KESAH.ID – Seni teater baik tradisional, modern maupun kontemporer sebagai seni pertunjukan berada dalam kondisi yang sama, yakni sama-sama berjuang untuk mempertahankan eksistensinya. Dalam rangka memajukan seni dan kebudayaan, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur mengambil langkah nyata dengan memboyong Teater Matahari untuk terlibat dalam rangkaian kegiatan Semarak Pariwisata Kaltim 2022.

Teater sebagai sebuah cabang kesenian yang lahir pada masa Yunani klasik adalah salah satu bentuk seni bermain peran dengan menyajikan cerita kehidupan nyata di atas pentas. Jalan cerita teater selalu mengandung pesan moral baik tersirat maupun tersurat sehingga bisa dijadikan pelajaran hidup oleh mereka yang menyaksikannya.

Dalam pengertian itu di wilayah nusantara berkembang dan dikenal ragam teater yang kemudian disebut sebagai teater tradisional. Disebut teater tradisional atau teater rakyat karena cerita yang diangkat berasal dari kisah masyarakat setempat, memakai bahasa setempat dan dipadukan dengan musik, lagu dan tarian lokal.

Teater tradsional umumnya mempunyai ciri spontanitas dan improvisasi pemainnya yang tinggi. Naskah sebagai babon cerita tidak serumit atau sedetail teater modern atau kontemporer.

Ragam teater tradisional atau teater rakyat yang terkenal di Indonesia antara lain Ketoprak yang tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masih ada serangkaian teater tradisional lainnya yang bisa ditemukan di pulau Jawa, ada Lenong yang berkembang pada masyarakat Betawi di Jakarta, Longser di tanah priangan atau Sunda, Ubrug di Banten dan Ludruk di Jawa Timur.

Di pulau Sumatera ada Randai yang berkembang di Minangkabau lalu Mendu yang berasal dari Kepulauan Natura, wilayah daerah Provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan di Provinsi Riau juga ditemukan teater rakyat melayu yang disebut dengan Makyong.

Pulau Dewata Bali mempunyai Arja yang menceritakan lakon rakyat Bali hingga kisah-kisah kolosal Ramayana dan Mahabarata.

Sedangkan di pulau Kalimantan tepatnya di Kalimantan Selatan berkembang kesenian sandiwara Mamanda. Pengaruhnya meluas hingga Kalimantan Timur,

Seni teater modern juga berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 1955  setelah Umar Ismail dan Asrul Sani mendirikan ATNI, Akademi Teater Nasional Indonesia.

Generasi tahun 70-an hingga awal 2000-an pasti mengenal nama Arifin C. Noer pendiri teater kecil, Teguh Karya pendiri teater populer, Putu Wijaya pendiri teater Mandiri, Wahyu Sihombing, Jadoek Jajakoesuma dan Pramono Padmodarmaja pendiri teater lembaga, Nano Riantiarno pendiri teater koma, Jose Rizal Manua pendiri teater adinda dan tanah air, serta WS. Rendra yang amat terkenal dengan bengkel teaternya.

Setelah tahun 2000-an selain teater koma yang digawangi oleh Nano dan Ratna Riantiarno, pentas teater yang selalu mampu menyedot perhatian juga disajikan oleh Teater Gandrik dari Yogyakarta. Teater yang didirikan oleh Heru Kesawa Mukti, Jujuk Prabowo dan teman-teman ini turut melambungkan nama kakak beradik Butet Kartarejasa dan Jaduk Ferianto.

Girah dan gairah senit teater perlahan surut karena tergilas oleh seni pertunjukan lain yang lebih memikat perhatian publik. Sebagai komoditas, seni teater sulit mendulang rupiah dibandingkan dengan pertunjukan musik, film dan lainnya.

Banyak grup teater yang rontok hanya menyisakan nama.

Beruntung di Kota Samarinda, masih banyak sosok dan grup teater yang terus mencoba bertahan, bertekun dalam jalan sunyinya. Salah satu yang terus berusaha menjaga eksistensinya adalah Teater Matahari.

BACA JUGA : Belajar dan Menimba Semangat Dari Kampung Batik Laweyan

Dunia teater modern di Kalimantan Timur berkembang sejak awal tahun 70-an. Merunut sejarahnya, perkembangan teater di Samarinda khususnya tak bisa lepas dari peran Bengkel Teater Yogyakarta.

Sekitar tahun 1979, Dewan Kesenian Samarinda mengundang Aloysius Untung Basuki dari Bengkel Teater Yogyakarta untuk memberikan pelatihan teater modern. Setelah pelatihan itu, pesertanya kemudian mendirikan grup-grup teater sendiri.

Salah satu diantaranya adalah Wawan Timur, seniman teater yang punya nama asli Irwan Darmansyah. Wawan bersama teman-temannya kemudian membentuk Teater Mula dan mulai aktif melakukan pementasan.

Seiring dengan jam terbang yang makin tinggi, Wawan Timur kemudian bukan hanya dikenal sebagai penampil melainkan juga penulis naskah dan sutradara. Berbagai penghargaan dalam dunia teater telah diraih olehnya.

Bersama dengan rekan-rekan kawakan lainnya, Wawan Timur bergabung dalam Teater Matahari. Kelompok yang beranggotakan antara lain Salahuddin Pance, Muhammad Nur, Sabir, Syaiful Hasan, Fahrurozi dan Dede Musdalifah ini turut memeriahkan Semarak Pariwisata Kalimantan Timur 2022 lewat pementasan dengan tajuk Geger di pendopo ISI Yogyakarta.

