KESAH.ID – Barangkali jumlah kedai kopi di Samarinda sudah ratusan, pendek kata kedainya ada dimana-mana, mulai dari pinggir jalan besar sampai masuk dalam gang-gang perumahan. Tapi kopi Samarinda jadi cerita masa lalu. Tak ada sebijipun kopi yang ditanam dan tumbuh di Samarinda ada di kedai-kedai itu. Aroma kopi di penjuru kota Samarinda bukan ekstraksi keringat petaninya.
Impian saya sejak kecil adalah Irian Jaya {sebutan untuk Papua waktu itu} namun dalam keseharian lebih akrab dengan Sumatra.
Sebab jalan raya depan rumah kerap dilewati oleh bus penumpang ke dan dari Sumatera. Rute atau trayeknya adalah Lampung, Bengkulu dan Jambi.
Agen busnya tak berada di Ibukota Kabupaten melainkan di kampung yang lebih udik dari kampung saya.
Penumpang memang bukan pelancong tetapi penduduk desa yang ‘merantau’ pada musim tertentu untuk bekerja sebagai penoreh karet pada perkebunan-perkebunan yang ada disana.
Kakek, bapak dari ibu saya juga akan selalu bercerita Sumatra. Dia menceritakan kakak tertua ibu yang merantau sejak tamat SMA, saya hafal namanya tapi belum pernah bertemu dengannya. Sejak merantau, Pak De saya memang tak pulang-pulang. Mbah Kakung mengatakan kalau Pak De tinggal dan bekerja pada sebuah perkebunan di Palembang.
Palembang, Bengkulu, Jambi dan Lampung rasanya dekat saja di kepala saya.
Tahun 2003 untuk pertama kalinya saya menginjak kaki di tanah Sumatra, bukan Palembang, Bengkulu, Jambi atau Lampung melainkan Medan. Sebenarnya hanya transit karena tujuan utamanya adalah Pematang Siantar.
“Mumpung sudah sampai Siantar, sayang kalau tidak ke Danau Toba,” ujar seorang kawan yang menyambut kedatangan saya di Pematang Siantar.
Betul juga, aji mumpung karena Danau Toba tak ada dalam rundown acara saya di Pematang Siantar. Jadi walau badan terasa penat karena perjalanan kurang lebih 4 jam bermobil dari Medan, saya segera mengiyakan.
“Nggak jauh,” ujar kawan saya.
Padahal jaraknya lumayan juga, dari Siantar ke Parapat Toba kurang lebih 40-an kilometer. Untung saja pemandangannya jauh lebih indah daripada yang tersaji antara Medan dan Pematang Siantar yang berhias deretan tegakan kelapa sawit dan karet.
Di beberapa titik dari ketinggian terlihat hamparan air Toba yang luas. Danau Toba adalah danau vulkanik terbesar di Indonesia, konon panjangnya kurang lebih 100 kilometer sedangkan lebarnya sekitar 30 an kilometer.
Bapak saya sering bercerita tentang Danau Toba, karena sewaktu muda pernah menjadi guru di Pulau Samosir, pulau yang ada di tengah Danau Toba yang luas dan dalam itu.
Singkat cerita di Parapat Toba, saya dan kawan lainnya hanya berkeliling dari atas mobil melihat Danau Toba sambil lewat. Tak sempat memegang airnya yang saya ingat ada banyak cottage, villa, bungalow dan hotel di tepinya.
Mobil sempat berhenti karena ada penjual buah durian.
“Mumpung sudah di Toba, masa kita tidak mencoba duriannya,” ujar seorang kawan lain yang lagi-lagi memakai mode aji mumpung.
Dalam perjalanan pulang dari Toba ke Siantar, saya ikut-ikutan memakai mode aji mumpung.
“Sepertinya di jalan banyak warung tuak, mumpung kita sudah disini masak tidak merasakan tuak Sumatera Utara,” ujar saya.
Kamipun mampir dan mereguk tuak di warung pinggir jalan. Rasanya pahit-pahit gimana dan badan terasa makin panas karena sebelumnya telah makan durian.
