Secara visual dan virtual, ketupat merupakan makanan khas serta identik dengan sajian di hari Idulfitri. Tapi sejujurnya ketika mengingat kembali pengalaman dan perasaan pada masa kecil, ketupat bukanlah sajian yang istimewa di hari lebaran menurut saya.

Ketupat biasa saja, karena lebih banyak yang istimewa di hari lebaran. Selain sibuk dengan baju baru, saya dan saudara-saudara yang lainnya sibuk menghafal untaian kata untuk sungkeman.

Di jaman belum terlalu banyak warung penjual makanan dan anak-anak tak terbiasa diberi uang jajan, deretan toples di atas meja apapun isinya semua menjadi istimewa.

Sesekali saya berlibur ke tempat Nenek, orang tua dari bapak saya. Seminggu sebelum lebaran biasanya sudah terlihat kesibukan mulai dari bersih-bersih seluruh rumah. Rumah besar yang punya pendopo joglo karena dulu Kakek adalah seorang kepala desa.

Rumah mesti dibersihkan karena selain beranak dan bercucu banyak, rumah nenek juga akan menjadi tujuan silaturahmi lebaran dari orang sekampung dan kampung-kampung sebelahnya. Perasaan saya waktu itu semua dianggap saudara.

Pada orang yang lebih tua saya hanya mengenal Pak De dan Bu De serta Pak Lik dan Bu Lik. Tidak ada yang saya panggil hanya Pak atau Bu, selain bapak dan ibu guru.

Dan yang istimewa, sehari sebelum lebaran kami semua disibukkan bukan membuat ketupat melainkan jenang ketan. Di belakang rumah dibuat tungku dari tiga besar, diatasnya akan ditaruh wajan terbesar lalu adonan jenang campuran dari tepung ketan, gula aren dan santan. Adonan ini harus diaduk terus menerus agar tidak gosong.

Butuh waktu berjam-jam untuk membuat adonan yang cair encer menjadi kental dan kenyal. Pada jam-jam terakhir itulah adukan akan terasa sangat berat.

Seingat saya jenang ketan ini bukanlah panganan yang paling disukai apalagi kalau diris terlalu besar. Makan satu potong bisa membuat keinginan untuk memakan kudapan lain menjadi hilang lantaran perut terasa penuh.

Tapi jenang ketan untuk nenek saya adalah jajanan yang wajib ada setiap kali lebaran tiba. Kelak ketika nenek sudah tidak ada, kebiasaan itu diteruskan oleh Bu Lik saya, namun lebih banyak dijadikan buah tangan atau oleh-oleh untuk mereka yang berkunjung ke rumah.

Sekarang rumah kediaman nenek, yang kemudian ditinggali oleh oleh Pak Lik dan Bu Lik yang juga telah tiada,  telah dirombak dan ditinggali oleh sepupu saya. Dari foto yang dikirimkan saat diadakan halal bihalal cucu dan cicit yang juga sudah punya anak tak lagi nampak ada jenang ketan diantara deretan sajian diatas meja.

Kembali kepada ketupat, saat itu saya merasa ketupat itu istimewa justru di hari yang kami namai sebagai kupatan. Itu adalah hari saat kenaikan kelas, dimana pada hari itu semua murid berangkat ke sekolah membawa ketupat dan lauk pauk secukupnya untuk dimakan bersama sebagai syukuran kenaikan kelas.

Tapi saya yakin karena hari kupatan itu ada juga yang kemudian seumur hidupnya benci pada ketupat, karena sering tidak naik kelas. Sehingga ketika teman lainnya bersuka menikmati ketupat, dia memakan ketupat yang paling tidak enak sedunia karena hatinya hancur lebur akibat tinggal kelas.

BACA JUGA : Gletser Ikon Papua Yang Tak Lama Lagi Menghilang 

Setelah lama tak ikut ramai membuat jenang ketan menjelang lebaran, saya baru merasakan kalau ketupat di hari Idulfitri memang istimewa. Keistimewaan itu tidak saya temukan di tanah kelahiran melainkan di tanah rantau, ketika saya berada di Sulawesi Utara.

Setelah tak lagi kuliah dan tinggal di asrama, saya tinggal di rumah warga sekitar asrama dulu. Orang-orang yang dulu saya sapa setiap kali ketemu pulang pergi kuliah akhirnya menjadi teman bergaul sehari-hari.  Beberapa diantaranya adalah keluarga muslim.

Maka di saat lebaran saya bersilaturahmi ke rumah mereka. Dan pada saat itu disajikan ketupat dengan sup kacang merah yang disertai kaki sapi. Itulah momen wow-nya, kejutan karena biasa ketupat disajikan bersama coto makassar. Dan maaf, sup brenebon atau kacang merah biasanya disertai kaki babi.

Sajian ketupat dengan sup kacang merah kaki sapi itu begitu tertanam di memori. Saya masih ingat persis bagaimana aroma dan rasanya serta kegembiraan yang menyeruak di hati saya, walau saya sudah lupa nama tuan rumah yang saya kunjungi.

Ketupat istimewa di hari lebaran tak hanya berhenti di hari itu. Beberapa hari setelah lebaran pertama ada teman yang mengajak “Ayo ke Tondano,”

“Kapan?” tanya saya.

“Besok, pas hari raya ketupat di Jaton,” jawabnya.

Saya tercenung, tak tahu apa itu hari raya ketupat dan Jaton.

Saya tak bertanya dan langsung mengiyakan saja ajakannya.

Akhirnya saya sampai di Jaton yang ternyata adalah kampung Jawa Tondano di hari perayaan lebaran katupat. Ternyata kampung itu dulunya merupakan lokasi pengasingan dari panglima perang dan penasehat spiritual Pangeran Diponegoro yakni Kyai Mojo.

Tradisi lebaran katupat atau ba’do ketupat adalah peninggalan dari Kyai Mojo dan pengikutnya yang terus dirawat oleh keturunan mereka.

Lebaran ketupat biasanya dirayakan seminggu setelah Idulfitri, saat orang menyelesaikan puasa sunah 6 hari setelah puasa Ramadhan.

Di Kampung Jawa Tondano, lebaran ketupat yang diucapkan dalam logat setempat menjadi katupat lebih ramai daripada hari raya Idulfitri. Ramai karena orang dari berbagai penjuru akan datang kesana. Lebaran katupat bukan hanya perayaan keagamaan melainkan pesta rakyat, siapapun bebas datang untuk berkunjung ke rumah siapapun juga, semua pintu rumah terbuka lebar dengan sajian aneka jenis ketupat.

Kelak tradisi ini menyebar seiring dengan sebaran anak cucu para pengikut Kyai Mojo ke pelbagai penjuru Sulawesi Utara hingga Gorontalo. Di Manado kini lebaran katupat juga menjadi perayaan publik, kampung-kampung muslim bergiliran menyelenggarakan bukan hanya seminggu setelah idulfitri melainkan hingga berminggu-minggu kemudian.

Tapi lebaran katupat di Kampung Jawa Tondano tetap menjadi yang paling ramai dan epic, karena menjadi tempat reuni bagi mereka yang sudah menyebar kemana-mana. Berkumpul kembali ke Jawa Tondano sambil menemui sanak keluarga, menelusuri silsilah dan mendengar kembali cerita-cerita dari para pendahulunya.

BACA JUGA : Elon Musk Dari Tesla Ke Twitter

Kyai Mojo dan pengikutnya ditangkap oleh Belanda sekitar tahun 1829 karena keterlibatannya membantu Pangeran Dipnegoro dalam Perang Jawa. Bersama pengikutnya Kyai Mojo dibawa ke Batavia kemudian diasingkan ke Tondano, Sulawesi Utara.

Tiba di Sulawesi Utara, Kyai Mojo dan pengikutnya ditempatkan disebuah wilayah Minahasa antara Tondano dan Tonsea. Saat itu pemimpin wilayah di Minahasa dibagi atas 4 Walak {Kepala wilayah} ayng merepresentasikan 4 sub etnis Minahasa yakni Tondano {Tolour}, Tomohon {Tombulu}, Tonsea dan Tontemboan.

Dua walak yakni Walak Tondano dan Walak Tonsea menyambut dengan rasa persaudaraan yang tinggi pada Kyai Mojo beserta ke 63 pengikutnya yang kesemuanya laki-laki itu.

Kecuali Kyai Mojo, semua pengikutnya kemudian menikah dengan wanita Minahasa. Pernikahan yang istimewa dan tidak biasa itu diikuti dengan hadiah dari Kedua Walak kepada keluarga baru berupa tanah pertanian sebagai sumber mata pencaharian baru untuk keluarga mereka nanti.

Pengikut Kyai Mojo ini kemudian membawa budaya dan kebiasaan bertani serta kuliner dari Jawa ke Minahasa. Mereka bertanam yang biasa ditanam di tanah kelahiran dan mengolah menjadi aneka makanan yang biasa mereka makan di tanah Jawa.

Mereka juga mulai mengembangkan profesi lain selain petani seperti menjadi tukang besi, tukang jait, tukang pedati, belantik dan lain-lain.

Dan tentu saja Kyai Mojo sebagai pemimpin kemudian tetap menjaga tradisi lebaran dari tanah Jawa yakni Ba’do Kupat {ketupat}. Lebaran yang dilaksanakan setelah menyelesaikan enam hari Poso Sawal.

Orang Jaton menyebut Poso Sawal menjadi Poso Sunnat, dan Ba’do Ketupat menjadi Ba’do Katupat dan kemudian lebih dikenal dengan nama Lebaran Katupat.

Ketupat di lebaran katupat kampung Jaton menjadi istimewa karena menjadi penjalin integrasi lewat acara keagamaan yang kemudian justru tidak menumbuhkan perbedaan. Integrasi karena ketupat menjadi jalinan silaturahmi lewat saling berkunjung, bertamu dan hormat menghormati dalam kegembiraan bersama.

Lebaran Katupat dirayakan bersama untuk menandaskan bahwa orang Jaton tidak lagi menganggap atau dianggap sebagai Orang Jawa {tou nyowo} atau Orang Islam {tou selam} melainkan merayakan diri sebagai Aku Orang Tondano {nyaku toundano}.

Dan kini di Minahasa selain empat sub etnik utama yakni Toundano/Tolour, Tountembuan, Tombulu/Tomohon dan Tonsea, Jaton juga diterima sebagai salah satu sub etnis bersama sub etnis lainnya seperti Ratahan, Ponosakan, Bantik, Bobuntehu dan Borgo.

Tadisi lebaran katupat yang saat itu sudah menyebar ke Manado juga kemudian saya tinggalkan karena berpindah ke Samarinda, Kalimantan Timur. Di Samarinda, saya sering diundang oleh beberapa teman merayakan lebaran ketupat di rumahnya. Selain itu ada juga tetangga yang sering menghantar ketupat, sayur dan lauknya.

Karena pandemi Covid 19 semua kebiasaan itu lenyap dan sebagai gantinya setiap hari Idulfitri dan Lebaran Ketupat di meja makan rumah saya tetap ada ketupat yang dibuat dengan rice cooker hasil dari menyaksikan tutorial di Youtube.

Dan tentu saja lepas dari rasanya, ketupat itu menjadi istimewa karena hanya akan dibuat dan disajikan satu kali dalam setahunnya.

Bukankah yang disebut sebagai istimewa adalah yang tidak seperti biasanya.

Selamat merayakan Hari Raya Ketupat.