Naskah ditulis oleh Hamdani Swara yang sekaligus bertindak sebagai sutradara.

Hamdani sendiri baru-baru ini mendapatkan Anugerah Kebudayaan dalam kategori pelopor/kreator teater dalam Kaltim Education Award 2022. Anugerah ini diperoleh karena ketekunan dan kesetiaannya selama puluhan tahun dalam mengembangkan teater di Kalimantan Timur.

Terus setia menapaki jalan dalam rimba teater, muridnya telah beranak pinak di hampir semua grup teater yang ada di berbagai wilayah Kalimantan Timur.

Maka tidak salah jika kemudian lakon Geger yang dipentaskan di Solo menuai sejumlah pujian termasuk dari ‘suhunya’ yakni Untung Basuki yang datang dari Yogyakarta untuk berenuni, temu kangen dan turut menyertai awak Teater Matahari selama di Solo dan Yogyakarta.

Sebuah pertemuan yang mengesankan setelah berpuluh tahun tak bersua. Yang pasti suhu dan muridnya sudah sama-sama menua.

Pendhapa Ageng ‘Mr. GPH Djojo Kusumo’ ISI Surakarta menjadi saksi bagaimana Teater Matahari meng-geger-kan Solo.

Tampil dalam format teater tradisional Sandima, penampilan Teater Mandiri diantar oleh narasi pembuka berupa Tarsul atau seni tutur dari tradisi Kutai.

Sabir, seorang aktor kawakan yang juga dikenal sebagai pendongeng membuka tampilan pertama cerita dengan memikat. Berupaya berdialog dengan penonton dengan menyelipkan kata dan sapaan dalam bahasa Jawa agar cerita geger related dengan lokasi pementasannya.

Panggung menjadi pecah dengan kemunculan Sang Raja dari Negeri Batu Besaung yang diperankan oleh Sahabuddin Pance. Dengan gaya yang kocak, dialog dan gerak tubuhnya di panggung membuat pentas menjadi dinamis.

Haji Pance demikian panggilan akrab dari Sahabuddin telah berkali-kali meraih penghargaan sebagai aktor teater terbaik dalam berbagai eksebisi teater.

Panggung semakin semarak dengan penampilan tarian dari Sanggar Tari Dara, Tenggarong Kutai Kartanegara.

Semarak panggung pentas lakon geger juga tak lepas dari musik pengiring yang digawangi oleh Asril Gunawan, dosen program studi etnomusikologi Universitas Mulawarman. Lelaki berambut gondrong ini terampil memainkan music gesek biola.

Pujian juga pantas diberikan kepada Fahrurozi, seniman teater muda yang juga piawai membuat film. Tampil di sepanjang pementasan, Oji demikian panggilannya harus berakting tanpa banyak kata-kata.

Sebagai sebuah kelompok, Teater Matahari memang terbilang baru, namun isinya adalah para pelakon dan seniman-seniman senior yang telah malang melintang di dunia teater Kalimantan Timur. Maka tak sulit untuk mereka tampil memikat.

Lakon ‘Geger’ sendiri mengambil cerita tentang intrik dalam istana, penyelewengan kekuasaan yang pada akhirnya akan membuat kekuasaan itu hancur.

BACA JUGA : Dari Mahakam Ke Bengawan Solo Hingga Pegunungan Sewu

Surakarta secara tradisional lebih dikenal karena keraton dan batik. Namun Kota yang kini dipimpin oleh Walikota yang masih muda ini terus berbenah mengembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata yang berbasis pada tradisi setempat.

Dalam pendidikan kesenian, metamorfosis juga terjadi dengan kelahiran Institut Seni Indonesia Surakarta.

ISI Surakarta sebelumnya dikenal sebagai ASKI atau Akademi Seni Kerawitan Indonesia. Dan pada tahun 1988 kemudian berubah menjadi STSI atau Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Status ini kemudian berubah kembali pada tahun 2006 dengan kelahiran Institut Seni Indonesia atau ISI Surakarta.

ISI Surakarta mempunyai dua kampus yakni kampus lama untuk Fakultas Seni Pertunjukan dan kampus baru untuk Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Pementasan Teater Matahari yang membawa lakon Geger menjadi relevan karena ISI Surakarta mempunyai Program Studi Seni Teater.

Ahmad Herwansyah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur mengatakan seni pertunjukan merupakan salah satu sektor unggulan dalam Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Timur.

“Teater adalah salah satunya,” ujar Iwan, sapaan akrabnya.

Diboyongnya Teater Matahari untuk melakukan pementasan di ISI Surakarta merupakan penanda awal dari niat Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim untuk melakukan pemajuan seni dan kebudayaan utamanya dalam meningkatkan kapasitas para pelakunya.

“Kami sudah melakukan MOU dengan ISI Surakarta sebagai tindaklanjut upaya pengembangan SDM pelaku ekonomi kreatif di Kalimantan Timur,” lanjut Iwan.

Isa Ansari, Wakil Dekan I Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta yang turut hadir dalam pementasan menyambut baik kerjasama ini.

Menurutnya ISI Surakarta mempunyai rekam jejak panjang dalam pendampingan dan pengembangan SDM, baik lewat pendidikan maupun mentoring.

“Semoga lewat kerjasama ini, ISI Surakarta bersama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim bisa memperkuat SDM sehingga sektor ekonomi kreatif dan pariwisat Kaltim bisa berdaya saing tinggi,” pungkas Isa Ansari.