KESAH.ID – Krisis energi berbasis fosil menyebabkan banyak pihak mencari alternatif energi baru dan terbarukan. Dunia dikejutkan dengan penemuan energi yang maha dahsyat, namun sebagian sari temuan yang mestinya bersifat saintifik kerap diselimuti dengan misteri berbau keajaiban. Dan banyak temuan yang ramai diberitakan hingga mengemparkan berakhir senyap. Hingga kemudian gempar kembali karena muncul lagi temuan yang tak kalah dahsyatnya. Begitu terus berulang namun tetap saja dunia masih digerakkan oleh migas dan batubara.
Temuan mesin penenun benang mekanik oleh James Watt pada tahun 1784 mengubah lanskap industri yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia dan binatang.
Alat yang digerakkan oleh mesin uap ini dengan segera bisa meningkatkan hasil produksi berkali lipat. Pendapatan pengusaha dan negara meningkat.
Transportasi air yang tadinya digerakkan oleh angin lewat layar dan dayung oleh tenaga manusia , kemudian bisa berjalan 24 jam karena angin yang tak menentu dan manusia yang kelelahan kemudian digantikan dengan mesin uap. Waktu tempuh perjalanan menjadi lebih cepat.
Dasar dari revolusi industri adalah energi, proses produksi energi yang tidak lagi alami.
Dan revolusi industri berjalan semakin cepat dengan temuan berbagai jenis energi berikutnya mulai dari listrik yang dihasilkan oleh tenaga air, panas matahari, panas bumi dan lainnya. Juga energi yang berbasis pada bahan bakar minyak, gas dan mineral bumi lainnya.
Sumber energi yang melimpah ini membuat produktivitas manusia meningkat pesat.
Hingga pada satu titik penggunaan energi terutama yang berbasis ekstraksi sumber daya alam menimbulkan masalah besar terhadap lingkungan dan masa depan peradaban manusia.
Produksi dan konsumsi energi berbasis minyak, gas dan batubara menyebabkan emisi tinggi yang mencemari udara dan atmosfer bumi. Pelepasan karbonnya membuat suhu bumi makin meningkat, terjadi pemanasan global.
Masyarakat dunia kemudian berupaya menurunkan emisi aga peningkatan suhu tidak semakin ekstrim. Transisi energi dari energi kotor ke energi bersih menjadi agenda global.
Semua berlomba menemukan sumber energi yang akan mengantikan sumber energi lama yang merusak. Ada yang mengembangkan energi dengan label hijau atau bio energi.
Ada pula yang memanfaatkan apa yang selama ini tersia-siakan yakni angin dan panas matahari.
Tapi ada juga yang berinovasi dengan air. Menjadikan air sebagai energi bukan hanya mengerakkan turbin untuk menghasilkan listrik melainkan sebagai bahan bakar untuk mesin penggerak.
Namun yang lebih populer bukan energinya melainkan produk untuk menyimpan energi yakni aki atau baterei. Mobil dan motor listrik mulai berseliweran di jalan, dipromosikan menjadi kendaraan ramah lingkungan, walau mungkin energi untuk mengisi baterei atau akinya berasal dari pembangkit listrik batubara.
Dan baterei atau akinya dihasilkan dari pertambangan nikel atau bahan lainnya yang juga memporak-porandakan wajah permukaan bumi.
BACA JUGA : Jawa Adalah Kunci
Pokrolpun ikut terpanggil untuk melakukan upaya transisi energi.
Sebagai orang yang percaya mimpi selalu membawa pesan, Pokrol menyakini mimpinya semalam sebagai perintah semesta untuk melakukan penelitian dan pengembangan.
Jam 1 dinihari Pokrol bermimpi bahwa kentut bisa dirubah menjadi energi yang dahsyat. Kandungan zat dalam kentut yang selama ini kerap membuat orang malu ternyata bisa menjadi energi alternatif yang memberi keberlimpahan daya.
Pokrol yakin mimpinya adalah pesan karena guru spiritualnya pernah mengajarkan mimpi dinihari bukan sekedar bunga tidur. Mimpi dinihari terjadi karena mata bergerak dengan sangat cepat. Atau kondisi REM sehingga mimpinya bisa dibaca, bisa dimaknai.
Segera setelah terbangun dari mimpinya dan mengingat kembali detail-detailnya, Pokrol kemudian mulai mencari literatur. Searching di google dan juga meminta bantuan chat gpt. Karena kurang puas, Pokrol masih mencari tambahan informasi di padanan chat GPT yang ditempelkan pada mesin pencari Microsoft Bing.
Seharian Pokrol berkutat dengan internet. Tak ada keinginan untuk berburu tambahan literasi di perpustakaan umum. Pokrol yakin di perpustakaan umum, ktut hanya menjadi bahasan di puisi, cerpen atau novel. Bukan bahasan saintifik.
Pencariannya di internet memberikan pemahaman pada Pokrol bahwa kentut mengandung kombinasi unsur hidrogen, nitrogen, oksigen, karbon dioksida dan metana. Ternyata sebagian unsurnya tidak berbau.
