Ada banyak tempat yang punya sejarah kelam, seperti pantai yang ikannya punah dan terumbu karangnya rusak serta hutan mangrovenya berantakan. Semua hancur karena ekploitasi yang berlebihan.

Nelayan menggunakan bom untuk menangkap ikan, agar hasilnya banyak walaupun acak. Kalau angin laut tak bersahabat mereka menebang mangrove, dijual sebagai kayu bakar atau arang.

Bertahun kemudian mereka sengsara, ladang penghidupannya hancur, dirusak oleh mereka sendiri.

Cerita kemudian berubah, karena kemunculan sosok yang kerap dianggap tidak waras. Menentang pengeboman dan penebangan hutan mangrove. Melakukan pendidikan lingkungan hidup untuk anak-anak, membibit pohon mangrove dan menanami pesisir. Bukan hanya itu, dia juga menumbuhkan kembali karang di lautan.

Puluhan tahun, dia berjuang dalam sunyi hingga kemudian mendapat gelar Pahlawan Lingkungan. Kawasan itu kini kembali memberi kehidupan, bukan lagi kampung nelayan penghasil ikan yang mati kaget dan arang mangrove melainkan menjadi kampung wisata.

Kisah seperti itu ada di mana-mana, seseorang atau sekelompok orang yang mampu memulihkan lingkungan hidupnya dan kemudian melakukan transformasi penghidupan masyarakatnya, dari yang sebelumnya merusak menjadi pemelihara agar beroleh pendapatan yang berkelanjutan.

Hanya saja kisah-kisah pemulihan lingkungan selalu merupakan kisah mikro, kisah-kisah kecil di tengah lautan kerusakan lingkungan yang maha besar. Kisah yang lebih dominan adalah kerusakan-kerusakan yang tidak terpulihkan, karena daya pulihnya sudah hilang.

Daya pulih yang hilang membuat banyak kawasan kehilangan potensi ikoniknya. Kalimantan misalnya kehilangan rimba rayanya. Hutan tropis dataran rendah yang dianggap abadi. Namun ternyata tak ada keabadian dalam benak para peramu harta karun bumi, mereka yang tak menanam namun mengambil. Sebab di kepala mereka hanya ada keserakahan.

Kehilangan hal-hal ikonik bukan hanya terjadi di Kalimantan, melainkan di pulau-pulau lainnya di penjuru Nusantara. Banyak hal yang tidak dipunyai oleh negeri-negeri lain, menjadi keunggulan komparatif, pontensi yang mestinya abadi kemudian lenyap tanpa bekas, sulit atau bahkan mustahil untuk dipulihkan.

Bagaimana mungkin bukit-bukit karst yang indah, menjadi tempat penyimpan air, menghasilkan anak-anak sungai yang jernih, gua-gua yang indah bisa dipulihkan jika batuannya ditambang dan kemudian dipakai untuk membangun gedung-gedung menjulang di kota-kota besar.

Pun juga dengan bukit-bukit yang ditumbuhi oleh ribuan jenis pepohonan kemudian dibongkar, digali sangat dalam untuk diambil emas hitamnya. Yang kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik yang bukan hanya menerangi namun juga mengerakkan ekonomi di negeri lain.

BACA JUGA : Elon Musk Dari Tesla Ke Twitter

Freeport Indonesia mungkin tak telalu dikenal oleh anak-anak jaman ini, tapi generasi yang lahir tahun 70-80 an pasti mengenalnya. Disebut sebagai tambang tembaga, padahal menambang emas juga.

Selain gunung ore atau erstberg, gunung yang mengandung bahan tambang. Di kawasan konsensinya ada gunung lain yang disebut dengan Puncak Jaya, yang merupakan salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia selain Everest, Kilimanjaro, Elbrus, Aconcagua, Denali dan Vinson Massif.

Puncak Jaya juga mempunyai puncak-puncak lainnya yakni Soemantri, Mandala, Trikora dan Cartenz Pyramid yang paling kesohor.

Cartenz Pyramid adalah puncak ikonik karena ditutupi oleh salju abadi, atau gletser yang luasnya kurang lebih 2000 hektar.

Gletser yang kini masuk dalam wilayah Taman Nasional Lorenz ini merupakan satu dari 3 gletser yang ada di wilayah tropis. Gletser tropis lainnya ada di pegunungan Andes Peru dan beberapa wilayah Afrika. Semuanya sama-sama sudah menyusut.

Hanya saja gletser di Papua adalah yang paling rendah dibanding dengan yang ada di Peru dan Afrika sehingga kemungkinan besar akan lebih dulu punah.

