Menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden selalu menyampaikan pidato kenegaraan. Tradisi ini dimulai dari jaman Presiden Sukarno. Dalam pidato kenegaraan biasanya Presiden akan merefleksikan perjalanan bangsa dalam mempersiapkan dan menghadapi perkembangan di masa kedepan.

Salah satu judul pidato kenegaraan yang paling terkenal sampai dengan saat ini adalah “Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah,” atau kemudian kerap disingkat Jas Merah.

Pidato ini disampaikan oleh Bung Karno pada tahun 1966 yang intinya mengajak bangsa Indonesia agar terus berpegang pada sejarah dengan mengingat perjuangan para pahlawan yang merebut kemerdekaan dari penjajah.

Jika dimasa Presiden Sukarno pidato kenegaraan disampaikan persis pada tanggal 17 Agustus, mulai dari 1968, ketika Presiden Suharto mulai memimpin, pidato kenegaraan digeser menjadi satu hari sebelum peringatan HUT kemerdekaan. Tradisi itu terus dilanjutkan hingga hari ini.

Selain itu tempat untuk menyampaikan Pidato Kenegaraan di masa Sukarno selain Jakarta, juga Yogyakarta {1946-1949}. Dan presiden sesudahnya selalu disampaikan di Jakarta.

Berkuasa selama kurang lebih 32 tahun, Presiden Suharto menjadi presiden yang paling banyak menyampaikan pidato kenegaraan. Apa yang umumnya disampaikan adalah cita-cita kemerdekaan, kemakmuran yang diwujudkan dengan pembangunan. Tujuan pembangunan adalah memperoleh kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Frasa-frasa yang populer dalam pidato kenegaraan Presiden Suharto adalah demokrasi Pancasila, ekonomi Pancasila, melaksanaan UUD 45 dan Pancasila secara murni dan konsekwen, tidak mengubah Pancasila dan UUD 45, repelita sebagai landasan pembangunan, tinggal landas, pemerataan pembangunan dan lain sebagainya.

Presiden Habibie menyampaikan dua kali pidato kenegaraan. Presiden Habibie bicara tentang Hak Asasi Manusia dan pemulihan dari krisis ekonomi serta politik.

Sedangkan Presiden Abdurrahman Wahid menjadi presiden yang paling sedikit menyampaikan pidato kenegaraan. Gus Dur hanya menyampaikan satu kali bertema kebangsaan dan nasionalisme. Gus Dur menekankan soal redefinisi, reorientasi dan reproduksi nilai-nilai kebangsaan serta demokrasi.

Presiden Megawati menyampaikan pidato kenegaraan sebanyak 4 kali. Pidato pertama Megawati bertemakan KKN. Megawati menyampaikan perlunya terobosan untuk mencegah dan menanggulangi KKN.

Tentang amandemen UUD 45, dalam pidato kenegaraan lainnya, Megawati menyebutnya sebagai langkah penting untuk pemuktahiran  agar generasi bangsa tidak kehilangan orientasi dan perspektif di era reformasi.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden ketiga yang menyampaikan pidato kenegaraan terbanyak. Tema-teman besar yang diangkat oleh Presiden SBY dalam pidatonya meliputi pembangunan nasional, reformasi, birokrasi, krisis global yang tak menentu dan capaian-capaian kinerja pembangunan.

Mengawali periode kedua sebagai presiden, SBY menyampaikan pidato kenegaraan dengan tema reformasi gelombang kedua. Tantangan demokrasi Indonesia menurut SBY adalah korupsi, diskriminasi, tindakan anarki, ektrimisme dan terorisme.

Presiden Joko Widodo sama dengan SBY juga memimpin untuk periode yang kedua kali. Saat mengawali kepemimpinan dalam periode yang pertama, Presiden Jokowi menyampaikan pidato kenegaraan dengan tema perekonomian global yang berdampak pada perekonomian nasional. Jokowi juga menyentil soal menipisnya nilai kesantunan dan tatakrama yang berbahaya bagi kelangsungan hidup bangsa.

Dalam pidato kebangsaan Presiden Jokowi kerap menyinggung mengenai kinerja-kinerja lembaga negara yang olehnya disebut sebagai kian produktif.

Dua tahun terakhir dalam masa kepemimpinannya, Presiden Jokowi menyampaikan pidato kenegaraan dalam situasi pandemi.

{ baca juga : Presiden Kurus Karena Mikirin Kamu }

Pakaian Adat di Jaman Media Sosial

Ada sesuatu yang beda ditampilkan oleh Presiden Jokowi dibanding dengan presiden lainnya.

Presiden Sukarno selama memimpin mempunyai pakaian yang khas, yaitu jas dengan warna putih keabu-abuan. Kekhasan lainnya, Predisen Sukarno selalu memakai peci dan membawa tongkat kecil.

Penampilan seperti itulah yang menjadi ciri khas atau ikonik sehingga tidak ada foto Presiden Sukarno memakai pakaian adat. Alasannya karena Sukarno merasa diri sebagai pemimpin Indonesia bukan untuk daerah tertentu.

