KESAH.ID – Menjelang periode akhir kepresidenannya ternyata tingkat kepuasan masyarakat pada kinerja pemerintahan Jokowi masih tinggi. Masyarakat nampaknya tidak terlalu menganggap penting tingkat korupsi yang masih tinggi, penegakan hukum yang buruk, kebebasan sipil yang makin melemah dan praktek demokrasi yang cacat. Pemilih muda menjadi harapan agar pemimpin hasil pemilu 2014 nanti adalah sosok yang mampu membangun budaya politik dan demokrasi yang baik serta menghormati hak-hak sipil.
Pemilu 2024 bisa diberi label pemilunya orang muda. Menurut data Komisi Pemilihan (KPU) RI, Daftar Pemilih Tetap (DPT) Nasional untuk pemilu 2024 berjumlah 204,8 juta jiwa.
Dari total jumlah itu pemilih muda menempati proporsi lebih dari 50 persen. Pemilih muda dari generasi berjumlah kurang lebih 46,8 juta jiwa atau 22,85 persen. Sedangkan pemilih dari generasi milenial sebanyak 68,82 juta jiwa atau 33,6 persen.
Dibanding dengan jumlah pemilih muda pada tahun 2019 yang berjumlah antara 70 hingga 80 juta dari total pemilih 193 juta jiwa terjadi peningkatan jumlah pemilih muda lebih dari 10 persen.
Suara anak muda yang lahir antara tahun 1981 – 1996 atau Generasi Milenial dan yang lahir antara tahun 1997-2012 atau generasi Z akan menjadi kelompok pemilih dominan yang menentukan masa depan Indonesia.
Kabar baik untuk peserta pemilu 2024, dari beberapa studi diungkapkan 90 persen lebih pemilih muda akan menggunakan hak pilihnya baik untuk pemilu presiden maupun pemilu legislatif.
Sampai hari ini memang tidak terdengar adanya gerakan atau suara yang kuat dari pemilih muda untuk ‘memboikot’ pemilu, suara yang mengajak ‘golput’ nyaris tak terdengar.
Dengan demikian bisa disimpulkan anak-anak muda ingin menjadi bagian dan berpartisipasi secara aktif dalam pemilu 2024.
Hasil riset dari Litbang Kompas menunjukkan Generasi Z lebih cenderung tertarik untuk berpartisipasi dalam pemilu presiden. Sedangkan Generasi Milenial lebih tertarik untuk berpartisipasi dalam pemilu legislatif.
Kecenderungan ini bisa dipahami dalam konteks Generasi Milenial karena aktifitas dan umurnya memang sudah lebih terpapar pengaruh partai politik, bahkan sebagian diantaranya menjadi bagian dari politik praktis, termasuk menjadi aktifis dan pengurus partai serta Calon Legislatif.
Karena masih steril dari pengaruh politik langsung pada kelompok Generasi Z, jumlah swing voters-nya menjadi tinggi. Yang belum punya pilihan dan pilihannya masih bisa berubah angkanya lebih dari 50 persen.
Kelompok yang kemungkinan sudah mempunyai pilihan dan tak akan berubah umumnya ada di Generasi Milenial Tua. Pilihan sudah mereka tentukan baik kerena preferensi politik pribadi maupun mengikuti kebijakan partai.
Tingginya angka swing voters pada kelompok pemilih muda disebabkan belum adanya pengumuman atau penentuan calon capres dan cawapres definitif dari partai pengusung.
Kajian dari sisi jenis kelamin, hasil riset dari Tirto dan Jakpat menunjukkan kelompok pemilih perempuan mempunyai prosentase yang lebih tinggi sebagai swing voter. Angka pemilih perempuan yang belum menentukan pilihan lebih tinggi dari pemilih laki-laki.
Kombinasi antara keinginan untuk berpartisipasi dalam pemilu dan jumlah swing voters yang tinggi menunjukkan para pemilih masih memerlukan waktu sosok yang akan dipilihnya.
Jika kelompok swing voters bisa diandaikan sebagai kelompok pemilih yang rasional maka rekam jejak, visi misi dan program para calon menjadi faktor penting untuk menentukan pilihan.
Lalu calon dengan karakteristik seperti apa yang menjadi dambaan dari para pemilih muda?.
BACA JUGA : Nasi Kuning
Kajian yang dilakukan oleh CSIS sebulan sebelum pemilu 2019 kecenderungan terbesar yang menarik pemilih adalah sosok calon yang dianggap merakyat dan sederhana. Kurang lebih 39,2 persen pemilih menjatuhkan pilihan berdasarkan kriteria ini.
