Sejak berabad-abad lalu, Sungai Mahakam sudah menjadi jalur transportasi air yang sibuk. Kapal dan perahu hilir mudik mulai dari hilir hingga ke hulu, menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya untuk mengangkut penumpang dan mendistribusikan barang.

Namun sepuluh tahun terakhir ini kesibukan kapal angkutan penumpang mulai menurun karena angkutan darat dianggap lebih nyaman dan cepat. Meski begitu lalulintas kapal dan perahu di Sungai Mahakam masih cukup ramai. Setiap hari ratusan ponton pengangkut batubara dan komoditas lainnya masih hilir mudik.

Pengalaman menyusuri sungai kini menjadi sesuatu yang langka. Untungnya sejak 3 tahun lalu di Samarinda mulai dioperasikan kapal wisata yang memberikan pengalaman menyusuri Sungai Mahakam dari Samarinda kearah hulu hingga ke Tenggarong, atau kearah hilir hingga ke Anggana.

Perjalanan dengan kapal wisata hanya akan menempuh sebagian kecil dari wilayah Sungai Mahakam yang panjangnya dari hulu ke hilir kurang lebih 920 km. Butuh waktu berhari-hari untuk menyusuri Sungai Mahakam dari hulu ke hilir. Selain waktu juga dibutuhkan biaya yang besar dan juru perahu yang terampil. Sebab Sungai Mahakam mempunyai alur yang beriam.

Salah satu riam yang paling berat dan menantang untuk dilalui adalah Riam Udang. Riam yang alurnya akan bergelombang besar data air pasang, ada banyak pusaran air dan batu-batu besar yang bisa membuat perahu terbalik atau pecah jika menabraknya.

Menyusuri dari hilir hingga hulu tentu saja berat di segala-galanya. Oleh karenanya bagi yang ingin punya pengalaman menyusuri Sungai Mahakam dengan biaya yang tidak sangat besar maka menyusuri sungai, danau dan rawa di kawasan Mahakam Tengah bisa menjadi pilihan.

Kawasan yang disebut Mahakam Tengah meliputi Kecamatan Kota Bangun, Muara Kaman, Muara Wis, Muara Muntai dan Kenohan. Di Mahakam Tengah ini Sungai Mahakam terkoneksi dengan dataran basah berupa danau kaskade dan rawa-rawa.

Lanskap Mahakam yang tercermin lewat sungai, danau dan rawanya di kawasan ini sungguh unik dan menarik. Menyusuri sungai, danau dan rawa bukan hanya menyajikan keindahan dan keragaman tampakan alam melainkan juga budaya hidup sehari-hari masyarakatnya.

Berikut ini beberapa rute yang bisa dipilih untuk menikmati susur sungai, danau dan rawa Mahakam :

  1. Kota Bangun – Desa Sangkuliman/Desa Pela – Danau Semayang – Desa Melintang- Danau Melintang- Muara Enggelam

Dengan perahu ces/ketinting atau longboat perjalanan dari Kota Bangun ini diawali dengan menyeberangi Sungai Mahakam lalu masuk ke Sungai Pela. Di sisi kiri Sungai Pela adalah Desa Sangkuliman dan di sisi kanannya adalah Desa Pela.

Memasuki Sungai Pela akan melewati Jembatan Kuning yang sampai sekarang belum dibangun jalan penghubungnya.

Sungai Pela yang tak terlalu panjang ini menghubungkan antara Sungai Mahakam dengan Danau Semayang. Jika beruntung dalam perjalanan menyusuri Sungai Pela ini akan ditemui rombongan Pesut yang masuk dari Sungai Mahakam ke Danau Semayang untuk bermain dan mencari makan.

Selepas dari Sungai Pela untuk menuju Desa Melintang ditempuh dengan cara memotong Danau Semayang. Sekitar setengah jam menyusuri danau, deretan permukiman diatas air segera akan terlihat. Kampung air berbentuk huruf T ini adalah Desa Melintang, yang menjadi batas antara Danau Semayang dan Danau Melintang.

