KESAH.ID – Plastik sulit dipisahkan dari gaya hidup masyarakat modern. Semua serba plastik walau ada bahaya yang tak mungkin dihindari. Plastik kini mencemari bukan hanya udara, tanah dan air melainkan juga tubuh. Hubungan plastik dan manusia adalah kisah cinta yang beracun namun sulit atau bahkan mustahil dipisahkan.
Nenek saya pedagang, bukan pelaut walau sama-sama berkeliling tapi bukan dari pelabuhan ke pelabuhan, melainkan dari satu pasar ke pasar lain. Pasar waktu itu memang dibuka berdasarkan hari pasaran, ada pasar pon, pasar wage, pasar kliwon dan lain-lain, hanya buka pada hari itu.
Barang dagangan dibawa dengan kuda beban. Kuda yang tak pernah ditunggangi joki tapi sanggup dan sabar menahan beban yang lebih berat dari seorang penumpang. Sabar dan penurut dengan postur tumbuh cenderung kecil namun kuat.
Salah satu barang dagangan nenek adalah tempe, buatannya sendiri. Saya sering membantu menginjak-nginjak kedelai di bawah pancuran kalau sedang berlibur di rumah nenek. Biji kedelai yang sudah direbus harus dipecah dan dipisahkan dari kulit arinya, sebelum diberi ragi dan dibungkus.
Sampai dengan nenek pikun hingga tak bisa buat tempe dan berdagang lagi, tempe masih dibungkus dengan daun. Kalau tak dibungkus dengan daun jati, biasanya dibungkus dengan daun waru.
Orang sekarang menyebutnya tempe daun, tempe yang sudah langka karena kebanyakan tempe dibungkus dengan plastik. Bentuknya seperti lempengan dan kalau mau digoreng mesti diiris-iris.
Di kafe-kafe, tempe lempeng yang diiris agak tipis dibalut tepung dan digoreng tidak terlalu kriuk dalam list menu-nya dinamai Mendoan. Padahal yang namanya Mendoan bukan seperti itu, tempenya tempe khusus, yang sejak awal memang tipis.
Tapi ya nggak apa-apa, toh yang namanya teh tidak selalu dari daun teh, demikian juga susu tidak selalu hasil perasan dari sapi, kuda, kambing atau onta betina.
Saya lupa kapan persisnya tempe mulai dibungkus dengan plastik. Yang jelas ketika saya mulai tinggal di Samarinda, tempe bungkus plastik sudah menjadi mayoritas. Tempe yang dikenal masih dibungkus dengan daun adalah tempe Loa Kulu.
Loa Kulu adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara dimana beberapa desanya mempunyai pengrajin tempe yang tetap mempertahankan ciri khas dibungkus dengan daun. Tidak seluruhnya daun lagi karena sudah dipadukan dengan kertas pada bagian luarnya.
Tempe produksi dari Loa Kulu ini dipasarkan hingga Kota Samarinda dan Balikpapan. Branding tempe daun membuat tempe Loa Kulu ternama. Di dalam persepsi banyak orang tempe daun memang dianggap lebih enak, karena lebih empuk dan beraroma.
Walau begitu saya yakin populasi pengrajin tempe daun tidak akan bertambah banyak, makin lama justru makin berkurang karena membungkus tempe dengan daun terasa kurang praktis. Butuh waktu yang lebih banyak untuk mengemas, juga sewaktu membawanya.
Yang memujanya juga semakin hari semakin berkurang karena generasi setelah tahun 90-an mungkin tak cukup punya kenangan dengan tempe daun, tak ada nostalgia ketika melihatnya.
Tapi buat saya tempe daun tetap lebih dibanding tempe plastik. Bukan hanya soal rasa tapi juga fungsi. Di dapur rumah dulu satu atau dua tempe daun selalu dibiarkan lama untuk dijadikan tempe bosok.
Baunya memang menyengat tapi jika ditambahkan dalam jumlah yang tepat akan membuat sayur yang dimasak jadi terasa sedap. Aroma yang khas dari masakan sayur yang diberi penyedap tempe bosok akan memicu nafsu makan bagi yang menyantapnya.
Tapi itu dulu ketika kaldu dan saos penyedap rasa sachetan belum semudah serta sebanyak sekarang ini.
BACA JUGA : Sampah Melimpah Tapi Jumlah TPS Dipangkas
Yang tergusur oleh plastik bukan hanya pembungkus tempe. Anak-anak sekarang tak mengenal lagi contong, pembungkus dari daun atau kertas yang dibentuk kerucut seperti cone es krim.
Membungkus dagangan dengan contong dulu lazim dilakukan oleh penjual kacang rebus, bahkan jadi ukuran untuk harga jual. Ada contong besar ada contong kecil.
Kerupuk yang dikenal dengan nama Kerupuk Bandung, dulu dijual di warung-warung memakai wadah dari seng yang ada kacanya. Penjual keliling dengan kaleng besar diboncengan belakang. Kini jarang ditemui kerupuk dalam kaleng, bahkan di rumah makan sekalipun kerupuk siap makan dijual dalam kemasan plastik.
Transformasi kemasan dari non plastik ke plastik tidak hanya terjadi di warung-warung tetapi juga dalam peristiwa budaya. Kendurian, nasi berkat-nya awalnya dibungkus dengan daun dan dibawa pulang dengan di-gembol dengan sarung atau jarik. Sebagian lainnya ada yang dikemas dengan besek, wadah dari anyaman bambu.
Dimulai dari orang-orang yang mampu, nasi berkat kendurian diwadahi dengan semacam keranjang dari plastik. Wadah yang kemudian bisa dimanfaatkan pada hari-hari berikutnya sebagai ceting nasi.
