KESAH.IDSekaya-kayanya seorang pengusaha, dirinya tidak akan punya privilege sebagaimana seseorang yang punya kedudukan politik dalam pemerintahan. Kelebihan menjadi seorang pejabat itu banyak menarik minat para pengusaha untuk mengikuti kontestasi pemilu, terutama pemilu legislatif. Dengan menjadi wakil rakyat, seorang pengusaha bakal punya akses politik kebijakan yang bisa membuat usahanya lancar jaya bahkan beranak pinak.

Poster, spanduk, baliho para bakal calon legislatif sudah mulai terpasang dimana-mana. Perjalanan melewati gang-gang, jalan non protokol terasa membosankan karena selalu bertemu dengan wajah-wajah penuh senyum hasil editan. Dengan postur dan gestur siap berjuang, para bakal calon legislatif ini berlomba menarik simpati masyarakat pemilih.

Banyak yang merasa terganggu dengan munculnya algaka dimana-mana, seolah tak elok jika ada ruang kosong tanpa kehadirannya. Mirip dengan Mixue yang tak akan membiarkan ruko terbiar kosong atau kedai kopi yang terus bermunculan di lahan-lahan kosong.

Organisasi pemerintah yang berurusan dengan ketertiban dan keindahan juga mulai terganggu, mereka mulai menertibkan algaka yang terpasang di jalan-jalan protokol. Dasarnya adalah waktu kampanye belum tiba dan ruang pemasangan yang tidak tepat. Di jalan protokol, alat peraga kampanye akan dianggap sebagai media promosi atau iklan yang ada konsekwensi pembayaran pajak atau retribusi.

Saya sendiri selalu berusaha menikmati wajah-wajah penuh senyum, muka cerah dan kinclong yang berada di kanan-kiri jalan itu. Sesekali ada isinya yang menarik, bisa menjadi hiburan tersendiri. Walau memang pada umumnya tak bercerita apa-apa, selain ngaran gonol {jargon}.

Pertigaan dekat rumah saya mulai penuh dengan baliho dan poster, yang memasang mulai dari bacaleg DPR RI, DPRD Provinsi dan DPR Kota.

Ada satu yang menarik perhatian, dipasang pada saat menjelang perayaan Idul Adha. Bentuknya seukuran poster besar. Selain berisi ucapan selamat merayakan Hari Raya Idul Adha, disertai pula dengan ‘sponsor’ sebuah usaha dalam bidang kuliner yang cukup ternama.

Dan belum lama ini disampingnya kembali terpasang alat peraga kampanyenya yang baru, sudah disertai gambar kertas suara. Nama sponsor masih terpasang, namun di bawah foto yang tadinya tertulis jabatan Direktur Utama sudah hilang. Jabatan kemudian diganti dengan tagline Bukan Sembarang Caleg.

Dan dibawah taglinenya tertulis Ini Pilihan Kamu.

Entah siapa kamu yang dimaksud, yang jelas bukan saya.

Meski telah dua model alat peraga kampanye dipasang di seberang depan rumah saya, isinya berusaha lain dari yang lainnya namun tetap saja saya tak mengenalnya.

Dan biasanya jika pergi ke TPS untuk memilih, maka yang akan saya coblos adalah orang yang saya kenal. Baliho atau alat peraga kampanye yang lainnya walau berusaha tampil menarik, lain dari pada yang lain paling hanya akan membuat saya melirik.

Alat peraga kampanye yang unik dan menarik tak cukup untuk membuat saya menjatuhkan pilihan.

Tapi tetap saya akan menghargai para bakal calon legisltatif yang teras berupaya untuk membuat desain alat peraga kampanye yang terbaik, membuat caption yang menarik dan lainnya.

Sepertinya memang belum ada cara lain bagi para bakal calon legislatif untuk memperkenalkan dirinya pada masyarakat luas  selain dengan mengumbar gambar dengan wajah penuh senyum dan editan.