Kampung ini berada di pinggir Sungai Melintang, namun batasnya dengan danau tak terlalu jelas karena terhubung dengan rawa-rawa. Sama dengan Desa Pela, Desa Melintang tak mempunyai jalan darat. Jalan penghubung di dalam desa adalah jembatan panjang dari Kayu Ulin atau telihan.

Setelah kurang lebih menyusuri sungai yang diapit oleh permukiman di kanan-kirinya, perahu atau long boat akan memasuki Danau Semayang. Dan setengah jam kemudian akan terlihat gerbang berupa dinding kayu tinggi di kanan dan kiri. Itulah dinding penahan angin danau untuk melindungi permukiman dibaliknya dari terpaan angin kencang.

Desa dengan dinding pelindung ini adalah Muara Enggelam. Permukimannya unik, berada di kanan-kiri Sungai Enggelam. Ada dua jenis permukiman disini. Yang bermukim di atas sungai tinggal dalam rumah apung. Sementara yang bermukim di pinggi sungai atau di tanggul pembatas antara sungai dan rawa membangun rumah panggung.

Permukimannya memanjang mengikuti alur sungai.Antara rumah apung dan rumah panggung dipisahkan oleh jalan berupa jembatan kayu ulin yang memanjang. Desa ini juga disebut dengan kampung air karena tak mempunyai daratan.

  1. Kota Bangun – Muara Wis – Muara Muntai – Danau Melintang – Desa Melintang – Danau Semayang – Sungai Pela

Memilih rute ini sebagian besar perjalanannya adalah menyusuri Sungai Mahakam kearah hulu. Melewati banyak kampung, pemandangan lain yang disajikan adalah pinggiran sungai yang masih rimbun menghijau. Namun disela-sela itu juga akan ditemui conveyor dan tumpukan batubara di pinggir sungai juga tangki besar untuk penampungan CPO.

Tak jauh dari Kota Bangun, disisi kiri kearah mudik ada anak sungai yang kanan kirinya dipenuhi permukiman dan rumah walet. Anak sungai ini menghubungkan antara Sungai Mahakam dan Danau Kedang Murung.

Dan sekitar satu jam perjalanan dari Kota Bangun, akan sampailah di pusat Kecamatan Muara Wis. Daerah ini bisa dicapai dengan kendaraan darat dari Kota Bangun Seberang. Di sisi kiri Sungai Mahakam arah mudik ada Danau Uwis. Danau yang tidak terlalu besar dan mempunyai beberapa pulau yang berhutan.

Di tepian anak sungai yang menghubungkan Sungai Mahakam dan Danau Uwis, banyak ditanami pohon Kratom atau Kademba. Pohon yang daunnya laku dijual sebagai bahan obat namun oleh BNN akan ditetapkan sebagai mempunyai kandungan narkotika.

Masih di Sungai Mahakam, satu jam perjalanan dari Muara Wis kearah hilir akan sampai ke Muara Muntai. Disini akan disambut oleh Sungai Mahakam yang terbelah dua dan ditengahnya ada pulau yang dinamai dengan pula harapan.

Sisi kanan Pulau Harapan kearah mudik, keramaian berpusat baik disisi sungai maupun di sisi darat. Diatas sungai bisa ditemukan toko atau kios terapung yang menjual barang elektronik, furniture, pakaian, peralatan mesin perahu, alat pertanian, alat tangkap nelayan dan lain sebagainya. Gairah atau dinamika ekonomi sungai masih kental di daerah ini.

Warung apung baik dalam bentuk rumah maupun perahu yang dulu lazim ditemui di sepanjang aliran Sungai Mahakam masih ditemukan di tempat ini.

Ada kurang lebih lima kampung yang terhubung dengan pusat Kecamatan Muara Muntai ini. Terhubung dengan jalanan berupa jembatan ulin yang panjang. Oleh karenanya Muara Muntai mempunyai sebuah festival yang disebut sebagai Festival Kampung Telihan.

