KESAH.ID – Jambu Air merupakan salah satu tanaman yang tumbuh baik di dataran rendah, termasuk Kota Samarinda. Variannya sangat banyak mulai dari bentuk pohon, ketinggian, daun, rasa, warna dan bentuk buahnya. Ada puluhan jenis diantaranya unggul dalam warna, rasa dan produktifitas. MLQ Farm Lempake merupakan salah satu kebun Jambu Air unggulan di Kota Samarinda.
Selain penuh dengan kebetulan, hidup juga sering diwarnai dengan ketidaksengajaan.
Beberapa waktu lalu saya tak sengaja bertemu dengan seorang teman, teman lama yang lama tidak bertemu. Pada pertemuan tak sengaja di kedai kopi itu kemudian kami berbincang tentang pertanian.
Pada titik tertentu kemudian kami sepakat, potensi lahan di Kota Samarinda tidak cocok untuk tanaman pangan tapi potensial untuk hortikultura. Hortus artinya kebun, cultura artinya budidaya, sebuah sistem produksi yang memakai lahan untuk budidaya tanaman keseharian yang meliputi buah-buahan, sayuran dan tanaman hias.
Landas keyakinan atas kesimpulan itu untuk saya sangat jelas. Data menunjukkan bahwa kebutuhan bahan pangan pokok untuk Samarinda mesti didatangkan dari luar.
Dan dari interaksi saya dengan para petani sawah di beberapa wilayah Kota Samarinda, walau digenjot dengan pupuk sekalipun, hasil panenan padi para petani paling maksimal 6 ton per hektar. Itupun jarang-jarang terjadi.
Bertemu dengan petani sawah kisah dominannya justru keluhan. Keluhan tentang pupuk yang mahal dan langka, kekeringan, kebanjiran, serangan hama dan harga gabah yang fluktuatif.
Petani sayur kelihatan lebih makmur.
Bagaimana dengan petani buah?. Terus terang saya kurang pengetahuan soal petani buah. Dalam kepala saya petani buah terbesar di Kalimantan Timur adalah buah sawit.
Teman lama saya tersenyum, tapi tak berani mengejek saya dengan mengatakan “Piknikmu kurang jauh,”
Dia tahu saya suka blusukan ke sembarang arah kalau lagi gabut.
“Itu lho di Muang Dalam ada pekebun buah yang hebat,”
Dia kemudian bercerita tentang temannya dari kecil yang kini menekuni usaha budidaya jambu air.
“Ada banyak jenis jambu air yang ditanamnya. Dan ada yang berbuah tak mengenal musim,”
“Memang hebat kalau gitu,” guman saya dalam hati.
Jambu, jambu, jambu kata itu terus terngiang di kepala saya. Membawa ingatan kepada masa kecil ketika saya dan teman sepermainan suka me-tangkring di pohon jambu.
Di rumah mbah-mbah sepuh, tetua kampung yang besar dengan halaman depan dan belakang yang luas memang selalu ada pohon jambu yang besar. Dan jika saya berteman dengan cucunya, maka jambu-jambu itu bisa kami petik secara leluasa.
Di kampung saya waktu itu buah-buahan yang sering dijual atau dibeli oleh Tukang Tebas adalah buah petai, melinjo, jeruk, rambutan dan mangga. Buah-buahan lainnya seperti menjadi hiasan, jika dipanen biasanya hanya dibagikan pada tetangga atau kerabat.
Jambu termasuk salah satu buah yang tidak dijadikan komoditas. Jadi itulah camilan kami sehari-hari kalau berbuah.
Ada tiga jenis jambu yang kami kenal, jambu klutuk, jambu air dan jambu bol.
Jambu klutuknya juga ada dua jenis, yang bijinya banyak dan yang bijinya sedikit. Yang sedikit bijinya kami sebut jambu sukun. Pohon jambu sukun besar dan tinggi sehingga bisa dipanjat oleh beberapa orang.
Umumnya pohon jambu air dan jambu bol juga besar sehingga kami bisa nongkrong di atas pohonnya sambil mengunyah-ngunyah buahnya.
Jambu air yang pohonnya kecil adalah jamu kancing. Buahnya kecil-kecil tapi warnanya bikin kemecer, menetes air liur karena kepingin. Tapi sebetulnya rasanya jarang yang manis, kecutnya sekali bikin wajah mengkerut.
Karena tidak terlalu enak biasanya jambu yang kecut kami buat lotis. Jambu diiris-iris lalu dimakan dengan dicolek pada sambal ulekan lombok dan gula merah.

BACA JUGA : Inflasi Iklim, Inflasi Fosil dan Inflasi Hijau
Usai ngopi yang tak sengaja dengan teman lama itu, sesampai di rumah saya mencari-cari petani muda yang ahli jambu itu. Dengan kata kunci Muang Dalam, tak terlalu sulit bagi saya menemukan dengan bantuan mesin pencari Google.
Ada beberapa buah video yang diupload di berbagai channel youtube, ada petunjuk di google map dan ada pula halaman sosial medianya. MLQ Farm namanya.
Sayapun segera meng-capture halaman facebooknya dan kemudian mengirim ke salah satu teman petani muda lainnya.
Tak lama kemudian muncul balasan “Teman juga ini bang, nanti kita kesana,”
Sejak September 2023 lalu, saya memang cukup intens blusukan dan bergaul dengan petani di beberapa wilayah yang ada di Kecamatan Samarinda Utara dan Sungai Pinang.
Banyak hal dan pengetahuan baru tentang pertanian di Samarinda yang saya peroleh dengan interaksi bersama mereka.
