Masyarakat terus bertumbuh, bukan hanya dari jumlah orangnya tetapi juga dari jenis pekerjaan dan struktur kelembagaan sosialnya. Hingga pada suatu ketika tidak semua orang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Bahkan jumlah mereka yang tidak lagi bekerja atau beraktifitas dalam pola agraris semakin lama semakin besar. Memasuki era industri, masyarakatnya sibuk berurusan dengan hal-hal non pertanian, bahan makanan mesti dibeli. Mereka yang menghasilkan pangan harus bekerja lebih keras karena bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Tentu saja kebutuhan masyarakat industri bukan hanya pangan melainkan juga energi dan material atau bahan baku lainnya. Bekerja dalam ritme produksi yang dihitung adalah produktifitas. Untuk menopang hal itu maka harus ada pasokan energi dan bahan baku dalam jumlah yang besar.
Hubungan dengan sungai kemudian berubah. Dari mengambil secukupnya kemudian menjadi mengekstraksi. Semakin banyak yang diambil dari sungai. Air tidak hanya diambil secara langsung melainkan juga dibendung, dibuat waduk untuk keperluan irigasi, mengairi lahan pertanian agar bisa bertanam terus menerus dan juga untuk mengerakkan turbin penghasil listrik.
Sungai juga diambil pasir dan batunya, untuk membangun infrastruktur baik untuk umum, industri maupun pribadi-pribadi. Hutan disekitar sungai juga ditebangi untuk diambil kayunya, baik untuk bahan baku industri maupun bahan bangunan.
Wajah sungai kemudian berubah. Karena penebangan hutan dan pembukaan lahan disekitar sungai, erosi menjadi meningkat. Air sungai menjadi keruh karena mengandung banyak material yang tererosi. Kualitas airnya sebagai sumber air bersih menjadi menurun dan sungai tidak lagi menjadi habitat yang ideal untuk berbagai macam binatang atau tumbuhan air. Perlahan berbagai macam jenis ikan menghilang dari sungai.
Sedimentasi yang ekstrim juga membuat sungai menjadi cepat mendangkal, daya tampung sungai menjadi berkurang sehingga di musim hujan sungai kerap dituduh menjadi penyebab banjir. Ruang sungai juga menjadi semakin sempit karena pertumbuhan permukiman di pinggir sungai tidak terkendali. Pinggiran sungai pada masyarakat industri kerap menjadi pilihan tempat tinggal mereka yang ‘kalah’, yang tidak mampu memperoleh tempat tinggal di lokasi-lokasi premium, tengah kota atau pinggiran jalan raya.
Era Ekploitasi Sungai
Penemuan mesin membawa lompatan peradaban dari ekonomi subsisten, ekonomi yang seadanya atau sekedar mencukupi hidup ke ekonomi industri yang mempunyai corak komersialisasi dan monetisasi yang tinggi.
Sungaipun tak lepas dari ekploitasi, yang pertama adalah airnya. Air yang berlimpah kemudian disedot sebagai pendingin untuk mesin-mesin yang panas. Dan kemudian air yang telah mendinginkan mesin itu dibuang kembali ke sungai.
Air sungai juga dipakai untuk mencuci berbagai bahan di dalam industri dan lagi-lagi airnya dibuang kembali ke sungai.
Aliran sungai juga dibendung, dibuat waduk untuk menampung air agar bisa dibagi dalam saluran irigasi untuk mengairi lahan-lahan basah. Air dibendung juga dipakai untuk mengerakkan turbin agar bisa menghasilkan listrik, energi untuk industri maupun permukiman.
Konsentrasi pertumbuhan penduduk baik karena migrasi maupun kelahiran di kota-kota tertentu menuntut ketersediaan permukiman. Rumah perlu dibangun dengan cepat dan massal. Batu dan pasir di sungai kemudian diambil sebagai bahan bangunan rumah beton. Batu dan pasir juga dipakai sebagai bahan untuk membangun infrastruktur lainnya yaitu jalan raya.
Tidak semua orang yang mengadu nasib di perkotaan beruntung. Sebagian besar tidak bisa memenuhi kebutuhan papan, baik karena kemampuan ekonomi maupun karena hal lainnya. Area atau lahan di sekitar sungai kemudian menjadi sasaran untuk menjadi tempat tinggal.
Area yang tadinya merupakan lokasi pertanian, rawa pasang surut atau dataran banjir sungai kemudian diduduki dan dikonversi menjadi permukiman. Permukiman yang jauh dari keteraturan dan minim infrastruktur dasar lainnya.
Akibatnya sungai dari hulu hingga hilir mengalami masalah karena dimanfaatkan secara berlebihan. Sumber daya sungai diekploitasi, pemanfaatan yang tidak berkesesuaian dengan fungsi sungai sebagai sistem pengaliran dan pengairan.
Sungai kemudian bermasalah dari semua aspeknya. Mulai dari ruang, alur, air hingga alirannya. Sungai yang tadinya merupakan cikal bakal dari tumbuh kembangnya sebuah kota kemudian bertumbuh menjadi aib yang kerap disembunyikan dibalik gedung-gedung tinggi di kanan-kirinya.








