KESAH.ID – Melakoni 6 pertandingan dalam Piala Dunia Qatar membawa Messi dianugerahi 4 kali sebagai Man Of The Macth, terbanyak dari pemain manapun. Ada banyak ter-ter lainnya yang diraih Messi hingga sulit untuk disaingi oleh para pesaingnya, bahkan mungkin hingga 100 tahun ke depan. Di usia yang ke 35 Messi mungkin akan mengangkat trophy piala dunia sekaligus meraih penghargaan sebagai pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak di Piala Dunia Qatar 2022 ini.

Sejak peluit ditiup oleh wasit untuk memulai pertandingan antara Argentina lawan Kroasia Rabu dinihari {14/12/2022} saya merasa mereka yang masih saja meributkan soal Deddy Corbuzier juragan podcast Closethedoor yang dianugerahi pangkat tituler setingkat Letnal Kolonel tanpa kejelasan tugasnya di kemiliteran itu. Atau soal pernikahan Kaesang – Erina yang lebih keraton dari pernikahan-pernikahan putra-putri kerajaan sebagai orang yang melupakan hal yang lebih pantas untuk diperhatikan dan dinikmati.

Saya tahu soal pangkat tituler ada aturannya, tapi saya juga paham bahwa diatas peraturan ada diskresi, sebuah keputusan yang bisa diambil oleh yang berkuasa atau berwenang dan percuma untuk diganggu gugat. Sebab alasannya bisa saja senang dan tidak senang. Sesekali bolehlah yang penting nggak jadi kebiasaan yang kebablasan.

Demikian juga dengan keagungan sebuah pernikahan, adanya bukan dalam pesta pora yang dihadiri oleh undangan pakai shift-shift-an serta arak-arakan panjang sampai menutup jalan. Yang tahu pernikahan itu agung atau tidak hanya yang menjalaninya.

Asal tahu saja, siapapun kalau punya kemampuan pasti ingin pernikahannya besar-besaran. Soal arak-arakan memang tak semua punya keberanian, namun di banyak daerah masih lazim pengantin diarak di jalanan.

Tapi lupakan itu sebab dunia tadi malam berhenti, sekurangnya untuk saya dan pengemar Messi serta Argentina di Piala Dunia Qatar.

Piala Dunia Qatar menjadi agung karena setiap kali pertandingan antara Argentina dengan tim lawannya selalu menjadi momen penghormatan terakhir untuk salah satu keajaiban dunia dalam sepak bola.

Sang ajaib itu adalah Lionel Messi.

Tak perlu lagi kita beber apa prestasinya sebab setiap kali bermain selalu ada rekor yang lahir dari gocekan kakinya.

Penyelenggaraan Piala Dunia Qatar bagi banyak pengamat sepertinya tidak sahih, tapi sudah tak mungkin dirubah karena Qatar sudah menyulap negeri yang tak punya sungai dan jarang hujan itu menjadi hijau, mungkin sebagian adalah rumput dan pohon imitasi.

Qatar bahkan mengeluarkan sangat banyak uang yang pada akhirnya tidak perlu karena sebagian stadionnya akan dibongkar. Tapi jelas bongkarannya akan berguna di negeri-negeri yang nantinya menerima. Mungkin itu sumbangan Qatar untuk pengembangan sepakbola dunia.

Apapun itu sebagai pengemar Messi, saya mesti berterimakasih kepada Qatar karena ribuan trilyun yang dibelanjakan olehnya merupakan wujud penghormatan pada Messi, untuk memberi panggung terakhir yang megah dalam kiprahnya di Piala Dunia.

Juara atau tidak juara, Piala Dunia Qatar kemungkinan besar akan menjadi piala dunia terakhir untuk La Pulga.

Mengawali pertandingan pertama melawan Arab Saudi, Messi tampil meyakinkan namun tak mampu membawa Argentina meraih kemenangan.

Pertandingan yang sebagian saya saksikan lewat link yang dibagikan oleh sebuah akun di twitter itu membuat saya urung membeli paket siaran langsung piala dunia di Telkomsel.

Arab Saudi bersuka, mereka merasa sudah mengalahkan juara dunia sehingga Sang Raja memberi hadiah besar berupa mobil Roll Royce untuk seluruh timnya.

Euforia yang tak bertahan lama karena pada ujungnya Arab Saudi bahkan tak lolos fase group.

Argentina pasti lolos, kata seorang teman menyakinkan.

