KESAH.IDAmerika Serikat berhasil menjadi salah satu negara penghasil pangan di dunia karena efisiensi dalam sistem pertanian. Penerapan mekanisasi pertanian dan peternakan yang panjang di Amerika Serikat membuat negara yang petani dan peternaknya hanya kurang lebih 1 persen dari jumlah orang yang bekerja itu hasilnya sungguh digdaya. Mekanisasi atau industrialisasi pertanian adalah sebuah keniscayaan jika petani dan peternak di Indonesia ingin bidang ini berkelanjutan. Dan anak muda yang selama ini enggan menekuni bidang pertanian dan peternakan akan mampu dirangsang berperan serta lewat model atau sistem pertanian cerdas.

“Kalau anak-anak muda tidak mau bertani dan kami-kami yang bertani sekarang ini tak mampu lagi, lalu dari mana pangan akan kita peroleh?” tanya Sunil Asfianoer Hirpristomo mengawali percakapan seputar  anak muda, tani ternak dan smart farming.

Senada dengan itu, Sarminto yang akrab disapa Pak De Minto memperdalam lagi refleksi seputar petani dan kedaulatan sebuah bangsa. Menurutnya jika sebuah bangsa pangannya tergantung pada negara atau bangsa lain maka tanpa dijajah sekalipun, bangsa itu dengan sendirinya sudah terjajah.

Isu tentang anak muda dan pertanian serta peternakan dalam arti seluas-luasnya memang sudah menjadi kegelisahan bersama. Dunia tani dan ternak seolah tak menarik perhatian bagi anak muda sebagai pilihan karir, ladang untuk penghidupan.

Ada anggapan bahwa dunia pertanian identik dengan kotor, melelahkan dan tidak efisien. Sudah kerja keras, memeras keringat dari pagi sampai sore namun hasilnya tak sepadan. Pendapatannya hanya cukup untuk makan minum sehari-hari saja.

Dalam kenyataannya praktek pertanian yang tidak efisien memang bukan hanya membuat anak muda tidak tertarik, bahkan pelaku tani dan ternak eksistingpun tak sedikit yang kemudian meninggalkan profesinya, lebih memilih pekerjaan lain.

Model pertanian dan peternakan mainstream yang berkembang paska revolusi hijau memang membuat bertani cost-nya tinggi. Ada biaya besar untuk bibit, pupuk dan juga pestisida. Aplikasinya juga tidak otomatis efisien, sehingga pertanian dan peternakan yang penyubur, pembasmi hama serta tergantung pada pakan buatan pabrik menjadi tidak menguntungkan. Ongkos produksi tinggi sementara harga jual tidak pasti.

Jadi dalam artian tertentu, pertanian dan peternakan merupakan model ekonomi berbiaya tinggi. Mulai dari pra tanam, masa tanam, panen dan paska panen semuanya butuh uang. Dan sistem pemasaran yang masih tradisional juga membuat harga yang layak tidak bisa menjangkau hingga pelosok-pelosok. Petani di daerah paling pelosok menderita beban ongkos transportasi untuk menjual hasil budidayanya.

Sebagai aktivis pemberdayaan tani dan ternak, Sunil dan Pak De Minto menyadari persis hal ini dan kemudian berupaya untuk merubah paradigma lama dalam dunia tani dan ternak. Namun ini merupakan kerja besar yang mesti dilakukan bersama-sama. Tanpa gotong royong atau kerjasama niscaya citra dan anggapan buruk terhadap dunia tani dan ternak tidak berubah, anak-anak mudapun akan semakin emoh untuk terjun didalamnya.

Sebagai petani yang menerapkan pertanian organik, memproduksi pupuk dan pestisida alami sendiri, Sunil mengaku pendapatannya tak kalah dengan mereka yang memilih jalan bekerja di birokrasi.

“Jika dibandingkan dengan pegawai negeri, pendapatan saya dari berjualan kangkung saja tidak kalah,” ujar Sunil seraya menyebutkan nominal pendapatannya rata-rata dalam sebulan.

Kalaupun kemudian petani tak kelihatan lebih keren dalam gaya hidup itu dikarenakan pendapatan petani adalah pendapatan asli. Sementara mereka yang bekerja di sektor pemerintahan dan industri bisa punya pendapatan sampingan yang kadang lebih besar dari gaji, yakni suap, korupsi dan lainnya.