Kelak penetrasi plastik menjadi lebih masiv karena wadah atau kemasan plastik dipakai sebagai daya tarik bagi pembeli karena setelah yang dibeli habis wadahnya bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.
Sebelumnya, wadah atau kemasan yang kemudian dimanfaatkan untuk keperluan lain adalah kaleng. Namun dibandingkan dengan plastik, harga kemasan kaleng jelas lebih mahal.
Plastik kemudian dengan cepat menggantikan apa saja, semua serba plastik. Akibatnya konsumsi plastik menjadi berlebihan terlebih plastik sekali pakai.
Selama dua puluh tahun terakhir, plastik merupakan sumber sampah paling utama dan tercecer dimana-mana. Hampir tak ada permukaan bumi yang bebas dari plastik. Bukan hanya sungai dan laut, di gunung, danau dan hutan, sampah plastik tidak sulit untuk ditemukan.
Sampah plastik bertebaran dimana-mana karena plastik butuh waktu lama untuk terurai. Butuh waktu antara 10 hingga 20 tahun bagi plastik kemasan untuk terurai secara alami. Sachet dan gelas plastik lebih lama lagi, bisa 50-an tahun. Demikian juga dengan botol plastik yang bisa saja tetap utuh meski telah mengarungi samudera lebih dari 50 tahun.
Meski terurai namun plastik tidak berubah. Plastik yang terurai akan menjadi mikroplastik yang kemudian akan dimakan atau masuk ke tubuh binatang. Ketika binatang yang mengandung mikroplastik dikonsumsi oleh manusia, maka mikroplastik juga masuk ke dalam tubuh manusia.
Baik untuk binatang maupun manusia, mikroplastik merupakan material yang berbahaya jika masuk ke dalam tubuh karena bisa memicu gangguan dan penyakit.
Menilik sejarahnya, plastik pertama ditemukan pada tahun 1862 oleh Alexander Parkes. Plastik temuannya disebut dengan nama parkesine.
Plastik ini dikembangkan dari bahan organik yakni selulosa , molekul yang dengan mudah ditemukan dalam struktur seluler seluruh tanaman. Hanya saja plastik pakersine ini tidak populer karena ongkos pembuatannya mahal.
BACA JUGA : Sampah Itu Berbeda Dengan Limbah, Serasah dan Sumpah Serapah
Tahun 1907, plastik sintetis berhasil dibuat oleh Leo Baekeland. Dan setelah itu ahli-ahli kimia menemukan berbagai jenis plastik sintetis lainnya. Hingga tahun 1974, Sears dan Jordan Marsh, perusahaan ritel besar dari Amerika Serikat mulai memakai plastik sebagai kemasan. Penggunaan massal yang pertama adalah sebagai pembungkus roti.
Semenjak itu manusia modern jatuh cinta kepada plastik, apa-apa serba plastik. Bahkan operasi untuk tujuan memperbaiki penampilan disebut dengan opersi plastik.
Sebagai material untuk bahan pembuat barang atau kemasan plastik memang susah dilawan. Plastik dengan mudah dibentuk, kedap udara dan kedap air. Yang dikemas atau dibuat dari plastik menjadi semakin cantik, menarik dan awet serta mudah ditenteng kemana-mana karena ringan.
Dan yang terpenting dari antara bahan-bahan lainnya, plastik adalah yang termurah dan termudah untuk dihasilkan.
Mudah, murah, menarik dan penuh manfaat membuat plastik susah dilawan walau kemudian menimbulkan masalah di mana-mana. Di darat, di udara, di air hingga di tubuh manusia dan mahkluk hidup lainnya.
Plastik telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat dimana saja. Walau disadari pemakaian sudah berlebihan namun pilihan hidup tanpa plastik jelas sesuatu yang sulit dilakukan.
Pilihan yang masuk akal adalah mengurangi pemakaian plastik atau diet plastik.
Gerakan atau kebijakan untuk mengurangi pemakaian plastik yang coba diterapkan beberapa tahun terakhir ini adalah pengurangan pemakaian kantong plastik belanjaan. Ritel atau pusat perbelanjaan modern mulai menerapkan, tidak lagi memberi plastik secara gratis. Beberapa diantaranya mulai memakai tas belanja yang biodegradable.
Komunitas-komunitas peduli lingkungan juga mulai menyuarakan untuk tidak membeli minuman dalam kemasan terutama gelas dengan membiasakan membawa minuman dari rumah dengan tumbler.
Namun gerakan dan kebijakan semacam ini nampaknya belum cukup untuk membuat Indonesia masuk sebagai negara pendonor plastik terbesar di dunia. Konsumsi plastik masih tinggi. Bisa jadi pemakaian kantong belanjaan bisa ditekan namun ternyata pemakaian plastik untuk keperluan lain naik.
Kantong belanja sekali pakai berkurang, namun jas hujan sekali pakai ternyata naik tajam. Belum lagi gelas plastik dan sedotan yang tumbuh tak terkendali karena bisnis kuliner kekinian.
Stop korupsi, stop politik uang, stop kekerasan terhadap anak, stop narkoba dan seterusnya memang harus diteriakkan sekencang mungkin. Tapi untuk meneriakkan stop pemakaian plastik rasanya butuh keberanian.
Sebab meneriakkan stop pemakaian plastik tidak akan dianggap heroik. Salah-salah malah dianggap gila. Sebab kita masih tergila-gila dengan plastik.
Jatuh cinta memang bikin gila alias buta. Cinta kita terhadap plastik memang cinta buta, karena kita tetap suka walau kisah cinta kita kepada plastik adalah cinta beracun.
note : sumber gambar – TEMPO.CO








