KESAH.ID – Di tengah kontroversi soal Sambo, sejenak kita dijeda oleh Upacara Bendera, Farel Prayoga dan Joko Tingkir Ngombe Dawet. Angan-angan berlebih negeri ini memang kerap bikin mumet.

Dua sungai cukup besar di Jawa Tengah yang berhulu di pegunungan Kedu dan bermuara di pantai selatan {Samudera Indonesia} adalah Sungai Serayu dan Sungai Bogowonto.

Dari dua sungai itu yang akrab dengan masa kecil saya adalah Sungai Bogowonto.

Bogowonto dulu bernama Watukoro, namun dengan sering terlihatnya Begawan bersemedi di tepinya, sungai itu kemudian disebut Sungai Begawan, Bhagawanta, Vhagavanta hingga kemudian terucap secara populer Bogowonto.

Hulunya ada di Gunung Sumbing, alirannya melewati Kabupaten Wonosobo, Magelang dan berakhir di Purworejo.

Ketika duduk di bangku SMP dan SMA, setiap hari saya melintasi sungai ini, menyeberang melalui jembatan cukup panjang yang menghubungkan Kelurahan Tambak Rejo dan Baledono. Jembatannya seperti ada di tengah cekungan. Dari arah timur, turunannya melewati pasar pagi, sedangkan arah barat turunannya mulai dari perempatan Panthok, yang ditengahnya berdiri patung WR. Supratman.

Pada ruas aliran Sungai Bogowonto yang membelah wilayah Kecamatan Purworejo, selain lewat jembatan, sesekali saya menyeberang dengan menaiki Gethek, perahu penyeberangan yang terbuat dari rangkaian bambu.

Penyeberangan dengan Gethek menghubungkan daerah Kedungsari di timur dan Plaosan di barat.

Setiap kali menaiki Gethek itu saya selalu ingat dengan cerita Mas Karebet atau Joko Tingkir.

Joko Tingkir yang kelak bergelar Sultan Hadiwijaya, di masa mudanya pernah mengarungi Sungai Begawan Solo dengan Gethek. Konon ketika menyusuri Bengawan Solo, Gethek Joko Tingkir didorong oleh sekumpulan buaya.

Tukang Gethek di Bogowonto itu sudah cukup tua, sehingga saya tak bisa mengasosikannya dengan Mas Karebet. Entahlah dia suka ngombe dawet apa tidak, sebab tak ada penjual mangkal di sana. Tapi kalau soal bikin mumet, Tukang Gethek itu terkadang memang marai mumet.

Ketika tiba dan ingin segera menyeberang, dia masih ada di seberang namun tak bergegas untuk menjemput. Dia malah klepas-klepus menghisap rokok tembakau lintingan, tak merasa sedang ditunggui.

Akhir tahun 2021 lalu, dari duduk di lincak sambil menikmati kopi tubruk bikinan barista Kape Kapi, saya masih menyaksikan Gethek yang teronggok di tepian Bogowonto. Penyeberangan nampaknya tak beroperasi lagi.

Di sisi Plaosan, sebelah tempat Gethek merapat waktu itu menjadi ramai karena berdiri Kedai Kape Kapi, tempat ngopi dan nongkrong yang ngehits di tepian Sungai Bogowonto.

Buat orang Purworejo, Sungai Bogowonto adalah sungai penuh sejarah. Daerah-daerah tertua di Kabupaten Purworejo ada disekitar aliran sungai itu. Seperti Loano misalnya. Atau Bagelen dimana aliran Bogowonto menjadi batas antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pangeran Diponegoro juga di tangkap oleh Belanda di tepian Sungai Bogowonto.

Selain sebagai nama sungai, Bogowonto juga diabadikan sebagai nama kapal, ada KRI Bogowonto. Sekarang juga beroperasi KA Bogowonto, yang melayani jalur kereta selatan dari Yogyakarta hingga Jakarta pulang pergi.

BACA JUGA : Opium War Versi Tik Tok

Sudah lama saya tidak mendengar cerita dan nama Joko Tingkir. Nama Ki Joko Bodo lebih terkenal karena sering masuk televisi.

Ketika media sosial mulai mengalahkan televisi sebagai sumber informasi, Joko Tingkir lebih tersingkir karena bermunculan Joko Joko yang lain, salah satu yang terkenal adalah Joko Widodo.

Baru di pertengahan tahun 2022, nama Joko Tingkir kemudian mulai disebut-sebut lagi lewat sebuah lagu koplo berjudul Joko Tingkir Ngombe Dawet.

Saya tahu yang ikut mendendangkan atau mendengarkan lagunya sebagian besar tak tahu siapa Joko Tingkir itu. Lagunya terkenal karena enak didengar dan lucu. Syairnya yang bermodel pantun terasa pas untuk dinyanyikan oleh semua orang.

Pada channel youtube Aneka Safari Records, video music berjudul Joko Tingkir Ngombe Dawet yang dinyanyikan oleh Inka Yeni berduet dengan Farel Prayoga telah ditonton sebanyak 37,145,418 kali {25/08/2022} setelah diunggah sebulan lalu.

