KESAH.ID – Jalan tol memang akan memangkas waktu tempuh. Karena jalanan berbayar ini merupakan jalanan tertutup yang hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda empat yang akan berjalan searah. Namun untuk penyuka perjalanan, melewati jalan tol akan membuat kelana dari satu kota ke kota lainnya terasa kering pengetahuan dan pengalaman.

Sudah lama saya tidak berdevosi kepada Bunda Maria. Bertepatan dengan bulan Oktober yang dalam tradisi Gereja Katolik merupakan bulan rosario, saya berencana mampir ke Gua Maria, Poh Sarang Kediri dalam perjalanan dari Surabaya ke Semarang.

Sayangnya keyakinan menumpang pesawat penerbangan langsung yang pertama berangkat dari bandara tidak akan terlambat atau berubah jadwal terbangnya ternyata hanya merupakan mitos.

Hari Senin sore sebuah pesan masuk dari Citilink mengabarkan pesawat yang berangkat Rabu pagi karena alasan operasional akan diterbangkan menjadi lewat tengah hari. Apa boleh buat informasi itu mesti diterima begitu saja, rela walaupun dongkol karena merubah semua rencana.

Gua Maria Lourdes Pohsarang terpaksa batal dikunjungi. Padahal saya sudah membayangkan indahnya paduan arsitektur hindis yang menjadi dasar dari kompleks Gereja Katolik Pohsarang itu.

Gereja yang terletak di lereng Gunung Wilis ini mempunyai gaya arsitektur yang menarik karena memadukan pengetahuan dan nuansa arsitektur Eropa dengan gaya arsitektur beberapa rumah adat nusantara serta konsepsi ruang berlatar tradisi hinduisme.

Tapi jadwal yang berubah membuat saya tak sempat untuk mengalami dan mendalami kerahiman Bunda Maria disana. Tak apa, saya masih punya kesempatan untuk mampir ke Gua Maria Kerep di Ambarawa nanti saat pulang dari Semarang ke Purworejo.

Untuk mengobati sedikit rasa kecewa setelah turun di Bandara Juanda Surabaya, saya mampir lebih dahulu untuk mengisi kampung tengah dengan bersantap Rawon Setan di Jalan Embong Malang.

Rawon legendaris ini disebut sebagai rawon setan bukan karena pedasnya mampus. Sebutan itu muncul karena dulu buka setelah tengah malam sehingga banya pengunjungnya adalah pekerja dunia malam.

Usaha yang kini diteruskan oleh anak cucu itu, kini berada di sebuah ruko tua terletak tak jauh dari Hotel JW. Marriot dan Tunjungan Plaza 6.

Rawan dengan irisan daging besar-besar dan empuk itu disajikan secara terpisah atau dicampur dengan nasi. Tidak ada bedanya, hanya beda harga.

Dilengkapi dengan kecambah dan sambel, rasanya nutty, empuk dan seger. Untuk yang doyan nasi, ukuran nasi per porsinya terlalu kecil untuk menghabiskan semangkuk rawon dengan 5-6 irisan daging besar itu.

Sayang tak bisa berlama-lama karena pengunjungnya selalu ramai. Buka dari tengah hari, sebelum hari gelap rawon yang dijajakan sudah kandas.

Semangkok rawon, dua porsi nasi dan segelas es jeruk lalu dilengkapi segelas kopi hitam di Kedai Kopi Nama Baik beberapa langkah dari Warung Rawon Setan menjadi bekal yang cukup untuk memulai perjalanan menyusuri Tol Trans Jawa dari Surabaya ke Semarang.

Mas Dion, driver Hiace Commuter yang datang menjemput dari Semarang kemudian mulai membawa mobilnya menembus jalanan Surabaya yang mulai macet karena kesibukan orang pulang kerja. Mencari jalur alternatif ternyata tak juga menolong, jalanan tetap sesak.

Setelah melewati pintu tol lama akhirnya gerbang dari kejauhan terlihat gerbang Tol Gunung Waru. Dari pintu ini perjalanan melewati Tol Trans Jawa akan dimulai.

BACA JUGA : Sastra dan Kota 

Paginya sebelum menyusuri Tol Trans Jawa, saya melewati jalan tol pertama di Pulau Kalimantan, Tol Balsam yang menghubungkan Balikpapan dan Samarinda. Rencananya dari Samarinda akan disambung ke Bontang, tapi entah kapan.

