KESAH.IDDemokrasi dengan slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat semakin hari semakin dibajak oleh watak feodal yang telah merasuk begitu dalam pada diri sekelompok penguasa. Pemilu yang pada dasarnya memberi ruang kepada siapapun untuk berkontestasi bisa disandera oleh tangan-tangan kekuasaan agar jalan itu hanya berkelindan diantara mereka dan kelompoknya.

Di sebuah tembok pinggir jalan Kota Bandung tertulis “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.”.

Yang rajin membaca esai sebuah koran nasional di era tahun 70-an pasti akan segera mengenali kalau kutipan itu diambil dari tulisan MAW Brouwer, seorang padri kelahiran Delft Belanda yang sangat mencintai dan mengagumi tanah Pasundan.

Satu tahun setelah ditahbiskan menjadi pastor dari Ordo Fransiskan, MAW Brouwer pergi ke Indonesia untuk berkarya di Sukabumi. Dia menjadi pengajar di SMA Mardi Yuana.

Di sela kesibukannya, Brouwer suka berkelana untuk mengenali lingkungan sekitar tempat tinggal dan karyanya. Dan dari situlah muncul kekaguman, cinta dan hormat pada bumi Pasundan.

Pastor muda itu terpesona dengan lingkungan yang indah dan sikap serta cara hidup masyarakatnya.

Atas cara yang berbeda Joko Pinurbo dalam sebuah puisinya menuliskan hal yang kurang lebih sama untuk Yogyakarta.

Jokpin menggambarkan Yogyakarta dengan sangat singkat. Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.

Kutipan puisi Joko Pinurbo itu bisa ditemukan di salah satu spot foto komplek Teras Malioboro I.

Quote indah dari MAW Brouwer dan Joko Pinurbo pada dasarnya muncul dari suasana hati yang terpesona pada kotanya masing-masing. Keduanya merasa berada di rumah sendiri, kerasan karena lingkungan yang indah, nyaman dan aman.

Barangkali Brouwer dan Joko Pinurbo menemukan suasana egaliter, kesetaraan antara lingkungan dan manusia di Jawa Barat dan Yogyakarta.

Di Yogya khususnya, ikon egalitarianisme tercermin lewat angkringan.

Angkringan bukan hanya warung atau café tempat orang makan minum. Melainkan ruang interaksi yang tak membedakan golongan atau kelas sosial. Semua yang datang bisa saling berinteraksi, bukan hanya antar pengunjung tetapi juga dengan yang punya, yang menyajikan makanan dan minuman.

Dalam sosiologi dikenal istilah ‘the third place’, tempat berkumpul di luar rumah. Lazimnya ruang publik seperti ini adalah taman kota, selasar, ruang terbuka hijau dan lainnya. Namun Yogya punya angkringan, ruang yang lebih intim.

Tidak seperti café atau resto modern lainnya, angkringan tidak mempunyai zona VIP, smoking room, atau area penuh privilege lainnya. Siapapun duduk, berdiri, memilih makanan dan minuman serta dilayani dengan cara yang sama.

Pada angkringan bisa ditemukan falsafah Sam Ratulangi, sitou timou tumou tou atau manusia ada untuk memanusiakan manusia lainnya. Persis dengan apa yang kemudian diajarkan oleh Gus Dur, bahwa manusia harus dimuliakan sebagai manusia.

Hukum itu berlaku di angkringan dengan cara tidak membedakan yang datang, njagong, medang dan madang dari latar belakang suku, agama, ras, golongan dan lainnya.

BACA JUGA : Gua Tanjak Langit

Di masa lalu, masyarakat egaliter ada pada jaman pemburu pengumpul. Pada masa itu kesenjangan antar individu teramat kecil. Hidup dalam kelompok kecil, setiap anggota komunitas relatif mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang sama. Sama-sama tahu, sama-sama bisa.

Perlahan egaliteranisme lenyap ketika manusia memasuki peradaban bercocok tanam. Tinggal menetap membuat kelompok manusia mulai menumpuk harta. Mulailah terjadi perbedaan antar keluarga.

Dengan tinggal menetap dan hidup dari budidaya, sistem kehidupan menjadi semakin kompleks. Mulai diperlukan dan rumbuh perangkat-perangkat sosial untuk menjaga kenyamanan serta keamanan hidup bersama.

Masyarakat yang tadinya saling bekerja sama, bahu membahu agar semakin besar kemungkinan bertahan hidup di jaman pemburu pengumpul, kemudian mulai mengenal persaingan antar individu atau keluarga di masa bercocok tanam.

Sistem kekuasaan pun berkembang. Mulai muncul klaim-klaim yang kemudian diterima oleh yang lainnya sehingga ada orang yang dipandang ‘linuwih’ dan diterima sebagai yang ditakdirkan untuk memimpin.

Ada kepemimpinan yang berjenjang hingga berujung pada penguasa besar. Penguasa yang bisa membagi-bagi kekuasaan pada unit-unit kecil dibawahnya.

Hingga kemudian di jaman masyarakat mulai menetap dan mendomestifikasi tanaman serta binatang kaum kebanyakan yakni petani malah menjadi kaum terbawah, rakyat jelata.

