KESAH.ID – Evolusi sepertinya berpihak pada manusia. Dibandingkan dengan binatang lainnya, manusia berkembang menjadi mahkluk yang paling terdepan. Mempunyai kesadaran diri paling tinggi, mampu bekerjasama dalam jumlah yang besar karena manusia menjadi satu-satunya mahkluk yang paling mampu berbahasa. Dengan bahasa manusia bisa mengumpulkan informasi dengan baik, memformulasi menjadi pengetahuan dan kemudian diturunkan secara turun temurun.
Sebagai organisme manusia masuk dalam golongan binatang, binatang bertulang belakang, binatang menyusui yang bersaudara dekat dengan jenis kera-kera besar dan berjalan tegak.
Namun manusia kemudian merasa superior dan kerap ‘membinatang binatangkan binatang lain’ karena revolusi kecerdasan, kemampuan berpikir, pengetahuan dan keahlian yang kemudian jauh melampaui sifat alamiahnya.
Revolusi kognitif membuat manusia lebih unggul dibandingkan dengan binatang lainnya dalam mengumpulkan informasi, menjadikan informasi sebagai pengetahuan dan kemudian memformulasikannya sebagai ilmu atau teori yang diteruskan ke manusia lain, ke generasi berikutnya.
Tentu saja binatang juga melakukan hal yang sama namun tidak sehebat manusia. Dalam soal makan misalnya sampai sekarang belum ada binatang selain manusia yang keluar dari budaya berburu dan meramu. Selain belum mampu menghasilkan pangan sendiri, binatang juga memakan mentah-mentah makanan yang ditemukannya.
Kehebatan manusia dimulai dari hal yang sepele. Manusia mampu menguasai api sedangkan binatang lainnya takut api.
Mampu menguasai api berdampak pada percepatan kemampuan dan pengetahuan manusia. Dengan api manusia bisa memasak sehingga makanan lebih enak dan gampang dicerna. Dengan api manusia bisa mengusir dingin dan gelap, malam-malam bisa nongkrong bersama, mengelilingi api ungun yang membuat manusia berkembang bahasanya.
Dengan bahasa manusia kemudian bertukar cerita, pengalaman dan lainnya hingga menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang terus diuji, diformulasi, dilanggengkan turun temurun dan menjadi dasar untuk mengembangkan teknologi sehingga manusia mempunyai banyak alat bantu.
Bahkan sekarang untuk berpikirpun manusia sudah dibantu, dibantu dengan peralatan, perlengkapan atau aplikasi yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan.
Sistem pengetahuan manusia juga berkembang. Di masa lalu pengetahuan bersifat personal dan dikaitkan dengan umur atau pengalaman. Para tetua dianggap sebagai orang yang berpengetahuan, mereka dianggap sudah banyak makan garam dan asam dunia. Padahal pengetahuannya kerap diwarnai oleh unsur-unsur mitologis.
Ketika masyarakat semakin rumit, terjadi diversifikasi profesi dan mulai muncul organisasi masyarakat, pemimpin di berbagai bidang. Pengetahuan kemudian menjadi milik para elit. Pemimpin, kepala suku, raja, pemimpin agama, dukun dan lainnya kemudian dianggap sebagai orang pintar, sumber pengetahuan.
Ada masa dimana pengetahuan berbasis pada kekuasaan, entah benar atau salah selama itu keluar dari mulut raja maka ‘harus’ dianggap benar.
Pada masa berikutnya muncul para filsuf, kaum yang dianggap sebagai manusia cendekia karena mendedikasikan waktunya untuk berpikir dan merumuskan penetahuan dalam berbagai teori maupun dalil-dalil.
Filsafat kemudian dianggap sebagai ibu dari semua ilmu pengetahuan. Walau ketika agama atau teologi menguat, filsafat kemudian dianggap sebagai hamba teologi.
Filsafat dianggap ilmu hebat karena kerap menjawab pertanyaan ‘Apa itu?”. Apa itu manusia diuraikan dalam filsafat manusia, apa itu pengetahuan dijabarkan panjang lebar dalam filsat ilmu pengetahuan, apa itu alam diurai secara detail dalam filsafat alam dan seterusnya.
Tapi untuk kebanyakan orang filsafat membingungkan karena filsafat berangkat dari abstraksi, pengamatan dari luar atas berbagai fenomena dan kemudian dijabarkan dalam rangkaian teorisasi.
