“Dadi wong ki mbok sing solutip”, penggalan kalimat ini menjadi viral seiring dengan pertumbuhan jumlah viewer, film pendek Tilik yang diupload oleh racavana film tepat pada hari peringatan kemerdekaan RI.
Film ini sebenarnya sudah diproduksi cukup lama dan dipertontonkan pertama kali dalam perhelatan Jogya-NETPAC Asian Film Festival 2018 lalu.
Film ini juga sudah pernah ditayangkan oleh TVRI, namun lewat YouTube kemudian jadi viral dan dalam waktu dua minggu sudah ditonton 20 juta kali.
Tak pelak tagar #butedjo kemudian menjadi trending di Twitter. Menggeser tagar-tagar lainnya. Kegaduhan politik sejenak menjadi sirna gara-gara tagar itu.
Bu Tedjo adalah salah satu karakter utama dalam film Tilik yang memakai genre film perjalanan atau road movies.
Dari sisi sinematografis, film yang menggambarkan kebiasaan warga untuk menjengguk/besuk/tilik dengan naik truk ramai-ramai ini mang ciamik. Dialog sepanjang perjalanan mengalir dan asyik, tata suara dan angle kameranya dengan tepat merekam serta menangkap realita secara natural, lanskap yang tertangkap selama perjalanan juga menyajikan pemandangan indah yang menyegarkan mata.
Diluar semua pujian, film ini kemudian didakwa melestarikan stereotyping terhadap perempuan soal bergunjing atau gemar menebar hoax. Hingga kemudian ada yang mempertanyakan pesan moral dari film ini.
Tentu saja di film ini sutradara bukanlah seorang pengkhotbah yang dengan gamblang mengumbar rangkaian pesan-pesan moral dalam filmnya. Toh kalau penonton jeli salah satu pesannya sudah disampaikan oleh Bu Tedjo.
Pesan Bu Tedjo soal agar menjadi orang yang solutip mungkin relevan bagi para pengede dan punggawa Barcelona yang sedang berseteru soal masa depan Messi.
Lionel Messi, bintang Barcelona sudah tak betah lagi bermain di klub raksasa katalan itu. Messi memang sudah menunjukkan ulah sesaat setelah Neymar, sahabatnya dijual ke PSG.
Sepeninggalan Neymar dan pelatih Tito Vilanova, Messi terus berseteru dengan semua pelatihnya, direktur olahraga bahkan presiden Barcelona. Sebagai kapten Barcelona, Messi bahkan tidak ramah kepada hampir semua pemain baru yang didatangkan oleh Barcelona.
Penampilan Barca usai bubarnya MSN perlahan memburuk hingga akhirnya menutup kompetisi 2020 tanpa sebuah gelar. Messi pun pamit untuk tidak memperkuat Barcelona di tahun kompetisi mendatang dengan mengajukan pelepasan tanpa klausul buy out yang nilainya selangit.
Barcelona tentu tak mau melepas Messi begitu saja. Selain karena menderita ‘messidependensia’ juga tak mau rugi.
Masalahnya jika Messi hanya dilepas dengan buy out tentu tak masuk akal bagi klub yang ingin mendapatkannya untuk membayar 12 trilyun rupiah. Bukan saja karena besarnya melainkan juga akan melanggar fairplay dalam urusan finansial yang membuat klub akan dihukum oleh otoritas sepakbola negaranya.
Bahwa perjanjian tetaplah perjanjian, kontrak adalah kontrak namun tetap saja bisa dirubah dengan kesepakatan dua belah pihak. Bertahan dalam kontrak justru akan membuat Barcelona rugi.
Tetap memaksa Messi bermain untuk Barcelona artinya Barcelona harus tetap membayar gaji Messi dan tahun depan akan kehilangan Messi tanpa mendapatkan apa-apa seiring dengan berakhir kontraknya. Dan seorang yang sudah tak punya motivasi untuk membela klubnya pasti tak akan bermain sungguh-sungguh. Dan ini jelas akan merugikan klub serta mengecewakan pengemar.
Messi mungkin segala-galanya untuk Barcelona. Namun Barcelona ada dan besar bukan hanya karena Messi. Jadi mempertahankan Messi mati-matian justru akan mengecilkan Barcelona.
Bagi sebuah klub bola pemain sehebat apapun tidak akan lebih besar dari klubnya. Fans atau pengemar adalah pemuja klub. Jadi tak perlu takut kehilangan pengemar karena melepas pergi seorang pemain.
Jadi Barcelona, biarkan Messi pergi. Bandrol Messi dengan harga yang wajar. Tidak mesti harus seluruhnya dengan uang melainkan juga dengan tambahan pemain yang jika diuangkan nilainya juga akan besar.
Biarlah Messi kemudian menjadi bintang pada liga negara lain dan lahirkan bintang baru untuk Barcelona. Bukankah melahirkan bintang baru adalah tradisi Barcelona yang kemudian dilupakan setelah kedatangan Messi di tim senior Barcelona.
Barca, lupakan Messi dan kembalilah ke La Masia.
Kredit foto : tokohterpopuler.com









Wayah e Koeman mengedepankan Ansu fati
Ansu fati time
Comments are closed.