KESAH.ID – Membangun bisnis perlu serangkaian persiapan yang panjang. Namun ada cara yang lebih gampang yakni menjadi pengekor. Caranya buka bisnis yang sama berdekatan dengan mereka yang buka lebih dahulu dan telah terbukti ramai atau sukses.
Motor pertama yang bisa saya kendarai sendiri adalah Vespa. Saya belajar mengendarai Vespa Super dengan lampu kotak buatan tahun 1970 berwarna hijau daun nangka ketika duduk di bangku SMP.
Setelah lancar mengendarainya, saya selalu diminta mengantar ibu setiap kali ke pasar atau toko di pecinan untuk belanja kebutuhan bulanan. Jaraknya dari rumah kurang lebih 2 hingga 3 km.
Ibu pernah belajar mengendarai Vespa juga namun kemudian tak percaya diri karena sering jumping saat melepas kopling persneling satu.
Sampai di rumah, barang belanjaan berupa gula, teh, garam, mie kering, soun, kentang, sabun mandi, sabun cuci dan lainnya akan disimpan pada lemari kayu di dapur. Di dapur selain lemari kayu ada juga kotak kayu tempat menyimpan beras.
Jarang sekali ibu membeli beras, karena bapak dan ibu sebagai guru mendapat jatah beras setiap bulannya. Namun beras itu akan ditukar karena beras jatah kalau ditanak terasa keras dan tidak pulen {pera}.
Tetangga yang menukar beras itu adalah penjual Sego Megono, yang memang butuh nasi pera karena akan dicampur dengan sayur cacahan nangka muda yang dimasak dengan parutan kelapa.
Puluhan tahun kemudian baru ada convenience store di dekat rumah saya, ada Alfamart dan Indomaret yang jaraknya tidak berjauhan.
Karena sudah lama tidak tinggal lagi bersama bapak dan ibu, saya tidak tahu apakah setelah ada minimarket di dekat rumah, ibu mengalihkan belanja bulanannya kesitu. Tapi saya yakin kehadiran minimarket-minimarket di kawasan permukiman membuat belanja bulanan dan harian makin dekat serta makin mudah.
Seingat saya minimarket jaringan yang awalnya terkenal adalah Circle-K. Berasal dari Amaerika Serikat, store Circle-K biasanya berada di dekat keramaian, seperti stasiun atau jalan protokol yang ramai dengan lalu lalang orang dan wisatawan. Yang dijual umumnya kebutuhan harian, mulai dari makanan dan minuman kemasan, obat-obatan, perlengkapan mandi, rokok dan lainnya.
Model toko yang tak terlalu besar, pembeli bisa mengambil sendiri dan harga yang pasti membuat minimarket lebih disukai oleh mereka yang tidak punya banyak waktu untuk belanja. Buka 24 jam juga menjadi kelebihan tersendiri dibanding dengan toko kelontong lainnya.
Circle-K mulai membuka tokonya di Indonesia pada tahun 1986, pertama di Jakarta kemudian disusul Bandung, Denpasar, Yogyakarta dan kota-kota besar lainnya.
Di tahun 1988 kemudian muncul jaringan minimarket lokal, Indomaret. Berbeda dengan Circle-K, Indomaret menyasar kawasan permukiman untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari. Gerai Indomaret cenderung lebih besar dari Circle-K karena menjual beras, minyak goreng dan banyak kebutuhan dapur lainnya.
Menyasar pangsa yang lebih luas dan barang serta layanan penjualan yang lebih majemuk, Indomaret tumbuh dengan pesat di seluruh penjuru Indonesia. Hingga tahun 2022 ini jumlah gerainya kurang lebih 20.229, dengan jumlah produk yang dijual di masing-masing gerai kurang lebih 5000 jenis.
Indomaret tidak sendirian karena di tahun 1989 juga berdiri Alfamart. Bisa dikatakan kembaran, karena apa yang dijual di Alfamart tidak berbeda dengan Indomaret, sasaran juga sama yakni kawasan permukiman.