Luasannya kini hanya tersisa 200-an hektar.  Selain luasannya yang makin lama makin susut, ketebalannya juga semakin berkurang. Kondisi ini membuat keberadaan gletser semakin susah untuk dipertahankan.

Kehilangan salju abadi di puncak Cartenz Pyramid artinya Indonesia akan kehilangan salah satu keunikan alamnya. Potensi yang tidak dipunyai oleh banyak negara lainnya. Hal yang sulit untuk ditiru karena merupakan bentukan alam dengan segala dinamikanya.

Dan suku-suku di sekitar Puncak Jaya yang menganggap salju di puncak gunung adalah abadi karena merupakan tempat suci roh nenek moyang mereka juga akan kehilangan tempat sucinya.

Adalah benar tidak ada yang abadi di dunia, semua selalu berubah baik dengan campur tangan manusia maupun tidak. Hanya saja perubahan di alam adalah perubahan evolutif, perlu waktu yang sangat lama untuk melihat perubahannya.

Campur tangan manusialah yang membuat perubahan alam menjadi revolutif, pasca revolusi industri, manusia telah menguasai berbagai peralatan dan teknologi yang membuatnya mempunyai kemampuan jauh melampaui kemampuan alamiahnya.

Dan sejak saat itu bumi berubah dengan sangat cepat. Laut berubah menjadi daratan, hutan menjadi kota, gunung menjadi lubang tambang dan seterusnya. Kemampuan ini kemudian menghapus kosa kata abadi, yang kemudian lebih sering digantikan dengan lestari atau berkelanjutan.

BACA JUGA : Going Online Dan Kesejahteraan Digital 

Gletser tropis adalah indikator perubahan iklim yang paling sensitif. Pada ketinggian tertentu hujan akan berubah menjadi salju dan kemudian memadat menjadi lapisan es. Itu dikarenakan pada ketinggian itu ada penurunan suhu.

Dengan tidak berubahnya hujan menjadi salju maka dengan sendirinya menunjukkan pada ketinggian itu suhunya tak lagi rendah, ada peningkatan suhu atau panas. Hujan kemudian tetap jatuh sebagai air yang kemudian mencapai permukaan tanah lalu luruh ke bawah.

Padahal Papua adalah salah satu daerah terbasah di Indonesia, hujan turun di kawasan Papua hamoir 300 hari dalam setahunnya. Dan hujan tak lagi berubah menjadi salju, ini menunjukkan bahwa suhu Papua semakin memanas. Gletser mencair dari atas dan juga dari bawah, sehingga makin menyempit dan menipis.

Papua memang terus memanas, peningkatan suhu bukan hanya karena perubahan iklim melainkan juga politik.

Pendekatan politik yang sampai sekarang belum ketemu formula yang pas membuat upaya untuk menjaga iklim di Papua menjadi sulit. Panasnya suhu politik akan selalu menghadirkan celah-celah yang membuat ekploitasi sumberdaya alam dengan mudah melenggang.

Dalam suhu politik yang memanas, ruang-ruang ekonomi hitam akan mendapatkan tempatnya. Pun juga model-model pembangunan ekonomi lain yang bertujuan menurunkan suhu panas politik namun pada sisi lain juga meningkatkan suhu panas iklim.

Di jaman pemerintahan Presiden SBY muncul rencana pengembangan MIFE atau Merauke Integrated Food Estate yang akan mengkonversi lahan hutan menjadi lahan pangan. Dan kemudian di masa pemerintahan Presiden Jokowi dilanjutkan dengan pembukaan lahan untuk sawah yang juga akan mengkonversi tutupan lahan menjadi lahan terbuka.

Selain karena pembukaan lahan tekanan lingkungan juga menjadi semakin besar karena mobilisasi penduduk. Pengembangan lahan pangan besar-besaran akan membutuhkan pekerja dalam jumlah besar dan keahlian tertentu yang harus didatangkan dari luar Papua. Jumlahnya sangat besar.

Dan baru-baru ini di DPR RI telah disetujui pembahasan RUU DOB Papua, akan ada 3 provinsi baru di Papua yakni Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Pegunungan Tengah. Konsekwensi dari pemekaran daerah otonomi baru salah satunya adalah konversi lahan untuk pembangunan infrastruktur.

Dengan semakin berkurangnya area tutupan hutan dengan sendirinya suhu akan meningkat, iklim akan berubah. Papua kelak akan mempunyai 5 provinsi, memberi kesempatan pada putra daerah untuk menjadi pemimpin dan menata daerahnya sendiri. Namun pada sisi lain Papua akan kehilangan kekayaan ikoniknya.

Dan salah satu yang akan segera hilang punah adalah gletser di Puncak Jaya. Kehilangan yang tak akan bisa dipulihkan, paripurna dan abadi.

note : sumber gambar detik.com