Berdasarkan kajian sejarah dan politik bahasa, posisi petani yang lemah hingga saat ini memang tak lepas dari klasifikasi sosial yang terbentuk di masa lampau.

Kata petani yang berasal dari bahasa Sansekerta yang diartikan sebagai Palemahan Sing Ditanduri, lahan atau tanah yang ditanami. Maka petani artinya seseorang yang menanami tanah/lahan, arti yang sangat netral. Petani adalah sebutan bagi seseorang yang pakaryaning nggarap sawah.

Hanya kemudian dalam struktur masyarakat Jawa kemudian tumbuh klasifikasi atau kelas sosial mulai dari Wong Luhur, Wong Gedhe dan Wong Cilik. Petani kemudian masuk dalam kategori Wong Cilik, karena Wong Gedhe merupakan sebutan untuk Priyayi atau poroyayi atau orang-orang yang ada hubungan kekerabatan dengan raja.

Karena menjadi wong cilik, kelompok paling bawah dalam struktur sosial masyarakat maka petani sejak jaman kemerdekaan selalu menjadi penyangga kehidupan diatasnya. Sukarno dulu mengatakan, Petani adalah penjaga atau penyangga tanah air, penjaga tiang bangsa.

Masalah dalam politik elektoral petani kemudian diekploitasi, dipuji-puji hanya untuk dijadikan lumbung suara. Namun masalah petani selalu diabaikan dan tak benar-benar serius ditangani oleh mereka yang diberi mandat oleh negara untuk mengurusi petani, peternak, pekebun pada umumnya.

BACA JUGA : Gibran, Korban Atau Dikorbankan?

Memasuki revolusi industri 4.0 dunia pertanian dan peternakan memiliki peluang untuk melakukan transformasi praktek dan perilaku tani ternak baru dengan memanfaatkan teknologi digital, sistem komputasi atau internet of thing termasuk didalamnya pemakaian kecerdasan buatan agar tani ternak makin presisi dan efisien.

Praktek ini kemudian dikenal dengan istilah smart farming, dimana petani melakukan mekanisasi dan digitalisasi atau melakukan pengelolaan lahan pertanian dengan mesin dan peralatan lain yang terkoneksi dengan big data serta system lainnya lewat internet.

Aplikasi smart farming bisa bermacam-macam, misalnya penyiraman baik lewat sprinkle maupun irigasi tetes yang diatur oleh sebuah aplikasi. Dengan demikian penyiraman tidak dilakukan secara manual, jumlah air yang dikucurkan pada tanaman sesuai dengan kebutuhan, waktu penyiraman juga disesuaikan dengan kebutuhan air oleh tanaman. Penerapan hal ini membuat biaya air menjadi efisien dan penyiraman tidak berdampak membahayakan tanaman karena saat dan porsinya tidak tepat.

Dari berbagai pengalaman yang disampaikan oleh mereka yang telah menerapkan smart farming, baik untuk pemupukan maupun penyiraman dan lainnya, tingkat efisiensi pembiayaan setelah penerapannya bisa menekan biaya hingga 70 persen dari praktek tradisonal sebelumnya.

Dengan keyakinan bahwa yang bisa memberdayakan petani dan peternak adalah diri mereka sendiri, maka Sunil dan Pak De Minto menggelar temu curah gagasan seputar peran anak muda dalam mengembangkan smart farming.

Dalam pertemuan yang digelar di fasad Rumah Bersama Ganjar Pranowo Kaltim secara lesehan ini, dihadirkan dua anak muda yang tengah menempuh pendidikan tingkat tinggi dengan karyanya. Prototype yang ditampilkan adalah IoT smart farming yang dilengkapi sensor untuk mengukur suhu, kelembaban udara dan tanah.

Dengan alat ini petani bisa mengetahui secara real time kondisi tanaman dan lahannya lewat smartphone dan kemudian mengambil langkah untuk merespon kondisi tersebut. Alat ini bisa disambungkan ke peralatan pompa yang bisa dinyalakan secara otomatis secara remote lewat aplikasi di smartphone.

Fitur atau fungsionalitas peralatan ini masih bisa dikembangkan dengan menambah sensor lainnya misalnya untuk mengenali PH tanah, PH air dan sebagainya. Pengembangannya masih sangat terbuka.

