehadirannya hingga sekarang, para pengemudi layanan transportasi online ini selalu dipersoalkan oleh pengemudi transportasi mainstreams, layanan yang dikenal sebagai transportasi umum.
Oleh para penyedia jasa layanan transportasi umum, jasa layanan transportasi online sering dituduh sebagai penyebab kematian angkutan umum.
Kambing hitam seperti ini tidak selamanya benar. Ada banyak faktor lain yang turut menyumbang kenapa layanan transportasi umum seperti angkot kemudian meredup, hidup segan mati tak mau.
‘Sariknya’ pengemudi layanan transportasi umum tetap bisa dipahami. Terkait berbagai ketentuan yang diisyaratkan oleh pemerintah nampaknya untuk menjadi pengemudi transportasi online tidak seberat pengemudi transportasi umum. Soal SIM misalnya dimana pengemudi transportasi umum mesti mempunyai SIM khusus, misalnya SIM A umum.
Layanan transportasi berbasis aplikasi masih akan terus didera masalah. Para mitranya mesti tebal telinga karena akan terus digunjingkan, bahkan sesekali akan didemo.
Sementara itu penyelenggara aplikasi belum tentu akan membela sekuat hati. Karena bisa jadi penyelenggara aplikasinya memang tak bermaksud menjadi perusahaan transportasi, mereka lebih memilih menjadi perusahaan teknologi.
Gojek sebagai pioner layanan tranportasi penumpang berbasis online, memang bukan merupakan perusahaan transportasi umum. Perusahaan ini merupakan perusahaan piranti lunak. Sehingga bukan hal mustahil fitur atau layanan transportasi online berbasis motor akan dihapus jika tak menguntungkan lagi, atau mempengaruhi keberlanjutan model bisnisnya.
Senjakala ojol-pun akan tiba.








