KESAH.IDDalam setiap bencana, orang Jawa selalu menemukan “untung” sebagai cara membaca hidup. Abu vulkanik yang menutup langit bisa mematikan mesin pesawat, tapi abu yang sama juga menyuburkan tanah. Bandara yang lumpuh bisa jadi kerugian besar, tapi sekaligus membuka peluang bagi bandara lain. Ini menegaskan bahwa hidup di negeri gunung api dan politik yang riuh selalu menghadirkan dua wajah: kehilangan dan keberuntungan, yang pada akhirnya mengajarkan kita untuk bertahan sekaligus menemukan makna.

Orang Jawa selalu saja menemukan untung dalam setiap kesempatan. Ini bukan soal aji mumpung, melainkan sebuah pemahaman bahwa setiap peristiwa selalu hadir dalam spektrum yang luas.

Ambil contoh seorang anak yang pulang ke rumah sambil menangis karena ketika berangkat ke sekolah ia terpeleset, jatuh, dan bajunya belepotan lumpur. Saat tiba di rumah, orang tuanya justru mendapat kabar bahwa sekolahnya runtuh.

Ketika berhadapan dengan anak yang sesenggukan karena takut terlambat dan tak bisa memakai seragam satu-satunya yang kotor, orang tuanya berkata, “Untung kamu nak, terjatuh di jalan. Kalau tadi sampai sekolah, malah bisa kejatuhan atap.”

Demikian pula dengan erupsi Anak Krakatau yang konon gemuruhnya terdengar hingga Jakarta.

Gunung yang meletup ini mendatangkan untung bagi Bandara Kertajati yang megah namun lama tak berguna. Letusan membuat bandara itu akhirnya dipakai, karena pesawat Garuda dari Jeddah harus mendarat di sana.

Akibat erupsi Anak Krakatau, Bandara Soekarno-Hatta dan Halim ditutup. Lebih dari 300 penerbangan batal mendarat.

Jelas ini kerugian besar, terutama dari sisi perputaran ekonomi. Negeri ini makin rugi karena banyak penerbangan di wilayah lain juga urung akibat bencana asap dan kebakaran hutan. Indonesia hari ini dirundung berbagai bencana, termasuk bencana program politik yang menyerap uang negara tanpa membuat rakyat bersuka cita.

Indonesia memang begitu bergantung pada Jakarta. Semua ada di sana, dan ketika terganggu, kelumpuhan besar pun terjadi.

Jakarta hari ini jelas tidak baik-baik saja. Walau sudah dicarikan jalan keluar lewat Ibu Kota Nusantara, tanda-tandanya belum terang benar.

Episentrum bencana yang kita alami sesungguhnya ada di Jakarta, karena carut-marut oligarki. Di tengah segala bencana, hampir tak terlihat jalan keluar yang jelas.

Dari Jakarta kita hanya mendapat pepatah: ibarat sudah jatuh, tertimpa pidato pula.

Sang presiden yang dulu di masa pencalonan mengejek lawannya dengan istilah “omon-omon”, kini justru membuktikan bahwa dirinya dan para pembantunya hanya pandai dan gemar “omon-omon” belaka.

Tentang omon-omon ini jelas tak ada untungnya. Kecuali bagi para konten kreator yang mengolah rekaman pidato presiden menjadi konten viral.

Kita mungkin tertawa menontonnya, namun sesungguhnya hati teriris, menangis meringis.

BACA JUGA : Rindu Gus Dur

Dari ngopi pagi, lamat-lamat saya mendengar perbincangan tentang penutupan Bandara Soeta, seolah-olah mereka bagian dari komunitas frequent flier.

Baru ketika ngopi malam di sebuah kafe yang baru uji coba buka, seorang teman bertanya, “Kenapa erupsi gunung membuat penerbangan ditunda?”

“Debu vulkanis,” jawab saya singkat.

Saya tak punya pengetahuan cukup soal itu, maka untuk menjelaskan saya ajak dia menggali memori lama tentang salah satu letusan gunung terdahsyat setelah kemerdekaan: letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kalau tak salah ingat, letusan itu terjadi ketika saya di penghujung bangku SD atau awal SMP.