Sepuluhan tahun lalu saya juga melakukan hal yang sama namun dalam konteks yang berbeda. Waktu itu saya banyak bergaul dengan petani tanaman pangan {sawah} yang lahannya terancam oleh aktivitas pertambangan batubara.
Sampai sekarang sebenarnya petani di beberapa wilayah Kota Samarinda memang belum lepas dari persoalan dampak atas konversi lahan. Bukaan lahan untuk pertambangan batubara maupun kepentingan lainnya seperti perumahan.
Bukaan lahan sering merubah tata air, yang membuat lahan pertanian sering kebanjiran di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
Namun di luar itu ada sesuatu yang mengembirakan. Muncul petani-petani ‘cerdas’ yang membudidaya tanaman bukan sekedar ikut arus, mulai ada petani-petani yang melakukan branding atas usahanya.
MLQ Farm yang didirikan dan digawangi oleh Abdul Malik adalah salah satunya. Malik yang bercita-cita menjadi PNS atau Petani Nomor Satu ini memilih jambu sebagai komoditi utama untuk dibudidayakan.
Ketika saya mengunjungi kebunnya yang tidak seberapa luas, jambu yang ditanam olehnya berbeda dengan jambu yang saya kenal waktu kecil, baik bentuk pohon, daun maupun buahnya.
Sekurangnya ada 3 jenis jambu yang menjadi unggulan di kebun MLQ Farm, yakni Red Hybrid Samarinda, Madu Deli Hijau dan Green Giant.
Pohon jambu ada yang ditanam di tanah ada pula yang ditanam di planter bag.
Sayangnya ketika saya datang, jambu Red Hybrid Samarinda sedang tidak berbuah. Padahal ini merupakan jambu yang bikin kemecer tampilannya karena warna merah yang solid dan mengkilap.
“Dibagian sana ada yang sedang berbuah,” ujar Malik menunjuk bagian dalam kebunnya.
Dan pada deretan pohon jambu yang tertata rapi dalam planter bag, nampak brongsongan plastik pada dahan-dahannya.
Ada dua jenis jambu yang sedang berbuah, Madu Deli Hijau dan Green Giant.
Malik membuka brongsongan dan memetiknya lalu memberikannya untuk saya coba.
Kress … krenyes. Renyah dan manis, manis sekali, itu rasa dari Madu Deli Hijau.
Dan Green Giant yang bentuk buahnya lebih besar dengan garis-garis kehijauan yang lebih tegas ternyata rasanya lebih kaya lagi, bukan hanya manis, tetapi juga ada asam tipis-tipis, fruity.
Jago lah rasanya.

BACA JUGA : Mereka Yang Hilang Kalau Mati Dimana Makamnya?
Jum’at, 18 Januari 2023 dalam buku kehidupan tercatat sebagai hari penting karena itu pertama kalinya sebagai warga Samarinda saya menemukan kebun jambu yang diurus dengan sungguh-sungguh.
Tentu hal semacam itu sudah lama di Samarinda, sudah tahunan yang lalu dan sudah beberapa orang melakukannya.
Dan yang lebih penting orang yang saya temui berkebun jambu adalah orang muda.
Jadi kesimpulan bahwa orang muda tak mau lagi bertani tidaklah sepenuhnya benar.
Malik, founder dan CEO MLQ Farm sepenuhnya berkebun jambu untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga.
Jambu sendiri merupakan tanaman buah yang berbuah musiman, biasanya setahun dua kali. Namun dengan perlakukan khusus jambu jenis tertentu bisa berbuah sepanjang waktu, atau jenis lainnya bisa panen raya 3 kali setahun.
Pemilihan jenis jambu yang ditanam menjadi penting agar jambu bisa dijadikan tanaman pokok untuk menopang kehidupan.
Namun berkebun jambu juga dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan, pengetahuan tentang karakter dan kebutuhan tanaman sehingga produktifitasnya tetap tinggi. Dan ketrampilan dalam memperlakukan tanaman agar tumbuh sehat, berbunga dan berbuah secara maksimal.
Jarang-jarang saya mendengar seorang pekebun melakukan pruning atau penjarangan. Padahal hal itu mutlak dilakukan. Masyarakat awam umumnya senang melihat tanaman yang rimbun, artinya subur. Dan kemudian senang bila melihat bunganya lebat karena berpikir panennya akan banyak.
Padahal tumbuhan yang rimbun perlu dikurangi daun atau rantingnya agar fotosintesisnya optimal. Dan bunga yang berlebihan atau bakal buah yang berlimpah perlu dikurangi agar buahnya ukurannya seragam dan maksimal.
Di MLQ Farm, buah jambunya dibronsong atau dibungkus dengan plastik. Musuh buah jambu adalah lalat buah yang sulit dibasmi. Maka buah harus dibrongsong karena pemakaian pestisida berakibat kurang baik untuk pohon dan buahnya.
Satu tangkai buah hanya berisi 3 sampai 4 jambu, tidak lebih sehingga besar buahnya merata pun juga warnanya jadi seragam, sama-sama cerah tidak buram.
Karena waktu kunjungan yang tak terlalu lama, saya tak sempat tanya jawab dan diskusi yang panjang dengan Malik. Namun sebelum pulang sambil menenteng souvenir sekantong plastik jambu Madu Deli Hijau dan Green Giant, berdasarkan amatan sekilas terhadap kebunnya dan passion Malik pada tanaman jambu, saya mengatakan kebunnya bisa menjadi destinasi wisata pendidikan.
Dengan begitu usaha pertanian atau perkebunan bisa mempunyai nilai tambah. Petani atau pekebun bisa mendapatkan cuan bukan hanya dari panenannya saja. Melainkan juga memonetisasi pengetahuan, ketrampilan dan lahannya untuk tujuan wisata, tempat pembelajaran.