Apa yang diterangkan oleh filsafat yang sebagian besar keterangannya adalah hasil karang mengarang sang filsuf, kemudian diurai oleh ilmu pengetahuan atau sains.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan berbagai ilmu lainnya, sains makin hari makin valid dan teruji karena menerangkan segala sesuatu bukan hanya dari luar melainkan dari dalam. Manusia bukan hanya ditatap dan diamati perilakunya tapi dibedah sampai ke dalam-dalamnya, berbagai reaksi dalam tubuh ditangkap lewat aneka sensor sehingga yang tidak kelihatan oleh mata bisa divisualisasi dengan bantuan peralatan.
Sains kemudian menemukan yang disebut algoritma, cara atau rangkaian kerja dari segala sesuatu, hukum alam atau sesuatu yang ajeg dibalik segala sesuatu. Memang belum semuanya, karena sains masih terus berkembang. Kebenaran dalam sains akan selalu diuji dan akan dibatalkan jika ada penemuan baru yang lebih menyakinkan atau lebih valid.
Maka dalam sains akan dikenal teori jadul, teori yang sudah tidak berlaku atau tak terpakai lagi. Beda dengan sistem pengetahuan lain, meski sudah kuno masih banyak yang mempercayai. Walau jelas terbukti salah atau tetap masih banyak yang mengutip-ngutip sebagai ‘quote of the day’.
Kebenaran sains bukan karena dipercaya atau tidak dipercaya oleh netizen. Bagi sains apa yang tidak bisa dibuktikan akan dianggap tidak ada. Seorang saintis tidak akan malu mengakui tidak tahu, karena tidak punya cukup bukti.
BACA JUGA : Maju Mundur Pemilu Terbuka Tertutup
Pengetahuan kerap berhubungan dengan pengalaman atau pengalaman bisa menjadi sumber pengetahuan. Kelebihan manusia selain bisa belajar dari pengalaman sendiri juga bisa belajar dari pengalaman orang lain, suku lain, bangsa lain dan sebagainya.
Seseorang bisa mempunyai pengetahuan yang luas tentang Amerika Serikat walau belum pernah pergi kesana. Tap perlu punya pengalaman ke Amerika Serikat untuk punya pengetahuan tentangnya karena A dan Z Amerika Serikat bisa dibaca di buku, disaksikan di video dan lain-lain.
Bisa jadi mereka yang pernah kesana malah kalah pengetahuannya dengan mereka yang belum pernah mengunjungi Amerika Serikat. Sebab mereka yang berkunjung kesana tenggelam dalam keasyikan apa yang tersaji di depan mata dan lupa untuk mengetahui lebih dalam.
Jika pengalaman pribadi dijadikan patokan untuk memvalidasi pengetahuan maka tidak akan ada banyak orang bisa atau boleh menerangkan bulan, karena tidak banyak orang yang pernah pergi kesana.
Pengalaman menjadi pengetahuan karena diformulasi dan yang bisa melakukan bukan hanya orang yang mengalami. Seorang peneliti yang mempelajari pengalaman orang lain, komunitas lain, bangsa lain dan sebagainya bisa melahirkan teori-teori, merubah informasi menjadi pengetahuan yang kemudian berguna untuk banyak orang. Bisa diteruskan kepada generasi berikut dan bisa menjadi pijakan bagi mereka untuk melakukan perbaikan atau penyempurnaan.
Pengetahuan yang sistematis dan komprehensif kemudian menjadi landasan untuk membangun keahlian. Berbasis pengetahuan dan pengalaman seseorang kemudian mampu menghasilkan atau melakukan rekayasa tertentu yang membuahkan hasil.
Sebuah produk teknologi selalu lahir dari teori-teori pengetahuan tertentu. Hasil konvergensi antar pengetahuan. Mereka yang menguasai proses, latar belakang, bisa menyusun, membuat perencanaan dan kemudian mewujudkannya akan disebut sebagai ahli.
Seorang disebut sebagai ahli karena kemampuan membuat atau melakukan dengan benar. kalau hanya pintar memakai maka akan disebut sebagai terampil. Seorang ahli akan melahirkan teori, merumuskan pengetahuan yang bisa dipraktekkan atau ditiru serta diterapkan di tempat yang berbeda, serta punya kemampuan untuk melakukan penyesuaian jika situasi atau kondisi berubah.
Dalam lowongan pekerjaan kerap ada syarat pengalaman. Seolah pengalaman akan menentukan keahlian seseorang. Padahal tidak selamanya begitu.
Seorang yang lama bekerja di tambang, belum tentu punya pengetahuan yang mumpuni tentang pertambangan. Mungkin bakal kalah dengan aktivis Jaringan Advokasi Tambang ketika menerangkan A – Z pertambangan.