Keduanya juga sama-sama didirikan oleh konglomerat Indonesia, Indomaret didirikan oleh Sudono Salim atau Lim Sie Liong, sementara Alfamart didirikan oleh Djoko Susanto.
BACA JUGA : Semua Akan Tik Tok Pada Waktunya
Pasar Malam di awal tahun 2000-an masih merupakan tempat belanja favorit untuk kebutuhan sehari-hari bagi warga Samarinda. Anak-anak remaja dan pemuda tanggung juga menjadikannya sebagai tempat bersosialisasi.
Saya yang waktu itu baru berpindah ke Samarinda masih bisa menyaksikan rombongan anak-anak sekitar Batu Lumpang berjalan kaki ke Pasar Malam, KS Tubun setiap Jum’at sore. Seperti halnya anak-anak Citayam pergi ke SCBD, anak-anak Batu Lumpang juga akan memakai outfit terbaiknya untuk ke Pasar Malam.
Hanya masa itu belum jamannya selfie dan media sosial sehingga konten mejeng serta jalan-jalan di Pasar Malam sulit untuk ditemukan.
Selain Pasar Malam, tempat belanja kebutuhan sehari-hari yang juga terkenal adalah warung kelontong yang disebut Warung Daeng. Warung yang diusahakan oleh warga keturunan berbagai daerah Sulawesi Selatan ini menjual aneka sembako.
Hampir ada di ujung gang dan jalan bahkan jalan utama, umumnya buka sampai larut malam bahkan beberapa diantaranya 24 jam.
Warga Samarinda akrab dengan Warung Daeng karena kalau sudah kenal baik bisa ngebon atau ngutang.
Warung Daeng juga penyelamat untuk pengendara kendaraan roda dua yang males ngantri di Pom Bensin atau jauh dari SPBU karena menjual bensin eceran.
Selain Warung Daeng, warung andalan lainnya adalah Warung Acil, Warung Bule’ atau Bude.
Di awal tahun 2013 kemudian muncul one stop shopping yang berdiri sendiri, bukan berada dalam kompleks mall atau pusat perbelanjaan. Supermaket yang di-resizing ini bernama Indomaret dan Indomaret Plus, serta Alfamart yang kemudian juga disusul oleh Alfamidi.
Setelah jumlah gerainya puluhan, di Samarinda kemudian juga berdiri pusat distribusi untuk indomaret dan juga toko grosir dengan nama Indo Grosir. Sementara pusat distribusi untuk Alfamart dan Alfamidi dan toko grosirnya yang bernama Alfa Ria nampaknya belum ada.
Setelah membuka gerai yang pertama baik Indomaret maupun Alfamart/Alfamidi berkembang sangat ekspansif. Sampai hari ini gerai barunya masih terus bermunculan di kawasan-kawasan permukiman.
Kehadiran jaringan minimarket waralaba ini juga memicu munculnya minimarket-minimarket lokal, ada banyak toko atau warung berlabel mart di Kota Samarinda.
Kehadiran toko yang buka pagi-pagi sekali dan tutup hingga tengah malam ini mulanya memang mendesak toko atau warung kelontong tradisional. Namun lama kelamaan toko atau warung kelontong tradisional mulai menyesuaikan dan memperbaharui diri. Mereka mulai menata dagangannya mirip convenience strore, toko yang nyaman dan dekat dengan masyarakat. Konsumen bisa memilih barang sendiri dan kasirnya dilengkapi dengan mesin pembayaran.
Yang menjual bensin eceran juga tak lagi menjual dengan botolan, melainkan memakai mesin pompa seperti halnya SPBU, mesin pompa bensin itu bernama Pertamini.
Toko atau warung tradisional kemudian terpacu juga untuk menghadirkan pengalaman belanja yang berbeda dengan menata gerai secara menarik, nyaman, bersih, harga standar, produk dikemas rapi dan juga pelayanan yang lebih ramah.