Apakah preferensi pilihan berdasarkan kriteria diatas masih bertahan hingga saat ini.
Melihat kajian-kajian terbaru nampaknya preferensi ini sudah mulai bergeser.
Kasus korupsi yang kemudian marak dan kroni yang menguat termasuk isu oligarki pada masa pemerintahan Presiden Jokowi, pada kelompok pemilih muda isu anti korupsi dan jujur kemudian menguat.
Kriteria jujur dan tidak korupsi nampaknya akan menjadi satu indikator penting yang akan dipakai oleh kelompok pemilih muda dalam menentukan pilihannya pada pemilu 2024 nanti.
Berdasarkan pengamatan atas arus percakapan di media sosial, karakteristik lain yang dipandang penting oleh para pemilih muda adalah tegas dan berwibawa, dekat dengan masyarakat, adaptif dan inklusif.
Sifat yang sesuai dengan generasi kekinian seperti cerdas, humoris, pintar bergaul, visioner, punya prestasi akademis tak terlalu mempengaruhi pilihan mereka.
Menariknya meski Generasi Z lebih asyik dengan gadget dalam kehidupan sehari-hari namun perhatian pada isu HAM cukup besar. Rekam jejak calon dalam persoalan HAM cukup mendapat perhatian sebagai faktor penentu pilihan.
Faktor lain yang kemudian menjadi perhatian dari pemilih adalah pengalaman memimpin. Nampaknya pengalaman memimpin menjadi faktor penting dipengaruhi oleh sosok-sosok yang menguat sebagai calon presiden.
BACA JUGA : Dasar Binatang
Jika pemilu 2019 diwarnai oleh kekhawatiran terhadap konflik karena mengedepankan faktor primordial sebagai pemantik menarik dukungan dan berdampak pada pembelahan pemilih. Nampaknya preferensi pemilih muda saat ini tidak tertarik pada politisasi aspek primordial entah suku entah agama.
Kecenderungan ini menunjukkan pemilih muda lebih rasional ketimbang pemilih tua. Wawasan yang lebih luas dan relevansi isu primordial pada masa depan membuat pemilih muda tidak yakin isu primordial bisa merubah keadaan menjadi lebih baik.
Sayangnya pemilih muda juga cenderung tidak terlalu memandang penting isu demokratisasi, kebebasan sipil, hak perempuan, kesehatan dan lingkungan hidup.
Pemilih muda memang cenderung lebih punya harapan pada masalah finansial dan ekonomi. Itulah mengapa mereka memandang pemimpin yang jujur, sederhana dan anti korupsi menjadi yang paling dirindukan.
Pemilu masih setengah tahun lagi, gairah untuk berpartisipasi dalam pemilu cukup besar. Dan beberapa persoalan penting dari kehidupan sebagai bangsa dan negara telah menjadi perhatian dari pemilih muda.
Namun masih ada aspek lain yang perlu diperdalam agar para pemilih muda menjadi bagian dari pemilih yang melahirkan pemimpin terbaik.
Pemilih muda masih perlu diberi pendalaman politik agar juga memperhatikan isu-isu publik menyangkut penegakan hukum, penghormatan pada hak-hak sipil, lingkungan hidup, kebebasan sipil dan mutu demokrasi Indonesia kedepan.
Meski tingkat kepuasan masyarakat pada pemerintahan Presiden Joko Widodo masih tetap tinggi, namun kita bersama tahu ditengah semua keberhasilan, pemerintah saat ini kurang berhasil mengatasi persoalan korupsi, penegakan hukum, penghormatan pada hak sipil termasuk kebebasan berpendapat dan perbaikan atau pemulihan lingkungan hidup.
Keberhasilan pemerintahan Presiden Jokowi bisa ditiru atau diteruskan oleh presiden berikutnya namun tetap ada PR besar agar kualitas demokrasi di Indonesia terus meningkat.
Penilaian atas indeks demokrasi menunjukkan skor Indonesia terus menurun. Demokrasi Indonesia bahkan bisa dikategorikan sebagai demokrasi cacat. Yang jika tidak segera diperbaiki maka akan menjadi demokrasi gagal.
Pemilih muda sebagai kelompok pemilih paling dominan menempati peran penting dalam melahirkan pemimpin yang mampu memperbaiki budaya politik dan kebebasan sipil di Indonesia lewat pemilu 2024 nanti.
note : sumber gambar –MONITORDEPOK.CO