Saking keterlaluan editannya, bahkan kita yang sehari-hari kenal dengannya malah tak bisa mengenali ketika wajahnya terpampang di alat peraga kampanye.

Tapi sudahlah, namanya juga usaha dan bukan itu yang ingin saya bahas. Algaka yang dipasang di depan rumah saya menjadi menarik karena wajah yang terpampang mencantumkan kedudukannya dalam sebuah perusahaan.

Dan dari antara banyak bakal calon anggota legislatif yang akan bertarung pada pemilu 2024 nanti, banyak diantaranya adalah pengusaha.

Kenapa pengusaha tertarik untuk menjadi penguasa?

BACA JUGA : Abab Jadi Bahan Bakar

Trend pengusaha untuk menjadi penguasa entah di eksekutif atau legislatif bukan gejala yang baru. Paska reformasi, pintu bagi seorang pengusaha menjadi penguasa terbuka lebar. Seorang pengusaha jauh lebih siap dalam urusan logistik. Visi yang kuat tak cukup lagi untuk merebut dukungan rakyat, suara mesti didapat dengan amunisi.

Makin hari bahkan kekuatan amunisi menjadi semakin penting. Saya ingat persis percakapan antara seorang ketua partai dengan orang yang mau mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Yang ditanya pertama bukan soal motivasi menjadi wakil rakyat melainkan berapa jumlah dana yang dialokasikan untuk mengikuti kontestasi.

“Saya hanya punya uang tak sampai seratus juta,” jawab bakal calon legislatif waktu itu.

Dan tak butuh lama, sang ketua partai itu mengatakan “Kamu nggak akan jadi,”

“Jangan kamu kira hanya dengan tanam budi bisa dapat suara,” lanjut sang ketua partai.

Dia kemudian menyebut angka tertentu. Dengan angka minimal ratusan juga, seseorang mesti bekerja keras untuk mendapatkan suara. Sebaliknya kalau angka minimal itu dilipatgandakan dua tiga kali, sang ketua partai mengatakan “Kalau uangmu segitu, tidur-tidur saja kamu menang,”

Dan dua tiga kali pemilu berikutnya, apa yang dikatakan oleh ketua partai itu semakin nyata dan relevan.

Nah, siapa yang kini punya uang besar kalau bukan pengusaha.

Seorang teman saya yang lainnya kerap mengajukan argumentasi kenapa pengusaha kemudian tertarik menjadi penguasa. Katanya, seorang pengusaha sekaya apapun nggak bakal bisa  menutup jalan karena dia akan lewat, atau melawan arus lalu lintas karena keperluan tertentu.

Pengusaha walau kaya jarang mendapat kesempatan untuk tampil dan berbicara di depan umum, diundang untuk memberikan pidato, kesana kemari diajak berfoto oleh masyarakat atau rakyat. Nikmat seperti itu tak bisa dibeli oleh uang, namun akan datang jika punya kekuasaan.

Meski tak seseleb seorang bupati, walikota, gubernur atau bahkan presiden kedudukan sebagai wakil rakyat tentu saja sudah cukup untuk menaikkan peringkat dalam masyarakat. Menjadi wakil rakyat akan memberikan pengusaha kesempatan untuk menerima masyarakat, mengumpulkan masyarakat, mengunjungi dan menampung keluh kesah serta keinginannya.

Masih menurut teman saya, konon ada seorang pengusaha yang kaya raya ingin menjadi wakil rakyat karena selama hidupnya yang penuh gelimang harta tak pernah diajak ikut rapat. Tak pernah memakai pin di dadanya dan tak pulang pergi kantor setiap harinya.

Dan dengan segudang uang yang ditemui, sang pengusaha kaya itu akhirnya bisa merebut kursi kedudukan dalam pemerintahan. Dan kehidupan baru itu menyenangkan untuknya, kemana-mana dia pergi selalu ada yang mengenali, menyapa dan pura-pura akrab dengannya.

