KESAH.IDIngatan lama selalu menyenangkan untuk dikenang. Kembali ke masa lalu secara episodik akan menunjukkan bahwa kehidupan berubah. Apakah berubah kearah yang lebih baik atau lebih buruk semua tergantung kepada tafsir atau nilai-nilai yang kita anut. Satu hal yang pasti tanpa slogan-slogan untuk melakukan perubahan sekalipun, kehidupan akan tetap berubah. Dan perubahan yang paling sulit ditolak adalah pengetahuan dan teknologi.

Seingat saya waktu duduk di bangku sekolah dasar, bulan puasa adalah liburan panjang sampai saya kelas tiga atau empat, sebelum diubah oleh Menteri Pendidikan Daoed Joesoef.

Biasanya saya akan pergi ke rumah nenek saya sepanjang liburan itu sampai habis di hari Lebaran.

Saya ingat, beberapa kali nenek saya bilang “Sesuk wae nek meh badan-an” atau besok aja kalau mau berlebaran, maksudnya pergi bersilaturahmi ke rumah tetangga atau kerabat yang agak jauh dari rumah nenek.

Kelak kemudian hari saya tahu, anjuran untuk berlebaran di hari kedua ternyata bagian dari antisipasi kalau-kalau rumah yang didatangi belum berlebaran, karena hari lebaran sering berbeda antara satu kelompok umat dengan kelompok umat lainnya. Atau antara penetapan yang dilakukan oleh sebuah organisasi dengan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Saya tentu saja mengikuti nasehat dan anjuran nenek, tetap saja bergembira karena rumah nenek tetap ramai, tidak ada masalah dengan beda-beda hari lebaran. Toh waktu itu badanan, atau lebaran bisa semingguan.

Tapi bukan itu yang ingin saya kenang, melainkan kesibukan dan segala panganan yang selalu ada di hari lebaran.

Kesibukan pertama tentu bersih-bersih rumah, mulai dari langit-langit, dinding lantai hingga perabotan, semua dicuci. Bersih-bersih ini menyenangkan karena jadi kesempatan untuk bermain air, semprot sana sini.

Dan sehari sebelum lebaran, saya akan membantu mengaduk jenang. Dimasak dalam wajan besar di pekarangan belakang. Adukannya panjang dari pelepah daun kelapa.

Jenang terbuat dari tepung beras ketan, santan dan gula merah. Dimasak dengan cara terus diaduk agar tidak gosong. Adukan awalnya masih ringan karena campuran masih encer, lama kelamaan menjadi pekat dan lekat hingga adukannya menjadi berat. Biasanya saya mulai menyerah ketika adonan jenang mulai mengental.

Seingat saya jenang yang berwarna coklat kehitaman selalu ada di hari lebaran, menjadi hidangan istimewa. Sepertinya lebaran dimaknai dengan jenang, yang kenyal dan lekat. Lebaran menjadi saat untuk kembali melekatkan hubungan antar keluarga, tetangga, kerabat dan sanak saudara. Jenang yang pliket atau lengket itu merupakan simbol kelekatan dan keeratan.

Nenek, Bu Lik dan Bu De biasanya menyuruh saya dan saudara-saudara lainnya yang seumuran agar mengeroyok pembuatan jenang di pekarangan belakang rumah supaya tak dekat-dekat dengan dapur.

Karena di dapur ada ritual lain, menyiapkan hidangan dan panganan lain yang juga istimewa untuk memuliakan para tamu. Jika kami, kaum perusuh berada di dapur niscaya hidangan istimewa itu sudah kami comoti lebih dulu.

Kaum dapur, biasanya murka apabila saya dan saudara-saudara lainnya mencomot kue nastar yang tengah didinginkan setelah dikeluar dari oven. Bagi kami, kue ini kue jarang-jarang makanya kami doyan.

Ya sudahlah, terpaksa kami mengaduk jenang kembali, sambil melupakan kue londo itu.

Kue Nastar memang kue warisan Belanda. Nastar gabungan dari kata ananas dan taartjes, artinya kue nanas.

Dulu, orang Belanda yang rindu kampung halamannya ingin membuat pie dalam loyang besar yang biasanya diolesi selai blueberry, apel atau strawberry. Tapi karena tak ditemukan selain itu maka diganti nanas, buah yang banyak tumbuh di Indonesia. Rasanyapun asam-asam manis, jadi cukup untuk jadi ganti yang sepadan dengan blueberry, apel atau strawberry.