Menanggapi presentasi  ini, Pak De Minto yang sudah tua namun masih suka belajar IoT mengatakan perlunya anak-anak muda yang mempunyai kemampuan mengembangkan smart farming untuk mengenali kondisi tani ternak di lapangan dan kebutuhan para pelakunya. Agar apa yang ditawarkan ketemu atau cocok dengan kebutuhan nyata petani dan peternak agar cara budidayanya makin presisi dan efisien.

Peningkatan pendapatan petani atau peternak bukan semata meninggikan harga melainkan mengurangi atau melakukan efisiensi modal atau biaya produksi. Jika ongkos atau modal produksi bisa efisien niscaya petani atau peternak akan menikmati pendapat yang lebih baik, yang lebih menjamin kehidupan mereka ke depan.

BACA JUGA : Ducati Akan Kesulitan Tahun Depan

Peradaban besar manusia bermula dari revolusi pertanian. Namun negara-negara terkemuka kemudian muncul karena revolusi industri. Dan kemudian Amerika menjadi negara adidaya, bukan semata karena senjata atau kekuatan perangnya.

Keadidayaan Amerika Serikat salah satunya ditopang oleh industrialisasi pertanian, Amerika Serikat menjadi salah satu negara penghasil pangan terbesar di dunia. Maka tak salah jika kemudian ada yang menyebutkan kalau Amerika Serikat adalah pemberi pangan dunia.

Coba bandingkan dengan Indonesia, berapa persen jumlah penduduk yang bekerja dalam sektor pertanian dan berapa produktifitasnya.

Data BPS pada tahun 2022 mencatat 29,96 persen dari mereka yang bekerja ternyata bekerja pada sektor pertanian. Artinya di Indonesia ada kurang lebih 40,64 juta petani. Walau begitu ternyata Indonesia masih kerap melakukan import kebutuhan pangan mulai dari beras, gandum, kedelai dan lain-lain.

Sementara Amerika Serikat mencatat hanya 1 persen dari total populasi yang bekerja memiliki pekerjaan sebagai petani. Namun dari 1 persen ini Amerika Serikat berhasil masuk dalam sepuluh besar negara penghasil gandum, jagung, padi, gula, kedelai dan lain-lain.

Diluar banyak perkiraan masyarakat umum, sumbangsih ekonomi dari sektor pertanian di Amerika Serikat terhadap Produk Domestik Bruto sangat besar. Hal ini disebabkan karena pertanian dan pertanian di Amerika Serikat telah dimekanisasi.

Dengan mekanisasi ini maka petani Amerika Serikat lebih banyak menjual hasil panennya ke luar negeri daripada yang dijual dan dikonsumsi di dalam negeri.

Menilik perjalanan tani ternak di Indonesia, peningkatan kualitas dan kuantitas hasil pertanian bukan dilakukan lewat mekanisasi. Pada periode orde baru peningkatan hasil pertanian dilakukan lewat perluasan sawah atau ektensifikasi dan penanaman bibit unggul serta aplikasi penyubur buatan atau intensifikasi.

Pertanian dan peternakan dipertahankan sebagai wilayah padat karya mengingat besarnya populasi yang mengaku bekerja sebagai petani atau peternak.

Dengan demikian industrialisasi atau mekanisasi pertanian dan perternakan kemudian terjadi dalam lingkup investasi. Pertanian dan peternakan yang efisien ada di tangan pemilik modal, perusahaan tani dan ternak.

Proses ini yang mestinya direbut. Korporasi dan mekanisasi pertanian serta peternakan mesti terjadi di tingkat basis, pada komunitas petani dan peternak.

Yang diperlukan pada saat ini adalah para perintis dan pengerak dari kelompok petani peternak sendiri untuk kemudian melakukan kolaborasi dengan generasi muda yang menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk bersama merancang dan mengembangkan model smart farming sehingga menjadi model pertanian dan peternakan mainstreams di Indonesia.

Dan hasil akhir dari bincang-bincang curah gagasan untuk memperingati Hari Inovasi Indonesia yang diperingati setiap tanggal 1 November adalah optimisme bahwa petani, peternak dan anak muda bisa berkolaborasi untuk mewujudkan pertanian cerdas, pertanian yang presisi yang akan mempunyai dampak baik pada ekonomi, kehidupan sosial dan lingkungan hidup.

Selamat merayakan Hari Inovasi Indonesia, tani dan ternak Indonesia bisa maju, berdaya untuk menghasilkan pangan yang sehat lewat sistem pertanian yang cerdas.