Mereka kalah dengan Indomaret, Alfamart/Alfamidi dan Mart lainnya hanya pada penjaganya. Yang menjaga warung atau toko tidak berseragam seperti Mbak dan Mas Indomaret dan Mart-Mart lainnya.
BACA JUGA : ‘Citayam Fashion Week’ Rebelian Di Simpang Jalan
Melihat serbuan minimarket hingga ke jantung-jantung permukiman, ada satu fenomena yang menarik. Indomaret dan Alfamart kerap kali berdampingan, lengket seperti perangko.
Dua entitas yang bersaing ini sepertinya akrab hadir bak dua sejoli yang kemana-mana beriringan jalan. Kok bisa seperti itu ya, padahal mereka kan bersaing tapi cara persaingannya unik, berdekatan tanpa perang harga.
Fenomena dua gerai yang bersaing namun berdekatan atau bersebelahan bukan hanya khas Indomaret dan Alfamart. Mc Donald dan Burger King juga kerap bersebelahan, dalam film-film Amerika juga bisa disaksikan gerai Wallmart berdekatan dengan Target.
Dalam bisnis dan ekonomi dikenal istilah Hotelling’s Law. Hukum Hotelling’s menyatakan bahwa dalam ekonomi atau bisnis adalah rasional bagi produsen untuk membuat produknya semirip mungkin dengan pesaing.
Teori ini ditelurkan oleh Harold Hotelling seorang ahli statistik matematika dari Amerika Serikat. Hasil pengamatan dari Hotelling ini berlawanan dengan prinsip diferensiasi makanya kerap disebut sebagai diferensiasi minimum.
Kunci dari persaingan untuk dua jenis usaha atau produk yang sama adalah lokasi. Yang disebut dengan lokasi strategis adalah titik tengah dari kawasan tertentu, entah ruas jalan atau sebuah kompleks permukiman.
Berada di tengah maka keberadaan gerai akan mudah diakses dari sisi mana saja, pelanggan dari berbagai penjuru akan terjangkau. Jarak antara pelanggan dan gerai bisa diminimalisir dari berbagai arah.
Mendirikan gerai berjauhan akan membuat masing-masing mempunyai pangsanya sendiri, konsumen terdekatnya, namun akan sulit untuk memperluas pasar. Maka pilihan untuk mengambil titik tengah walau dengan resiko akan berdekatan atau bersebelahan dengan pesaing menjadi pilihan terbaik untuk meraup pangsa pasar yang lebih luas.
Logika semacam inilah yang kemudian diambil oleh Indomaret dan Alfamart sehingga dua gerai ini kerap terlihat berdekatan.
Alasan lain kenapa mereka berdekatan adalah prinsip untuk mengikuti siapa yang lebih duluan. Artinya sebuah gerai dibuka pasti sudah lebih dahulu dilakukan serangkaian survey dan riset. Tidak ada pengusaha yang mau rugi, maka akan memilih tempat yang terbaik.
Kalau ada franchiser Indomaret membuka gerai di ruas jalan tertentu, tentu saja franchiser Indomaret yang lain tidak boleh membuka gerai disebelahnya karena akan menjadi musuh dalam selimut. Namun tentu itu tak berlaku untuk franchiser dari merek lainnya.
Pemegang lisensi waralaba Alfamart tentu tidak bisa dilarang untuk membuka bisnisnya disamping Indomaret, begitu juga sebaliknya. Maka mengikuti menjadi lebih mudah dan juga lebih murah karena tidak perlu melakukan survey yang njelimet dan mungkin mahal seperti pesaingnya yang membuka lebih duluan.
Sebagai pengikut atau yang kedua, kalau melakukan riset kemungkinan besar hasilnya juga akan sama dengan riset yang dilakukan lebih dahulu oleh pesaingnya. Jadi ngapain repot-repot, langsung taruh saja gerai disampingnya.
