KESAH.IDMusrenbangdes yang saya ikuti kali ini bukanlah agenda yang direncanakan sejak awal. Ia hadir seperti sebuah persinggahan tak terduga: dari urusan pribadi yang berbelok, percakapan hangat di rumah pinjaman, hingga rapat desa yang penuh keluhan tentang anggaran. Di balik asap kebakaran dan sinyal telepon yang naik turun, tersimpan potret nyata tentang bagaimana desa berusaha bertahan di tengah keterbatasan, sambil tetap mencari celah harapan dalam sistem yang kaku.

Keikutsertaan saya dalam Musrenbangdes di salah satu desa tak jauh dari Bandar Udara APT Pranoto sebenarnya tak disengaja. Saya datang ke sana untuk urusan lain, yang lebih dulu disampaikan lewat bantuan seorang teman karena memang tak ada yang saya kenal di sana.

Rencana kedatangan sudah disampaikan beberapa hari sebelumnya. Namun karena kesibukan memadamkan api yang membakar area rawa-rawa yang dikeringkan, tokoh yang hendak saya temui pertama tidak ada di tempat. Saya lalu diberi dua nomor untuk berkoordinasi, sebab rencana saya bukan sekadar datang lalu pulang, melainkan menginap. Awalnya, nomor yang saya hubungi terdengar agak defensif. Tapi dalam komunikasi berikutnya, ketika saya sudah mendekati daerah itu, nadanya berubah lebih ramah. Ada kabar baik: tersedia rumah yang bisa dipakai untuk menginap.

Malam pertama di sana diawali dengan percakapan hangat tentang masyarakat dan dinamika wilayah itu. Sekitar satu setengah hingga dua jam berbincang, rumah yang hendak ditempati sudah siap. Rumah besar yang tak ditinggali, jadi mesti dibersihkan terlebih dahulu. Lokasinya tak jauh dari tempat kami bertemu dengan kontak di sana, cukup berjalan kaki untuk mencapainya.

Tang-ting-tung, notifikasi WA masuk berturut-turut. Rupanya jaringan telepon kembali muncul ketika kaki melangkah ke jalan. “Di teras rumah sana, sinyalnya lebih baik,” ujar tuan rumah yang kini menempati rumah barunya, meski belum sepenuhnya selesai. Selain meminjamkan rumah, ia juga meminjamkan motor bebek dengan plat nomor baru. “Siapa tahu nanti mau beli apa ke warung,” katanya. Sebelum pulang, ia menambahkan, “Besok Musrenbang jam 09.00 di Balai Pertemuan Desa.”

Usai ditinggal, saya mencoba mencari sinyal. Naik turun, kadang ada, kadang lenyap. Daripada pusing, saya memilih mandi. Setelah itu, pencarian sinyal dilanjutkan. Di pinggir jalan, duduk di atas jembatan kayu, akhirnya sinyal tertangkap. Tulisan yang harus diunggah tengah malam berhasil dipublikasikan, meski pernak-pernik lainnya gagal.

BACA JUGA : Omnesh Spanish

Tidur malam saya nyenyak, bangun pagi tanpa disentak alarm yang disetel dengan volume tertinggi. Karena peralatan dapur lengkap, langkah pertama setelah bangun adalah membuat air panas untuk menyeduh kopi. Tanpa kopi, ritual merokok tak terasa nikmat. Bubuk kopi hitam tak ada, hanya white coffee gula aren. Tak apalah, pepatah bilang: tak ada rotan, akar pun jadi.

Usai menyeduh kopi sachet, saya duduk di teras depan, menyeruput kopi dengan krim dan gula aren sambil menghembus asap rokok. Pagi itu terasa agak lain, asap semakin pekat. Sore sebelumnya, dalam perjalanan dari Lekaq Kidau hingga Sungai Bawang, asap memang terasa makin tebal. Di luar ruangan, mata perih seperti kelilipan.

Teman-teman lain mulai bangun, mandi, lalu menawarkan sarapan: pop mie. Tak masalah, mie instan cukup untuk membungkam perut. Di samping rumah ada pohon cabai, saya ambil beberapa cabai hijau untuk ikut direbus bersama mie.

Jam sembilan lewat sedikit, kami berangkat ke Kantor Desa untuk mengikuti Musrenbangdes. Kepala Desa yang pertama saya temui, untuk memperkenalkan diri sekaligus meminta izin hadir. Karena ruangan kecil, tak semua teman bisa masuk. Mereka saya persilakan berkeliling kampung, melakukan observasi atau membangun komunikasi dengan siapa pun yang ditemui.

Musrenbangdes dimulai setelah kedatangan Ibu Camat Muara Badak. Tak disangka, saat rapat berlangsung, pintu terbuka dan seseorang yang saya kenal masuk. Teman lama, koordinator pendamping desa tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara. Ia tampak kaget melihat saya di ruangan itu.

Musrenbang penuh keluhan, terutama soal anggaran yang diefisiensi. Kepala Desa dalam sambutannya menyatakan tak mampu mempertahankan semua staf, terpaksa ada yang diberhentikan. Anggaran tahun depan tampak memprihatinkan. Perjalanan dinas bukan hanya dibatasi, tapi hanya diganti senilai BBM. Anggaran untuk lembaga masyarakat desa mungkin habis dalam satu kegiatan saja.

BACA JUGA : Mengusir Api

Ketika keluhan soal anggaran mencuat, teman di sebelah saya berbisik, “Tahun depan anggaran desa akan naik.” Benar, dalam rencana RAPBN, alokasi anggaran desa memang naik cukup besar. Tapi bukan berarti kepala desa dan perangkatnya bisa bernafas lega.

Dilihat dari postur kebijakan strategis nasional yang menitipkan anggarannya lewat desa, jalannya pemerintahan desa tetap ngos-ngosan. Sistem kancing anggaran dari pusat, seperti program KDMP, masih berlanjut. Dana desa hanya jadi pajangan karena kuasa penggunaannya bukan di tangan kepala desa. Pemerintah provinsi pun mengikuti pola serupa.

Ada saran menarik: kepala desa diminta membangun jaringan dengan anggota DPRD provinsi. “Yang punya anggaran adalah anggota DPRD Provinsi,” ujar seseorang. Anggota dewan memang punya jatah proyek, istilahnya Pokir atau Pokok Pikiran. Jika bisa mengakses dana ini, kepala desa mungkin tertolong, satu-dua program bisa dibiayai lewat jalur itu.

Mengikuti Musrenbang meski tak sampai selesai memberi gambaran: rakyat desa bakal terjepit. Tak banyak yang bisa diharapkan dari pemerintah desa. Program strategis nasional pun begitu sampai di desa akan ngos-ngosan. Peluang masyarakat desa menikmati rantai pasok program nasional seperti MBG sangat kecil.

Direktur Bumdes yang menerima program ketahanan pangan dengan bisnis ayam petelur mengeluh. “Ratusan piring telur menumpuk, tak ada pasar. Dapur MBG hanya mau ambil beberapa piring saja sehari,” ujarnya. Akibatnya, hasil penjualan tak cukup menutup biaya pakan. Jangankan untung, untuk operasional saja tak cukup. “Jabatan saya keren, direktur Bumdes. Tapi imbalannya? Tak ada. Bahkan saya sering keluar uang sendiri agar ayam-ayam tak mati,” pungkasnya.

note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM