KESAH.IDTidak usah dipungkiri bahwa kita kerap kali merasa senang melihat orang lain celaka, menderita atau bermuram durja. Terlebih jika orang itu adalah orang yang tidak kita sukai atau orang yang kita anggap kurang baik kelakuannya. Padahal sejak kecil kita diberi nasehat “Jangan tertawa diatas penderitaan orang lain,”

Saya belum pernah piknik ke Italia dan tak menyimpan keinginan untuk pergi kesana sebab rasa ingin itu hanya akan menjadi kesia-siaan belaka karena sulit untuk diwujudkan.

Hanya saja kalau tiba-tiba ada yang mengajak kesana secara gratisan maka selain Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan, tempat lain yang  wajib dikunjungi adalah Colloseum di Kota Roma.

Ikon wisata Kota Roma ini merupakan sebuah bangunan berbentuk ampiteater yang dulunya dipakai untuk menyajikan pertunjukan pertarungan sampai mati antar petarung profesional yang disebut sebagai gladiator.

Kisah pertarungannya secara fiksional bisa disaksikan antara lain dalam beberapa film berjudul Gladiator, Spartacus, The Arena, Benhur dan The Two Gladiators.

Apa yang ditunjukkan dalam film bisa jadi berlebihan dan tidak mengupas tuntas apa itu gladiator yang sesungguhnya. Sebab kajian sejarah menemukan bahwa pertarungan gladiator mirip dengan pertandingan tinju saat ini.

Petarungnya adalah petarung profesional, mempunyai kelas berdasarkan berat dan kemampuan, penggunaan alat bantunya tidak bebas, ada wasit serta bukan pertarungan yang harus berakhir dengan kematian salah satunya.

Tapi benar petarungnya akan bertarung habis-habisan, seperti ingin mengakhiri mencabut nyawa lawan mainnya.

Dan pertarungan ini menjadi tontonan. Penonton senang melihat seseorang melibas orang lainnya. Makin keras pukulan atau makin tepat sabetan senjata hingga memuncratkan darah makin keras pula sorak sorai penontonnya.

Dalam sebuah pertarungan antara dua pihak, penonton selalu akan memilih salah satunya. Yang didukung akan dianggap teman dan lawannya akan dianggap musuh. Teman artinya orang baik sementara musuh artinya orang jahat. Ketika orang baik menghajar orang jahat, kita akan merasa senang.

Pertengkaran, perkelahian atau perseteruan memang kerap menjadi tontonan.

Dalam bahasa Jerman dikenal istilah “Schadenfreude” yang artinya kebahagiaan dari melihat kemalangan orang lain. Fenomena ini merupakan bentuk respon emosional yang umum dan alami berupa rasa senang atau puas yang muncul dalam diri seseorang ketika melihat orang lain mengalami kesulitan, menderita kesakitan, babak belur dan lain-lain.

“Syukur, kapokmu kapan” ucapan semacam itu dulu kerap saya dengar dan sesekali keluar dari mulut saya ketika melihat seorang teman yang pecicilan, lalu kena sial entah kepleset, terjatuh dan lainnya yang kemudian membuatnya kesakitan.

Alih-alih segera menolong, saya malah merasa senang karena merasa sudah selayaknya dia mendapat ‘petaka’ seperti itu.

Kesenangan seperti itu juga kerap muncul ketika melihat pencuri atau pencopet yang tertangkap lalu dipukuli beramai-ramai.

Tak banyak orang yang menyesal dan merasa bersalah ketika pencuri atau pencopet yang tertangkap basah kemudian mati karena dipukuli ramai-ramai.

Yang puas dan senang karena maling atau copet dipukuli bukan hanya yang mengeroyok ramai-ramai dan melihatnya secara langsung melainkan juga mereka yang membaca atau menyaksikan beritanya.

Andai ada berita yang mengabarkan maling dan copet ditangkap basah lalu diserahkan baik-baik ke polisi akan banyak yang protes “Kenapa nggak dihajar?”, seolah ada konvensi bahwa biar jera mereka harus dibelasah.

BACA JUGA : Cak Nun Kesambet Firaun 

Dalam bahasa Inggris, fenomena psikologis berupa perasaan senang yang disengaja ketika melihat orang lain kesulitan; atau tertawa diatas penderitaan orang lain dinamakan Malicious Joy.

Secara moral kecenderungan alamiah untuk melihat orang lain menderita dianggap sebagai  perilaku tercela dan wajib dihindari. Moralitas kita mengajarkan sikap semacam ini merupakan cermin dari karakter negatif dalam diri yakni sifat kejam, benci, dengki dan lainnya, sifat yang tak boleh dipupuk dan dibiarkan berkembang.

Sengaja mencari senang dari penderitaan yang dialami oleh orang lain jelas merupakan perbuatan tercela.

Masalahnya nilai atau ajaran moral semacam itu semakin sulit untuk diikuti pada masa sekarang ini. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi bahkan membuat “penderitaan” diekploitasi menjadi komoditas.