Kawan yang dari Pematang Siantar mengatakan kalau tuak disini memang khas karena sadapan dari pohon aren ditambah dengan kulit kayu, kayu raru.
Saya tak terlalu mendengarkan lagi karena pertemuan durian dan tuak dalam perut membuat mata saya mengantuk.
“Mandi, mandi dulu, nanti malam kita ngopi-ngopi. Naik bentor, dekat saja dari sini,” ujar kawan saya sesampainya kembali di Pematang Siantar.
BACA JUGA : Plastik, Kisah Cinta yang Beracun
Tepat seperti waktu yang dijanjikan, kawan saya nongol.
“Kita naik itu,” ujarnya menunjuk kearah kumpulan bentor di pinggir jalan.
“Wah moge,” batin saya dalam hati.
Ya, becak motor yang beroperasi di Pematang Siantar waktu itu memang motor veteran, motor bekas peninggalan perang dunia ke II yang mempunyai mesin antara 350 hingga 500 cc.
Brum..brum…brum… begitu bunyinya, kebanyakan bermerek Birmingham Small Arm atau BSA buatan Inggris. Namun ada juga yang bermerek Norton, BMW dan Harley Davidson.
Rasanya menyenangkan menaiki motor vintage yang umurnya jauh lebih tua dari saya waktu itu.
Tapi Siantar bukan hanya wow karena bentornya, melainkan juga sajian kopinya.
Saya lupa-lupa ingat nama kedai kopi yang kami datangi malam itu. Lamat-lamat yang saya ingat Kopi Massa. Ketika saKya ketik di mesin pencari google muncul beberapa link yang menunjukkan di Pematang Siantar memang ada kedai atau café bernama Kopi Massa Kok Tong.
Yang jelas sambil obrolan sambil ngopi malam itu menunjukkan bahwa kawan saya yang asli Pematang Siantar itu bangga pada kopinya. Banyak yang disebut tapi yang saya ingat adalah Kopi Sidikalang dan Lintong.
“Kau mesti bawa kopi itu jadi oleh-oleh, sama jangan lupa juga bawa sirup atau juice Terong Belanda,” ujarnya.
Wah, jadi banyak oleh-olehnya, padahal dari rumah saya hanya diwanti-wanti untuk tidak lupa membawa manisan jambu biji dari Medan.
Tapi tak apa-apa toh saya memang suka kopi. Walaupun pada masa awal setelah pindah dari Manado ke Samarinda saya lebih banyak minum kopi sachetan, kopi mix.
Padahal di Manado, hari-hari saya selalu minum kopi hitam, bisa 3 sampai 4 gelas sehari. Kopinya kopi kota, kopi kebanggaan warga Sulawesi Utara yang ditanam kebun-kebun sekitar Gunung Ambang mulai dari jaman kolonial Belanda.
Merek kopi Kotamobagu dalam bentuk bubuk yang paling terkenal adalah Kopi Keluarga.
Kopi Kotamobagu adalah kopi arabika, namun tak seterkenal Kopi Toraja, Kopi Gayo, Kopi Kintamani, Kopi Wamena, Kopi Flores Bajawa dan lainnya. Karena produksinya tak banyak dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan orang Sulawesi Utara.
Bisa jadi kebun kopi tidak terlalu berkembang di Sulawesi Utara karena cerita kopi adalah cerita pahit. Maka ketimbang menanam kopi, masyarakat di Sulawesi Utara lebih suka menanam cengkeh dan kelapa di kebunnya.
Cengkeh dalam kenangan masyarakat Sulawesi Utara memang ibarat emas. Banyak orang kaya raya karenanya. Walau nanti gara-gara campur tangan BPPC, harganya jadi hancur lebur. Emas hijau itu jadi tak menarik lagi.
Begitu juga dengan kelapa, harga kopra sering masuk angin. Hingga lama kelamaan orang lupa kalau Sulawesi Utara pernah menyebut diri sebagai Bumi Nyiur Melambai. Bimoli, pabrik pengolahan minyak kelapa ada di Bitung. Lagi-lagi juga banyak yang tak tahu kalau Bimoli adalah kependekan dari Bitung Manado Oil Limited karena sekarang minyaknya lebih banyak minyak sawit.
