KESAH.IDIbu Elisabeth Hernia B. sukses membawa Bank Sampah Ramli Lestari Mandiri meraih juara kedua Bank Sampah Terbaik Samarinda 2025 lewat aksi nyata ibu-ibu di Sungai Kapih yang mengolah sampah organik menjadi pupuk bernilai ekonomi. Meski masih menggunakan metode manual, inovasi yang merambah hingga pengolahan minyak jelantah ini berhasil mengubah pola pikir warga dari sekadar membuang menjadi menabung sampah, sekaligus menjadi panggilan terbuka bagi generasi muda untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan kota.

Di balik gemerlap pembangunan Samarinda sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah revolusi sunyi tengah berlangsung di sudut RT 12, Kelurahan Sungai Kapih, Kecamatan Sambutan. Di sini, sampah bukan lagi dianggap sebagai beban kota yang harus disembunyikan, atau dibuang di tanah kosong tetangga melainkan sebuah aset yang dikelola dengan penuh ketelitian oleh tangan-tangan dingin para perempuan.

Adalah Ibu Elisabeth Hernia B., sosok penggerak di balik Bank Sampah Ramli Lestari Mandiri, yang membuktikan bahwa perubahan besar lingkungan dimulai dari skala rumah tangga. Bersama 11 penggiat lingkungan—yang hampir seluruhnya adalah ibu-ibu rumah tangga—ia berhasil mengubah stigma sampah menjadi berkah.

Kehadiran Bank Sampah Ramli Lestari Mandiri pada tahun 2023 silam bukanlah tanpa alasan. Samarinda, dengan populasi yang terus bertumbuh, menghadapi tantangan sampah yang pelik. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah di Kota Samarinda mencapai ratusan ton per hari, di mana sebagian besar didominasi oleh sampah sisa makanan (organik) dan plastik.

Ibu Elisabeth menyadari bahwa membuang sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bukit Pinang atau TPA Sambuan bukanlah solusi jangka panjang.

Penganugerahan penghargaan untuk pengelola bank sampah terbaik di Kota Samarinda

BACA JUGA : Wahabi Ulil

Dalam dua tahun perjalanannya, bank sampah ini telah memiliki sekitar 70 nasabah aktif. Prestasi luar biasa pun diraih tahun ini: Juara Kedua Bank Sampah Unit Terbaik Kota Samarinda tahun 2025. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pengelolaan komunitas berbasis warga (community-based waste management) di Sungai Kapih adalah salah satu yang paling efektif di Samarinda.

Inovasi paling menonjol dari bank sampah ini adalah keberhasilannya menutup siklus sampah organik. Berkolaborasi dengan pihak Kelurahan Sungai Kapih, sampah dapur warga diolah menjadi pupuk kompos yang subur.

Mekanisme distribusinya tergolong unik dan patut dicontoh. Pupuk-pupuk tersebut “berkantor” di kelurahan. Warga yang datang untuk mengurus urusan administrasi, terutama pasangan yang mengurus berkas pernikahan, diajak untuk membeli dan memanfaatkan pupuk organik ini. Langkah ini sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong “urban farming” atau pertanian perkotaan. Hasilnya? Permintaan pupuk terus melonjak hingga seringkali melampaui kapasitas produksi manual mereka.

Meski sukses besar, perjalanan Elisabeth tidaklah mulus. Tantangan klasik masih membayangi: kesadaran kolektif. Masih ada sebagian warga yang enggan mengantarkan sampah secara rutin. Selain itu, proses pengomposan yang masih dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana menjadi hambatan untuk melakukan produksi massal.

“Kami sangat berharap adanya dukungan lebih lanjut dari pemerintah, baik melalui Dinas Lingkungan Hidup maupun instansi terkait.” harapnya.

Ke depan, Elisabeth berencana memperluas jaringan kolaborasi dengan kelompok Dasa Wisma. Dengan masuk ke jaringan terkecil PKK ini, ia yakin edukasi pemilahan sampah dari dapur akan jauh lebih efektif dan jangkauan manfaat ekonomi bank sampah akan semakin luas.

Warga menyetor sampah ke Bank Sampah

BACA JUGA : Kamera Penghakiman

Tak puas dengan kompos, Bank Sampah Ramli Lestari Mandiri kini tengah mengembangkan riset untuk memproduksi lilin dari minyak goreng bekas atau jelantah. Jelantah selama ini menjadi musuh utama drainase dan sungai di Samarinda karena sering dibuang sembarangan dan menyumbat saluran air. Dengan mengubahnya menjadi lilin, mereka tidak hanya mengurangi polusi air tetapi juga menciptakan produk bernilai tambah bagi pendapatan ibu-ibu pengelola.

Di penghujung narasi keberhasilannya, Ibu Elisabeth memberikan pesan kuat kepada generasi muda di Samarinda. Ia melihat bahwa anak muda memiliki keunggulan dalam hal literasi digital dan kreativitas.

“Anak muda punya energi besar. Kami ingin mereka tidak hanya bicara soal climate change di media sosial, tapi ikut terlibat nyata. Pengelolaan sampah yang berkelanjutan butuh sentuhan teknologi dan ide-ide segar dari mereka,” pungkasnya.

Apa yang dilakukan oleh Ibu Elisabeth dan warga Sungai Kapih adalah pengingat bahwa di tengah ambisi besar pembangunan IKN, kedaulatan lingkungan justru ditentukan oleh seberapa peduli kita pada apa yang kita buang setiap harinya.

Penulis : Natalia

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Foto : Natalia

note : sumber gambar – GEMINI