Pada abad ke 19 diperkenalkan istilah IQ, kecerdasan intelektual. Seorang dianggap cerdas jika mempunyai kemampuan kalkulatif dan analitik yang baik.
Ukuran kecerdasan adalah raport untuk siswa, IPK mahasiswa dan indeks-indeks lainnya.
Memasuki abad 21, kecerdasan dikoreksi. Muncul istilah kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan spiritual bahkan disebut sebagai ultimate, kecerdasan tertinggi atau yang terutama.
Tapi benarkah?. Ternyata baik kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual membuat manusia jauh dari alam. Kecerdasan ini hanya beroperasi di wilayah antar manusia. Akibatnya manusia-manusia cerdas itu tak mampu menjaga alam, ruang hidup yang semakin lama justru semakin memburuk. Krisis ekologi terus terjadi seiring dengan kemajuan peradaban manusia.
Ada yang dilupakan yaitu kecerdasan biofilia. Sebuah kecenderungan bawaan manusia untuk mencintai dan terhubung dengan alam. Menyukai binatang dan tumbuhan.
Jejak kecerdasan ini nampak dalam kebiasaan orang untuk memelihara tanaman dan binatang.
Sayangnya kecintaan pada tanaman dan hewan kera dipengaruhi trend. Sehingga rasa sayang, semangat untuk menjaga agar hidup dan berkembang hanya pada jenis tertentu.
Sebagian lain mencintai dengan kesadaran ekonomi. Memelihara banyak untuk diperdagangkan..
Tapi secara umum tak bisa dipungkiri bahwa manusia mencintai alam, suka keindahan dan senang melihat kehidupan di alam liar (alamiah).
Species Invasif
Kesukaan pada tumbuhan atau binatang tertentu membuat orang akan mendatangkan tanaman dan peliharaan dari manapun.
Namun kemampuan untuk memelihara tidak selalu terjaga. Tanaman dan binatang bisa tumbuh membesar sehingga tak cukup ruang untuk memeliharanya. Terkadang juga muncul rasa bosan dan ingin ganti dengan yang lainnya.
Tanaman yang diabaikan mungkin akan mati. Tapi binatang biasanya dilepas. Seperti banyak jenis ikan yang didatangkan sebagai ikan hias yang kemudian dilepas ke parit, got,.sungai atau badan air lainnya.
Nampaknya melepas ikan ke alam atau pelepasliaran merupakan sebuah tindakan yang baik. Membebaskan untuk hidup liar.
Namun melepas mahkluk ke habitat yang bukan habitat aslinya bisa menimbulkan bahaya bagi lingkungan barunya.
Spesies asing yang dilepas ke sebuah habitat dan kemudian cocok sehingga berkembang dengan sangat pesat atau invasif akan menyingkirkan spesies lainnya.
Seperti ikan sapu-sapu, yang dilepas di got atau parit karena membesar di akurium. Kini ikan itu menjadi ikan dominan di banyak sungai dan danau. Ikan pemakan tumbuhan air ini bertumbuh amat pesat karena punya ketahanan pada kondisi air yang buruk sekalipun.
Dan sungai-sungai kita yang umumnya tercemar kemudian menjadi surga baginya untuk berbiak dengan cepat.
Pertumbuhan populasi ikan cicak ini kemudian mengancam populasi ikan lokal yang memang juga sudah langka. Ikan yang langka semakin menjadi langka karena terdesak oleh ikan cicak.
Kelangkaan ikan-ikan setempat (native species) di badan-badan air alami kemudian menimbulkan keprihatinan.
Mereka yang prihatin kemudian melakukan fish stocking atau memasukkan ikan ke dalam badan air alami.
Tapi niat baik untuk mengembalikan badan air agar ada ikan liarnya bisa berubah menjadi bencana ketika ikan yang dilepaskan adalah ikan-ikan budidaya. Seperti mujair, nila, gurami, emas dan laiinya.
Lagi-lagi ikan yang bukan penghuni habitat alamiah badan air tersebut bisa berkembang menjadi ikan dominan, ikan yang kemudian akan memangsa atau menyingkirkan ikan-ikan asli yang umumnya bertumbuh lambat.
Restocking ikan dengan tujuan menambah populasi ikan di badan air itu mungkin berhasil. Akan ada banyak ikan nila di sungai atau ikan gurami di danau, namun ikan-ikan lainnya akan semakin jarang atau bahkan punah.
Jika ikan cicak dan mujair atau nilai kemudian tumbuh menjadi penguasai sungai-sungai di Samarinda. Maka kelak anak-anak Samarinda tak akan lagi kenal ikan betutu, senggiringan, belida, puyau, baung dan seterusnya.
Sumber gambar : news.kkp.go.id








