KESAH.ID – Banyak yang menyangka konsumsi minuman keras adalah pengaruh dari peradaban dan budaya barat. Padahal senyatanya setiap kelompok masyarakat di nusantara mempunyai ‘signature’ nya sendiri, beragam bentuk tuak dan arak. Bahkan di bumi nusantara lahir dua mazhab minuman campuran, ’mix and macth’ aneka bahan yang kemudian disebut sebagai oplosan.
Migas memang bikin pusing namun miras yang memabukkan. Satu dua teguk cukup untuk menghangatkan badan, masih menyehatkan. Hanya saja jika sudah berteguk-teguk bakal bikin diri terasa melayang, yang oleng bukan hanya badan tapi juga pikiran dan perasaan.
Minuman keras boleh dibilang merupakan pondasi peradaban. Jauh di masa sebelum republik kuno berdiri miras sudah eksis. Bisa jadi ditemukan sejak masa berburu dan meramu lalu memperoleh masa keemasan di masa kerajaan klasik.
Miras menduduki tempat istimewa dalam berbagai upacara, mulai dari upacara menyambut tamu sampai upacara atau ritual religius.
Sudah memabukkan tapi tidak dipakai untuk mabuk-mabukkan.
Kapitalisme merubah segalanya. Minuman upacara kemudian menjadi komoditas, yang dibakar menyala kemudian dibotolkan jadi mesin kapitalis dalam masyarakat modern.
Modernitas datang dari Eropa dan miras dari sana yang kemudian ternama. Ada whishy, brandy, scotch, liquor,sampanye, vodka, baileys, bir, wine dan lain-lain.
Hingga kemudian banyak yang mengira kalau budaya minum-minum berasal dari barat.
Kita lupa kalau masyarakat nusantara mempunyai jenis dan tradisi minuman kerasnya sendiri.
Yang paling umum adalah tuak, minuman beralkohol yang dibuat dari air nira hasil sadapan mayang pohon palem-paleman, seperti kelapa, aren, siwalan dan lontar.
Orang Makassar dan Toraja menyebutnya sebagai Ballo’, orang Manado dan Minahasa menamakannya saguer sedangkan orang Ambon menyebutnya sagero.
Rasanya asem, pahit dengan manis tipis-tipis, bikin muka memerah dan dengkul lemah. Yang perutnya nggak terlalu kuat bisa mencret-mencret.
Tuak terfermentasi secara alami.
Selain berbahan air deresan minuman fermentasi juga dihasilkan dari tape, baik tape ubi maupun tape ketan. Di Jawa Tengah pernah terkenal minuman KTI, air ketan hitam. Masyarakat di daerah Mahakam Hulu mengenalnya sebagai buraq, sementara sebutannya di Kalimantan Tengah adalah baram.
Orang Belusu di Kalimantan Utara juga membuat pengasih. Tradisi meminum tuak dinamai ginum pengasih. Caranya unik karena harus diminum oleh suami istri atau pasangan yang sah.
Lain tuak lain pula arak. Jika tuak dihasilkan melalui fermentasi, arak adalah minuman hasil destilasi atau penyulingan.
Tuak mirip wine, sedangkan arak serupa dengan whisky.
Orang Jawa mengenalnya sebagai ciu, namun ada juga yang menyebutnya bekonang. Terbuat dari destilasi air tape dan tetes tebu.
Namun yang paling legendaris adalah CT, cap tikus dari Sulawesi Utara. Wujudnya bening seperti air putih namun kalau dibakar menyala atau BM. Saat diteguk akan terasa membakar tenggorokan.
Orang Ambon menamainya sopi, sedangkan orang Nusa Tenggara Timur menyebutnya sebagai moke.
Sepertinya halnya nabi yang sering tidak dipercaya di tanah kelahirannya sendiri, minuman alkohol tradisional juga demikian. Meski masih eksis namun tetap terdiskriminasi. Mabuk tuak dan tuak dianggap mabuk kelas rendahan. Kelas pinggir jalanan, khas anak-anak tongkrongan di ujung gang kampung.
