KESAH.ID – Ada banyak obrolan yang sebenarnya tak penting tapi disukai demik basa-basi. Manusia memang suka mengatakan hal yang tak sebenarnya agar hubungan sosial atau komunikasi mengasyikkan. Jadi tak apalah sesekali melakukan hal-hal yang tak penting asal membahagiakan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Ketika lokasi Ibu Kota Negara baru belum lama diumumkan, saya sempat nguping sebuah obrolan hangat di sebuah warung yang signature- nya minuman menghangatkan badan.
Salah satu tokoh dalam kumpulan itu mengatakan kalau dirinya sepuluh tahun lalu sudah mengusulkan lokasi ideal untuk memindahkan Ibu Kota Negara di lokasi yang tak jauh-jauh amat dari IKN sekarang ini. Lokasinya bertetangga walau beda kabupaten.
Sekilas dari nada dan ekpresi wajahnya terasa dia mengatakan “Nah, benar kan, apa yang saya bilang dulu itu,”
Saya hanya tersenyum mendengar kisahnya itu dan sama sekali tidak punya niat untuk memberikan reaksi. Menurut saya mengomentarinya entah menyanggah atau mendukung tidaklah penting. Sebab yang merasa telah meramalkan bahwa Ibu Kota Negara akan dipindahkan ke lokasi sekarang ini bukan hanya satu dua orang saja.
Namun yang saya tahu daerah Sepaku kemudian dipilih oleh Presiden Joko Widodo bukan karena ramalan, prediksi atau alasan yang sudah dinyatakan oleh beberapa orang jauh sebelumnya. Sebab yang diriset oleh para peneliti yang diperintahkan oleh Presiden banyak tempat. Pertimbangan atau lebih kurang dari masing-masing tempat tidak beda-beda jauh.
Jadi faktor yang paling menentukan penunjukkan Sepaku sebagai Ibu Kota Negara Baru adalah Joko Widodo. Ya Joko Widodo adalah presiden yang kuat, kuat dukungan dari masyarakat dan kuat pula dukungan dari legislatif.
Maka dimana akhirnya lokasi ibu kota akan dipindahkan sebetulnya bukan perbincangan yang penting. Yang justru lebih penting adalah bagaimana Ibu Kota Negara Baru itu diwujudkan termasuk apakah tujuan dari pemindahannya akan terwujud atau tidak.
Tapi karena ini merupakan pembicaraan di warung maka saya nggak terlalu menyoal soal penting atau tidaknya. Karena di warung memang banyak pembicaraan tak penting.
Hanya saja yang tidak penting bukan berarti tak perlu, yang tidak penting bisa saja penting. Penting untuk menjaga silaturahmi, penting untuk menjaga keseruan perbincangan, penting untuk menghangatkan suasana dan lain-lain.
Dan jujur saja hampir sebagian perbincangan atau interaksi kita dengan orang lain secara substansi tak penting. Tapi kita mesti tetap melakukannya karena betapa membosankan hidup kita jika waktu hanya diisi untuk membicarakan hal yang penting.
Pertama untuk menyepakati apa yang dianggap penting secara bersama saja sudah bisa bikin pusing bahkan bisa bikin retak hubungan.
Kedua meski waktu sehari hanya 24 jam dan ada banyak tanggungjawab yang mesti kita pikul ternyata kita mempunyai banyak waktu luang. Waktu luang itu harus kita isi biar nggak bosan. Dan salah satu cara yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang adalah ngobrol atau melakukan hal-hal yang sebenarnya tak penting.
BACA JUGA : Suka Disukai
Umumnya orang menganggap tujuan tertinggi dari hidup adalah kebahagiaan. Namun ternyata bahagia tidak boleh terlalu lama. Bahagia justru berbahaya untuk kelangsungan hidup manusia.
Orang disebut bahagia kita merasa dirinya cukup, tidak khawatir, merasa aman dan nyaman. Kondisi ini membuat orang jadi kurang waspada, segala sesuatu dianggap baik adanya, padahal resiko yang mengancam kehidupan ada dimana-mana.
Dengan demikian yang mengerakkan hidup sebenarnya kekhawatiran, khawatir akan hari esok. Karena kekhawatiran itu maka orang akan berusaha sekuat mungkin untuk memupusnya. Yang khawatir besok akan buruk akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan akan hari esok. Yang khawatir silsilah keluarganya putus akan menikah agar mempunyai anak. Yang khawatir masa depannya buruk akan giat belajar, memupuk pengetahuan dan ketrampilan.
Maka yang sebenarnya dibutuhkan orang adalah gembira, kesenangan yang muncul dari watak dasar manusia yang suka berkompetisi. Makanya kontes-kontes selalu disukai.
Seseorang disebut bahagia bukan karena hal-hal dari yang berasal dari luar. Bahagia adalah rasa atau kondisi yang muncul dari dalam diri bukan karena lulus ujian, menang balapan, bintang atau klub pujaan mengalahkan lawan dan sebagainya.