Racikan pie dan nanas itulah yang kemudian dilestarikan dalam kue bernama nastar. Dan masih banyak lagi kue lebaran yang merupakan warisan Belanda, seperti lidah kucing atau kattentongen, kastengel dan lain-lain.

Yang istimewa di hari lebaran bukan hanya kue warisan Belanda, melainkan juga sirup atau limun. Siroop dan lemonade yang kemudian menjadi sirup dan limun dulu merupakan minuman favorit orang Belanda. Sebelum nanti kalah dengan sprite, coca cola, fanta dan lainnya.

Tak mengherankan jika salah satu iklan favorit yang muncul menjelang hari raya lebaran adalah iklan sirup.

BACA JUGA : Logika Popularitas, Tiket Menuju Pilpres 2024

Saya biasanya juga ogah-ogahan jika diminta membantu mblejeti kulit ari kacang tanah yang telah direndam. Bukan apa-apa, biasanya ketika mulai digoreng menjadi kacang bawang, saya dan saudara-saudara lainnya juga dilarang mendekat. Alasannya biar tidak terkena percikan minyak yang melentik-lentik saat kacang digoreng.

Padahal aslinya biar kami tidak ikut mencicipi terlebih dahulu. Sebab begitu nyemil, susah untuk menghentikan keinginan mulut untuk terus mengunyahnya. Membiarkan kacang bawang habis digoreng lalu dicobai oleh gerombolan bocah yang jumlahnya satu kesebelasan bakal membuat toples kacang bawang tidak ada di meja untuk menyambut tamu saat hari lebaran.

Maka cara mengusir saya dan saudara-saudara lainnya menjauh dari dapur adalah menyuruh ini dan itu, termasuk mengantarkan ini dan itu ke kerabat, sanak saudara atau tetangga yang agak jauh.

Dulu belum ada parcel. Jadi yang diantar ke tetangga adalah bahan mentah, kue kaleng, makanan yang sudah jadi, teh gula kopi dan lainnya.

Sekarang parcelpun mulai jarang, rasanya sudah kuno. Yang kini sedang jadi trends adalah mengirim hampers. Yang sebetulnya juga tradisi sangat kuno di Perancis. Hampers dalam bahasa Perancis berasal dari kata hanapier artinya keranjang untuk piala.

Pada abad ke 11, pemberian hampers biasanya dilakukan oleh majikan kepada pekerja atau pembantunya di hari raya. Isinya mulai dari daging sampai buah-buahan. Tujuannya agar yang diberi bisa merayakan hari raya dengan gembira.

Kini hampers isinya macam-macam tergantung dari yang memberikannya. Bahkan ada yang memanfaatkan hampers untuk marketing, isinya produk-produk buatannya untuk diperkenalkan kepada orang lain.

Hampers terkadang juga diperlukan ala tukar kado. Jadi kalau terima hampers tak usah mengirim pesan “Terima kasih hampers-nya yang cantik ya,”  karena yang dikirimi kemudian akan membalas “Mana hampers-mu, kok belum sampai,”

Hari lebaran bukan hanya momen untuk bergembira karena ada banyak makanan istimewa. Ada juga momen sakralnya. Buat saya sekurangnya ada dua momen sakral di saat lebaran yakni sungkeman dan makan ketupat.

Semalaman sebelum lebaran biasanya saya menghafal ucapan untuk sungkeman pada nenek sebagai yang paling tua. Bukan hanya nenek saya tapi juga nenek-nenek lain yang nanti saya kunjungi waktu silaturahmi.

Biasanya setelah sungkeman, di kantong atau di tangan akan diselipkan angpao, uang baru. Tidak seperti anak sekarang, uang itu tak segera saya belanjakan namun malah disimpan. Saya tak terlalu pusing pada jumlahnya, yang terpenting itu merupakan tanda berkah.

Dulu sebutannya bukan angpao, tapi sangu atau bekal. Biasanya hanya diberikan pada keluarga yang paling dekat. Untuk bocil-bocil sekarang, nampaknya angpao yang paling penting karena makanan lebaran tak lagi istimewa.

Maka setiap rumah yang membuka pintu di hari lebaran selalu menyiapkan angpao, karena bocah-bocah yang entah datang darimana akan mampir setiap melihat ada pintu rumah yang terbuka. Setelah duduk mereka biasanya ogah-ogahan ditawari makanan atau minuman. Namun begitu diberikan angpao tak lama kemudian mereka akan pamit sambil tak lupa membawa serta minuman botol atau kalengan.