Di Manado mereka disebut sebagai Alo, anak lorong.
Kalau sudah ngumpul dan mabuk cap tikus, anak lorong ini kerap berubah menjadi malaikat pencabut nyawa, berkeliaran membawa senjata tajam.
Lorong Mahakeret, Lorong Majalah, Lorong Corona dan beberapa lainnya menjadi tempat uji nyali kala malam hari. Polisi sekalipun bakal dipalak kalau melewati lorong itu.
BACA JUGA : Dilema Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan
Romantisme kaum muda gaul baik yang beganjulan maupun yang nyeni di berbagai kota sebelum tahun 2000-an dibangun oleh minuman keras.
Yang tak punya minuman keras tradisional, anak mudanya akrab dengan Topi Miring, Mansion, Drum dan lainnya. Banyak warung dengan terang-terangan memajang deretan minuman botolan ini, seperti aneka sirup yang dipajang oleh warung kopi dan teh kekinian.
Di Samarinda ‘Wedang Galak’ waktu itu bisa dibeli di Warung Daeng, warung 24 jam sebelum punya saingan gerai berlabel mart.
Barangkali karena pengaruh film atau kebiasaan di bar yang punya bartender, peracik minuman beralkohol yang sering menyajikan resep-resep minuman baru, anak nongkrong pinggir jalananpun kemudian tertarik untuk meracik cocktail.
Aroma dan rasanya jadi makin gayeng, pun juga efeknya jadi makin joss.
Yang ori kadang-kadang memang membosankan untuk para ‘dewa tuak’, terlalu biasa. Maka mereka mulai berekperimen mencampurkan berbagai minuman.
Dunia campur mencampur ini sekurangnya menghasilkan dua mazhab besar yakni lapen dan oplosan.
Lapen lahir kios jamu. Campuran antara alkohol dan jejamuan. Arak kemudian berevolusi menjadi miras herbal. Di Manado racikan cap tikus dengan aneka rempah juga janin binatang seperti anak rusa hingga ular dinamai pinaraci. Namun ada juga yang disebut saledo, cap tikus diberi tambahan gula sehingga warnanya merah kecoklatan, manis-manis memabukkan.
Jika lapen bernuansa kesehatan, ada SOP tertentu dalam proses pencampuran maka oplosan adalah mazhab dalam gaya bebas.
Yang tertib akan memakai standar para bartender di bar, pub atau resto. Campuran terdiri dari arak {whisky/vodka} dengan minuman bersoda, buah baik buah asli maupun sirup, susu atau yogurt dan minuman energizer seperti krating daeng, extra joss dan lainnya.
Awalnya yang disebut oplosan adalah campuran antara alkohol dengan barang yang tidak berbahaya.
Namun dalam tarung bebas ruang ekplorasi makin besar. Dan minuman alkohol selalu membuat orang menjadi ‘pujungan’ , sok jagoan. Para ‘dewa tuak’ mulai adu nyali, mencampur minuman beralkohol dengan barang berbahaya lainnya yang bukan merupakan bahan konsumsi.
Masing-masing group mempunyai campuran sendiri, ibarat minuman signature dengan rasa dan kebanggaan yang khas.
Bersaing satu sama lain, akhirnya muncul oplosan gila-gilaan.
Alkohol bukan hanya dioplos dengan sirup, susu dan minuman bersoda melainkan dengan thiner, bensin, obat nyamuk, obat sakit kepala, obat batuk, karbol dan lainnya.
Karena peredaran minuman alkohol makin diperketat, tempat penjualan semakin terbatas dan harganya makin mahal. Mazhab oplosanpun makin liar mirip keliaran musik koplo yang prinsipnya asal goyang.
Pun demikian dengan mazhap oplosan, yang penting ‘mumet’.