Mungkin saja di masa depan, Tol Balsam akan menjadi cikal bakal Tol Trans Kalimantan yang menghubungkan IKN dengan Kota-Kota Besar di seluruh Pulau Kalimantan bahkan mungkin hingga ke negara tetangga, Malaysia Timur dan Brunei Darussalam.

Jalan-jalan tol ini merupakan bagian dari program tolnisasi Presiden Jokowi, mulai tol darat, tol laut hingga tol udara.

Tol Trans Jawa direncanakan menghubungkan kota paling barat hingga paling timur di Pulau Jawa mulai dari Tanggerang hingga ke Banyuwangi dengan panjang kurang lebih 1,056 km. Saat ini yang sudah beroperasi meliputi 20 ruas tol mulai dari Merak {Banten} hingga Probolinggo {Jawa Timur}.

Saya akan menyusuri sebagian, kurang lebih 6 ruas mulai dari ruas Surabaya – Mojokerto, Mojokerto – Kertosono, Kertosono – Ngawi, Ngawi – Solo, Solo – Semarang dan Semarang Seksi ABC.

Sayang hari mulai gelap sehingga saya nggak bisa banyak bercerita pemandangan di jalan. Tapi saat masih sore ketika melewati pemandangan kompleks industri dan pergudangan, saya sempat singgah di rest area tipe A kalau tidak salah ada di km 726.

Tol Trans Jawa mempunyai rest area dengan tipe A, B dan C.

Rest area tipe A memiliki area yang luas dan dilengkapi dengan SPBU, ATM, Toilet, Klinik Kesehatan, Mushola, Minimarket, Tempat Parkir Luas, Ruang Terbuka Hijau dan Restoran.

Sedangkan tipe B, areanya lebih kecil. Fasilitasnya hampir sama namun biasanya tanpa SPBU.

Sementara tipe C lebih kecil lagi, areanya kerap bersifat sementara dan kadang hanya dioperasikan pada waktu tertentu seperti saat hari raya, hari libur besar dan lainnya.

Di beberapa rest area ditetapkan pembatasan waktu singgah yakni 30 menit agar tidak terjadi penumpukan kendaraan.

Rasanya memang beda menyusuri Jalan Tol Balsam yang masih lenggang. Sementara Tol Trans Jawa relatif lebih ramai. Banyak kendaraan besar melewati, truk dan bus-bus malam. Bus yang dihiasi dengan lampu warna-warni menjadi daya tarik tersendiri.

Melewati jalan tol, jarak yang ditempuh dari Surabaya ke Semarang kurang lebih 350 km. Jarak ini bisa ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam lebih. Hampir sama dengan kecepatan naik kereta api.

Jalur lain non tol adalah melewati pantura. Dari Surabaya ke Gresik, Tuban, Rembang, Pati, Kudus , Demak lalu Semarang. Jaraknya lebih dekat kurang lebih 300 km namun waktu tempuhnya bisa dua kali lipa tantara 8 hingga 9 jam.

Seperti artinya tujuan dari jalan tol adalah memangkas waktu tempuh. Jalan bisa dilalui dengan cepat tanpa hambatan. Jalan freeway, highway aau expressway ini kemudian disebut dengan tol karena merupakan jalan tertutup, khusus untuk kendaraan roda empat lebih dan dikenakan biaya untuk melewatinya. Tol singkatan dari Tax On Location.

Ongkos yang harus dibayar untuk mengkompensasi pemotongan waktu tempuh antara Surabaya hingga Semarang berkisar 359 ribu sekian.

Pembangunan jalan tol pertama di Indonesia dimulai pada tahun 1973 dengan dana pinjaman dari luar negeri. Tol itu diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1978 dan dinamai dengan Tol Jagorawi.

Mulai jaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pembangunan jalan tol diperluas dari Jawa ke Sumatera dan Bali. Dan dimasa Presiden Jokowi pembangunan jalan tol lebih gencar, selain di Jawa, Sumatera, pembangunan jalan tol juga dilakukan di Sulawesi dan Kalimantan.

Seperti Suharto, pembangunan yang digenjot oleh Jokowi adalah infrastruktur.

