KESAH.IDTan Malaka adalah visioner yang tewas di tangan republik yang digagasnya sendiri, namun pasca-Reformasi, pemikirannya mengalami resureksi sebagai kompas nalar kritis melawan “logika mistika”. Dari pelarangan di era Orde Baru hingga munculnya gerakan modern seperti Malaka Project, esai ini menelusuri bagaimana semangat Madilog kini bangkit kembali untuk melunasi utang sejarah dalam mewujudkan visi Masyarakat Baru yang rasional di era digital.

Dalam panggung sejarah Hindia Belanda, muncul sosok luar biasa yang cerdas sekaligus visioner: Tan Malaka. Ia adalah pengecualian pada zamannya. Di saat mayoritas masyarakat masih terbuai dalam pola pikir tradisional, Tan sudah mengadopsi nalar ilmiah yang ketat—sebuah barang langka yang dianggap aneh oleh publik saat itu.

Tan Malaka tidak sekadar berpikir ilmiah; ia melakukan otokritik terhadap bangsanya yang ia anggap terjebak dalam “Logika Mistika”. Baginya, ketergantungan pada klenik dan supranatural adalah belenggu yang membuat rakyat lumpuh, gagal memutus rantai kolonialisme, dan sulit melangkah menuju kemajuan. Kritik tajam ini ia abadikan dalam mahakaryanya, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Jika Soekarno dikenal sebagai Penyambung Lidah Rakyat, maka Tan Malaka layak dinobatkan sebagai Penyambung Nalar Rakyat. Lewat buku ini, ia bercita-cita mengubah masyarakat Nusantara menjadi bangsa yang rasional, logis, dan merdeka seutuhnya.

Namun, pilihan aksi revolusioner yang radikal sering kali membuatnya berseberangan dengan tokoh kemerdekaan lainnya. Akibatnya, posisi Tan dalam sejarah nasional menjadi unik sekaligus samar; ia adalah “Martir yang Terlupakan”. Tragedi hidupnya memuncak pada 21 Februari 1949. Sang konseptor pertama “Republik Indonesia” melalui buku Naar de Republiek Indonesia (1925) ini justru tewas di moncong senjata pasukan TNI di Selopanggung, Kediri. Ia mati di tangan tentara dari republik yang ia impikan dan ia cetuskan sendiri idenya.

Pasca-kemerdekaan, khususnya di masa Orde Baru, nama Tan Malaka semakin tenggelam. Meskipun telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Soekarno pada 1963, buku-bukunya dilarang keras. Cap sebagai tokoh kiri membuatnya menjadi sasaran empuk pembersihan ideologi pasca-1965. Pemerintah Orde Baru mengabaikan kompleksitas pemikirannya, termasuk gagasan unik Tan tentang Pan-Islamisme yang memandang Islam dan gerakan kiri memiliki musuh bersama: Imperialisme.

Bagi rezim saat itu, Madilog adalah racun. Orde Baru kerap memoles mistisisme politik sebagai alat kontrol sosial. Jika rakyat menggunakan nalar Madilog—yang menekankan berpikir kritis, skeptisisme terhadap supranatural, dan logika data—maka mistifikasi kekuasaan “Bapak Pembangunan” bisa runtuh. Penguasa sangat takut pada kekuatan Massa Actie (Aksi Massa); sebuah konsep di mana rakyat berorganisasi secara mandiri dan logis.

BACA JUGA : Proyek Kebencian

Setelah lebih dari tiga dekade menjadi “hantu” dalam lipatan gelap sejarah, ruang itu tersingkap setelah Gerakan Reformasi 1998 menumbangkan rezim. Tan Malaka seolah bangkit dari kubur. Kebangkitannya dimulai dari runtuhnya tembok sensor; buku-buku “haram” seperti Madilog dan Gerpolek tiba-tiba muncul di rak depan toko buku dengan desain yang lebih segar, menjadi konsumsi favorit mahasiswa dan aktivis.

Motor penggerak utama resureksi ini adalah kerja keras sejarawan seperti Harry A. Poeze yang menyusun kembali mozaik kehidupan Tan. Di tingkat akar rumput, pengaruhnya meluas hingga ke Jawa Barat, di mana para pendidik tekun mengajarkan pemikiran Tan sebagai materi ajar non-formal. Eksplorasi ini melampaui romantisme politik; Madilog menjadi oase di tengah gempuran irasionalitas dan hoaks di era digital. Tan tidak lagi dipandang semata sebagai tokoh kiri, melainkan arsitek peradaban yang menginginkan masyarakat Nusantara memiliki mentalitas merdeka berbasis ilmu pengetahuan.

Visi Tan kini menemukan bentuk operasionalnya melalui sekelompok anak muda yang menamakan diri Malaka Project. Mengusung tema besar “Menuju Masyarakat Baru”, mereka berupaya melunasi utang sejarah kepada Tan Malaka. Jika dulu Tan bergerak melalui sel rahasia, gerakan ini bergerak melalui ruang digital untuk melawan kolonialisme bentuk baru: kebodohan terstruktur dan kemiskinan nalar kritis.

Inti dari transformasi ini adalah mengadopsi semangat Madilog ke dalam konteks kekinian melalui institusi pendidikan alternatif dan platform diskursus. Mereka memahami bahwa kedaulatan “Merdeka 100%” tidak akan tercapai selama rakyat masih terbelenggu oleh kemiskinan cara berpikir. Investasi terbesar gerakan ini bukanlah pada infrastruktur fisik, melainkan pada pembangunan kapasitas otak manusia Indonesia.

BACA JUGA : Comeback Marquez

Meski menggembirakan, tantangan terbesar untuk menghapus kabut logika mistika adalah perjalanan evolusi Homo Sapiens yang sejak lama cenderung menggunakan nalar emosional ketimbang rasional. Secara konkret, Ferry Irwandi, salah satu pendiri Malaka Project, bahkan menantang praktik santet dengan imbalan mobil mewah untuk membuktikan ketiadaan kekuatan supranatural tersebut. Meski tak ada yang berhasil membuktikannya, kepercayaan masyarakat terhadap hal mistis tetap tinggi. Fenomena serupa juga dilakukan oleh figur seperti Pesulap Merah yang membongkar modus penipuan berkedok mistik.

Pada akhirnya, kebangkitan pemikiran Tan Malaka adalah pembuktian bahwa peluru bisa membunuh orangnya, tetapi tidak bisa membunuh gagasannya. Tan Malaka kini telah benar-benar pulang, menetap bukan di makam yang megah, melainkan di dalam nalar kritis generasi muda. Perjuangan untuk menghilangkan logika mistika memang masih panjang, namun perjalanan menuju “Masyarakat Baru” yang rasional telah dimulai.

note : sumber gambar – GEMINI