Bahan dasar oplosannya memang masih alkohol namun bukan alkohol minuman melainkan alkohol teknis atau bahkan alkohol medis.
Kelompok anak jalanan yang tobat ngelem kemudian naik kelas dengan mengoplos alkohol botolan yang dibeli di toko obat dengan obat batuk, yang paling sering dipakai komix sasetan.
Dulu tukang becak di Jawa Tengah, kalau uangnya habis untuk beli nalo dan angkanya tak keluar bakal menghilangkan gundah dengan mencampur sprite dan bodrex atau inza. Dan banyak yang muntah darah karena mencampur fanta dengan bodrexin.
Cerita oplosan mazhab bebas ini kemudian lekat dengan kisah tumbangnya para jagoan setelah berpesta miras oplosan. Malamnya mereka bersuka ria esok harinya satu persatu tumbang meregang nyawa. Jika diotopsi dada bagian dalamnya terbakar dan livernya pecah.
BACA JUGA : Pak Joko Widodo Tidak Dilarang Jadi Calon Wapres Pada Pemilu 2024
Sudah cukup lama tidak terdengar kabar berita para ‘dewa tuak’ tumbang akibat minuman oplosan. Mungkin para peminum berlaku seperti saya, lebih memilih kopi tanpa gula ketimbang tetap menyerap hasil racikan yang terkadang mematikan.
Pun para peminum baru kemungkinan lebih memilih hasil oplosan dari kedai-kedai minuman kekinian. Aroma dan rasanya masih mirip coktail berbasis alkohol namun tak memabukkan karena berasal dari sirup berperisa.
Di booth dan kedai minuman kekinian ada mojito, pinacolada, kopi baelys, kopi brandy atau jenis irrish coffee lainnya tapi tak memabukkan.
Dan kejutan itu datang dari Samarinda. Berbagai media online memuat kabar tentang 3 narapidana yang tumbang dan 1 orang lainnya kritis di Rumah Sakit.
Di Lapas Kelas II A Samarinda, sekawanan narapidana berpesta minuman oplosan. Campurannya tidak main-main. Bukan alkohol teknis, medis atau pembersih luka melainkan alkohol untuk cairan pencegah virus dan bakteri, hand sanitizer yang populer karena pandemi Covid 19.
Cairan disifektan dicampur dengan minuman ringan berperasa. Mungkin terasa enak diteguk namun akibatnya bisa diduga, bukan mabuk melainkan nyawa melayang dan yang setengah mati termasuk kategori beruntung.
Oplosan memang mazhab bebas tergantung pada seberapa kreatifnya yang meracik.
Pilihan para narapidana meracik minuman dari cairan pembersih tangan barangkali seiringan dengan niat mereka bertobat. Siapa tahu cairan pembersih itu selain bisa meringankan pikiran juga bisa membersihkan kerak-kerak di dalam hati. Kotoran dalam jiwa bisa luruh dan setelah meminumnya akan menjadi manusia baru dengan hati yang lebih bersih.
Mereka memang menjadi manusia baru, baru di akhirat.
Teler ternyata masih menjadi pondasi peradaban di Kota Samarinda yang mencita-citakan dirinya menjadi Kota Pusat Peradaban ini.
Namun kebutuhan untuk teler ternyata sulit diraih karena miras sulit untuk ditemui.
Tak ada rotan akarpun jadi. Oplosan menjadi jalan pembebasan, sebab selain mudah didapat dan diracik, efeknya terkadang juga lebih ampuh dari miras sebenarnya.
Penjarapun jadi rumah kreatif, meracik oplosan dengan bahan seadanya.
Berbekal otak yang serampangan akhirnya nyawapun merenggang.
Oplosan menjadi jalan pembebasan lewat bunuh diri yang tidak disengaja atau sengaja tak disadari. Dan itulah wajah peradaban kita.
note : sumber gambar – KOMPASIANA.COM