BACA JUGA : Orang Mului Menjaga Hutan Dan Alam Untuk Kehidupan Lestari 

Untuk mereka yang diburu waktu, tidak mau kehilangan waktu dan menganggap time is money maka jalan tol jelas sangat menguntungkan.

Dulu saya tak pernah membayangkan, seseorang dari Semarang akan menjemput saya di Surabaya dan kemudian kembali ke Semarang dalam hari yang sama, nyopir mobil sendirian. Pulang pergi kurang lebih 8 jam, mirip dengan jam kerja harian pada umumnya.

Dan jalan tol memungkinkan seseorang pulang pergi, berangkat pagi dari Semarang ke Surabaya dan pulang kebali ke Semarang sebelum tengah malam.

Meski senang karena perjalanan cepat namun pada akhirnya ketika sudah tiba di Semarang dan mulai duduk-duduk santai sambil ngobrol, saya merasa ada yang hilang dalam perjalanan lewat jalan tol tadi.

Saya hanya tahu perjalanan dimulai dari Surabaya ke Semarang tapi tak tahu melewati daerah mana saja. Pemandangan di jalan tol sama saja, sulit membedakan antar wilayah yang kita lewati.

Itulah ongkos yang harus dibayar untuk hal yang serba cepat. Saya jadi kehilangan pengetahuan dan pengenalan atas jalan yang saya lewati.

Dibandingkan dengan melewati jalan biasa, maka saya akan tahu daerah mana yang saya lewati, ciri daerah yang saya lewati atau bedanya dengan daerah lainnya. Perjalanannya mungkin sering macet, jalanannya sempit, tanjakan dan turunannya tinggi serta diberbagai tempat aspal atau semen penutup jalannya berlubang.

Tapi saya tahu ketika melewati Temanggung akan tercaum bau tembakau dan bunga kopi, atau ketika melewati Ambarawa akan terlihat banyak buah kelengkeng, lalu di Magelang ada banyak penjual gethuk trio, di Salaman  nada penjual wajik dan lain-lain.

Melewati jalan tol saya tidak menemukan hal itu, tak merasa antara ruas yang satu berbeda dengan ruas yang lain. Untuk saya perjalanan yang cepat di jalan tol kalau boleh digambarkan rasanya maka akab berasa semen.

Untuk para pengelana, para penikmat perjalanan antar kota yang ingin tahu dan merasakan kota-kota yang dilewatinya maka jalan tol bukan jalan yang tepat untuk perjalanan piknik atau tour.

Alangkah ruginya melewati jalan tol jika tujuan perjalanannya adalah piknik, mengenal dan merasakan daerah-daerah yang dilewati.

Seperti saya, perjalanan dari Surabaya ke Semarang melalui tol hanya membuat saya bisa menikmati satu jenis kopi, kopi yang saya beli dari gerai Kopi Kenangan di rest area.

Bayangkan jika saya lewat jalan yang biasa, entah di jalur utara atau selatan, berapa jenis kopi setempat yang akan saya nikmati di perjalanan, pastinya saya akan menikmati berbagai jenis kopi java arabica maupun robusta.

Oh, iya para tour guide juga akan kesulitan memberi daging dalam narasinya jika harus bertutur disepanjang jalannya tour ketika melewati jalan tol.

Saya tak bermaksud menyepelekan capaian Presiden Jokowi dengan pembangunan jalan tolnya. Tentu patut diapresiasi dan diberi acungan jempol. Namun jika semua jalan jadi jalan tol, rasanya pengalaman perjalanan kita bakal jadi kering. Jalan tidak lagi menjadi salah satu pusat pengetahuan dan pengalaman.

Padahal tidak semua orang ingin perjalanan berlangsung cepat. Banyak yang ingin menikmati perjalanan, menimba pengetahuan dan merasakan apa yang ditemui di sepanjang jalan melewati berbagai kota.

Perjalanan yang akan membuat kita sadar betapa kaya dan beragammnya Indonesia.

Sayangnya perjalananan itu akan sulit kita alami jika sepanjang perjalanan kita terus melewati jalan tol. Jalan tol memang bukan jalan tempat kita merayakan dan merasakan Indonesia.

note : sumber gambar – KOMPAS.COM