Tapi jenis pengusaha yang ingin menjadi penguasa untuk mendapat kesenangan jumlahnya tak banyak. Sebagian besar pengusaha yang ingin menjadi penguasa bertujuan agar usahanya menjadi semakin besar, aman dari gangguan dan mengembalikan uang berkali-kali lipat dari yang dikeluarkan sebelumnya. Bukan hanya balik modal melainkan beranak-pinak.

BACA JUGA : Ramban, Etnobotani ‘Wild Food’ Tempo Dulu Yang Kembali Ngetrend

Ada banyak jenis usaha yang akan jaya atau aman dari gangguan jika punya akses atau daya tawar politik. Pengusaha yang ingin menjadi penguasa sebenarnya mau melindungi usahanya atau mempertahankan serta memperluas kepentingannya dengan kekuatan politik yang dipunyai.

Bagaimanapun juga pemerintah mempunyai banyak uang untuk dibelanjakan lewat proyek-proyek Pembangunan. Meraup kue anggaran Pembangunan bisa mengamankan kepastian pemasukan bagi usahanya, apalagi jika punya kontrak atau jatah.

Seorang pengusaha yang menjadi penguasa, misalnya menjadi wakil rakyat akan punya akses pada proyek-proyek pemerintah. Akses inilah yang kemudian bisa membuat usahanya memperoleh kesempatan untuk mengerjakan proyek-proyek pemerintah.

Kalaupun bukan pengusaha yang berhubungan dengan proyek pemerintah, akses terhadap kekuatan atau jaringan politik tetap penting. Pengaruh politik bisa membuat seorang pengusaha selangkah lebih depan dari pengusaha lainnya.

Walau harus melayani masyarakat secara inklusif, aparatur negara atau birokrasi kerap jeri jika berhadapan dengan mereka yang punya kedudukan politik. Bukan rahasia lagi kalau karir dalam birokrasi akan lebih moncer jika seorang aparatur negara, birokrat atau pegawai pemerintah punya akses serta koneksi politik.

Simbiosis mutualisme antara birokrat dan politisi yang kemudian menjadi penguasa akan membuat jalan karir birokrat lempang dan politisi semakin gemuk kantongnya karena gampang memperoleh ijin usaha tertentu, mendapat jatah proyek serta lainnya.

Seorang wakil rakyat mempunyai kekuasaan dalam menentukan anggaran belanja negara maupun daerah. Hak yang kemudian bisa disisipi dengan kepentingan tertentu, memperjuangkan besaran anggaran dalam bidang tertentu dengan motiv untuk ikut turut menikmati kue belanjanya.

Birokrat yang tidak mau bekerjasama bisa dibuat kesulitan, bahkan seorang menteri sekalipun bisa disidang dihadapan dewan jika dianggap tidak mau berkompromi dengan kepentingan wakil rakyat.

Meski sama-sama mengabdi pada rakyat, para wakil rakyat akan merasa lebih dibandingkan dengan birokrat atau aparatur negara. Wakil rakyat merasa lebih berkuasa karena mereka dipilih oleh rakyat. Suara rakyat itu yang selalu diklaim sebagai pondasi kekuatannya. Sementara birokrat memperoleh kedudukan karena pangkat sebagai hasil penilaian kinerja oleh atasannya.

Saya tak tahu dengan pasti seberapa banyak pengusaha yang ingin menjadi penguasa, menjadi wakil rakyat. Namun kelak saat pemilu terlaksana, sebagian yang dilantik menjadi wakil rakyat punya latar belakang dunia swasta atau dunia usaha.

Dan biasanya setelah duduk di kursi kekuasaan, kekayaannya akan dengan cepat melesat. Usahanya lancar jaya, bahkan bisa beranak pinak.

note : sumber ilustrasi gambar – KUMPARAN.COM