“Paling tidak runner up,” ujarnya

Benar, Argentina bahkan lolos sebagai juara grup karena setelah kekalahan dari Arab Saudi, Argentina terus menang dalam pertandingan berikutnya.

Messi menjadi kunci walau banyak terlihat jalan-jalan diatas lapangan.

Banyak yang salah sangka dengan kebiasaan Messi jalan diatas lapangan ketika temannya sedang sibuk merebut bola dari pemain lawan. Dikira Messi kelelahan atau malas membantu pertahanan.

Pelatih yang paling dekat dengan Messi yakni Pep Guardiola tahu persis kalau Messi mulai jalan-jalan justru merupakan alarm.

Dengan jalan Messi tengah merekam jalannya pertandingan, dia mengamati dengan seksama dan kemudian berpikir untuk mencari jalan melepas kebuntuan.

Hasilnya Messi kemudian kerap mengirim bola tanpa melihat pada kawan yang diberi umpan.

BACA JUGA : Dari Kartasura Ke Surakarta Ada Solo dan Solo Baru 

Untuk apa Piala Dunia diselenggarkaan setiap empat tahun sekali?. Untuk membuat kita berhenti sejenak, melupakan semua dan kemudian memperhatikan sepak bola.

Setiap kali penyelenggaraan Piala Dunia, putaran bumi seakan memang berhenti karena ada satu atau dua pertandingan yang kemudian diperbincangkan dengan penuh semangat, terus diulang karena bisa membuat decak kagum serta geleng-geleng kepala berhari-hari.

Dan di Piala Dunia Qatar ini hal itu cukup dilakukan oleh seorang Messi. Ya Messi mampu membuat saya ingin tetap tidur sekaligus terjaga, hampir tak mampu menyaksikan pertandingan langsungnya. Aplikasi gratisan yang diberikan seorang kawan berisi lima saluran siaran langsung hidup mati. Kalau ingin tahu perkembangannya saya memantau live text di search engine google.

Seperti banyak orang lainnya pertandingan antara Argentina melawan Belanda hampir membuat saya mati lemas. Harap-harap cemas, sampai tak sanggup menatap layar saat beradu pinalti.

Saya lupa kalau Emiliano Martinez, penjaga gawang Argentina itu jagoan dalam menghadapi tendangan 12 pas.

Apalagi melihat Messi mengambil tendangan pinalti, hampir pasti tidak ada jaminan. Messi kerap gagal menyarangkan bola saat pinalti, jauh lebih tenang melihatkan melakukan tendangan bebas langsung ke gawang.

Dalam lubuk hati memang ada harap Messi akan selalu menang. Dia memang yang terbaik tapi rasanya tak lengkap jika belum mengangkat trophy Piala Dunia yang sudah ditatapnya sekian lama.

Tapi diluar itu saya juga ingin menyaksikan Messi memimpin Argentina memainkan bola dengan kejutan-kejutan saat menghadapi lawan-lawannya.

Dan pertandingan yang didamba oleh semua pengemar bola tersaji saat Argentina melawan Belanda. Ada adu taktik yang kental, serangan saling bergantian, permainan sedikit keras sampai hujan kartu, ada drama, kejadian yang membuat dada terguncang dan mulut ingin teriak. Dan sampai akhir penuh dengan suasana yang mendebarkan.

Di Qatar, Messi tampil dengan wajah lain dari piala dunia sebelumnya. Messi bermain untuk Argentina. Bahwa teman-temannya mengatakan bermain untuk Messi, itu menunjukkan bahwa Messi telah menyatu dengan tim nasional Argentina.

Pada piala dunia sebelumnya Messi lebih menampilkan diri sebagai pemain Barcelona yang bermain untuk tim nas Argentina.

Sebuah hal yang pantas karena Messi memperoleh segala-galanya bersama dan karena Barcelona. Main di tim nasional seperti menjadi tamu, tamu yang hebat tapi tak lekat. Pemain lainnya hormat, namun tidak menempatkan Messi sebagai pemimpin melainkan sebagai sosok yang mesti dilindungi agar tak cedera dan membuat kiprahnya di Barcelona terganggu.

Masyarakat Argentinapun kagum padanya, namun serasa benci pada Messi setiap kali berseragam Argentina. Messi dianggap tak serius, tidak mengeluarkan kemampuannya seratus persen.

