Apa yang pertama patut disalahkan jika terjadi banjir?. Pasti tak jauh-jauh dari curah hujan. Caranya gampang sebut saja sebagai hujan ekstrim, melampaui rekor sebelumnya. Belum pernah ada kejadian hujan seperti ini, deras dan merata.

Ya memang banjir pasti terjadi karena hujan, kecuali banjir bandang. Karena kalau tak hujan maka yang terjadi adalah kekeringan. Maka jangan selalu menyalahkan hujan sebab tidak selalu hujan deras akan menyebabkan banjir. tidak usah membuat hujan dengan pola, hujan deras 2 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan atau bahkan 100 tahunan. Sebab hujan sudah terjadi dari jutaan tahun lalu.

Kenapa hujan kemudian menyebabkan banjir?. Tentu saja karena daya retensi lingkungan sudah menurun. Sebagian besar air hujan tak lagi mampu diresapkan ke dalam tanah, tak lagi tertampung oleh ruang-ruang air alamiah. Air hujan yang kemudian menjadi air liaran masuk ke sungai, sungai tak cukup daya tampung dan kemudian meluapkan di berbagai tempat. Jadilah banjir, air hujan yang adalah berkah alam kemudian dianggap sebagai daya rusak.

Karena air banjir kemudian dianggap sebagai daya rusak maka harus dikendalikan. Dan kemudian sejak jaman kemerdekaan sampai sekarang, banjir coba dkendalikan dengan cara meluruskan aliran sungai, membuat bendungan, menurap dan menanggul sungai agar tak meluap. Konsep yang berangkat dari teknik hidrolika murni ini dikenal dengan nama normalisasi sungai, program mengatasi banjir.

Konsepnya adalah mencoba membuang air secepat mungkin ke laut. Air hujan harus segera dibuang agar tidak mengenangi daerah-daerah yang kini jadi permukiman, agar air banjir tak merusak tanaman petani dan lain sebagainya.

Berhasilkah? Tidak. Kalau tidak percaya silahkan lihat Jakarta. Berapa trilyun dan berapa puluh tahun Jakarta berkutat melawan banjir dengan pendekatan teknik hidrolika murni, hasilnya tetap banjir. sekalipun setiap tahun ditambah mesin pompa, tetap saja tak mampu menghilangkan genangan di Jakarta.

Banjir tentu saja bikin sedih, membuat rusak perabotan bahkan ada yang kehilangan nyawa. Tapi tetap saja genangan air mendatangkan hiburan. Banjir yang terjadi di Samarinda saat hari lebaran tahun ini (2020), titik genangan di berapa titik berkembang menjadi ‘tempat wisata’.

Genangan air memang sahabat kita, makanya air selalu memanggil. Dimana ada tempat banyak air disitulah orang akan datang dan berkumpul serta bersenang-senang.

Air memang menyenangkan dan alampun setuju oleh karenanya alam kemudian menahan air hujan. Mulai dari hulu dan hilir air dialirkan perlahan. Di hulu air akan ditangkap oleh bukit dan gunung yang berhutan, dialirkan ke bagian tengah lewat jalur sungai berkelok-kelok agar airnya tak mengelontor dengan cepat. Dan ketika mulai masuk di wilayah yang landai, air akan meluap. Alam menyediakan daerah kanan kiri badan sungai tanah rawa-rawa yang siap digenangi air luapan. Air akan tertahan dan akan kembali masuk ke sungai jika permukaan sungai menurun.

Di hilir bantaran sungai akan meluas, itulah yang disebut sebagai dataran banjir. Akan digenangi oleh air saat sungai banyak airnya karena hujan deras. Dan pada saat itu, saat air sungai berlimpah maka sungai akan membawa hiburan karena akan ada banyak ikan disana.

Tapi itu cerita masa lalu, cerita ketika Daerah Aliran Sungai, Wilayah Sungai, Badan Sungai dan Sempadan Sungai masih merupakan satu kesatuan ekologis. Kondisi kini telah berubah karena semua itu telah berubah sehingga kehilangan daya retensinya.

Perbukitan yang mengelilingi wilayah sungai sudah dikonversi, entah untuk permukiman, pertambangan maupun pertanian. Wilayah sungai juga sudah berubah, rawa-rawa atau lahan basah yang terhubung dengan sungai sudah menjadi daratan kering, entah untuk pertanian terbuka atau bahkan permukiman. Badan dan Sempadan Sungai juga sudah diokupasi, direbut dan diduduki untuk berbagai kepentingan terutama permukiman. Sungai kehilangan Daerah Aliran, Wilayah, Badan dan Sempadan.

Maka jangan salahkan air jika kemudian banjir menjadi daya rusak karena air telah kehilangan rumahnya. Dan seperti merpati yang tak pernah ingkar janji, air yang dirampas rumahnya juga akan selalu kembali ke rumahnya. Air selalu tahu jalan untuk pulang.

kredit foto : laduni.id