Sementara gembira adalah perasaan senang karena pengaruh hal-hal dari luar. Seseorang merasa gembira karena klub sepakbolanya membantai lawan, gembira atau senang karena orang yang dibencinya celaka.
Maka jangan heran kematian seorang mantan yang kurang ajar dan suka menyakiti bisa membangkitkan kegembiraan. Atau penangkapan seseorang karena korupsi membuat banyak orang lainnya gembira. Gembira bukan karena hukum ditegakkan, melainkan karena bisa melihat orang yang kemarin suka pamer-pamer kini merana.
Pendukung Perabowo – Gibran bersuka ria bukan semata karena pasangan itu menang dan akan membuat Indonesia maju berkembang. Melainkan dalam 5 tahun ke depan punya simpanan kegembiraan, bisa terus mengejek dan mengolok-olok pendukung Ganjar – Mahfud dan Anies – Muhaimin.
Bisa mengejek dan mengolok-olok orang lain lalu yang diejek atau diolok-olok mati kutu itu mengembirakan. Kesenangan gratis.
Demi mengejar sensasi senang yang mengembirakan itu banyak orang terus saja melakukan dan memelihara hal yang tak penting.
Yang remeh temeh memang mengembirakan.
Lihat saja pengemar Rossi, meski Valentino Rossi sudah pensiun dan tak lagi bersaing dengan Marc Marquez di lintasan, tetap saja tim kuning akan terus membawa-mbawa masa lalu di kolom komentar.
Dan tim kuning selalu gembira kalau Marc Marquez crash di lintasan atau dituduh membalap dengan ugal-ugalan oleh pembalap atau tim lain.
BACA JUGA : Tahi Sapi
Sebenarnya sejak kapan manusia keturunan homo sapiens ini suka dengan hal-hal yang tak penting dan rajin menghabiskan waktu untuk membahas hal-hal yang tidak sebenarnya tapi menyenangkan.
Konon menurut Yuval Noah Harari semua bermula ketika nenek moyang homo sapiens mulai berhasil menahklukkan api.
Dengan menguasai api, manusia mengalami revolusi. Dengan api, manusia berhasil membalik keadaan. Api menjadi senjata yang kemudian berhasil membuat manusia berada di puncak piramida kehidupan, penguasa, mahkluk terkuat.
Selain itu dengan api manusia kemudian punya banyak waktu luang. Malam-malam yang gelap dan dingin bisa ngobrol dengan membuat api unggun. Selain waktu energi manusia juga menjadi semakin efektif. Karena api makan menjadi menyenangkan dan tidak menguras tenaga, karena makanan yang dimasak selain menjadi lebih enak juga mudah dicerna.
Punya waktu dan kelebihan energi kemudian membuat manusia mulai bisa memikirkan hal-hal yang tidak penting, mulai melampaui apa-apa yang disekitarnya. Pikirannya melanglang buana, menciptakan realita-realita baru, mengada-adakan yang tidak ada.
Otak manusia perlahan mulai tidak ketat membedakan antara fakta dan fiksi. Kelak kelompok manusia yang berupaya sangat ketat untuk membedakan fakta dan fiksi hanyalah saintis serta wartawan.
Sementara kelompok lainnya tidak, dengan alasan sopan santun dan sederet alasan lainnya umumnya masyarakat masih senang dengan basa-basi.
Dan basa-basi sebenarnya tidak penting, karena apa yang disampaikan dalam basa-basi bukanlah hal yang sebenarnya.
Orang Jawa pasti tahu, ajakan dari seseorang untuk mampir, singgah makan atau minum bukanlah ajakan yang sebenarnya, itu hanya basa-basi, sekedar sopan santun jika bertemu orang di jalan atau halaman rumah.
Tapi sekali lagi, yang nggak penting dan bukan yang sebenarnya tidak berarti tak penting untuk dilakukan.
Soal yang penting-penting ini janganlah kita menghukum diri seolah itu hanya tipikal orang Indonesia. Kebiasaan ini ada di mana-mana, buktinya sosial media digemari oleh orang di seluruh penjuru dunia.
Terbukti sosial media yang paling populer sedunia adalah sosial media yang isinya bukan hal penting dan hal yang sebenarnya. Facebook dan Tik Tok kini meraja karena isinya banyak yang nggak penting dan tidak sebenarnya.
Sementara Twitter yang kini namanya jadi aneh itu, tak populer dan kembali gagal populer walau diambil alih oleh seorang genius. X menjadi tidak populer karena yang bermain di sosial media itu merasa yang diposting selalu merupakan hal yang paling penting dan paling sebenarnya.
Sepertinya Elon Musk si Genius itu lupa kalau manusia pada umumnya suka hal-hal yang tak penting dan tidak sebenarnya karena tak bikin pening kepala.