Pabrik pengolahan berbahan kelapa lainnya yang dulu terkenal disana adalah Poleko. Hasil olahannya adalah tepung kelapa. Mungkin sekarang sudah tak ada atau sudah berganti nama serta usaha.
BACA JUGA : Sampah Melimpah tapi Jumlah TPS malah Dipangkas
Setelah lama nongkrong dengan kopi sachetan, sekitar tahun 2013 saya mulai kembali mampir ke kedai yang menyajikan kopi hitam dari kopi pilihan. Di Samarinda waktu itu mulai tumbuh kedai-kedai kopi lokal seperti Klinik Kopi, Loppe Coffee, Kahawa, Republik Kopi dan lainnya.
Kecuali Klinik Kopi, kedai-kedainya lainnya umumnya menyajikan kopi yang diolah dengan mesin {espresso based}.
Baru satu atau dua tahun kemudian mulai bermunculan kedai-kedai kopi manual brewing. Kopi diseduh tanpa mesin dengan teknik saring dan press. Kopinya kopi press, kopi biji yang digiling ketika ada yang memesan.
Seiring dengan munculnya kedai kopi manual brewing, mulai pula dikenal istilah single origin, specialty coffee dan lainnya. Kopi mulai diperbincangkan, jadi bahan percakapan yang mengasyikkan.
Setiap kali mengunjungi kedai kopi manual brewing kala tersedia biji kopi Sidikalang atau Lintong pasti saya akan memilihnya. Entahlah, bisa jadi karena kenangan di Pematang Siantar maka Kopi Sidikalang dan Lintong selalu terasa lebih enak dibanding lain-lainnya.
Lima tahun belakangan ini kedai kopi terus tumbuh di Kota Samarinda, kalau Mixue dikenal sebagai pencatat ruko kosong, pengusaha kopi di Samarinda sepertinya juga mirip detektif lahan dan ruang kosong.
Banyak bangunan baru di lahan-lahan yang tadinya terbiar, ternyata jadi kedai atau café kopi, kopi-kopi kekinian.
Banyaknya kedai kopi akhirnya mendorong kemunculan coffee roastery, penyedia biji kopi yang telah digoreng. Di Samarinda jumlahnya mungkin sudah lebih dari 5.
Lalu kopinya dari mana?. Yang pasti bukan kopi dari Kalimantan Timur, apalagi Samarinda.
Apakah Samarinda tidak ada petani yang menanam kopi?. Ada, sebab di Samarinda ada daerah bernama Handil Kopi. Bisa dipastikan dulu banyak tanaman kopinya.
Tapi kopi terdesak, bukan hanya oleh tanaman komoditas lainnya melainkan juga konversi lahan baik untuk permukiman maupun pertambangan. Sama-sama hitam, Samarinda lebih terkenal karena hitam batubara daripada kopi.
Semerbak aroma kopi dengan mudah tercium di beberapa ruas jalan Kota Samarinda. Sungguh riang anak-anak mudanya membincang dan menjadikannya bahan postingan di media sosial. Namun sayang kopi yang dinikmati bukan hasil keringat petani dari daerah sendiri. Seperti banyak kebutuhan pokok lainnya, kopi yang dinikmati di tempat-tempat nongkrong bergengsi, tempat anak muda berha-ha-hi-hi, semua datang dari luar sana.
Sayapun demikian walau rindu kopi Kalimantan Timur tapi sulit untuk menemukan.
Beberapa hari lalu ada sebuah pesan masuk di WA, “Mas mau kopi kah, Kopi Sidikalang”.
Tanpa ragu saya segera menjawab “Wah, mau dong. Kopi favorit saya itu”.
Lima ratus gram kopi bubuk Sidikalang itu masih ada di bungkusnya, karena kopi dari Munduk Bali yang juga oleh-oleh dari kawan masih belum habis saya seduh.
Semoga tak lama lagi ada yang ngabari dan ngoleh-olehi “Mas ini kopi Loa Kulu, kopi Sangkulirang, kopi Sanga-Sanga, kopi Perangat, kopi Melapeh, dan seterusnya”.
note : sumber foto – BISNIS.COM








