Sewaktu membantu mengelola ‘newpaper insert’, terbitan sebanyak 8 halaman di salah satu koran jaringan nasional yang diklaim beroplah 25 ribu lebih, saya melakukan riset penulisan dengan mendatangi kurang lebih 3 TPA di Kabupaten/Kota dari salah satu propinsi di pulau Celebes.

Entah ini kebetulan semata atau hanya itu yang dipikirkan oleh mereka, semua Kepala Dinas Kebersihan (Taman Kota) selalu menceritakan program pengolahan dan pengelolaan sampah selalu bertujuan untuk mendapat penghargaan Adipura. Adipura seakan merupakan representasi dari impian masyarakat akan kotanya yang bersih, tertata dan nyaman.

Setahu saya salah satu dari ketiga kabupaten/kota itu memang pelanggan penghargaan Adipura, tak heran jika kemudian di salah satu ruas jalannya dibangun Tugu Adipura, seolah mau mem-patenkan bahwa Adipura adalah abadi untuk kota itu.

Pencitraan itu memang berhasil. Karena ketika melakukan riset lewat internet, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat ‘lebay’. Tulisan itu memuji selangit salah satu TPA yang saya kunjungi dengan digambarkan sebagai tempat yang bisa untuk berpiknik, menikmati pemandangan TPA sambil mengelar tikar sambil menyantap makan siang dengan bakaran ikan yang ditangkap di laut tak jauh dari TPA itu berada.

Saya hampir memberi komentar berisi kutukan pada penulisnya agar menjadi ‘sampah’ yang tergolek di TPA, namun saya urungkan. Pasalnya apa yang saya lihat sehari sebelum membaca tulisan itu sama sekali berlainan. Mobil pengangkut sampah yang sudah bocor bak-nya dan kerap diisi lebih dari kapasitas, menebar serpihan sampah yang lolos sepanjang perjalanan ke TPA. Saya melihat sendiri karena membuntuti mobil pengangkut sampah dalam perjalanan menuju TPA. Sesampai di TPA, isi bak ditumpahkan begitu saja di bibir cebakan, dan segera para pemulung mengerubuti untuk mencari ‘remah-remah’ sampah yang punya nilai jual.

Di setiap TPA yang saya kunjungi selalu ada bangunan yang disebut Rumah Kompos, namun bangunan yang biasanya diresmikan oleh Kepala Daerah itu ternyata merana, tidak dipakai sebagaimana yang direncanakan. Rumah Kompos kemudian menjadi tempat menaruh barang sementara oleh pemulung, sebelum di packing atau diangkut kepada pengepul.

Saya menyakini bahwa nafsu untuk memburu Adipura bukanlah keinginan kepala dinas kebersihan (dan pertamanan), namun lebih kerap merupakan amanat (permintaan) dari Kepala Daerah untuk mencatatkan prestasi, sekurangnya untuk menapaki anak tangga pertama dari citra kota atau daerah yang ideal.

Kenapa Adipura yang dipilih?. Sebab mewujudkan kota yang ideal teramat sulit untuk kepala daerah yang sekarang ini yang cenderung lebih sibuk berpolitik ketimbang membangun kotanya. Kota ideal, sebuah gambaran yang kompleks meski bisa disederhanakan dalam sejumlah aspek utama yaitu :

  • Perencanaan yang terintegrasi : akomodasi seluruh kebutuhan ruang warga yang meliputi ruang hunian, ruang komersil dan ruang publik.
  • Infrastruktur yang memadai : Kota tidak statis maka perlu pertumbuhan dan penyesuaian layanan transportasi umum, jalan, layanan kesehatan, air bersih, saluran air atau pembuangan, tempat pendidikan dan ketercukupan energi.
  • Koneksi dan harmonisasi dengan wilayah sekitar : Kota atau daerah tak mungkin berdiri sendiri terpisah dengan daerah di sekitarnya. Kesalinghubungan dan ketersalingtergantungan dengan daerah disekitarnya perlu dirumuskan agar tidak muncul konflik yang tidak produktif.

Kini di kota tempat saya tinggal, terdengar kabar Sang Walikota ngotot ingin memperoleh Adipura. Buat saya ini menjadi tanda awas, toh bukan perkara sulit untuk menampilkan kota ‘mendadak bersih’.

Di lapak tukang pot bunga, saya lihat deretan pot-pot sedang dicat bertuliskan HBS, Hijau Bersih dan Sehat. Kini lebih sering terlihat PNS dan Kelompok Masyarakat (Ormas) dikerahkan untuk membersihkan sudut-sudut kota. Menyulap kota bersih dalam semalam menjelang kedatangan tim penilai Adipura.

Pertanyaannya seberapa lama bersih itu bisa bertahan dan yang bersih bagian mana saja. Jangan sampai bersih itu ibarat menyapu dan menyembunyikan kotoran di bawah karpet. Bersih tak lepas dari manajemen lingkungan, pengolahan dan pengelolaan sampah secara terencana dan dilakukan dengan berkelanjutan. Besih (plus Hijau dan Sehat) tentu harus sejalan dengan tertatanya kota sesuai dengan RTRW.

Sejauh ini TPA di kota saya ini adalah etalase kebusukan, terletak di pinggir jalan besar dan dari kejauhan sudah mengirim bau busuk. Entah apa nama daerah itu, tapi orang menyebutnya dengan julukan Gunung Sampah yang beruntung belum menjadi “Smooky Mountain”, gunung sampah yang melegenda di Philipina. Ada rencana pemindahan ke daerah lain, TPA dengan sistem Sanitary Land Fill, namun berkaca pada apa yang terjadi selama ini, warga di sekitar lokasi TPA yang baru selalu menolak rencana pembangunan itu.

Adipura, yang disongsong dengan program HBS (Hijau Bersih Sehat) tak lebih dari sebuah retorika politik dengan tujuan jangka pendek. Prestasi yang mungkin perlu dikejar oleh Sang Kepala Daerah untuk sedikit mengusir sakit kepalanya. Sakit kepala karena terus dikritik dan diomeli oleh warganya. Dengan meraih Adipura sekurangnya sejenak bisa membanggakan diri, memamerkan prestasi yang bagus untuk disampaikan di depan sidang paripurna .

Andai kemudian nanti benar para penilai menjadi silap mata dan kota saya memperoleh anugerah Adipura, saya harap tidak ada rombongan sirkus pergi ke Jakarta untuk menerimanya. Dan kemudian diarak begitu turun dari tangga pesawat untuk dibawa keliling kota. Saya justru berharap agar Piala Adipura itu ditaruh di tengah TPA, sebagai peringatan sekaligus perintah bahwa pengelolaan dan pengolahan sampah harus terus dilakukan, semakin baik dari hari ke hari.

Piala Adipura adalah cermin dari kerja keras mereka yang berada di garda depan, bangun pagi-pagi untuk menyapu jalan dengan resiko disambar mobil yang dikemudikan oleh pemabuk yang baru pulang dari tempat hiburan malam. Berpanas-panas di siang hari, menghisap debu jalanan dan bergelut serta berlumur sampah serta bau busuknya. Mereka inilah yang teramat sering dilupakan kala kerja kerasnya berbuah prestasi.

Andaikan kemudian Adipura disimpan di rak dalam ruangan Sang Kepala Daerah untuk dibanggakan kepada tetamu yang datang, maka penghargaan yang secara politik kerap dipandang bergengi itu, tak lebih dari sekedar Adi Pura Pura yang tak mendatangkan keuntungan untuk kota ini dalam jangka panjang.

Artikel pernah dimuat di kompasiana tahun 2013