Kalimantan tak bisa dipisahkan dari hutan. Namanya harum sebagai jamrud khatulistiwa karena balutan hutan hujan tropis dataran rendah
Namun Kalimantan juga dikenal sebagai pulau dengan sungai-sungai besar, sungai yang panjang dan lebar serta masih menjadi nasi kehidupan hingga sekarang.
Kalimantan Timur punya Sungai Mahakam dan sungai-sungai besar lainnya. Sungai Mahakam punya puluhan anak sungai dan ratusan cucu sungai. Juga terhubung dengan rawa-rawa yang luas dan puluhan danau yang tak kalah lebar.
Mahakam dari hulu, tengah hingga hilir menjadi sumber cadangan air yang tak terkira jumlahnya. Tempat menampung air hujan yang rajin turun di bumi Kalimantan Timur.
Karena cadangan airnya yang tak terkira, terus ada sepanjang tahunnya, Mahakam tumbuh menjadi pondasi kebudayaan.
Di sepanjang alirannya muncul permukiman-permukiman yang membangun kehidupan bersama berdasarkan adaptasi pada pola alam, dinamika dan pasang surut sungai Mahakam.
Di tepi sungai Mahakam lahirlah model rumah panggung yang tingginya disesuaikan dengan air pasang tertinggi Mahakam, rumah yang dihubungkan dengan jalan berupa jembatan Ulin yang panjang. Jalanan daktas lahan yang akan tergenang air disaat tertentu
Ada juga rumah apung atau lanting. Rumah yang akan mengikuti pasang disut permukaan air karena ditopang oleh batang-batang kayu yang mengambang.
Karakter pasang surut sungai Mahakam juga pada danau-danau yang terhubung dengannya melahirkan budaya pasang pertanian pasang surut, pertanian tanaman pangan yang memanfaatkan tutupan sedimen yang mengandung kesuburan alami.
Lingkungan sungai menjadi lumbung kehidupan yang lengkap. Menyediakan air bersih, sumber protein berupa ikan, udang, kerang dan biota air lainnya serta lahan subur untuk bercocok tanam.
Budaya mengerti air kemudian tumbuh menjadi salah satu pondasi budaya selain budaya mengerti hutan. Kalimantan mestinya tidak hanya disebut punya ‘orang hutan dan orang utan’ melainkan juga punya ‘orang kali,orang danau dan orang rawa’.
Baik pada ekosistem lahan kering maupun lahan basah yang tumbuh menjadi kebudayaan karena adaptasi dari mereka yang tinggal diatasnya kemudian bergeser menjadi ekploitasi.
Hutan kemudian dianggap bernilai dan menguntungkan karena batang kayunya. Sedangkan rawa-rawa dianggap menguntungkan jika dirubah menjadi lahan kering tempat bercocok tanam secara permanen dengan ditanami tanaman komoditas yang lalu untuk dijual memenuhi kebutuhan luar negeri.
Dan yang pertama serta utama mengalami dampak buruk atas perubahan perlakuan pada hutan dan rawa-rawa adalah sungai. Masalah utama yang pertama adalah sedimentasi yang luar biasa akibat perubahan tata guna lahan pada Daerah Aliran Sungai.
Selain mengalami pendangkalan, sungai dengan segera akan menerima air limpasan (run off) di.musim penghujan dan kekurangan pasokan air di musim kemarau karena matinya banyak mata air di daratan yang telah berubah fungsi.
Orientasi kehidupan di sekitar sungai juga berubah. Mereka yang berdiam di sekitar sungai juga bukan lagi orang orang yang terhubung dan beroleh kehidupan dari sungai. Mereka hanya menumpang tinggal dan mencari hidup dari tempat lain. Akibatnya pengertian dan pemahamannya pada sungai menjadi rendah. Sungai kemudianengalami tekanan dari mereka yang tinggal disekitarnya. Tekanan utamanya adalah limbah dan sampah.
Maka genaplah derita sungai. Hingga kemudian tak sedikit anak-anak dan cucu sungai yang hilang. Di Samarinda nama sungai kemudian menjadi nama kelurahan atau daerah administratif lainnya. Dan mereka yang tinggal disana sebagian besar tak tahu lagi dimana aliran sungai yang ada di daerah itu. Mereka hanya tahu bahwa pada saat hujan lebat akan kerap terjadi banjir.
Di Kalimantan yang disebut banjir mestinya merupakan peristiwa alam biasa. Perlembahan sungai adalah dataran banjir oleh karenanya ada bentangan rawa-rawa dan juga danau.
Karena banjir Kalimantan Timur pernah kaya raya banjir itu bernama Banjir Kap. Saat banjir batang kayu besar bisa dihanyutkan dari lingkungan hutan.
Kini banjir adalah bencana. Dan sungai yang adalah salah satu pembentuk kebudayaan Kalimantan dituduh sebagai penyebabnya.
Padahal banjir sesungguhnya terjadi karena kita dengan sembrono dan serakah terus mengambil ruang air dan tidak mengantinya.
Pun cara kita ‘mengatasi banjir’ justru semakin membuat banjir menjadi parah atau bahkan permanen. Banjir kita buat menjadi rutin dengan semua proyek mengatasi banjir yang justru tak ramah air.
Kita terus memupuk pengetahuan dan teknologi namun ada satu hal yang kita sendiri lupakan yaitu teladan para pendahulu yang mengerti dan kemudian menyesuaikan dengan air. Dengan budaya air maka banjir bukan masalah. Banjir justru menjadi berkah karena di kalau banjir ikan akan berlimpah dan setelah surut dataran banjir akan berubah menjadi lahan yang diberikan oleh alam sebagai tempat bercocok tanam yang penuh dengan kesuburan.
Selamat hari sungai, belum terlambat bagi kita untuk kembali belajar dan mengerti sungai meski sebagian kali kita, Kalimantan sudah menjadi Mantankali.
Kredit foto : Republika