Yang punya tanah paling luas dan mendapat hasil panenan terbanyak justru penguasa karena rakyat diwajibkan memberi upeti pada yang berkuasa.

Masyarakat mulai tidak setara, yang paling bekerja keras menghasilkan dan menyediakan pangan justru menjadi kelas terbawah, dibawah mereka yang menjadi pembantu para penguasa.

Semakin lama menetap dan masyarakat mulai mapan mulai terjadi pula diversifikasi profesi. Muncul profesi-profesi baru yang dianggap lebih baik dengan posisi sosial lebih tinggi petani.

Dalam ungkapan satir, Ryu Hasan seorang ahli neurosains kerap mengatakan hilangnya egalitarianism yang ditandai dengan kemunculan feodalisme dipicu oleh para elit pemalas yang kemudian bisa memvalidasi kedudukan atau kekuasaannya.

Pengetahuan yang masih serba terbatas, membuat para penguasa mampu menjadi pemilik pengetahuan. Sehingga waktu itu yang disebut pintar adalah raja, kepala suku, bangsawan, pemuka agama, dukun dan lain-lain. Pengetahuan berbasis pada kekuasaan, entah kuasa wilayah, kuasa keturunan, kuasa religi atau spiritual.

Apapun yang keluar dari mulut raja, kepala suku atau penguasa dianggap kebenaran seperti tercermin dalam ungkapan sabdo pandito ratu.

Dengan begitu basis kebenaran adalah keyakinan, siapa yang tidak menyakini akan dianggap sesat, durhaka, tercela dan lainnya yang bisa menyebabkan dirinya dihukum bahkan sampai kehilangan nyawa.

Masyarakat terutama rakyat jelata hanya diajari satu keutamaan yakni taat pada penguasa. Penderitaan bahkan dianggap sebagai keutamaan karena kedudukan sebagai masyarakat jelata menjadi mulia apabila melayani Sang Penguasa.

BACA JUGA : Makan Singkong

Revolusi industri membawa angin baru dalam peradaban manusia. Seiring dengan perkembangannya, masyarakat mulai melihat yang bisa kaya bukan hanya kaum elit yang menguasai tanah secara luas.

Jika dalam masa sebelumnya sumberdaya utama adalah lahan, pada jaman revolusi industri yang muncul sebagai penguasai adalah pemilik mesin atau industriawan. Revolusi industri memunculkan kelas baru yakni kelas pekerja atau buruh.

Dasar dari revolusi industri adalah ilmu pengetahuan, pengetahuan yang tidak dikuasai oleh elit-elit penguasa, spiritual maupun religius dan juga sastra yang sebelumnya dipakai untuk mendukung elitism sosial politik.

Masyarakat mulai mengalami pencerahan karena pengetahuan baru yang membuktikan pengetahuan-pengetahuan juga keutamaan lama tidaklah benar. Muncul perlawanan terhadap feodalisme, aristokrasi diruntuhkan.

Berkembang pemikiran dan keyakinan baru yang disebut humanisme. Dengan dasar ini masyarakat meyakini bahwa manusia terlahir sama, mempunyai hak-hak yang sama sebagai manusia.

Pada beberapa wilayah, perlawanan terhadap feodalisme digerakkan oleh semangat nasionalisme. Nasionalisme baru yang menghendaki adanya negara atau pemerintahan yang dipimpin oleh pemimpin yang dipilih oleh rakyat atau wakil rakyat.

Jaman revolusi industri kini sudah memasuki revolusi yang keempat, dimana dunia industri saat ini sudah mengabungkan antara otomatisasi dan internet serta kecerdasan buatan.

Meski begitu feodalisme yang dilawan sejak jaman revolusi industri pertama ternyata tidak hilang. Feodalisme mengalami transformasi, aristrokrasi dalam bentuk kerajaan dan keluarga atau sanak saudara raja sebagai elitis hilang namun muncul ‘kebangsawanan’ baru.

Dalam bidang kepemimpinan negara atau kepemerintahan, demokrasi ternyata tak secara otomatis menghilangkan aristokrasi dalam pemerintahan atau politik. Pemimpin yang dipilih secara demokratis bahkan bisa berlaku bak sultan, raja atau kaisar.

Bahkan memasuki jaman revolusi industri keempat ini, kolaborasi antara para elit politik demokratis dan industriawan atau investor justru melahirkan kekuatan sosial politik yang lebih berbahaya dari jaman-jaman kerajaan. Demokrasi yang dikonsolidasi oleh para elit justru melahirkan oligarki.

DNA feodalisme yang begitu kuat tertanam dalam diri manusia bahkan mampu membajak demokrasi sehingga dalam sistem pemerintahan yang demokratis sekalipun tetap muncul dinasti-dinasti politik.

Dari antara banyak negara yang mengusung demokrasi, hanya sedikit yang benar-benar berupaya mencegah tumbuhnya dinasti politik secara konstitusional.

Demokrasi dibajak dengan dogmanya sendiri yang menyatakan setiap orang berhak memilih dan dipilih. Atas nama hak itu, elit-elit politik bisa terus melanggengkan kekuasaannya.