“Dasar muka badak”. Begitu seseorang mengumpat orang lain yang dianggap tak tahu malu. Entah darimana asal muasalnya sehingga seorang yang tak tahu malu dianggap bermuka badak. Padahal kenyataannya Badak adalah binatang yang sangat pemalu, hanya makan pucuk-pucuk daun muda, cara makannyapun tidak dengan main seruduk memakai badannya yang gempal, melainkan mendorong pelan pohon itu hingga pucuknya bisa diraih. Jadi meski berkulit tebal sesungguhnya Badak adalah binatang yang sensitif.
Di Indonesia, Badak indentik dengan Taman Nasional Ujung Kulon, konon di sana masih hidup puluhan ekor Badak Jawa. Berapa jumlah persisnya tentu sulit untuk dipastikan, sebab melihat wujudnya saja sulit. Biasa yang ditemukan hanya jejak, sisa kotoran atau gambar hasil dari jepretan kamera pengintai yang dipasang di beberapa tempat. Tapi ratusan tahun lalu, bisa dipastikan bahwa Badak Jawa, jumlahnya relatif banyak, terbukti banyak tempat di Jawa Barat memakai nama Badak, seperti Rawa Badak, Singa Badak, Ranca Badak dan Cibadak.
Kenapa Badak jumlahnya terus menyusut?. Badan bisa berkembang biak setelah berumur 8 tahun dan selama hidupnya hanya akan beranak sebagak 4 sampai 5 kali. Selain itu cula Badak dimitoskan sebagai benda yang mempunyai khasiat sebagai obat kuat, sehingga menumbuhkan perburuan untuk mendapat culanya. Badak yang lamabt bergerak dan lambat beranak pinak itu dibunuh hanya untuk diambil culanya.
Di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang dikenal dengan nama Muara Badak, adakah penamaan daerah itu terkait dengan keberadaan Badak di sekitar tempat itu?. Ya konon Muara Badak dikaitkan dengan penyebutan “Badak ..leeeh”. Namun ada beberapa versi, pada versi pertama yang dimaksud dengan Badak adalah pohon Tempura Badak, yang mempunyai buah buntat dan bisa di buat bubur, konon pohon ini sudah punah. Ucapan ‘Badak leeh’, adalah kekaguman dari kerabat Sultan Kutai saat menemukan pohon Tempura Badak yang sangat besar dan tinggi serta berbuah lebat.
Versi kedua adalah ketika rombongan orang Bugis menyusuri sungai di daerah itu dengan perahu Phinisi, mereka tak bisa masuk lebih jauh mereka berhenti dan melanjutkan perjalanan dengan sekoci. Belum jauh mereka mengarungi sungai, terlihat buah dari pohon Badak dan tak jauh dari pepohonan itu terlihat dua ekor Badak berlari.
Dari kedua cerita itu maka dinamailah daerah itu sebagai Muara Badak. Namun menurut tetua di Muara Badak, yang lahir tak lama sesudah kemerdekaan, dirinya belum pernah sekalipun melihat wujud binatang yang disebut dengan Badak berkeliaran di daerah itu.
Kabar tentang adanya jejak Badak di Kalimantan Timur justru mencuat dari tempat lain, di hutan yang berada pada salah satu wilayah Kabupaten Kutai Barat. Tim monitoring WWF yang melakukan kegiatan monitoring Orang Utan menemukan jejak yang diidentifikasi sebagai jejak Badak, bukan Badak Jawa seperti di Ujung Kulon, melainkan sejenis Badak Sumatra. Tim Monitoring dan Ahli Badak di Kalimantan Timur mengkonfirmasi bahwa jejak kaki, bekas kubangan, bekas gesekan badan di pepohonan, bekas pelintiran pucuk pohon merujuk pada keberadaan Badak di tempat itu. Keyakinan itu diperkuat lagi dengan temuan adanya 30 spesies pohon yang ada di lokasi itu yang merupakan jenis pohon yang daunnya biasa dimakan oleh Badak.
Tim monitoring sendiri tidak memberikan informasi persis soal lokasi dimana jejak Badak itu ditemukan, mereka khawatir jika lokasinya diberitahukan maka akan memancing para pemburu Badak berbondong-bondong ke tempat itu untuk berburu badak, membunuh binatang yang belum kelihatan wujudnya itu untuk mengambil culanya.
Temuan ini tentu saja mengembirakan, jika benar ada maka Kalimantan Timur khususnya dan bumi Borneo pada umumnya semakin diperkaya oleh keragaman faunanya setelah sebelumnya dikabarkan keberhasilan temuan adanya Gajah dan Banteng Kalimantan, Tokek raksasa dan kabar kabut tentang adanya jejak naga, ular yang sangat besar, berenang di sungai dengan kepala tegak bermahkota.
Kenapa selama ini Badak tidak pernah kelihatan oleh penduduk di pelosok Kalimantan Timur?. Barangkali mereka berdiam di hutan-hutan yang lebat, mereka malu menampakkan diri, menghindar dari keramaian agar tidak diburu dan diambil culanya. Badak-badak itu barangkali tak mau bertemu dengan manusia-manusia serakah dan tak tahu malu, yang meski tidak menanam namun merasa berhak untuk terus membabat dan mengunduli hutan-hutan di Kalimantan Timur. Temuan jejak Badak di bumi banua etam ini semoga menjadi refleksi atas lagak laku baik masyarakat maupun pengambil kebijakan yang secara serampangan menghabisi sebagian kekayaan bumi Kalimantan Timur hanya untuk sekedar mempertebal kantong dan pundi-pundi kekayaan. Jadi sesungguhnya siapa yang bermuka tebal (tak tahu malu) kita atau Badak?.
kredit foto : Geran de Klerk – unsplash.com
tulisan pernah dimuat di kompasiana tahun 2013