Farel, yang masih duduk di kelas 6 SD itu sehari-harinya mengamen dengan bapaknya. Berkeliling di jalanan kampung pada sebuah kecamatan di Banyuwangi.

Dan pada tanggal 17 Agustus 2022, saat Upacara Peringatan HUT RI ke 77 di Istana Negara, tanpa disertai oleh bapak dan ibunya, Farel menguncang Jakarta bahkan Indonesia.

Menyanyikan lagu Ojo Dibandingke, dengan suara khasnya, Farel berhasil membuat para tetamu dan peserta upacara bergoyang. Beberapa menteri dalam kabinet Joko Widodo bahkan turun dari deretan kursi undangan untuk menyertai Farel berdendang. Mereka berderet seperti penari latar tanpa latihan.

Dalam sejarah upacara peringatan kemerdekaan, peristiwa semacam itu belum pernah terjadi sebelumnya. Bayangkan Ibu Negara saja turut menggerak-nggerakkan tangan dan mengoyangkan badan. Presiden sempat berdiri bertepuk tangan sambil tersenyum-senyum senang.

Bisa dipastikan, siapapun yang menyaksikan akan turut senang. Meski tak sedikit yang merasa bahwa hal itu kurang pantas dilakukan dalam sebuah upacara bendera.

Video rekaman penampilan Farel Prayoga di depan Istana Negara yang diupload oleh Indosiar di channel youtubenya sampai hari ini telah ditonton sebanyak 9,670,314 kali {25/08/2022}.

Dan layaknya sebuah konser setelah selesai satu lagu pemirsanya berteriak “Tambah..tambah… tambah,”

Indra Bekti yang menjadi pemandu acaranya tentu kelabakan. Kode-kodean dengan pengarah acara lainnya, lalu mempersilahkan Farel menyanyikan satu lagu tambahan.

Farel meminta musik pengiringnya memainkan lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet. Segera disambut dengan intro, Farel merasa musiknya tak sesuai dengan yang dia minta.

Entahlah tak bisa memainkan atau apa, Indra Bekti dengan cepat meminta Farel menyanyikan ulang lagu Ojo Dibandingke. Farelpun menyanyi kembali dan urung membawakan lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet yang sedang viral dan menjadi kontroversi karena disoal oleh berbagai kalangan di Lamongan.

Baca Juga : Air Hitam Dan Kelabu Di Sungai Kita

Upacara bendera, Farel dan Joko Tingkir Ngombe Dawet kemudian menjadi kontroversi. Ketiganya dianggap tidak sinkron terhadap idealisme atas nilai kemerdekaan dan kepahlawanan.

Upacara bendera terlebih untuk peringatan kemerdekaan mestinya khidmat dan sakral, bukan senyam-senyum apalagi bergoyang-goyang.

Membawa Farel Prayoga walau menyenangkan tidaklah tepat karena syukur dan kenangan terhadap perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa raga untuk memerdekakan bangsa serta negara menjadi ternoda.

Terlebih lagi Farel bukan menyanyikan lagu yang membangkitkan semangat juang dan nasionalisme, dia malah menyanyikan lagu cinta-cintaan yang bukan saja tak mendidik melainkan juga tak tepat untuk anak seumurannya.

Untung Farel Prayoga tidak jadi menyanyikan lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet. Andai lagu itu dinyanyikan pasti suasananya lebih ambyar. Dan Presiden Joko Widodo bisa tersangkut kontroversi.

Presiden bisa dianggap tidak paham tokoh sejarah sehingga membiarkan Joko Tingkir diperlakukan tidak hormat jadi lagu dolanan di depan Istana Negara.

Seserius itukah?.

Iya, karena kita adalah bangsa yang gemar berangan-angan soal segala sesuatu yang serba ideal.

Padahal hal-hal yang ideal itu kerap kali ditabalkan karena kepintaran kita dalam menggombal.

Tidak ada yang salah dengan upacara bendera yang meriah dan menyenangkan.

Pun dengan bocah-bocah yang menyanyikan lagu dengan tema yang dianggap tidak sesuai dengan umurnya.

Bukan cuma Farel yang melakukan itu, tetapi juga Prabowo, Joko Widodo, Sri Mulyani dan lainnya ketika masih kanak-kanak. Bisa dipastikan ketika para pembesar ini masih kanak-kanak, mereka kenal Asoy dan Salome.

Kita memang kerap berlebihan dalam memberi tanggapan karena angan-angan pada upacara, anak-anak dan tokoh yang berlebihan.

Padahal yang namanya seru-seruan itu hanya sementara. Tak lama lagi pasti akan tertimpa oleh peristiwa-peristiwa lainnya.

Yang namanya upacara bendera akan tetap khidmat dan sakral. Pun juga anak-anak akan tetap lucu dan lugu.

Dan Joko Tingkir, nama panggilan yang terkenal dari Mas Karebet yang kelak kemudian hari menjadi Sultan Hadiwijaya, Sultan Kesultanan Pajang yang pertama, tetaplah tokoh yang legendaris sebagaimana dicatat dalam Babad Tanah Jawi.

Apa salahnya Joko Tingkir ngombe dawet. Kita saja yang suka mikir yang ruwet-ruwet dan malah jadi mumet.

note : sumber gambar – TIMESINDONESIA.CO.ID