Pelajaran hari ini Mustofa mendapat pengetahuan baru tentang siklus air hujan, mulai dari penguapan, pembentukan awan, lalu awan berkumpul menjadi berat hingga kemudian turun dalam bentuk butir-butir hujan. Butir hujan itu kemudian menimpa dedaunan, mengalir melalui dahan dan batang pohon, sebagian jatuh menimpa tanah, dan sebagian meresap ke dalam tanah, air itu tersimpan ke dalam tanah menjadi air tanah dan mata air.
Sementara yang jatuh ke atas tanah, sebagian ada yang membentuk genangan, sebagian lain meresap ke tanah, dan sebagian lain mengalir diatas permukaan tanah, masuk ke got-got, saluran air, lalu mengalir ke sungai-sungai hingga ke danau atau lautan.
Ketika air jatuh ke atas permukaan tanah, tanah berbukit atau gunung-gunung dengan permukaan tanah terbuka tanpa perlindungan tutupan tanaman maka aliran air itu akan membawa serta tanah yang terkikis, itu yang disebut sebagai erosi, pengikisan permukaan tanah oleh aliran air. Dan ketika air yang mengandung butir-butir tanah baik yang halus maupun kasar perlahan-lahan akan mengendapkannya dan terjadilah yang disebut sebagai sedimentasi. Sedimentasi yang parah akan membuat got menjadi cepat dangkal demikian juga dengan sungai, waduk dan danau serta muara sungai di laut.
Guru menyebutkan bahwa Kota Samarinda mempunyai curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahunnya. Namun air hujan itu dibiarkan secepat-cepatnya mengalir ke drainase dan kemudian segera dibuang ke sungai-sungai agar secepatnya pergi dan tidak menimbulkan genangan banjir. Menurut Guru tidak nampak upaya dari pemerintah untuk mengkonservasi air.
“Air hujan dibiarkan luruh begitu saja, tak ada upaya untuk menahannya dan menjadikan sumber cadangan air bersih. Kota kita yang sering kebanjiran ini jika panas kekurangan pasokan air bersih, namun kalau hujan selalu kebanjiran,” ujar Guru menutup pelajaran tentang tata kelola air hujan.
-000-
“Ternyata air hujan itu penting sekali Mumus,” ujar Bondan membincang kembali pelajaran di sekolah tadi.
“Iya air hujan itu anugerah Tuhan yang ternikmat, bukan cuma untuk main hujan-hujanan tapi untuk sumber kehidupan,” sahut Mustofa bernuansa religius.
“Sayangnya meski kita ini sering kelebihan air hujan tapi kok selalu ada bayang-bayang krisis air, kekeringan di musim kemarau. Kira-kira karena apa ya,”
“Kita tidak menganggap penting air hujan,”
“Betul juga katamu Mumus, hujan sering kali hanya dituduh menjadi penyebab banjir. Kalau ada banjir besok di koran, pasti ada pejabat yang bilang bahwa banjir tak bisa dihindari karena curah hujan yang tinggi,”
“Oh, iya habis itu masyarakat disalahkan karena membuang sampah di got-got,”
“Iya, drainase atau saluran itu sering dianggap sebagai saluran untuk mengalirkan air hujan secepat-cepatnya ke sungai,”
“Nah, itu salah satu masalahnya Bondan. Ada cara pikir yang kuno, kalau hujan airnya dibuang. Padahal drainase itu adalah sistem untuk mengendalikan banjir sekaligus meng-konservasi air,”
“Hebat kamu Mumus sampai punya istilah konservasi air,”
“Kamu saja Bondan yang suka melamun di kelas. Guru tadi kan bilang soal mengelola air hujan, air hujan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan diusahakan tidak terbuang sia-sia,”
“Yang kudengar tadi soal memanfaatkan air hujan dengan cara menampung air hujan di tandon, bisa tandon diatas tanah atau tandon bawah tanah,”
“Itu namanya panen air hujan,”
“Tadi dengar juga soal menanam air hujan,”
“Ya itu yang disebut konservasi air hujan Bondan. Air ditahan, diresapkan ke dalam tanah dengan berbagai cara. Ada yang ditampung di embung, ada yang diresapkan ke dalam tanah dengan biopori atau sumur resapan,”
“Oh, iya ini ada metode TRAP Mumus,”
“Apa itu TRAP,”
“Singkatan dari Tangkap, Resapkan, Alirkan dan Panen,”
“Coba kamu terangkan,”
“Baca sendiri saja Mumus, kamu kan nggak buta huruf. Dan kira-kira kalau nyuruh orang, masak aku disuruh menerangkan memangnya aku ini ahli hujan, ingat ya aku ini ahli hujan-hujanan,” ujar Bondan.
Dan Mustofa mulai membaca dokumen yang ditunjukkan oleh Bondan. Soal tangkap berisi penjelasan tentang air hujan seharusnya ditangkap, bukan dibiarkan terbuang begitu saja. Itu sebabnya perlu yang disebut Daerah Tangkapan Air, Embung atau Situ atau Danau dan Rawa-Rawa untuk menampung air. Area tangkapan air lainnya adalah Hutan Kota, Taman Kota dan Ruang Terbuka Hijau.
“Nah, ini penting Bondan, air hujan itu perlu di-Resapkan. Bukan cuma ditampung saja karena bumi adalah penyimpan terbaik air hujan,”
“Jadi apa kalau disimpan dalam bumi,”
“Ya jadi mata airlah,”
“Oh, iya kah. Lalu air hujan yang nda tertangkap dan nda meresap jadi apa?”
“Jadi banjir … ha..ha..ha. Tapi nggak begitu kok. Air yang tidak tertangkap dan tak teresapkan itulah yang dialirkan, dialirkan melalui got dan sungai hingga masuk ke danau atau berakhir di laut,”
“Lalu yang terakhir itu P nya apa, parkir kah?”
“Bukan parkir Bondan tapi Panen. Panen air,”
“Air kok dipanen, kayak padi saja,”
“Lho, kamu ambil air dari sumur itu panen air, petani ambil air dari irigasi itu panen air, intake PDAM ambil air dari sungai itu panen air, kamu tampung air hujan itu juga panen air,” terang Mustofa.
“Oh, begitu to,”
“Lha iya lah, kan ada pepatah yang mengatakan barang siapa menanam dia akan menuai,”
“Maksudmu,”
“Kalau kita menanam air maka kita tak akan kekeringan di musim kemarau, pun di musim hujan kita juga tak akan menuai banjir,”
“Yang kamu maksudkan kita itu Kota Samarinda ya?”
“Ya kira-kira begitulah,”
“Kok bisa ya,”
“Ya iyalah, semua jalan disemen, hutan kotanya sedikit, taman juga banyak semennya, ruang terbuka hijau untuk jualan jadi tanahnya padat dan got ditujukan untuk secepat-cepatnya membuang air hujan ke sungai,”
“Kamu itu sok tahu Mumus,”
“Lah memang begitu kok. Kita ini seneng main semen, semua disemen,”
“Oh iya kah, apa itu ada hubungannya dengan rencana penambangan dan pembangunan pabrik semen?”
“Ada Bondan, hubungannya itu dari waktu ke waktu, semua rencana pembangunan itu masih meneruskan paradigma lama, paradigma panen, kalau perlu panen muda. Semua dipetik tak peduli hari esok,”
“Ah, susah kata-katamu ini Mumus,”
“Ya itu, dulu yang disedot minyak, lalu kayu ditebang setelah itu batubara dikeruk, begitu batubara lesu mulai berpikir untuk membongkar gamping untuk bikin semen. Padahal kawasan gamping dan karst itu menyimpan cerita sejarah lama Kalimantan Timur. Jadi menghancurkan kawasan gamping dan karst untuk semen sama saja dengan menghancurkan catatan sejarah peradaban bumi etam ini,”
“Ngeri-ngeri sedap memang para pengambil kebijakan kita ini,”
“Iya pikirannya pendek-pendek, panjangnya cuma dari kepala ke saku,”
“Jadi sebutan apa yang pas untuk mereka Mumus?”
“Tanya saja na sama acil nang bungas tetanggamu itu. Kayaknya dia suka bilang bungul, bontok dan tambuk,”
Mustofa dan Bondan tertawa terbahak-bahak ingat acil bungas nang rancak bemamai itu.