Tradisi angpao, membuat Lebaran jadi mirip dengan Imlekan, perayaan tahun baru masyarakat Tiongkok.

BACA JUGA : Dunia Nggak Seru Tanpa Misteri, Tahyul Dan Hal Hal Gaib

Ketupat jadi makanan sakral untuk saya karena nasi yang dimasak dalam selongsong janur itu hanya saya nikmati saat lebaran dan hari kenaikan kelas. Maka menyiapkan dan kemudian menyantapnya menjadi istimewa.

Dalam tradisi Islam di Jawa, ketupat menjadi sakral karena dikaitkan dengan syiar Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Oleh Sunan Kalijaga, ketupat diajarkan sebagai simbolisasi dari mengakui kesalahan, kerendahan hati. Ketupat berasal dari kata kupat atau ngaku lepat.

Namun kemudian ketupat jadi tak istimewa lagi ketika saya mulai tinggal di Sulawesi Utara. Karena gemar makan cotto makassar, ketupat jadi makanan hari-hari. Meski begitu saya masih merasakan kesakralan ketupat saat perayaan hari raya ketupat, yang dirayakan satu minggu sesudah hari lebaran. Tradisi ini saya kenal di Kampung Jawa Tondano, kampung yang bermula dari tempat pembuangan Kyai Mojo dan para pengikutnya yang kesemuanya laki-laki.

Pengikut Kyai Mojo yang kemudian menikah dengan wanita-wanita Minahasa, beranak pinak kemudian menumbuhkan perkampungan yang disebut dengan Kampung Jaton atau Jawa Tondano.

Dan ketupat semakin tidak menjadi sakral saat banyak politisi atau calon politisi mempolusi pemandangan menjelang hari raya lebaran dengan spanduk dan baliho dengan ucapan “Kupat bumbu santen, menawi wonten kalepatan nyuwun pangapunten,”

Ucapan ini jelas basa-basi karena tidak ada satu politisipun yang tertangkap KPK karena korupsi lalu mengucapkan dengan tulus, kupat bumbu santen.

Walau begitu saya sering kali rindu pada ketupat dengan sakralitasnya. Meski di Samarinda, ketupat juga merupakan makanan sehari-hari, bukan hanya jadi teman Coto Makassar, tapi juga Soto Banjar dan Soto Kandangan. Untuk orang Banjar, soto menjadi soto karena ketupat, sebab jika ditemani nasi maka akan disebut sebagai sop.

Dulu saya beranggapan memasak ketupat mesti dengan dandang besar dan dimasak di tungku dengan kayu api karena butuh waktu lama untuk memasaknya. Namun ternyata di youtube banyak tutorial memasak ketupat dengan magic jar. Dengan tutorial itu saya percaya diri untuk memasak ketupat sendiri, dan memori masa lalu hadir sempurna. Saya bisa menyantap ketupat dengan penuh syukur, ditemani opor ayam, kering tempe, telur asin dan abon sapi.

Ingatan terakhir yang paling melekat tentang lebaran adalah baju baru. Baju baru menjadi istimewa karena di masa itu saya tidak setiap saat bisa dibelikan baju baru. Saking pentingnya baju baru di hari lebaran, saya pernah murung selama hari lebaran lantaran baju baru saya lubang akibat terkena bara rokok kretek yang saya hisap ramai-ramai dengan saudara-saudara sepupu saya.

Yang baru-baru di hari lebaran masih penting sampai sekarang. Namun mungkin nuansanya sudah berbeda. Dulu yang baru disyukuri namun sekarang yang baru dipamerkan. Entah darimana tradisi pamer ini muncul.

Bisa jadi tradisi pamer ini berawal dari tradisi mudik. Mudik bukan hanya jadi sarana untuk mengobati rindu pada kampung halaman tapi juga menunjukkan keberhasilan di tanah rantau.

Di kampung saya yang sebagian besar orangnya merantau ke Ibu Kota, setiap hari lebaran jalanan penuh dengan kendaraan berplat Jakarta. Hilir mudik melewati jalanan dan gang di kampung namun tak saling sapa. Sebagian besar mobil itu, mobil baru. Entah sewa atau beli baru lalu dijual lagi sesampainya kembali ke Ibukota, yang tahu ya yang membawanya.

Dan urusan pamer makin subur lewat media sosial. Seolah media berbagi, media untuk bersilaturahmi ini terlahir untuk ajang pamer.

Selamat berlebaran dan jangan lupa memasak ketupat sendiri di Hari Raya Ketupat nanti.

note : sumber gambar – OKEZONE.COM