Sementara Presiden Suharto tidak mempunyai ciri khas yang kuat soal pakaian. Dalam kegiatan sehari-hari dan acara kenegaraan, Suharto biasanya hanya memakai baju batik atau baju safari.

Pun demikian dengan Habibie yang juga lebih sering memakai baju batik dan jas. Habibie juga kerap menghias diri dengan peci.

Presiden Abdurahman Wahid sebelum menjadi presiden kerap memakai kemeja dan sarung, namun ketika menjabat sebagai presiden kerap memakai kemeja putih dan jas. Diantara presiden lainnya, Gus Dur mungkin paling santai karena ada beberapa foto yang menunjukkan dirinya hanya memakai kaos dan celana pendek.

Presiden Megawati pada setiap acara kenegaraan selalu memakai kebaya. Namun model dan warnanya akan disesuaikan dengan tema.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berlatar militer mempunyai gaya pakaian yang tidak berbeda jauh dengan Suharto. Dalam acara kenegaraan SBY kerap memakai jas atau baju safari.

Penampilan berbeda ditunjukkan oleh Presiden Jokowi. Dalam berbagai acara kenegaraan, saat menyampaikan pidato kenegaraan, memimpin upacara peringatan HUT kemerdekaan dan acara lainnya, Presiden Jokowi kerap memakai pakaian adat atau tradisional.

Jokowi memang lebih fashionable dibanding dengan presiden-presiden lainnya. Mengerti bahwa apa yang dipakainya akan menjadi pembahasan karena dengan segera fotonya akan tersebar di media sosial, Jokowi kerap memakai jenis pakaian yang berbeda-beda di setiap kesempatan.

Tak heran jika ada beberapa dari yang dikenakan olehnya kemudian bukan hanya jadi viral melainkan juga trend yang laris di pasaran.

Selain menjadi presiden yang paling sering menjadi bahasan di media sosial, Jokowi sendiri merupakan pemakai media sosial yang aktif. Dan karena sering blusukan, gaya berpakaian Jokowi dalam kegiatan sehari-hari cenderung kasual dan sporty.

Alih-alih memakai pantofel yang mengkilat, dalam banyak kunjungan Jokowi kerap tertangkap memakai sneaker.

Sneaker adalah jenis sepatu kasual dan ringan yang kembali naik daun di kalangan anak muda. Dan karena Jokowi kini banyak bapak-bapak dan ibu-ibu kantoran banyak yang memakainya.

{ baca juga : Bumi Tak Perlu Diselamatkan

Ironi Badui

Dikenal sebagai bangsa yang suka membanggakan diri sebagai yang beradat ketimuran dan mengutamakan sopan santun, corak semacam itu ternyata tak ditemukan dalam sepak terjang warga negara Indonesia di media sosial.

Sebagai netizen, warga negara Indonesia dikenal berwatak brutal. Salah satu yang paling tidak sopan di dunia.

Dan kebiasaan Presiden Jokowi yang kerap memakai pakaian adat atau tradisional tertentu kemudian menjadi salah satu yang paling sering dikomentari.

Ada banyak komentar yang menghubungkan antara baju yang dipakai dengan kebijakan atau keberpihakan Jokowi terhadap masyarakat adat.

Ada pula yang mengkritisi makna hitam dalam adat dan tradisi baduy dalam.

Tapi ada pula yang memaknai soal apa yang hendak dicitrakan atau dikatakan dengan memakai baju itu.

Namun apapun yang menjadi penilaian, satu alasan yang secara ekplisit diutarakan oleh Presiden Jokowi adalah pakaian adat Baduy itu desainnya sederhana, simple dan nyaman dipakai.

Sementara menenggok pada isi pidato kenegaraan Presiden Jokowi menjadi jelas bahwa tema besarnya adalah pandemi Covid 19. Adalah hal yang wajar jika pandemi Covid 19 menjadi perhatian besar dari pemerintah karena kurang lebih selama satu setengah tahun isu kesehatan komunal ini memporakporandakan berbagai aspek kehidupan bersama.

Ada isu-isu lain yang sebenarnya juga penting seperti korupsi dan pelanggaran HAM yang kemudian tidak disebut atau disampaikan oleh Presiden Jokowi. Isu ini baik yang belum diselesaikan atau yang kemudian muncul dalam kaitan dengan pandemi mestinya memang mendapat perhatian.

Dan untuk sebagian kalangan ketiadaan pernyataan Presiden Jokowi soal korupsi dan pelanggaran HAM mengecewakan.

Hal lain yang patut disayangkan, disaat Presiden mengenakan pakaian adat terlebih adat orang Baduy, presiden tidak memberi apresiasi terhadap masyarakat adat Baduy secara ekplisit. Dalam konteks pandemi, masyarakat adat Baduy adalah salah satu kelompok masyarakat yang bebas dari serangan pandemi.

Masyarakat Baduy dengan cepat bertindak dan melakukan pembatasan sendiri berdasarkan adatnya agar warganya tidak bepergian.

Mestinya Presiden Jokowi jangan hanya memakai pakaian adat Baduy, melainkan juga mengapresiasi kearifan tradisional warga Baduy yang terbukti mampu menyelamatkan komunitas mereka dari serangan pandemi.

note : sumber gambar – CNN Indonesia