Lama bekerja di tambang juga tidak otomatis menjadi ahli tambang. Sebab yang disebut ahli adalah seseorang yang mampu memformulasi pengalaman baik pengalaman sendiri maupun orang lain menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang kemudian diformulasi sehingga berlaku lebih umum yang disebut sebagai teori. Dalam teori selalu ada variable-variabel tertentu sebagai prasyarat, prakondisi yang mesti dipenuhi agar berlaku, jika tidak maka diperlukan penyesuaian.
Dengan demikian seorang disebut ahli karena mempunyai kompetensi dalam bidang tertentu, selain karena pengetahuan yang luas, juga punya kemampuan memadukan berbagai pengetahuan lain yang memungkinkannya untuk memberikan rekomandasi, pilihan-pilihan aksi atau cara penyelesaian untuk mengatasi sebuah permasalahan.
Seorang ahli akan melahirkan kerangka konsepsual. Kerangka berpikir yang bisa diterapkan oleh orang lain untuk bertindak.
BACA JUGA : Menghentikan Badai Gurun Pasir
Dulu pengetahuan kerap dikaitkan dengan sekolah atau pendidikan. Benar karena lembaga pendidikan adalah tempat untuk menimba ilmu, pusat pengetahuan. Sedangkan keahlian dinilai berdasar rentang waktu mengeluti bidang tertentu secara mendalam.
Ahli juga sering disematkan pada mereka yang bergelut didunia akademis, mengajar dan meneliti. Perguruan tinggi menjadi lumbung para ahli, keahlian bisa dinilai dari gelar akademisnya.
Tapi jaman berubah, informasi yang kemudian menjadi pengetahuan tidak lagi tersimpan di lumbung-lumbung yang dikelilingi tembok tinggi. Pengetahuan sekarang ini begitu terbuka bisa diakses dimana saja. Orang bisa belajar kapan saja dan dimana saja karena internet.
Di internet dengan mudah ditemukan orang-orang dengan pengetahuan yang luas. Bisa ngoceh panjang tentang ini dan itu, isinya daging semua. Twitter adalah salah satu tempat dimana banyak orang menunjukkan keluasan pengetahuannya. Dari thread atau kumpulan cuitan seseorang bisa kelihatan bahwa banyak orang punya pengetahuan yang tidak kaleng-kaleng.
Belajar sendiri, rajin membaca, melihat berbagai macam tutorial dan lainnya memang bisa membuat orang berpengetahuan, bukan hanya banyak melainkan juga luas. Pengetahuan yang bukan spesialis melainkan generalis.
Dengan pengetahuan yang banyak dan keluasan wawasan seseorang kemudian kerap disebut ahli. Era internet kerap disebut sebagai era matinya kepakaran, muncul banyak orang yang disangka dianggap ahli yang sebelumnya tidak dikenal.
Amat mudah disaksikan diskusi atau debat antara mereka yang sebelumnya dikenal sebagai ahli dengan nerizen biasa. Dalam banyak kasus yang disebut ahli sering kelimpungan menangkis argumen lawannya.
Hanya saja perdebatan di internet terutama media sosial tak bisa dipakai untuk mengukur apakah seseorang benar-benar ahli dalam bidang tertentu. Sebab keahlian mesti diuji.
Seorang disebut ahli bangunan bukan hanya karena mampu memberi keterangan atau gambaran seluk beluk bangunan melainkan juga mampu membuat rancang bangun bangunan, memberi masukan atas rencana pembangunan, menilai sebuah bangunan dan lain-lain.
Di negeri kita sudah terlalu banyak orang mengaku-aku atau dipercaya sebagai ahli, bahkan untuk hal-hal yang tak masuk akal.
Akibatnya banyak orang yang tertipu, bukan hanya dikecewakan melainkan juga dirugikan. Contoh yang paling sering adalah ahli penggadaan uang.
Kita masih sering menggelari seseorang sebagai ahli dengan memakai ukuran di jaman pengetahuan belum terverifikasi. Masih ada banyak mitos dan fiksi yang kita percayai sebagai ilmu. Alhasil jumlah ahli di negeri kita barangkali terbanyak sedunia. Karena kita mempunyai ahli menangkap jin, ahli santet, ahli menangkal hujan, ahli menangkal petir, ahli memindahkan penyakit dan seterusnya.
Namun yang paling menyedihkan diantara banyak keluhan tentang kekurangan ahli dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, kita kelebihan ahli korupsi, pakar menyelewengkan dan memakan uang rakyat serta negara untuk menguntungkan dirinya sendiri.
note : sumber gambar – KOMPASIANA.COM