Di Muara Muntai, pada anak sungai yang menghubungkan antara Sungai Mahakam dan daerah Jantur di Danau Jempang ada kawasan yang ditetapkan sebagai reservat atau suaka ikan, kawasan itu bernama Batu Bumbun yang masih dihiasi oleh rimbun pepohonan hutan tropis dataran rendah.

Untuk mencapai Danau Melintang, anak sungai yang harus dilalui adalah Sungai Rebak Rinding, Sungai yang menjadi batas antara Muara Muntai Ulu dan Rebak Rinding. Sungainya tidak terlalu lebar namun ramai dilewati oleh perahu ces atau ketinting. Sungai ini menjadi jalur lalu lintas beberapa kampung di Danau Melintang yang tak punya jalan darat untuk menuju Muara Muntai.

Ujung dari Sungai Rebak Rinding di Danau Melintang berada antara Kampung Melintang dan Kampung Muara Enggelam. Dari sini untuk sampai ke Kampung Melintang butuh waktu kurang lebih 15 menit.

Dari kampung melintang untuk kembali ke Kota Bangun akan memotong Danau Semayang kearah Tanjung Tamanoh yang menjadi pintu masuk ke Sungai Pela. Sungai yang disisinya ada Kampung Pela dan Kampung Sangkuliman. Perjalanan melewati Danau Semayang dari Kampung Melintang menuju Sungai Pela pada saat tertentu akan menantang. Pada waktu tertentu danau akan berombak sehingga perahu akan terombang-ambing bak di lautan.

  1. Kota Bangun – Sungai Pela {Desa Sangkuliman/Desa Pela} – Danau Semayang – Sungai Semayang {Desa Semayang/Desa Tubuhan} – Danau Semayang – Sungai Kahala – Danau Berambai {Kenohan Kahala}

Perjalanan dimulai dengan menyeberangi Sungai Mahakam masuk ke Sungai Pela yang menjadi penghubung antara Mahakam dan Danau Semayang. Dari Tanjung Tamannoh, ujung Desa Pela di pinggir Danau Semayang ambil arah kanan.

Sekitar setengah mengarungi Danau Semayang ujung kampung Semayang akan dicapai. Perjalanan dilanjutkan dengan memasuki Sungai Semayang yang nantinya akan kembali masuk ke Danau Semayang setelah melewati Kampung Semayang dan Tubuhan.

Kedua desa ini sebenarnya bisa dicapai dengan perjalanan darat dari Kota Bangun melewati Jembatan Martadipura, melalui jalan yang menghubungkan Kecamatan Kota Bangun dengan Kecamatan Kenohan dan Kecamatan Tabang.

Melalui Kampung Semayang dan Tubuhan akan disaksikan kehidupan warganya yang kental dengan budaya nelayan tangkap dan budidaya. Perjalanan melalui Sungai Semayang mesti pelan-pelan karena dikanan kiri bagian sungai penuh dengan batang {jamban apung}, karamba dan pondok/rumah apung baik yang ditinggali atau sebagai tempat untuk mengolah ikan.

Setelah melewati Kampung Tumbuhan anak sungainya akan kelihatan lebih lebar karena tidak ada permukiman. Di kanan kiri sungai dihiasi pohon-pohon besar dengan batang terendam dalam air.

Pepohonan kemudian menipis ketika akan kembali memasuki Danau Semayang. Pemandangan kemudian berganti dengan padang dan lorong air antara Kumpai atau kumpulan Enceng Gondok.

Setelah itu hamparan air akan membesar namun di kanan kirinya masih berhias hamparan kumpai bak daratan menghijau rata laksana permadani.

Sekitar 20 menit dari ujung Sungai Semayang/Tubuhan, ujung Sungai Kahala yang menghubungkan antara Danau Semayang dan Danau Berambai akan dicapai. Di kanan kiri sungai akan dihiasi oleh deretan tegakan pohon Prupuk yang batangnya terendam dalam air.