Diusia 35, menjelang penghujung karirnya Messi menjadi Argentina. Pertandingan melawan Belanda menjadi bukti Messi melindungi, membela dan bekerja bersama teman-temannya. Jarang Messi menunjukkan kemarahan, pada wasit, pada pemain lawan bahkan pada pelatih lawannya.

Messi yang kerap disebut sebagai pemalu, menjadi berani karena Argentina.

BACA JUGA : Menu Kondangan 

Pertandingan antara Argentina melawan Kroasia menjadi pertandingan pertama dalam Piala Dunia Qatar yang saya saksikan secara penuh. Saya kuat-kuatkan diri karena tidak yakin bahwa Messi dan teman-temannya akan mampu mengatasi Luca Modric dan kawanannya.

Kroasia sejauh ini menjadi salah satu tim yang pertahanannya kokoh. Josko Gvardiol, pemain belakangnya diakui sebagai salah satu bek terbaik dalam piala dunia kali ini. Dominik Livakovic, sang kipper juga tampil sebagai salah satu kunci yang mampu menghantar Kroasia hingga mencapai babak semifinal.

Dan benar, Kroasia lebih banyak menekan, penguasaan bolanya juga jauh lebih tinggi. Dengan mudah mereka berhasil merebut atau memotong lalu menguasai bola. Magis Messi hampir tak terlihat di awal-awal permainan.

Terus diserang dan mencoba bertahan dengan serangan balik lewat umpan panjang akhirnya kesempatan datang. Wasit menunjuk titik putih karena menganggap Dominik menghalangi langkah Julian Alvarez.

Messi menjadi eksekutor. Dominik Livakovic yang tangguh dalam menghadapi pinalti bergerak ke arah yang benar. Namun Messi menendang dengan lebih bertenaga sehingga bola lolos menjebol gawang.

Memimpin 1 – 0 nasib Argentina belum terlalu meyakinkan. Solo run Julian Alvares yang penuh spekulasi ternyata berbuah gol. Hasil 2 – 0 juga belum jaminan karena masih ada setengah babak tersisa.

Messi keluar tajinya, gocekannya dari sisi luar kotak pinalti tak mampu dihadang oleh Josko Gvardiol sang palang pintu Kroasia. Masuk ke kotak pinalti Messi tak mengeksekusi karena sudutnya terlalu sempit, bola matang diumpan pada Julian Alvares yang dengan satu sentuhan berhasil membobol gawang Kroasia hingga menjadi paripurna.

Ketinggalan 2 – 0 saja sudah membuat Kroasia lemas. Kroasia habis karena ketinggalan 3 – 0. Satu kaki Argentina sudah di final.

Setelah wasit meniup peluit, Messi mengakhiri pertandingan dengan bertabur rekor yang sulit untuk disaingi oleh pesepakbola manapun.

Masuk ke final belum membuat saya yakin Messi akan mengangkat trophy piala dunia, entah siapa yang akan dihadapi. Saat tulisan ini saya posting pertandingan antara Maroko dan Perancis belum dimulai.

Andai berhadapan dengan Perancis di final, Mbappe dan kawan-kawannya jelas merupakan lawan yang berat. Messi dan Mbappe sama-sama produktif mengemas 5 gol, pun juga dengan Giroud dan Alvares yang berhasil melesakkan 4 gol.

Jika saja Maroko berhasil memulangkan Perancis, itu berarti Maroko lebih kuat dari Perancis maka akan jadi lawan berat juga untuk Messi dan Argentina.

Saya tak mau meramal-ramal atau menganalis berdasarkan statistik sebab pertandingan di piala dunia kerap menjungkirbalikkan angka-angka statistik.

Sebagai pengemar Messi dan pendukung Argentina tentu saya berhadap mereka akan menang di final dan menjadi juara, mengangkat piala untuk yang ketiga kalinya. Messi bisa jadi akan gagal mengangkat trophy piala dunia di akhir kariernya, namun dia akan tetap menjadi yang terbaik tanpa membuktikan diri menjadi juara dunia.

Qatar bahkan akan menjadi tuan rumah yang dikenang apabila melahirkan juara baru yakni Maroko. Andai Maroko juara, mungkin kita akan melihat sepakbola dengan cara yang berbeda. Ada kiblat baru, bukan hanya Eropa dan Amerika Latin, melainkan juga Afrika.

Dan Messi bisa mengakhiri kariernya dengan tenang karena sudah ada generasi pengantinya yang tak kalah tajam.

note : sumber gambar – WWW.BOLA.NET