Fajar Labatjo, remaja asal Suwawa, Bone Bolango, Gorontalo menjadi viral dan kemudian mendapat gelar Fajar Sadboy gara-gara curhat karena diselingkuhi oleh kekasih hatinya. Disebut Sadboy karena setiap kali menceritakan lara hatinya, Fajar selalu berurai air mata.

Video Fajar yang mewek-mewek tersebar meluas lewat berbagai platform media sosial. Duka lara Fajar menjadi hiburan buat netizen sejagad Indonesia.

Banyak orang terhibur karena merasa lebih baik dari Fajar karena meski putus, diselingkuhi atau patah hati namun tak se-desperate dengan mencucurkan air mata di sembarang tempat. Tapi bisa jadi sebagian juga terwakili oleh Fajar, karena patah hati sepatah-patahnya namun tak berani mengekpresikannya karena takut dibilang cengeng.

Melihat peluang menangguk adsense dan rating, para content creator dan stasiun penyiaran kemudian berlomba-lomba mengundang Fajar Sadboy. Wajah fajar muncul dimana-mana, kesedihannya diekploitasi.

Sesaat Fajar Sadboy menjadi selebritas. Walau di layar televisi jelas sekali penampil lainnya menahan tawa geli setiap kali berinteraksi dengan Fajar Sadboy.

Meski berwajah sedih, Fajar Sadboy nampaknya juga ikut senang karena jadi terkenal.

Fajar, para penampil lain dan para pemirsanya sama-sama senang. Kesenangan muncul karena produksi dopamin dalam dirinya meningkat.

Dopamin adalah hormon yang ketika diteruskan ke bagian otak tertentu akan menimbulkan rasa senang dan perasaan lain yang berwatak motivasional.

Produksi dopamin salah satunya dipicu oleh kesenangan dari melihat penderitaan orang lain, makanan yang enak, aktivitas yang menyenangkan, hubungan seks, pujian dan lain-lain.

Maka membanjiri otak dengan dopamin dengan cara menonton atau menyaksikan derita, duka lara dan kesedihan orang lain menjadi lebih aman ketimbang mengkonsumsi narkoba.

Walau secara moral tak terpuji, toh mudah ngeles cari alasan. Bilang saja videonya mampir di timeline media sosial kita tanpa sengaja. Dan kalau video itu adalah video yang sedang viral maka ikut-ikutan menonton rasanya tidak akan membuat kita disebut tidak bermoral.

BACA JUGA : Menggadaikan Otak Rasional Pada AI Generatif

Namun tidak selamanya kesedihan, penderitaan atau kemalangan orang lain akan meningkatkan produksi dopamin. Hormon lain yang mungkin muncul adalah oksitosin atau kerap disebut dengan istilah ‘hormon cinta’.

Penderitaan orang lain akan memunculkan simpati dan empati. Rasa turut sedih dan keinginan untuk menolong atau membantu.

Video evakuasi Ibu Eny yang menderita gangguan jiwa dan tinggal di rumah tanpa listrik serta pasokan air bersih membuat banyak orang tergerak. Kerja bakti membersihkan rumahnya dan lain-lain. Sebagian bahkan terasa berlebihan hingga ditolak oleh Tico, anaknya.

Empati memang bisa berlebihan. Seseorang yang empatinya berlebihan disebut menderita savior complex dimana keinginan untuk membantu begitu besar sampai rela mengorbankan yang dipunyai oleh dirinya.

Namun di media sosial, para konten kreator yang kerap kali menunjukkan semangat 45 dalam membantu orang lain tidak serta merta bisa disebut menderita savior complex, sebab konten membantu orang lain meski mengeluarkan banyak uang bisa jadi imbalan atau rewards yang diperolehnya lebih besar.

Jika konten kreator ternama kerap memberikan gift away, sebaliknya mereka yang belum sultan memakai penderitaan untuk melakukan ‘ngemis online’. Harapannya yang nonton akan bersimpati dan berempati. Ujung-ujungnya rasa prihatin itu diharapkan akan mendorong seseorang untuk memberi gift yang tentu saja bisa diuangkan.

Di Tik Tok sedang viral seseorang yang memandikan ibu-ibu tengah malam, bukan hanya air tapi lumpur. Konon konten seperti itu mampu meraup pendapatan puluhan juta per bulannya.

Ketika ada seseorang yang merasa itu tak layak dan kemudian menawari pekerjaan agar tak mencari rejeki dengan cara seperti itu, sang konten kreator justu menolak. Baginya menerima pekerjaan yang ditawarkan karena prihatin itu bakal membuatnya kehilangan gift yang nilanya puluhan juta, plus kebanggaan sebagai seleb Tik Tok.

Batas antara pantas dan tidak pantas memang menjadi tipis.

Jadi silahkan pilih, mau membanjiri otak dengan dopamin, oksitosin atau mengembangkan bakat savior complex.

note : sumber gambar – FINANCE.DETIK.COM