Jumlah angkatan kerja setiap tahunnya cenderung meningkat sementara tidak demikian dengan angka kesempatan kerja. Pandemi Covid 19 yang belum berakhir juga semakin memperparah keadaan. Berbagai jenis usaha mengurangi jumlah tenaga kerja atau bahkan menutup usahanya.

Alarm lonjakan jumlah pengangguran telah berbunyi sementara harapan tumbuhnya lapangan kerja baru belum terlihat karena realisasi investasi cenderung bermain di sektor tersier yang tidak banyak membutuhkan tenaga kerja.

Di tengah kondisi ekonomi seperti ini maka mendorong tumbuhnya wirausaha menjadi pilihan yang paling rasional. Untuk itu menjadi penting bagi pemerintah menyiapkan ekosistem bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah agar tumbuh sesuai dengan dinamika masa kini dan adaptif pada moda digital sehingga mampu menembus pasar global.

Syarkawi Badransyah, konsultan pendamping UMKM yang menjadi narasumber dalam pelatihan digital marketing pelaku industri kreatif, Rabu 25 November 2020 menyebutkan Kalimantan Timur mempunyai modal baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam bagi berkembangnya sektor UMKM.

“Sayangnya disini kebanyakan UMKM masih dianggap sebagai usaha sampingan bukan sesuatu yang digeluti hidup atau mati seperti di Jawa,” ujar Awi demikian panggilan akrabnya.

Untuk itu, Awi yang juga pemilik usaha 3 Warna Borneo menegaskan bahwa siapapun yang mau berwirausaha baik sebagai produsen maupun penjual mesti mempunyai 3 D yaitu Dream, Direction dan Discipline untuk menjadi sukses.

Mengumpamakan perjalanan menjadi wirausahawan sukses sebagai jalan mendaki gunung, maka jalan yang harus dipilih bukannya jalan pendaki pada umumnya dan jalan pintas melainkan jalan pendaki sukses.

“Ada banyak wirausahawan baru apalagi yang termasuk kaum milineal memilih jalan pintas dengan langsung main di iklan lewat facebook  ads, google ads dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Jangan asal posting

Menggaet pembeli atau konsumen ibarat seorang yang pergi memancing ikan. Pemancing akan beroleh ikan jika menyiapkan alat pancing dan umpan yang tepat, mengerti ikan apa yang hendak di pancing dan dimana tempat ikan itu berada.

“Sebagai produsen atau pengusaha mestinya kita tahu dengan jelas apa produk kita dan siapa pasarnya. Jangan melempat kail dan menebar umpan di sembarang tempat,” kata Awi sambil memberikan beberapa contoh postingan di media sosial seperti berikut ini.

“Apalagi yang anda tunggu, mumpung masih ada. Pesan sekarang,”

“Harga cuma RP. 150.000, yang minat DM atau WA ke 081 xxxx xxxx, buruan stock terbatas,”

“Mumpung lagi promo, yuk order sekarang dapat diskon,”

Memborbadir media sosial dengan pesan-pesan seperti itu justru akan membingungkan konsumen atau calon pembeli.

“Tidak ada orang yang senang ditawari barang yang tidak dibutuhkannya,” tegas Awi.

Berkaitan dengan mengiklankan produk atau jasa, Awi kemudian menjelaskan model yang sudah lama dipergunakan dalam dunia periklanan namun masih ampuh sampai sekarang. Konsep itu biasa disebut AIDA Model yang merupakan singkatan dari Awareness, Interest, Desire, Action.

“Ajakan untuk membeli atau call for action, selalu dimulai dari orang tahu apa yang mereka butuhkan, lalu tertarik, berminat dan kemudian memutuskan untuk membeli,” papar Awi.

Bukan jual barang atau produk melainkan nilai

Barang buruk dan tidak laku memang sudah sewajarnya. Meski demikian tidak selalu barang buruk otomatis tidak laku. Penjual bisa melakukan manipulasi sehingga barang buruk tetap bisa laku.

“Jika barang buruk namun laku maka penjualnya perlu bertobat, tapi jika barangnya bagus tapi tidak laku, penjualnya perlu bantuan. Dan jika barang bagus serta laku maka penjualnya perlu bersyukur,” terang Awi.

Dan yang disebut sebagai bagus tidak hanya soal mutu atau kualitas barang melainkan nilai atau cerita di belakang lahirnya barang itu.  Yang disebut sebagai nilai adalah apa yang direpresentasikan atau cerita dibaliknya. Seperti kandungan atau identitas lokal, kepedulian pada lingkungan, merubah sesuatu yang biasa atau tidak berharga menjadi berharga dan lain sebagainya.

“Dalam dunia bisnis modern yang diutamakan bukan hanya mutu atau kualitas barang dan desain kemasan melainkan juga cerita. Maka beriklan adalah mengisahkan cerita tentang barang atau produk. Kita menjual dengan elegan karena tidak dengan cara menawarkan,” lanjutnya.

Dengan demikian yang disebut sebagai pemasaran digital adalah optimasi penggunaan berbagai platform internet seperti facebook, instagram, youtube, WA dan lain-lain untuk mengabarkan atau menceritakan A sampai dengan Z produk atau jasa yang hendak dijual.

Menggunakan platform atau aplikasi media sosial memberikan kesempatan bagi pengusaha, produsen barang atau jasa di sektor UMKM dan industri kreatif untuk membangun pasar yang lebih luas melewati batas-batas negara.

Terkait dengan penggunaan media sosial untuk pemasaran digital, Awi mengingatkan agar pelaku UMKM bukan hanya aktif posting melainkan juga aktif me-like, comment dan share postingan orang lain.

Aku pribadi yang berisi curhat-curhat, selfi-selfi juga harus dibedakan dengan akun bisnis.

“Dalam bermedia sosial berlaku hukum tabur tuai, siapa yang hanya curhat-curhat ya hanya akan beroleh rasa kasihan, prihatin atau malah akan diejek dan dibully,” ujar Awi.

Inti dari penggunaan media sosial untuk melakukan pemasaran digital adalah interaksi. Interaksi yang manusiawi sehingga calon pembeli atau pelanggan menjadi tersentuh, terkoneksi dan kemudian terdorong untuk melakukan aksi. Aksinya adalah memutuskan untuk membeli atau menggunakan produk dan jasa yang dipaparkan.

“No action, nothing happen. Take action, miracle happen. Teruslah belajar, bertindak dan konsisten. Anda pasti akan beroleh sukses,” ucap pria kelahiran Tabang ini mengakhiri penyampaian kepada seluruh peserta pelatihan.

Berbagai produk dibawa oleh peserta Pelatihan Digital Marketing Pelaku Industri Kreatif sebagai bahan berbagi pengalaman dengan peserta lainnya.

note : artikel ini merupakan kerjasama pemberitaan antara Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur dengan Borneo Corner/kesah.id