Dan beberapa menit kemudian alur Sungai Kahala akan semakin jelas karena batas daratan kanan kirinya semakin nampak. Pohon yang menghiasi kanan kiri sungai juga semakin beragam dan makin rapat. Sisa dari hutan hujan tropis dataran rendah masih bisa disaksikan dan dinikmati di wilayah ini.

Setelah memasuki Kampung Kahala, perjalanan menyusuri Sungai Kahala menuju Danau Berambai {Kenohan Kahala} kembali akan menyajikan pemandangan hutan yang lebat dengan pohon besar tinggi menjulang. Dan ketika mendekati Danau Berambai kembali pemandangan tegakan batang pohon Prupuk yang terendam akan telihat. Selain itu juga akan disaksikan gerombolan pohon pandan yang tinggi tersembul diantara hamparan air.

Danau berambai tak terlalu luas, sama seperti Danau Kedang Murung dan Danau Uwis ada juga pulau-pulaunya disini. Beberapa diantaranya telah ada bangunan rumah walet. Dari sisi danau ini ada daratan yang dinamai dengan Solong Pinang Merah. Di tempat ini akan ditemui aneka jenis anggrek yang tumbuh secara alami. Daratannya juga unik yaitu berpasir putih. Konon Solong Pinang Merah tak kalah indahnya dengan Kersik Luway yang ada di Kabupaten Kutai Barat.

Persiapkan Diri Sebaik-baiknya

Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyusuri sungai, danau dan rawa Mahakam lewat ketiga jalur diatas akan tergantung kepada jenis perahu dan mesin yang dipakai. Namun yang pasti akan terekpos oleh paparan matahari diatas sungai, danau dan rawa selama berjam-jam, juga resiko lain yaitu paparan hujan dan percikan air danau jika bergelombang.

Oleh karenanya persiapankan pakaian yang mampu menutupi seluruh badan agar kulit tidak terbakar matahari dan terkelupas beberapa hari kemudian. Persiapkan juga jaket atau jas hujan serta wadah lain untuk menyimpan barang elektronik atau barang lain yang tak tahan air saat hujan.

Dan yang paling penting bawalah bekal makanan dan air yang cukup. Sebab tak semua tempat persinggahan ada warung makan. Lagipula menikmati makan yang dibawa sendiri dengan perahu ditambatkan dibawah rimbun pohon besar atau geromblolan rumpun bambu jelas bakal lebih asyik dan berkesan.

Perjalanan menyusuri sungai, danau dan rawa Mahakam juga butuh pembawa perahu dan pemandu yang handal. Perjalanan terutama di danau tidak selamanya mudah karena jalur bisa tertutup oleh kumpulan kumpai dan enceng gondok. Alur juga bisa berubah karena pergeseran hamparan kumpai dan enceng gondok itu. Sungguh tak elok tersesat, terputar-putar  didanau dan rawa, atau salah jalan karena memasuki anak sungai yang tidak tepat.

Dan terakhir tentu saja siapkan isi kantong, sebab bahan bakar yang diperlukan untuk perjalanan susur ini antara 60 – 60 liter premium dan dua botol oli jika perahunya memakai mesin speed boat. Ditambah lagi dengan ongkos sewa perahu, jasa pengemudi dan pemandu serta bekal lain yang perlu dibawa.

Tapi yakinlah berapapun ongkos yang mesti dikeluarkan, pengalaman yang didapatkan dari perjalanan susur sungai, danau dan rawa Mahakam akan jauh lebih mahal. Pendek kata ini adalah sebuah perjalanan yang tak mengenal kata rugi.

Menuju Danau Melintang dari Sungai Rebak Rinding
Pepohonan besar di tepi Sungai Semayang, gambaran hutan hujan tropis dataran rendah yang masih tersisa

Note : tulisan ini merupakan catatan perjalanan kesah.id dengan fasilitasi dari Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya/Ekraf Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur.