Memenuhi janjinya pada Mustofa karena keberhasilan memperoleh sebanyak 3 angka 9 dalam pelajaran di sekolah, akhinrya bapak Mustofa membelikan smartphone buatan China yang modelnya selalu mengekor Iphone Amerika.
Setahun Mustofa berjuang keras, belajar dengan disiplin setiap hari selama satu jam tanpa alpa. Sebenarnya tahun lalu ada 3 angka 9 di rapornya namun angka itu untuk kategori ijin 9 hari, sakit 9 hari dan alpa 9 hari.
Berbekal Iphone KW itu Mustofa mulai berselancar di dunia maya, cita-citanya ingin menjadi prosumen atau produser sekaligus konsumen dalam platform user generated content yang sekarang menjadi kelaziman dalam dunia internet.
UGC adalah dunia internet dimana para pemakai internet bisa menciptakan beragam konten sendiri. Dalam platform ini Mustofa bisa mengirim, menerima, memposting foto, melakukan streaming video, menulis juga membaca apa-apa saja yang juga bisa dilihat orang lain.
Dengan dipandu oleh Bondan yang lebih dahulu melek smartphone, Mustofa mulai membuat berbagai akun. Yang dibuat pertama tentu saja facebook, setelah itu instagram dan kemudian juga melengkapi diri dengan berbagai aplikasi messenger, satu diantaranya adalah line.
“Nah, dah jadi sudah facebookmu,” ujar Bondan.
Dan Mustofa tetap konsisten memakai nama alias yaitu Pria Karang Mumus dengan panggilan pendeknya Mumus. Meski nama alias, akun Mumus bukanlah akun anonim sebab Mustofa memakai foto profil asli dan melengkapi form profilnya dengan sebenar-benarnya.
“Sekarang kita buat facebook page –nya, biar Mumus bisa mengelola halaman,” sambung Bondan.
Kemudian kembali mereka asyik mengotak-atik facebook untuk membuat halaman bagi Mustofa.
“Mumus, mau pakai nama apa halamannya,”
“Pustaka Karang Mumus,” ujar Mustofa yakin.
Dan akhirnya page Pustaka Karang Mumus dengan Mustofa sebagai adminnya telah selesai dibuat. Dalam keterangan halaman dituliskan “Halaman ini ditujukan untuk mengumpulkan segala sesuatu tentang Sungai Karang Mumus, dari warga, oleh warga, untuk warga”
“Jadi apa yang kita akan posting pertama?” tanya Bondan.
“Ini saja,” kata Bondan sambil menunjukkan gambar aneka sampah yang mengambang di Sungai Karang Mumus.
Dalam keterangannya Mustofa menuliskan “Sampah Sungai Karang Mumus itu aneka warna, mulai dari sampah rumah tangga, sampah industri, hingga sampah dari aktifitas ekonomi. Sampah Sungai Karang Mumus seperti etalase minimarket. Bedanya di minimarket masih ada isinya, di Sungai Karang Mumus tinggal bungkusnya,”
“Oh,iya Mumus, halamam ini mengandalkan like, jadi harus banyak orang me-like biar halamannya terkenal,” kata Bondan.
“Caranya bagaimana?”
“Kita harus undang orang untuk menyukai,”
“Berarti kita kasih tahu teman-teman kita,”
“Iya, tinggal pencet saja di bagian undang teman untuk menyukai halaman ini,”
“Kalau biar cepat bagaimana?”
“Pasang facebook ads Mumus,”
“Bayar kah?”
“Ya bayar tapi nggak mahal,”
Dan kepada teman-teman lainnya Mustofa memberitahukan bahwa mereka bisa juga mengisi konten di halaman Pustaka Karang Mumus. Sebab menurut Bondan jika hanya Mustofa yang mengisi sendiri maka akan setengah mati, halaman juga menjadi kurang update apalagi paket data Mustofa juga lelet.
“Jadi halaman ini harus diisi oleh banyak orang biar update dan selalu menarik perhatian. Isinya bukan cuma foto atau tulisan tapi bisa juga video. Bahkan sekarang facebook sudah bisa streaming atau siaran langsung. Kita bisa bikin tv facebook, Mumus,” terang Bondan.
“Hebat ya facebook,”
“Bukan hanya facebook Mumus, ini yang disebut ‘keroyokan’, banyak kok blog atau situs keroyokan yang terkenal sekarang,” kata Bondan.
Mustofa teringat keterangan dari kakak Internet Sehat. Dan ternyata memang internet sebenarnya kalau didayagunakan akan bermanfaat secara positif. Sekarang siapapun bisa bikin situs berita, majalah online, radio internet, televisi internet juga kursus-kursus online. Semua serba cepat dan serba mudah.
“Bagaimana kalau kita juga nge-blog?”
“Boleh juga Mumus, nggak susah juga bikin blog. Tapi ya lagi-lagi soal kontent, kamu mampu kah mengisinya secara konsisten?”
“Ya, tadi kita bikin blog keroyokan, community blog gitu,”
“Bisa juga, tapi tetap saja perlu kerja keras. Karena harus ada adminnya. Kalau nggak nanti kacau balau,”
“Kita bentuk tim redaksi,”
“Ya memang begitu caranya,tapi juga nggak menjamin. Kalau aku sih page facebook juga sudah cukup kok, halaman facebook juga bisa diperlakukan seperti blog, bedanya aja hanya pada kolom dan indekx. Kalau untuk mesin pencari kan tinggal dikasih hastag pada setiap postingannya”
Dan pada akhirnya memang tidak mudah mengelola sebuah halaman Facebook sebagai ruang bersama untuk mengumpulkan berbagai hal seputar Sungai Karang Mumus. Meski para pengakses sosial media kebanyakan adalah pemakai mobile phone, namun pemakainya tidak semuanya mencerminkan gadget-nya yang disebut sebagai smartphone.
“Bondan, ternyata sedikit yang posting, yang komen juga nggak banyak, kebanyakan cuma like,”
“Ya memang begitu Mumus, smartphone di tangan bukan smartpeople ya jadinya cuma menjadikan mereka konsumen, bukan produsen. Orang lebih suka mengakses informasi ketimbang berbagi informasi, temuan atau pengetahuan,”
“Padahal kita gembar-gembor soal smartcity,”
“Wah, kalau itu lebih sulit lagi, smartcity itu bukan cuma sistem yang smart, tapi juga paradigma, sehingga perlu smartbureaucrat, smartleadership, smartenviroment plus tadi smartcitizen,”
“Sulit kalau begitu ya Bondan,”
“Ya, iyalah, dari apa yang nampak di Sungai Karang Mumus ini sudah jelas kalau kita nggak smart di segala-galanya,” ujar Bondan tanpa berniat mengejek kotanya.








