“Sudah dari bahari kami buang sampah ke sungai,”

Begitu ucap banyak orang saat menjawab tanya kenapa membuang sampah di sungai. Mustofa juga tahu persis kalau mamaknya yang tak pernah mengucap kata itu juga rajin membuang sampah ke sungai. Seolah-olah tangannya sudah diprogram secara otomatis, begitu ada yang tak diperlukan langsung disambar dan dilempar ke sungai.

Pernah suatu kali Mustofa mengingatkan mamaknya agar tak lagi membuang sampah ke sungai. Namun peringatan itu tak digubris. 

“Nanti juga akan hancur sendiri di sungai,”

“Wah, mamak ini ngawur bagaimana plastik bisa hancur di sungai. Nda ada ikan yang makan plastik mak,”

“Hallah, kamu ini baru SMP saja sudah sok pintar,”

Daripada ribut dengan mamaknya dan nanti dikutuk sebagai anak durhaka, Mustofa memilih diam saja dan kemudian ngeloyor pergi tanpa pamit. Belum terlalu jauh Mustofa berjalan meninggalkan rumah sudah bertemu dengan Bondan karibnya.

“Mumus, kenapa wajahmu seperti ditekuk?”

Mustofa tak menjawab dan Bondanpun  tak melanjutkan pertanyaannya. Dia hafal benar dengan tabiat Mustofa. Gejala yang ditunjukkan adalah tanda kalau Mustofa baru beradu mulut dengan mamaknya. Dan kalau itu benar maka tak lama lagi dengan sendirinya Mustofa pasti akan bercerita.

Dalam diam mereka kemudian berjalan menuju tepian Sungai Karang Mumus yang masih ditumbuhi pepohonan. Ada pohon Jingah, Kemang, Sagu, Kedondong Hutan dan lain sebagainya. Bondan dan Mustofa tidak memilih duduk di bawah Pohon Jingah karena takut kejingahan atau gatal di seluruh tubuh.

Getah Jingah atau disebut juga Rengas, memang bisa menimbulkan rasa gatal bila tersentuh kulit. Getah itu bisa berasal dari batang, dahan, ranting atau daun. Nah, daripada menari kegatalan, Mustofa dan Bondan memilih tidak duduk di bawah pohon Jinggah.

Setelah cukup lama menikmati semilir angin yang membuat dedaunan menari dan kecipak air karena Ikan Cicak yang berlompatan, Mustofa mulai membuka cerita. 

“Orang-orang tua kita ini lupa kalau jaman dulu dan sekarang sudah berbeda?”

Bondan bingung dengan kalimat pembuka Mustofa setelah sekian lama membisu tanpa kata.

“Mereka lupa kalau dahulu yang banyak dibuang itu bungkus dari daun. Tapi sekarang semua bungkus kan plastik,”

Bondan mulai paham apa yang dimaksud Mustofa.

“Kalau bahan alam, lalu terendam di air lama kelamaan akan busuk, tapi kalau kebanyakan juga tetap saja buruk,”

“Iya, “ jawab singkat Bondan mengamini perkataan Mustofa.

“Plastik mungkin menarik, ringkas dan mudah untuk mengemas apapun. Tapi berbahaya,”

“Betul sekarang ini kita tak bisa lepas dari plastik,” tambah Bondan.

Bondan tahu persis bagaimana produksi plastik di rumahnya. Setiap kali pulang dari pasar atau warung maka plastik akan bertumpuk. Semua serba plastik.

“Padahal sebenarnya plastik bisa dimanfaatkan kembali,” ujar Mustofa.

“Iya, Mumus, buktinya banyak orang yang memunguti plastik. Plastik laku dijual lagi,”

“Betul itu, tapi persoalannya adalah mengurangi limbah atau sampah plastik sejak dari rumah. Kan kalau banyak yang memungut di jalan, got, sungai atau TPS itu berarti banyak yang membuang,”

“Lalu gimana caranya Mumus?”

“Terapkan prinsip Reduce, Reuse, Repair, Recycle,” ujar Mustofa 

Bondan heran, dalam hati dia berkata “Tahu dari mana Mustofa ini,”

“Reduce itu artinya mengurangi. Seperti kalau belanja bawa tas sendiri, sehingga tidak menghasilkan kantong plastik sepulang dari pasar,”

“Oh, mamakku begitu Mumus, Kalau beli soto pasti bawa wadah sendiri dari rumah,”

“Hebat ya mamakku itu,”

“Bukan juga begitu Mumus, itu biar dapat kuahnya banyak,” ujar Bondan tertawa.

“Nah kalau reuse itu, menggunakan kembali. Wadah-wadah plastik yang bagus jangan dibuang, tapi bisa digunakan lagi untuk berbagai keperluan,”

“Kalau yang begitu mamakku juga pakai bekas kemasan plastik untuk tanam-tanam bumbu dapur,”

“Bilang ke mamakmu lanjutkan,” ujar Mustofa

“Tapi sekali waktu mamak pernah dimarahi bapak, soalnya ember yang belum rusak sudah dipakai untuk menanam bunga,”

“Repair, kalau ada yang rusak dan masih bisa diperbaiki ya diperbaiki jangan langsung dibuang. Seperti blender, magic jar,printer, layar monitor, kipas angin dan lain-lain. Banyak yang malas memperbaiki kalau rusak,”

“Ada kok, Pak Lik yang suka keliling menawarkan jasa memperbaiki alat alat yang rusak,” kata Bondan.

“Trus yang terakhir recycle atau mengolah kembali. Plastik-plastik itu bisa dioleh kembali, kalau sudah tidak digunakan atau kalau sudah tak bisa diperbaiki. Nah, ini yang pemulung cari, setelah dikumpulkan dijual ke pengepul,”

“Paham aku sekarang Mumus, jadi kalau 4R ini kita semua terapkan, jumlah plastik yang dibuang jadi sampah akan berkurang,” kata Bondan.

Dan angin yang bertiup semilir membuat mereka terkantuk. Mumus dan Bondan mengeletakkan badan di atas rerumputan. Tak lama sesudahnya mereka mulai tertidur. Dan tanpa janjian bunga tidur mereka adalah mimpi tentang Bank Sampah.