Siaran langsung atau mengabarkan kejadian pada waktu yang sama dulu menjadi andalan radio untuk meraih pendengar. Di jaman jaya-jayanya radio, pendengar pasti mengenal Sambas Mangundikarta, penyiar yang salah satu spesialisasinya adalah pertandingan bulutangkis dan sepakbola.

Dengan suaranya yang khas, Sambas mampu membuat jalannya pertandingan berlangsung seru, tegang, menarik dan terkadang lucu di telinga pendengarnya. Sambas menghadirkan pertandingan lewat telinga serasa terlihat di mata karena dengan detail dia menyampaikan jalannya pertandingan.

Jaman serunya mendengar siaran langsung dari radio kemudian sirna digusur oleh televisi. Siaran televisi menjadi lebih menarik karena menghadirkan audio sekaligus visual. Banyak siaran langsung monumental yang lahir di jaman televisi, mengabarkan kejadian luar biasa yang terjadi jauh dari penontonnya. Seperti perang, bencana luar biasa dan lain sebagainya.

Kecepatan televisi mengabarkan kejadian ‘real time’ kemudian tersaingi oleh hadirnya internet. Berbagai aplikasi di internet memungkinkan siapa saja yang menggunakannya untuk mengabarkan kejadian di depan mata, kejadian yang tengah berlangsung kepada siapa saja yang mengaksesnya.

Pada aplikasi media sosial kini disertakan fasilitas streaming, sebuah fasilitas yang mampu menyiarkan kejadian secara langsung dengan smartphone. Dan apa yang disiarkan bisa ditonton oleh siapa saja yang masuk dalam jaringan pertemanan atau yang memakai aplikasi media sosial serupa. Facebook dan Instagram menjadi salah satu yang sering dipakai untuk siaran langsung.

Namun sebenarnya banyak aplikasi yang bahkan ditujukan untuk siaran langsung. Namanya biasa ditandai dengan live di belakangnya seperti bigo live, mango live, imo live dan lain sebagainya. Yang menyiarkan biasa disebut streamer atau host.

Hal yang hampir mirip namun tidak sama adalah bentuk-bentuk layanan yang disebut dengan messenger. Layanan seperti facebook messenger, google duo, facetime, skype, whatsap,wechat, mechat, line dan lain-lain selain bisa bertukar teks, juga bisa bertukar suara dan video secara interaktif.

Pada prinsipnya layanan berbagi informasi secara timbal balik sebenarnya sudah merupakan hal yang biasa dan banyak aplikasi baik berbayar maupun gratis yang bisa dipakai sebagai platform untuk melakukannya.

Namun ketika pandemi Covid 19 mulai merebak, intensitas untuk melakukan pertukaran informasi menjadi semakin meningkat. Bahkan bekerja atau melakukan kegiatan pembelajaran menjadi lazim dilakukan di dalam jaringan.

Whatsapp kemudian menjadi salah satu pilihan, banyak kelas dan pertemuan dilakukan melalui aplikasi ini. Namun kemudian yang menjadi terkenal dan memperoleh momentum adalah zoom. Sebuah aplikasi yang memang ditujukan untuk melakukan pertemuan dengan berbagai fasilitas yang memudahkan untuk pengaturan atau moderasi.

Dalam berbagai hal lain zoom sama saja dengan aplikasi yang lebih dahulu hadir dan sudah biasa dipakai. Namun karena ditujukan khusus untuk pertemuan maka tentu saja zoom kemudian menjadi lebih mudah digunakan dan memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pertemuan sebagaimana kalau dilakukan secara offline. Seperti menunjukkan presentasi kepada peserta yang dalam versi onlinenya disebut sebagai share screen. Bahkan foto bersama bisa dilakukan juga oleh seluruh peserta.

Popularitas zoom kemudian juga menarik pengembang lain untuk membuat aplikasi serupa seperti google meet misalnya. Namun tetap saja zoom menjadi yang terdepan. Dan di jaman pandemi Covid 19 ini, seminar memperoleh nama baru yaitu zoominar. Karena umumnya seminar saat ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi zoom.

kredit foto : stikesmajapahit.ac.id