Salah satu Badan Usaha Milik Negara yang dekat dan lekat di hati masyarakat adalah Pegadaian. Dengan slogan mengatasi masalah tanpa masalah, Pegadaian memang kerap menjadi gantungan bagi mereka yang ‘kepepet’ untuk lepas dari jerat masalah.

Paska reformasi, Pegadaian mulai melebarkan sayapnya di pelbagai sektor bisnis. Kini pegadaian tidak hanya mengandalkan pada layanan gadai, bisnis non gadai yang dirambahnya makin berkembang.

Sejak tahun 2015 melalui anak perusahaannya yaitu PT Pesona Indonesia Jaya {PIJ}, Pegadaian mulai memasuki bisnis kontruksi, manajemen bangunan, kafe, hotel dan manajemen perjalanan. Kini kurang lebih ada 9 hotel yang berada dalam naungan PIJ.

Di tengah maraknya bisnis perkopian, pegadaian kemudian juga meluncurkan The Gade & Gold. Sebuah coffee shop lain daripada yang lain. Disini pengunjung bisa menikmati suasana dan sajian coffee shop pada umumnya sambil melihat-lihat dan bertransaksi emas.

Gade yang terdengar seperti gadai ini menyajikan aneka minuman dari kopi single origin dari Gayo, Solok, Toraja dan lainnya. Diseduh dengan berbagai cara, tersedia pula aneka minuman non kopi yang cocok di minum sambil melihat-lihat dan mencari informasi seputar emas.

Dengan harga berkisar antara Rp. 17.000 hingga Rp. 35.000 di The Gade & Gold juga tersedia aneka camilan, seperti pisang goreng, kentang goreng, singkong goreng hingga spring roll, croissant dan cinanamon roll.

Usaha yang merupakan kolaborasi dari dua anak perusahaan Pegadaian ini nampaknya berhasil karena hingga hari ini telah berdiri lebih dari 30 The Gade & Gold di berbagai kota-kota besar di seluruh penjuru Indonesia.

dengan slogan medang, madhang dan jagongan, Loko Coffee Shop Stasiun Tugu siap menemani wisatawan Malioboro 24 jam

BACA JUGA : Thrifting Ala Pasar Lilin dan Pasar Senthir

Untuk yang suka melancong ke daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat pasti tak asing dengan bangunan besar bernuansa putih yang terletak di sebelah Sekolah Santa Ursula.

Gedung itu dulunya bernama Gedung Filateli. Namun kini lebih dikenal sebagai Pos Bloc, karena telah disulap menjadi ruang kreatif hasil kerjasama antara PT Pos Indonesia dengan PT Ruang Kreatif Pos, salah satu anak usaha dari Radar Ruang Riang yang juga mengelola kawasan M Bloc.

Gedung Filateli yang kemudian dikembangkan menjadi Pos Bloc adalah ruang untuk acara seni dan penjualan produk-produk UMKM. Di Pos Bloc secara rutin digelar acara seni budaya, hiburan dan bisnis barang serta jasa yang dihasilkan oleh sektor usaha kecil dan menengah.

Di dalam Gedung Filateli berjajar kios para pengusaha kecil dan menengah yang menjual batang mulai dari pakaian, makanan hinga pernak-pernik barang antik. Di Pos Bloc juga disediakan ruang kerja atau co working space yang bisa dipakai untuk bekerja dan berdiskusi.

Menyasar generasi muda yang gemar berfoto diri, Pos Bloc juga menyediakan Photomatic Spot, arena berfoto yang menggunakan mesin pengambil gambar otomatis.

Kesuksesan Pos Bloc tak lepas dari kemampuan pengelola untuk menyulap gedung yang di jaman pemerintahan kolonial Belanda berfungsi sebagai kantor pos itu menjadi tempat yang ramah dan melayani anak-anak muda.

Gedung itu sendiri sejak tahun 1993 telah dilindungi oleh undang undang sebagai cagar budaya kelas A. Sehingga sebagai cagar budaya, pengunjung yang datang ke Pos Bloc tidak hanya sekedar berekreasi melainkan juga mengenal sejarah pos Indonesia dan juga Jakarta.

Dulu namanya Post Telefon and Telegraf yang beroperasi sejak tahun 1860. Bergaya Art Deco, gedung ini sempat dipugar pada tahun 1912. Dan ketika disulap sebagai ruang kreatif, penampakan gedung ini tidak dirubah, semua tetap dipertahankan sehingga tampilannya menjadi vintage dan instagramable.

Selain Pos Bloc, pengelola yang berada di bawah naungan group Radar Ruang Riang juga berhasil menyulap komplek rumah dinas Peruri yang terbengkalai menjadi M Bloc. Berada tak jauh dari lokasi Jalan Jalan Sore di tahun 80-an, yakni Melawai di Blok M, M Bloc dengan segera menjadi pusat keramaian dan tongkrongan anak-anak muda Jakarta.

Dikelola oleh PT. Ruang Riang Millenial, M Bloc yang ramai sejak tahun 2019, kini tetap vibrant di kalangan anak-anak muda.

Pos Bloc dan M Bloc adalah sebuah contoh bagaimana sebuah upaya kreatif mampu merevitalisasi aset tua dan usang untuk kemudian kembali menghasilkan bukan hanya uang melainkan juga ruang kreatif  bagi anak-anak muda.

Shower dan Locker bagian dari selasar malioboro yang melayani keperluan untuk mandi, bersih diri dan menitipkan barang agar jalan-jalan terasa lebih segar dan nyaman

BACA JUGA : Pos Indonesia Gajah Tua Yang Mencoba Berlari Kembali

Dengan slogan Medang, Madhang dan Jagongan {minum, makan dan nongkrong}, PT KAI Yogyakarta membuka Loko Café and Roastery di pojok sisi selatan stasiun dekat palang pintu pemisah antara Malioboro dan Mangkubumi.

Berada di pusat keramaian, Loko Café awalnya dibuka selama 24 jam, namun karena pandemi jam operasionalnya kemudian dikurangi.

Bentuk cafenya sendiri merupakan campuran antara indoor dan outdoor. Dalam bangunan sederhana dan terbuka berjejer meja dan bangku panjang ala angkringan. Sementara bagian luar berada di pojok, yang disertai sebuah gerbong sebagai tempat untuk pertunjukan live music.

Loko Café Stasiun Tugu Yogyakarta ini merupakan bagian dari 10-an Loko Café lainnya yang dikembangkan oleh PT Reska Multi Usaha, anak perusahaan PT KAI yang bergerak dalam unit usaha Restaurant on Train, Catering and Café, Parkir dan Cleaning Sevice.

Di Stasiun Tugu Yogyakarta, Loko Café menjadi awal dari penataan kawasan bagian selatan Stasiun Tugu yang dulunya dipenuhi oleh kios-kios pedagang, termasuk pedagang jamu dan obat kuat karena di sisi selatan Stasiun Tugu ini ada lokalisasi bernama Pasar Kembang atau lebih dikenal sebagai Sarkem.

Kini setelah Loko Café, ke arah pintu masuk dan keluar bagian selatan, dikembangkan pula Selasar Malioboro. Selain menyediakan ruang publik, di Selasar Malioboro pengunjung bisa menikmati aneka sajian makanan dan minuman, mulai dari angkringan, gudeg hingga makanan dan minuman kekinian.

Didominasi oleh nuansa putih, oranye dan biru, Selasar Malioboro juga menghadirkan layanan Shower and Locker. Layanan ini memfasilitasi tamu, pengunjung atau pengguna kereta api untuk mandi, bersih diri dan menitipkan barang.

Pemakaian sistem smart locker memungkinkan penggunanya untuk melakukan self service dengan pembayaran non tunai.

Untuk layanan shower dibandrol dengan harga Rp. 30 ribu selama 45 menit, sementara untuk locker biaya per satu jam senilai Rp. 10 ribu. Namun tersedia berbagai paket lain seperti paket 12 yang mematok biaya Rp. 50 ribu dan paket penitipan 1 hari yang berbiaya Rp. 100 ribu.

Loco Coffee dan Selasar Malioboro adalah cara dari PT Kereta Api Indonesia untuk memanfaatkan lahan secara produktif. DImaksudkan untuk memberi kenyamanan pada pengguna kereta api, Loko Coffee dan Selasar Malioboro kemudian berkembang menjadi destinasi yang ikonik, untuk menyambut wisatawan memasuki kota Yogyakarta.

Selasar Malioboro dan Loko Coffee ibarat welcome greeting dari Kota Yogyakarta terhadap para pengguna kereta api terutama yang memasuki Kota Yogyakarta dari Stasiun Tugu.

Lewat Selasar Malioboro, PT KAI sebagai ekosistem transportasi menghubungkan diri dengan pengembangan ekonomi masyarakat lewat penyediaan outlet retail komersial dan UMKM, serta penglibatan masyarakat setempat untuk pertunjukan seni dan budaya.

Kedepannya ruang untuk menampung produk UMKM akan diperluas seiring dengan perluasan penataan kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta.

Pola pengembangan yang mengintegrasikan ekosistem transportasi dengan destinasi wisata niscaya akan meningkatkan minat masyarakat wisata untuk mengutamakan transportasi umum dalam berwisata.

Pola yang serupa juga dilakukan oleh pengembang M Bloc di Jakarta. Dimana kawasan M Bloc tidak menyediakan lapangan parkir. Dengan ‘keanehan’ semacam ini diharapkan pengunjung akan datang ke M Bloc dengan memakai kendaraan umum, entah kereta api atau transportasi online lainnya.

Di tengah cerita suram tentang aset pemerintah dan BUMN yang tidak produktif, kisah yang ditorehkan oleh PT Pos Indonesia, Perum Peruri, PT Pegadaian dan PT Kereta Api Indonesia bisa menjadi inspirasi segar sumbangsih ekonomi untuk masyarakat setempat lewat upaya-upaya kolaboratif.

Dengan visi dan model bisnis yang bertujuan untuk melayani pemangku kepentingan niscaya apa yang dilakukan akan menuai sukses bukan hanya ekonomi melainkan juga nama baik.