Dengan teropong paradigma keterhubungan lewat jalan raya, Kalimantan Timur mempunyai banyak daerah yang ‘terisolasi’. Tak terhubung karena belum terbangun infrastruktur jalan maupun karena kondisi geohidrologisnya.
Desa desa di wilayah Mahakam Tengah yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara banyak yang tidak terhubung dengan desa lainnya melalui daratan. Berada di kawasan sungai, danau dan rawa Mahakam, hubungan antara desa mesti dilakukan dengan memakai jalur air.
Selain dengan perahu, secara tradisional di wilayah desa-desa ini hubungan antar rumah, antar rukun tetangga dan antar desa dihubungkan dengan jembatan panjang yang berbuat dari kayu ulin. Jembatan atau jalan ini disebut dengan telihan. Salah satu telihan yang panjang ada di Muara Muntai.
Telihan yang ada disana menghubungkan antara Kayu Batu, Muara Muntai ilir, Muara Muntai Ulu, Rebak Rinding hingga Batuq.
Kombinasi antara sungai, anak sungai, rawa dan danau membuat banyak desa menjadi pulau-pulau yang terpisah satu sama lain. Maka untuk mempemudah dan mempercepat akses, pembangunan jembatan menjadi salah satu solusi utama.
Dari sekian banyak jembatan yang dibangun untuk membuka isolasi itu yang paling monumental adalah jembatan Martadipura. Jembatan ini menjadi akses pembuka untuk menghubungkan Kecamatan Kota Bangun dengan Kecamatan Kenohan, Kembang Janggut hingga Kecamatan Tabang.
Jembatan sepanjang panjang kurang lebih 15,3 kilometer, membentang diatas Sungai Mahakam dan rawa-rawa antara Sungai Belayan dan Danau Semayang dan berakhir di perbatasan Desa Muhuran dan Sebelimbingan.
Selesai dibangun pada tahun 2015 dengan jalan penghubung sesudahnya yang umumnya dibangun dengan cara menguruk rawa-rawa, akes jalan raya ini kemudian mengakhiri regim transportasi sungai.
Keramaian angkutan air yang tadinya hilir mudik melalui sungai Pela, danau Semayang, sungai Semayang – Tubuhan, danau Sepundi, sungai Kahala dan sungai Belayan kemudian menghilang. Angkutan barang maupun orang yang tadinya memakai feri, kapal dan perahu kemudian berganti menjadi mobil dan motor.
Kini yang masih memakai jalan air adalah perahu-perahu nelayan. Sedangkan di sungai Belayan selain perahu nelayan, yang rajin melintasinya adalah ponton batubara. Emas hitam yang ditambang dari daerah Kecamatan Tabang.
-000-
Melintang, Semayang dan Jempang adalah 3 danau terbesar dalam sistem pengaliran dan pengairan Mahakam. Saking terkenalnya kemudian banyak orang menyangka bahwa dalam sistem Mahakam hanya ada tiga danau itu.
Padahal ada puluhan danau atau kenohan dalam bahasa setempat.
Dan bisa jadi wilayah antara sungai Belayan dan danau Semayang karena mempunyai beberapa danau kemudian secara administratif diberi nama Kecamatan Kenohan.
Di ibukota Kecamatan Kenohan yaitu Kahala ada danau Berambai dan Penrabok. Dan di Desa Tubuhan ada danau Sepundi. Pada saat airnya surut, sebagian permukaan danau akan mengering dan menimbulkan cebakan-cebakan air di tempat yang relatif menetap. Cebakan-cebakan air ini juga akan diberi nama sendiri-sendiri. Kenohannya menjadi banyak.
Dan di kenohan-kenohan ini pada saat tertentu akan ada kegiatan mendanau, atau menangkap ikan dengan tangan kosong pada saat airnya sangat dangkal.
Kawasan ini memang dikenal kaya dengan ikan air tawar, baik di sungai, danau maupun rawa. Dengan kekayaan itu maka profesi tradisional sebagian besar warganya adalah nelayan.
Namun empat sampai lima tahun belakangan ini situasi telah berubah. Belum ada lagi banjir besar yang merendam kawasan ini hingga berbulan-bulan. Akibatnya ikan menjadi semakin berkurang, baik jumlah maupun ukurannya.
Tangkapan yang menurun membuat warga kemudian merubah alat dan pola tangkap. Selain menggunakan setrum, perangkap atau jala dibuat semakin rapat. Cara tangkap yang destruktif ini semakin membuat keadaan menjadi buruk.
