Terkungkung oleh kondisi yang buruk dalam waktu yang lama akan membuat kebanyakan orang ingin waktu segera berlalu.

Manusia mengada tak lepas dari tempat dan waktu, namun kecenderungan untuk mencari nikmat dan bahagia serta menghindari derita membuat manusia kerap tergoda untuk keluar dari ruang serta waktu dengan segera.

Keluar dari ruang untuk menemukan ruang baru yang berbeda dengan mudah bisa dilakukan. Tapi keluar dari waktu untuk berada dalam waktu yang baru tentu tak mungkin. Sebab waktu punya pusarannya sendiri.

Tempus fugit atau waktu berlari demikian dinyatakan oleh Publius Vergilius Mari, seorang penyair era Romawi Kuno.

Waktu linear, berjalan maju dan selalu meninggalkan manusia serta tak kembali. Sesuatu yang tak selalu bisa diikuti oleh manusia karena keterkungkungan dalam berbagai hal. 

Manusia sering berusaha membekukan waktu agar ‘kemesraan’ tak segera berlalu, menghadirkan kembali waktu ‘nostalgia’ masa SMA, membuang waktu atau melupakan waktu saat sedih, nestapa dan derita mendera.

Namun apa disebut bahagia bagi seseorang bisa saja derita bagi yang lainnya. Demikian juga nestapa bagi seseorang bisa jadi justru peluang dan kesempatan yang membahagiakan bagi orang lainnya.

Covid 19 bagi kebanyakan orang adalah peristiwa buruk. Pengalaman dan kondisi yang membuat banyak orang menderita. Pedagang turun omset, produsen turun produksi, pekerja turun pendapatan atau bahkan kehilangan pendapatan. Segala sesuatu turun mulai dari pembeli, pengguna jasa, klien dan lain sebagainya.

Tapi tak sedikit yang bersuka karena omset naik, barangnya laku sampai kehabisan stok dan muncul peluang usaha baru utamanya yang berhubungan dengan kesehatan dan dunia dalam jaringan.

Pemaknaan akan waktu memang berbeda-beda. Ada kenangan pahit sekaligus kenangan manis. 

Kenangan 2020

Tahun 2020 niscaya merupakan tahun dengan kenangan buruk bagi sebagian besar orang. Banyak diantara kita baru mengalami kejadian pandemi untuk yang pertama kali. Dan pengalaman ini membuatnya merasa pandemi sebagai sejarah terburuk dalam hidupnya.

Tapi apakah pandemi Covid 19 adalah peristiwa terburuk dalam sejarah manusia?. Tidak.

Ada banyak peristiwa buruk di masa lalu, jauh lebih buruk. Seperti perang dunia, letusan gunung raksasa, tsunami dan bencana alam lain yang sampai mengubur habis sebuah kota bahkan peradaban. 

Namun jika pandemi covid 19 tetap akan dikatakan sebagai yang terburuk maka peristiwa ini menjadi terburuk justru karena terjadi di tengah semua kemajuan dan teknologi yang jauh lebih canggih dari semua peristiwa buruk di masa sebelumnya.

Pandemi covid 19 menjadi buruk karena terjadi di tengah transparansi informasi dan pengetahuan. Namun yang terjadi justru simpang siur informasi dan pemberitaan. Banyak yang beranggapan bahwa pandemi ini adalah rekayasa saja yang sesungguhnya tak ada.

Keburukan lain di tengah semua yang sudah terang ternyata selalu ada keraguan dalam memutuskan. Yang disebut birokrasi selalu lambat dan mudah berubah-ubah. Terbelenggu oleh berbagai kepentingan non kesehatan membuat birokrasi gagal memutuskan langkah yang terbaik sehingga pandemi berlarat-larat.

Masih ada banyak contoh lain yang bisa membuat pandemi covid 19 menjadi yang terburuk. Namun yang paling buruk adalah kehilangan nurani, dimana pandemi justru dimanfaatkan untuk memperkaya diri sendiri dengan cara menilep uang negara yang seharusnya digunakan untuk menghadapi pandemi ini.

Kembar Jahat

Populer tapi angkuh membuat Donald Trump yang diunggulkan untuk menjadi presiden AS dua kali ternyata urung memenangkan pemilu.

Cara Donald Trump menangani covid 19 membuatnya divonis tak layak lagi memimpin AS oleh sebagian besar pemimpin.

Serupa tapi tak sama, di negeri kita pandemi covid 19 juga menjadi bahan bakar untuk memuji dan mencaci.

Muasalnya dari kembar Jahat cebong dan kampret yang kemudian menjadi pembela dan pencela pemerintah.

Yang satu menutup-nutupi kelemahan dan yang satu mencari-cari kesalahan. Meski berbeda namun keduanya punya watak yang sama yakni sama-sama kerdil.

Kekerdilan yang membuat bualan, dusta dan kebencian terus saja menyeruak serta berjejal di ruang publik.

Pandemi covid 19 sebenarnya mengajar kita untuk mengambil jeda. Hastag #dirumahsaja adalah sebuah anjuran untuk mengambil jarak, merenung dan belajar mencerna makna.

Hanya saja di saat para siswa dan mahasiswa rindu belajar serta bercengkrama dengan rekan sebayanya ternyata sebagian besar dari kita justru tak mau belajar dari pandemi ini.

Kembar jahat terus berkembang karena mereka tak mau keluar dari ekosistem pengetahuan yang hanya paham ambil kesempatan dalam kesempitan.

Sumber gambar : Justin Chin – Bloomberg

 

 

.