Saya cukup akrab dengan letusan gunung berapi, tapi biasanya hanya berupa lindu atau gempa. Kalau parah, beberapa rumah retak atau miring, termasuk rumah orang tua saya.

Namun pengalaman letusan Galunggung berbeda. Seharian terasa seperti pagi mendung yang tak beranjak. Saya mengalami hujan abu, bunyinya gemeritik di atas genting seperti kerikil halus.

Abu tebal membuat daun pisang dan dedaunan rebah. Dunia serasa kelabu, tertutup abu di mana-mana.

Di tengah kabar terbatas, radio, televisi, dan koran menyiarkan bahwa langit gelap oleh abu vulkanik, hujan pasir dan kerikil menutupi desa, sawah rusak, ribuan orang mengungsi. Peristiwa itu bahkan menyebabkan pesawat British Airways Flight 9 kehilangan tenaga mesin di udara. Untung saja mesin hidup kembali, sehingga malapetaka bisa dihindari.

Sejarah mencatat, Galunggung pernah meletus besar pada 1822. Namun letusan 1982–1983 menjadi yang terpanjang, pengingat di masa modern bahwa gunung api bukan sekadar lanskap indah, melainkan kekuatan alam yang bisa mengubah kehidupan manusia sekejap.

Dari kejauhan, gunung menghadirkan pemandangan kukuh meneduhkan. Tapi kekuatan dari dalamnya tak bisa diremehkan. Meski begitu, selalu ada untung di balik letusan. Material yang disemburkan menjadi pembaharu tanah. Dalam beberapa waktu, daratan yang diselimuti abu akan kembali subur.

Letusan gunung, meski dianggap bencana, adalah kemestian alam yang terus memperbarui dirinya.

BACA JUGA : Mount Blanc

Kembali ke penutupan Bandara Soeta, langit Jakarta atau lintasan pesawat di atasnya kemungkinan besar sedang ditaburi abu vulkanis.

Debu vulkanik memang sangat dihindari penerbangan. Berbeda dengan asap yang hanya mengganggu jarak pandang, debu vulkanik bisa membuat mesin pesawat mati mendadak.

Meski halus, debu itu keras seperti batu. Begitu masuk mesin, ia mencair karena suhu tinggi, mengganggu sistem udara, dan mematikan mesin.

Peristiwa ini dipelajari dari letusan Galunggung, ketika pesawat jurusan Sydney–London melintas di atas Jawa Barat pada ketinggian 47.000 kaki. Untung, dalam proses menuju pendaratan darurat, mesin hidup kembali sehingga malapetaka terhindar.

Anginlah yang menentukan bandara mana saja yang terimbas abu vulkanik. Mungkin bukan hanya Soeta, Halim, dan Pondok Cabe, tapi juga bandara lain di Sumatera dan Lampung.

Setiap letusan gunung, setiap bencana, selalu membawa dua wajah: kerugian dan keberuntungan. Orang Jawa menyebutnya untung, bukan sekadar aji mumpung, melainkan cara melihat hidup dalam spektrum lebih luas. Abu yang menutup langit bisa mematikan mesin pesawat, tapi abu yang sama juga menyuburkan tanah. Bandara yang lumpuh bisa jadi kerugian besar, tapi sekaligus membuka peluang bagi bandara lain yang lama sepi.

Begitulah hidup di negeri gunung api dan negeri politik yang riuh. Kita belajar bahwa bencana bukan hanya soal kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana manusia menemukan celah untuk bertahan, bahkan kadang untuk tertawa di tengah tangis. Untung, dalam arti terdalam, adalah kemampuan membaca ulang peristiwa, menemukan makna, dan menjadikannya bekal untuk melangkah.

Oh, iya untuk Indonesia letusan Gunung Galungung membawa bekas tersendiri. Di Samarinda ada satu kawasan yang kemudian dinamai Galungung, tempat berisi kios-kios yang menjual pakaian bekar atau cakar.

Walau mungkin kini tak terkenal lagi, dan tak banyak pula yang tahu kalau nama itu berasal dari gunung yang letusannya menjadi salah satu yang terdahsyat dan terlama dalam sejarah Indonesia.

note : sumber gambar – KOMPAS