Memakai, mengambil atau mencuri hasil riset dari pihak lainnya untuk menjadi dasar pengambilan keputusan itu sudah biasa. Bukan hanya dibisnis saja melainkan juga di politik bahkan di kalangan akademis.
Dulu ketika uang cash belum terdesak oleh uang digital, ada banyak pengusaha menjadikan ATM sebagai patokan. Bank tidak akan menempatkan ATM-nya disembarang lokasi, posisi keberadaan mesin ATM pasti didahului dengan serangkaian studi. Maka lokasi dimana mesin ATM berada pada umumnya selalu merupakan lokasi terbaik untuk berbisnis atau berusaha.
Rujukan lainnya adalah gerai-gerai besar yang terkenal mempunyai bagian studi dan pengembangan yang baik. Salah satunya adalah Starbuck. Lokasi tempat gerai Starbuck berdiri bisa dipastikan merupakan salah satu lokasi terbaik di sebuah wilayah.
Agak kurang ajar mungkin, namun toh tidak melanggar hukum. Kurang ajar karena yang datang kedua atau berikutnya tidak perlu membangun pasar, buka dan tinggal menikmati traffic pelanggan.
Dua hal sejenis dan saling berdekatan memang akan bikin pusing pegawai atau manajemen usahanya. Mereka harus jeli melahirkan inovasi untuk memperebutkan pelangan. Upaya minimalnya adalah berbagi rata jumlah pelanggan, tapi kalau bisa mengerus pelanggan saingannya.
Panas dan terganggu dengan kehadiran saingan boleh saja, tapi jangan baper. Persaingan yang sehat tentu saja adalah persaingan untuk memberi layanan terbaik, bukan secara frontal mengibarkan perang harga.
Menang atau kalah bukan pilihan. Sebab yang menang bisa jadi abu sementara yang kalah bisa jadi debu.
Keduanya kemudian melakukan diferensiasi untuk memberi pengalaman belanja yang lebih menarik bagi pelanggan. Tapi sekali lagi deferensiasi itu juga mudah ditiru. Seperti ketika Indomaret membuka Point Coffee di gerainya, Alfamart/Alfamidi kemudian juga membuka lini penjualan fresh coffee dengan nama Bean Spot.
Pun ketika Indomaret meluncurkan layanan online Klik Indomaret, Alfamart kemudian juga membuka layanan online shopping Alfacart.
Tapi tidak selalu Alfamart menjadi pengekor, penunggang gelombang yang diciptakan oleh Indomaret.
Bekerja sama dengan WIR Group, Alfamart meluncurkan Alfamind sebuah aplikasi mobile yang memungkinkan siapa saja untuk menjadi owner alfamart virtual store hanya dengan menggunakan smartphone.
Teknologi ini juga memungkinkan pelanggan untuk berbelanja dengan menggunakan AR,Augmented Reality seperti games Pokemon Go.
Dari fenomena Indomaret dan Alfamart/Alfamidi menjadi jelas bahwa persaingan tidak selalu merupakan kompetisi untuk saling mengalahkan. Dua hal yang sama dan saling berdekatan bisa jadi merupakan bentuk koalisi pasar {market coalition} dan berbagi resiko {risk sharing} .
Kemesraan antara Indomaret dan Alfamart jelas terlihat dalam promosi. Mereka tidak akan pernah memberi potongan harga pada barang sama di waktu yang bersamaan.
Lokasi menjadi penting dalam bisnis offline terutama untuk penjualan komoditas. Hal yang sama juga berlaku untuk jualan online. Maka membuat toko online sendiri sering kali bukan merupakan pilihan terbaik. Cara yang terbaik adalah dengan membuka toko online di market place karena disana ada pasar besar dan traffic-nya sudah terbentuk.
Memang persaingan akan lebih ketat, namun jauh lebih baik bersaing di tempat yang ramai ketimbang menunggu datangnya pelanggan di tempat yang sepi.
note : sumber gambar – HALUAN.CO