Adalah tidak mudah untuk mengembangkan profesi alternatif yang dengan segera bisa mengantikan pendapatan para nelayan. Meski mulai banyak yang membangun rumah walet namun kapan ada hasilnya tidak ada yang bisa memprediksi.
Untuk beralih ke usaha pertanian juga tidak mudah karena karakter lahan yang sering terkena pasang surut. Sehingga area pertanian tidak bisa ditanami secara terus menerus.
Berbeda dengan kebanyakan daerah lainnya, banjir di kawasan Mahakam Tengah dianggap sebagai berkah oleh warganya.
Saat banjir tiba, ikan akan lebih mudah ditangkap. Jumlah ikan juga berlimpah karena ikan-ikan yang berbiak di rawa-rawa akan masuk ke sungai dan danau. Selain berpindah tempat, banjir juga menjadi kesempatan bagi sebagian ikan untuk berpijah, sehingga setelah banjir ikanpun masih akan tetap banyak.
Dan setelah banjir surut, daratan luas yang tadinya tertutup air akan menjadi lahan yang subur untuk bertanam.
-000-
Lalu kemana hilangnya banjir yang menjadi berkah itu?. Kemana perginya air yang biasanya amat berlimpah?.
Kemungkinan besar ketiadaan banjir besar disebabkan oleh perubahan iklim. Hujan menjadi tidak menentu lagi.
Namun kemungkinan lain disebabkan karena menurunnya pasokan air dari luapan sungai Belayan.
Pembangunan jalan poros dari Kota Bangun ke Tabang, setelah jembatan panjang Martadipura sebagian besar dilakukan dengan menguruk rawa-rawa. Jalan itu kemudian menjadi tanggul yang membatasi luapan sungai Belayan.
Pasokan air ke rawa-rawa atau lahan basah menjadi berkurang. Aliran air kemudian berubah, ditambah lagi dengan pembangunan jalan lainnya yang menghubungkan antara jalan poros dengan desa-desa disekitarnya, jalanan umumnya dibangun dengan menguruk rawa-rawa juga.
Berkurangnya genangan air permanen yang cukup dalam di rawa-rawa pada beberapa titik mampu menumbuhkan rimbun pepohonan. Permukaan rawa tidak lagi melulu ditumbuhi semak melainkan mulai terlihat gerombolan pohon yang meninggi. Sebagian pohon tumbuh sendiri namun ada yang ditanam yakni pohon Kademba {Kratom}.
Alam memang selalu dinamis dalam merespon perubahan. Tanpa campur tangan manusia, alam akan menumbuhkan apa yang penting untuk menjaga keseimbangan antar elemen di dalamnya.
Namun dimanapun jalan, terlebih jalan raya akan memancing perilaku dan orientasi baru. Salah satu yang akan hadir bersama dengan jalan raya adalah semen dan pondasi. Jalan raya akan membawa aroma lahan kering, mendorong area rawa-rawa disekitarnya menjadi tanah kapling yang kemudian akan diuruk agar menjadi daratan kering.
Perlahan masyarakat yang tumbuh di tepian sungai akan memalingkan wajahnya menghadap jalan raya, mengabaikan sungai, tak lagi merawat dan memperdulikannya, hingga suatu saat tak lagi mengenalnya.
Meski kini sebagian besar masyarakat masih mengantungkan penghidupan dari sungai, danau dan rawa namun bisa dipastikan sebagian lain dan generasi barunya mulai merintis serta mengingini profesi-profesinya yang tak lagi berhubungan dengan sungai, danau dan rawa.
Entah akan seberapa cepat, namun akan tiba masanya masyarakat yang tadinya mengatakan banjir adalah berkah kemudian akan berubah menjadi masyarakat yang menganggap banjir adalah musibah.
Banjir memang akan jadi musibah ketika jumlah mobil dan motor jauh lebih banyak daripada perahu, ketika sebagian besar rumah sudah berdiri diatas pondasi semen bukan tiang setinggi empat sampai enam meter lagi.
Note : artikel ini merupakan catatan perjalanan atas fasilitasi dari Yayasan Bioma yang sedang bekerjasama dengan GIZ dalam program “Fasilitasi dan Asistensi Pembangunan Rendah Karbon Berbasis Desa di Kawasan Gambut Kalimantan Timur.