Kentut sering berbau karena gas yang dihasilkan adalah hidrogen sulfida. Di alam bebas gas ini kerap ditemui di tumpukan sampah atau gunung berapi. Yang jika dihirup dalam jumlah besar bisa menyebabkan keracunan.
Gas ini dihasilkan oleh bakteri yang menghuni usus besar dan merupakan edek samping dari pembusukan makanan yang dicerna.
Dengan otak-utik melalui metode tertentu apa yang terkandung dalam kentut kemudian akan diekstrak menjadi hidrokarbon.
Ekstraksi dilakukan oleh Pokrol dengan alat temuannya yang berfungsi mirip reaktor. Dalam reaktor mini yang bisa dipasang sebagai alat tambahan pada generator, motor dan mobil, kentut akan berubah menjadi energi penggerak.
Berbagai mesin yang selama ini digerakkan dengan bahan bakar minyak tak perlu mengalami banyak perubahan. Sebuah konverter akan memungkinkan kentut yang telah dirubah menjadi gas cair itu berfungsi layaknya pertalite, pertamax,.dexlite dan lainnya.
Namun dibanding dengan bahan bakar minyak yang perlu di beli di SPBU, kentut tak perlu dibeli. Jadi temuan Pokrol akan membuat alokasi uang untuk bahan bakar kendaraan bermotor akan berkurang jauh.
Menurunnya biaya BBM pada akhirnya akan membuat harga-harga bawang ikut turun karena biaya transportasi selama ini membuat harga-harga meninggi.
Tanpa menjadi bupati, walikot, gubernur atau presiden, Pokrol akan bisa mewujudkan cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan masyarakat berkesejahteraan.
BACA JUGA : Memori Rasa
Karena temuannya Pokrol dijadwalkan untuk tampil dalam Konferensi Tingkat Tinggi Transisi Energi.
Alat, sistem dan metodologi yang ditemukan oleh Pokrol melampaui temuan energi baru dan terbarukan yang dikembangkan oleh lembaga penelitian, universitas serta industri. Pokrol dianggap membawa angin segar karena temuannya berpotensi untuk mendorong demokratisasi dan keadilan energi.
Sepulang dari pertemuan Konperensi Tingkat Tinggi nama Pokrol melambung. Dia menjadi news maker. Menjadi orang terkenal karena penemuannya, Pokrol menerima banyak endorsan. Adalah biasa orang yang terkenal kerap menjadi sandaran untuk pansos dari kelompok atau orang lainnya.
Pokrolpun sibuk menjadi pembicara kesana-kemari. Dan biasa agar makin seru, omongannya lebih banyak umpan lambung, temuannya seolah menjadi hebat sekali.
Tak sedikit pertemuan bisnis yang diikuti oleh Pokrol, banyak tawaran untuk mengembangkan produknya agar makin mendunia. Dilihat dari apa yang ditemukan bukan tak mungkin Pokrol bisa menjadi Multi Milyuner bersaing dengan Elon Musk.
Tapi sampai hari ini di jalan belum kelihatan mobil atau motor yang dijalankan dengan reaktor kentut buatan Pokrol.
Yang terjadi justru saling silang di jagat pemberitaan dan informasi. Temuan Pokrol yang saintifik malah dibahas bak pilihan politik, masyarakat didorong untuk mendukung atau menolak, percaya atau tak percaya.
Padahal temuan Pokrol bisa dinilai dan dievaluasi. Tapi Pokrol tak bersedia mesin temuannya ‘diblejeti’ oleh orang lain takut ditiru. Pokrol mau kalau ada yang pingin tahu, mesin temuannya dibeli. Pokrol ingin menjual temuannya bukan memperkenalkan cara kerjanya di muka publik.
Pokrol lupa bahwa temuannya bisa dilindungi sebagai karya intelektual yang mempunyai nilai ekonomi lewat hak paten. Temuannya bisa didaftarkan sehingga yang meniru bisa diperkarakan.
Hak cipta akan tetap berada di tangan Pokrol dan siapa yang akan memakai sistem atau metode temuannya harus membayar atau membeli lisensi darinya.
Tapi Pokrol tetap ngotot ingin menjualnya. Dan sampai sekarang belum ada yang tertarik untuk membelinya.
Dan reaktor kentut temuan Pokrol yang digambarkan mampu menghasilkan energi lebih dahsyat dari nuklir nampaknya akan berakhir seperti kentut.
Kentut yang membuat heboh namun tak lama kemudian terlupakan karena baunya tersaput angin dan berganti dengan bau lainnya.
Mungkin 3 sampai 5 tahun ke depan Pokrol akan kembali membuat kejutan. Bisa jadi dalam Konperensi Tingkat Tinggi Ketahanan Pangan, Pokrol kembali akan mempresentasikan temuannya, mesin ektraksi keringat sebagai bahan pangan berkelanjutan.
note : sumber gambar ilustrasi – DETIK.COM








